OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 89 TIDAK BAIK-BAIK SAJA


__ADS_3

"Apa ada kabar?" tanya Ken pada seseorang yang diteleponnya.


"Mereka memilih untuk bungkam, Jack. Apa yang harus kita lakukan?" tanya seseorang di seberang sana.


"Aku ingin membunuh mereka semuanya. Soal Rizzo apa belum ada kabar juga?"


"Tim IT Queen sedang melacak ke mana arah perginya mereka. Tapi—"


"Tapi kalian kehilangan jejak setelah helikopter mereka keluar dari perairan Venesia, betul 'kan?" Ken menghentikan langkah kakinya.


"Benar, Jack."


Ken menghela napas panjangnya. "Lupakan Rizzo. Selidiki pemimpin dari kapak putih. Sebelum Meyrin bangun, aku ingin kalian menemukan petunjuk. Lakukan segala cara agar mereka membuka mulut sialannya itu!"


"Baik, Jack."


Ken langsung memberikan ponselnya pada Alex. "Jika tidak penting, jangan berikan ponsel itu padaku."


Ken lalu masuk ke dalam mobil sportnya. Hari ini dia ingin membawa mobil sendiri, lelaki itu butuh pelampiasan. Kerutan di kening Ken muncul saat melihat Alex masih berdiam di luar mobil.


Ken membuka pintu kaca mobil dan berujar, "Kamu mau ikut tidak?"


"Aah, maaf Tuan. Saya ikut," jawab Alex yang langsung berjalan ke samping kursi kemudi mobil.


Sebelum sang asisten memasang seatbelt-nya, Ken sudah menancap gas mobilnya. Awalnya perlahan, tapi setelah berada di jalan raya, Ken menancap gas mobil sportnya hingga ke batas maksimal.


Mobil sport merah itu meliuk-liuk di jalanan Lunar City yang tidak terlalu padat. Mencari ruang kosong untuk terus melaju tanpa halangan. Ken mengangkat sudut bibirnya saat amarahnya dapat dilampiaskan.


"Ini menyenangkan," teriak Ken dan mengabaikan Alex.


Sedangkan Alex di sampingnya memegang sabuk pengaman dengan erat. Dia ketakutan dengan laju mobil yang sangat cepat itu. Apalagi saat melihat Ken memencet salah satu tombol di dashboard mobil membuat Alex menggelengkan kepalanya.


"Tuan, sepertinya aaakkh!" teriak Alex akhirnya sebelum menyelesaikan kalimat yang diucapkannya.


"Hahaha … ini seru sekali!" teriak Ken dengan gembiranya.


Alex hanya bisa menggenggam sabuk pengamannya lebih erat lagi. Dia benar-benar takut terjadi kecelakaan. Ditatapnya wajah sang bos yang berbinar cerah dengan kecepatan yang tak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Apalagi tadi sang bos memencet tombol booster untuk memompa agar semakin cepat.


Saking cepatnya, perjalanan dari rumah sakit menuju rumahnya ditempuh dengan waktu 10 menit. Normalnya mereka akan menghabiskan waktu dalam perjalanan selama 30-40 menit.


Setelah memarkirkan mobil di halaman rumahnya, Ken melangkahkan kakinya ke dalam rumah. Dia mengabaikan asistennya yang masih di dalam mobil. Pria itu sudah tahu kalau sang asisten sedang shock karena kecepatan mobil sportnya.

__ADS_1


"Benar-benar memuaskan, walaupun tidak sepenuhnya," gumam Ken pada dirinya sendiri.


Ken mulai menaiki anak tangga menuju lantai dua, tempat kamar pribadinya berada. Dia menyuruh kepala pelayan untuk mengatakan pada Alex agar menyiapkan keperluannya.


"Alex masih ada di dalam mobil." Ken memberikan petunjuk kepada kepala pelayan tentang keberadaan asisten pribadinya.


"Baik, Tuan."


****************


Daniel dan Emily baru saja tiba di rumah sakit. Dia langsung menuju ke ruang operasi, di sana sudah ada Lea. Emily menghampiri Lea dan memberikan paper bag kepada asisten kakaknya itu.


"Ganti baju dulu, Lea. Kamu sudah bekerja keras untuk melindungi kakakku," ujar Emily.


"Baik, Nona. Saya permisi dulu." Lea memberikan hormat pada dua majikannya itu.


Saat melewati Daniel, dia melihat ada Josh yang sedang menggendong Juna. Saat itu juga, air mata luruh seketika. Lea berjalan menghampiri dan memeluk dua anggota keluarganya.


Setiap pulang bertempur, hal yang sangat dirindukan oleh wanita kekar itu adalah bersama dengan suami serta anaknya. Josh yang mengerti akan perasaan istrinya itu, memeluk balik dan membisikkan kata-kata semangat.


"Maaf aku gagal melindungi Nona Meyrin," ucap Lea lirih di antara tangisan dan pelukannya.


"Tidak. Kamu sudah berusaha keras untuk melindungi Nona Meyrin. Semua pasti baik-baik saja. Percayalah pada Nona kita, dia bukan sekali ini saja yang terluka. Semangat hidupnya lebih besar daripada kita." Josh memberikan kata-kata semangatnya sembari menepuk punggung sang istri lembut.


"Mommy masih sakit, Sayang. Nanti jika sembuh Juna mau jenguk 'kan?" tanya Lea sambil mencubit gemas pipi bocah itu.


"Oke, tapi bunda bau," ocehan polos Juna membuat semua yang mendengarnya tertawa.


"Baiklah. Bunda mandi dulu setelah itu kita bertemu dengan Mommy." Lea langsung mencium pipi Juna dan mengacak rambut sang anak.


****************


Sedangkan di rumah sakit Villa Salus, William sudah sadar. Dia meminta Rama untuk membawakan pekerjaannya. Dia harus bekerja, bekerja dan bekerja untuk melupakan semua kejadian yang menimpanya.


"Bawa sekarang pekerjaannya!" bentak William pada Rama.


Rama yang tidak mau berdebat lagi, akhirnya memberikan tablet William. Pria yang baru sadar dari obat bius itu mulai fokus pada pekerjaannya. Dia mengabaikan Rama.


Tanpa terasa setetes air mata jatuh mengenai layar tabletnya. Semakin lama semakin banyak dan pandangan William mulai buram. William menangis dan menolak semua fakta tentang Meyrin.


"Tu-tuan?" panggil Rama saat melihat William menangis.

__ADS_1


Ini kali kedua William menangis semenjak ditinggal oleh Laras. Rama mendekat tapi segera menghentikan langkahnya saat mendapat tanda penolakan dari William.


"Kakak keluar saja. Aku ingin sendirian. Tenang saja, aku tidak akan menyakiti diri sendiri lagi," ujar William tanpa menatap Rama.


"Baik, Tuan."


Rama keluar dari kamar rawat inap William. Tapi, bukan Rama namanya jika menuruti William di saat tuannya itu sedang terpuruk. Rama langsung menghubungi Nikolai.


"Tuan, Tuan William sudah sadar dan dia meminta untuk bekerja. Tiba-tiba dirinya menangis dan menyuruh saya keluar." Rama melaporkan kondisi William saat ini.


"Awasi dulu. Aku harus menyelesaikan sesuatu di sini. Setelah selesai aku akan ke rumah sakit. Jika terjadi apa-apa langsung panggil dokter. Ingat! Dia sedang tidak baik-baik saja," saran Nikolai panjang lebar pada Rama.


"Baik, Tuan."


Panggilan pun berakhir. Rama mengintip dari kaca pintu. Terlihat William yang sedang menundukkan kepalanya, menjadikan kedua tangan sebagai bantal dengan kedua kaki sebagai penyangganya.


Rama yang sudah tidak tahan akhirnya memanggil dokter, mengatakan bahwa William telah sadar. Dokter dan dua orang perawat melangkahkan kaki mereka menuju ruangan William. Rama mengikuti tim medis dari belakang.


William sedikit tersentak saat menyadari kehadiran dokter dan perawat. Dia langsung mencari sosok Rama dan benar saja, asisten pribadinya berada di belakang sang dokter.


"Tuan, saya akan melakukan pemeriksaan."


William hanya menganggukkan kepalanya, membiarkan sang dokter melakukan tugasnya. Kedua perawat itu salah satunya mencatat apa yang dilaporkan sang dokter, sedangkan yang lainnya memeriksa tekanan darah William.


"Anda baik-baik saja, semua normal. Apa saya boleh berbicara dengan asisten Anda?" tanya sang Dokter dan William kembali menjawab dengan anggukan kepalanya.


"Mari, Tuan."


Dokter itu mengajak Rama keluar dari ruangan William begitu juga dengan dua perawat tadi. Perawat itu berpamitan untuk melanjutkan kembali tugasnya.


"Ada apa, Dokter?" tanya Rama.


Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.


.


.


.


~ To Be Continue ~

__ADS_1


@hana_ryuuga


__ADS_2