
Daniel tidak menjawab pertanyaan Steve, dia langsung mengakhiri panggilannya saat melihat William. Pria itu menghembuskan napas panjangnya, terlihat lelah dengan semua ini.
"Ayah, bisa kita bicara sebentar?" tanya William.
"Ada apa, Will?" Daniel menyuruh William untuk duduk di kursi sebelahnya.
"Apa yang Ayah sembunyikan dari kita?" tanya William langsung pada inti pembicaraan.
Daniel tersentak kaget saat William menyadarinya. Padahal dia kira calon menantunya itu tidak peka. Pria yang usianya sudah tidak tua lagi itu menatap William dengan pandangan menilai.
"Aku memang tidak sepandai Ayah dan Laras bermain dengan pistol. Aku juga tidak seberani kalian untuk membunuh orang demi menyelamatkan orang lain. Akan tetapi, aku juga bisa berpikiran seperti kalian."
Mendengar itu Daniel tertawa, "Apa Nikolai yang mengajarimu, Will?"
"Aku yang ingin belajar agar bisa pantas dengan kalian. Aku tidak ingin menjadi beban. Aku ingin melindungi kalian seperti Ken yang mendedikasikan hidupnya pada Arlington." William mengatakan itu tanpa keraguan sedikitpun pada dirinya.
"Kamu membuat Ayah takjub. Sepertinya memberikanmu kesempatan kedua bukanlah hal yang salah. Tolong pegang kata-katamu itu! Jika kamu melanggar, akan Ayah ganti kamu."
"Apa maksud Ayah?" William menatap Daniel.
"Satu minggu lagi Ayah akan pergi ke New York. Ada sesuatu di masa lalu yang perlu diurus. Ayah tidak tahu akan kembali hidup atau hanya tinggal nama, maka dari itu ayah mempersatukan kalian. Ayah harap ini keputusan yang tepat."
Daniel terdiam setelah mengatakan itu, menunggu respon dari calon menantunya. Sedangkan William masih mencerna makna dari perkataan seorang Daniel Arlington.
"Lusa aku akan mengadakan pesta pernikahan dengan Laras. Jika memang Ayah ingin pergi, lakukan yang terbaik. Serahkan Laras padaku! Aku akan menggantikan Ayah untuk menjaga Laras. Walaupun begitu, pulanglah dengan selamat Ayah," ucap William akhirnya. Daniel menatap dan tersenyum kepada William.
"Terima kasih, Will."
William langsung beranjak dari kursinya. Dia akan memulai persiapan pernikahan mulai dari detik ini. Dia akan memberikan yang terbaik untuk Laras. Lelaki itu ingin mewujudkan semua yang diinginkan oleh mantan istrinya.
Saat di ruang tamu, dia melihat Laras sedang bermain dengan Juna. Di sana ada Lea dan Rama juga, sedangkan Emily sibuk dengan ponselnya.
"Hi," sapa William pada Juna yang sedang berada di pangkuan Laras.
"Hi, Paman," sahut Juna dengan wajah lucunya. Laras yang melihatnya jadi gemas sendiri.
"Jangan panggil Paman dong, panggil Daddy aja," pinta William.
"No, Juna sudah punya Daddy Ken," tolak Juna dengan nada menggemaskan.
Deg!
William mengulum senyum tertahannya. Dia harus menahan diri agar tidak marah. Juna masih kecil. Dia masih punya tenaga untuk kerja lebih giat lagi biar punya anaknya sendiri. Laras yang melihat wajah tertekuk William tersenyum lucu.
__ADS_1
"Juna anak Mommy, mulai saat ini Juna punya dua Daddy. Pertama Daddy Ken dan kedua Daddy William." Laras menjelaskan.
"Aku yang pertama," sungut William.
Rama yang mendengar itu hanya menepuk jidat. Bagaimana mungkin tuan mudanya itu mempermasalahkan hal sepele?
"No Mommy! Juna mau Daddy Ken aja."
Mendengar penolakan Juna yang terang-terangan membuat William geram sendiri. Bocah kecil ini sepertinya ingin bermusuhan dengan seorang Plowden. William menatap Juna dengan pandangan menusuk membuat Laras mencubit pinggang sang lelaki.
"Juna, Daddy William punya mobil sport yang lebih banyak dari Daddy Ken. Selain itu, dia punya kantor yang tinggi sekali." Laras secara tidak langsung membela William dan itu membuat lelaki yang duduk di sampingnya tersenyum.
"Lebih tinggi dali punya Mommy dan Daddy Ken?" tanya Juna mulai tertarik.
"Tentu saja. Nanti Daddy William akan menambah bangunannya lagi," jawab William tak kalah semangatnya dengan Juna.
"Apa Daddy William punya helikoptel?"
"Tentu saja. Di atas bangunan Daddy ada helipad, landasan khusus helikopternya Daddy." William mulai menyombongkan kekayaannya.
Semua yang mendengar percakapan Juna dan William hanya tersenyum geli. Beda halnya dengan Laras yang memutar bola matanya bosan.
"Tunggu dulu, Juna panggil apa?" tanya William saat baru menyadari panggilan Juna berubah.
"Daddy. Daddy William." Juna memiringkan sedikit kepalanya membuat Laras kembali mencubit pipi gemas si bocah.
"Bukannya kantor Mommy milik Ayah Daniel?"
"No Daddy, itu milik Mommy."
"Kak Laras yang membangunnya sendiri. Arlington Group yang sekarang murni hasil kerja keras Kak Laras. Itu bekas kantor bangkrut yang Daddy Daniel korbankan untuk menutupi skandal Kak Laras dan Kak Ken waktu di Indonesia," jelas Emily yang setelahnya mendapatkan tatapan tajam dari Laras.
"Jadi yang waktu itu? Benarkah?" tanya William pada Laras yang ada di sampingnya.
Laras hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Dia paling tidak suka memamerkan kekayaannya atau hasil dari kerja kerasnya selama ini.
"Daddy, bagaimana?" desak Juna yang sangat ingin tahu, dia malah sekarang berpindah untuk duduk di pangkuan William.
"Emm … sepertinya kantor Daddy tidak sebanyak itu lantainya. Tapi, nanti kalau Daddy dan Mommy nikah, kantor kita jadi ada 70 lantai," jawab William dengan santainya.
Laras memperingati William kalau itu bukan topik untuk anak kecil. Sayangnya bukan Juna namanya kalau dia tidak kepo. Juna kembali mengajukan pertanyaan yang bikin semua orang melongo.
"Nikah itu bikin adek buat Juna?" tanya Juna dengan polosnya.
__ADS_1
"Kalau itu—"
"Juna, sepertinya sekarang sudah waktunya jam les, 'kan?" Laras menatap Juna, mengingatkan bocah itu jadwal lesnya.
"Ah! Juna lupa!"
Setelah itu, Juna langsung minta diturunkan dari pangkuan William. Bocah itu berjalan menuju Lea dan menyeretnya untuk ke kamar. Melihat itu, Laras akhirnya bisa menghembuskan napas leganya. William yang melihatnya semakin dibuat gemas.
"Lusa kita akan mengadakan pesta pernikahan," ujar William membuat Rama tersentak kaget.
"Secepat itu?" tanya Laras.
"Jika itu kamu, dari dulu hingga sekarang bahkan jika kamu merubah wajah kembali, aku selalu tak bisa menahan diri."
"Dasar gombal," sungut Laras dengan wajah memerahnya.
Setelah beberapa bulan berlalu, akhirnya pemimpin Arlington Group itu kembali menjadi sosok Laras yang lemah lembut. Tidak ada sosok yang keras, disiplin dan tegas lagi. Dia akan menjadi Laras yang lemah lembut hanya di hadapan keluarganya.
Akan tetapi, jika Laras sudah terjun ke medan pertempuran, maka sisi jahatnya akan muncul dengan sendirinya. Rama beranjak dari sofa dan pergi menuju entah ke mana. Sedangkan Emily, dia akan bersiap-siap untuk perjalanan jauhnya ke London.
Emily ikut ke London karena dia ada project dengan produk branded internasional. Dia menjadi model ambassadornya dan itu merupakan suatu kebanggaan tersendiri.
"Laras, kita pergi juga yuk!" ajak William.
"Ke mana?"
"Mencari cincin pernikahan," jawab William santai.
"Tidak, aku suka cincin yang dulu. Apa kamu masih menyimpannya?" Laras menyandarkan kepalanya di pundak William.
"Tentu saja."
Setelah itu tidak ada percakapan di antar keduanya. Laras sibuk dengan memikirkan nasib pernikahannya dengan William di masa depan. Sedangkan William sibuk dengan ponselnya, mulai mempersiapkan pernikahan mereka berdua.
William menatap Laras yang memejamkan kedua matanya. Napas wanita itu sangat teratur. "Laras, boleh aku cium kamu?"
Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.
.
.
.
__ADS_1
~ To Be Continue ~
@hana_ryuuga