
PLP 1 || Ciuman Pertama
"Ini di mana?" tanya seorang pria pada dirinya sendiri.
Dia menatap ke sekeliling, di mana sepanjang mata memandang hanya ada hamparan bunga dandelion. Pria itu mengernyitkan keningnya saat melihat siluet seseorang yang sedang berlari menuju dirinya.
Siluet itu semakin dekat dengannya dan sebuah senyum manis tersungging di bibir sang pria. Senyumnya semakin merekah saat mengenali siapa yang sedang berlari ke arahnya.
Seorang wanita dengan gaun warna biru berlari menuju pria itu dengan wajah sumringah. Sang pria merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, siap untuk memberikan pelukan hangatnya.
"Reynard!" seru gadis itu dengan senyum merekahnya.
Bruk!
Gadis itu menabrak dada bidang sang pria yang ternyata bernama Reynard. Rey memeluk tubuh sang gadis dengan begitu eratnya saat mereka berguling di dataran tinggi. Mereka tersenyum bahagia setelah tubuh keduanya berhenti berguling.
"Hahaha …."
Mereka tertawa lepas, seperti tidak ada beban yang ditanggungnya. Seolah dunia ini hanya ada mereka berdua. Rey yang posisinya berada di bawah sang gadis tersenyum penuh cinta.
Beberapa bunga dandelion melekat di rambut panjang sang gadis. Rey mengambilnya dan membuangnya. Wajah keduanya memancarkan aura cinta sejati.
"Rey," panggil sang gadis dengan suara merdunya.
"Yes, Honey."
"Apa kita suatu saat akan berpisah?" tanya gadis itu, membelai wajah Rey.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun memisahkan kita berdua. Jika itu ada, maka dia akan berhadapan langsung denganku," ucap Rey begitu yakin akan masa depan.
"Aku mencintaimu, Rey."
"Cintamu tak sebesar cintaku, Honey. Tetaplah bersamaku, sekarang dan di masa depan."
Entah keberanian dari mana, gadis itu membelai bibir tipis Rey. Sedangkan Rey malah mencuri cium jari sang gadis membuat senyum tak lepas dari bibir gadis itu.
Perlahan namun pasti, wajah sang gadis mendekat hingga jarak tinggal beberapa senti lagi. Jantung gadis itu berdetak seperti genderang mau perang. Ini adalah ciuman pertama gadis itu yang diberikan kepada Rey dengan suka rela.
Gadis itu menghentikan aksinya. Dia memalingkan wajahnya yang memerah karena malu. Rey yang melihat tingkah menggemaskan dari orang yang dicintainya tersenyum. Akhirnya Rey lah yang mendekat dan menghapus jarak di antara keduanya.
"Emmph~"
__ADS_1
Gadis itu terkejut saat bibirnya menyentuh bibir tipis Rey. Kedua bola matanya membulat sempurna dan jantungnya semakin tak berhenti berdetak kencang. Semilir angin dan beberapa kelopak bunga dandelion yang bertebaran menjadi latar belakang ciuman keduanya.
Rey melepas ciumannya dan menatap wajah gadis yang dicintainya. Wajah gadis di atasnya ini begitu merah karena menahan malu.
"Jangan malu, ini adalah ciuman pertamaku juga, Honey."
"Bohong! Kamu terlihat begitu berpengalaman." Gadis itu tidak percaya dengan ucapan Rey.
"Aku selalu berpengalaman jika itu berhubungan langsung denganmu, Honey."
"Dasar gombal." Gadis itu menyandarkan kepalanya di dada bidang Rey.
Deg! Deg! Deg!
Gadis itu terkejut saat mendengar detak jantung Rey yang begitu cepat. Dia kira hanya jantungnya yang berdetak, tapi jantung Rey juga berdetak sama cepatnya dengan miliknya.
"Apa kamu bisa mendengarnya?" Gadis itu menganggukkan kepalanya dan tersenyum menjawab pertanyaan Rey.
"Jantungku akan berdetak kencang hanya saat bersamamu." Sang gadis mengangkat kepalanya dan menatap tepat ke kedua bola mata Rey.
"Boleh aku yang menciummu, Rey?" tanya gadis itu malu-malu dan membuat Rey tersenyum gemas.
"Jangankan mencium, mengambil keperjakaanku pun tak masalah."
"I love you, Eve," ucap Rey memanggil gadis itu dengan nama kesayangannya.
Cup~
Gadis yang dipanggil Eve itu akhirnya mendaratkan bibirnya di atas bibir Rey. Eve hanya menyentuhkan kedua bibir mereka tanpa melakukan apapun. Mata keduanya saling bersirobok, memancarkan rasa cinta yang tak terbatas.
Hingga akhirnya Rey lah yang mengambil kendali. Dia mulai mencium bibir bawah dan atas Eve bergantian. Saat Rey mencium bibir bawah Eve, otomatis Eve akan mencium bibir atas Rey dan begitu sebaliknya.
Rey menghentikan aksinya, memberikan gadis itu waktu untuk mengambil napas.
"Ikuti nalurimu, Honey. Jangan pernah menahannya jika hanya ada kita berdua," bisik Rey dan gadis itu hanya menganggukkan kepalanya sembari mengatur napasnya.
Rey tersenyum lalu merubah posisi mereka. Kali ini, Eve lah yang berada di bawah Rey, pasrah dengan kekuasaan pria yang dicintainya. Eve percaya sepenuhnya terhadap Rey.
Rey kembali mencium bibir Eve yang membuatnya candu. Bibir tipis gadis itu seperti nikotin yang membuatnya kecanduan dengan sekali mencoba. Apa mungkin karena mereka berdua melakukannya atas nama cinta?
"Emmpph~" erangan tanpa sadar Eve berikan.
Rey terkejut saat tanpa sadar tangan kanannya sudah berada di balik gaun yang dikenakan Eve. Rey segera menarik tangannya keluar dan terduduk bersila dengan kepala tertunduk.
__ADS_1
Eve yang melihat itu juga terduduk dan menunduk. Gadis itu malu. Ini adalah kali pertama seorang pria menyentuh tubuhnya.
"Maaf, a-aku tidak sengaja tadi. It-itu …." Rey tergagap dan bingung sendiri untuk menjelaskan tindakan kurang ajarnya barusan.
"Su-sudahlah Rey. Kita kembali ke rumah saja."
Gadis itu mengulurkan tangannya dan tersenyum, Rey langsung menyambut uluran tangan dari Eve. Eve berlari sambil menarik tangan Rey yang berada di belakangnya.
Rey terkejut saat tiba-tiba dirinya sudah berada di dalam sebuah rumah. Rey menatap ke sekeliling, mencari keberadaan Eve. Dia melihat kedua orang tuanya yang saling berpelukan dan menangis. Kening Rey berkerut.
Ada rasa penasaran saat melihat tangis kesedihan sang Mommy. Rey mendekat, agar bisa mendengar pembicaraan kedua orang tuanya.
"Daddy, gimana cara kita buat ngasih tau Rey?" tanya Mommy Rey.
"Mommy tenang dulu, biar Rey tidak curiga."
"Rey pasti sangat sedih saat mendengar kabar bahwa Eve telah meninggal."
Rey yang mendengar itu menatap tak percaya kedua orang tuanya. Dia berjalan mundur sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Pria itu menolak untuk sebuah fakta yang ada hingga ….
Bruk!
Rey tersentak dan terduduk dengan napas yang tersengal-sengal. Dia tatap sekeliling ruangan. Dia berada di dalam kamarnya saat ini. Tidak ada Eve, tidak ada kabar menyedihkan itu.
"Sialan! Mimpi itu lagi," umpat Rey yang kemudian memegang sesuatu yang melingkar di lehernya.
Sebuah kalung dengan liontin cincin, di mana di sisi dalam cincin itu ada inisial sebuah huruf RE. Rey mencium cincin itu lalu kembali memasukkan ke dalam kaos.
Rey menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 07.00 pagi hari. Langkah yang malas-malasan, Rey mengambil sebuah remot untuk membuka tirai apartemennya yang langsung menyuguhkan pemandangan Pandora City.
Rey berjalan ke pantry mini dan membuat kopi hitam kesukaannya. Setelah selesai dibawanya ke balkon kamar. Beginilah rutinitas seorang Reynard Maverick, seorang CEO tampan yang banyak digilai kaum hawa.
Rey menyesap kopinya sambil menikmati suasana pagi, "Aku bisa gila kalau seperti ini terus."
.
.
.
~ To Be Continue ~
@hana_ryuuga
__ADS_1