
"Bukannya skin to skin untuk bayi prematur?" tanya Laras khawatir karena dia melahirkan di usia delapan bulan.
"Tidak, Nyonya. Setidaknya Baby Al juga harus merasakan kehangatan dari tubuh Daddy nya," jelas si perawat sambil menyerahkan baju khusus untuk William.
William duduk bersandar di sofa yang ada di ruang rawat inap sang istri dengan menggunakan baju khusus. Perawat itu mengambil Baby Al dari gendongan Laras yang sudah tertidur setelah minum ASI. Setelahnya dia meletakkan bayi yang beratnya 3,3kg itu ke dada bidang William.
Deg! Deg! Deg!
William tiba-tiba menangis dengan sendirinya. Bukan tangisan sedih, tapi tangis bahagia dan haru. Tubuh bayi itu terasa dingin sekaligus kecil di dekapan William. Siapa yang menyangka bahwa dia dan Laras bisa membuat bayi semungil ini. Siapa yang mengira bahwa ketua mafia serta pria yang memiliki kelainan paranoid bisa membuat adonan selucu dan imut seperti ini.
William membelai wajah Baby Al yang tampan rupawan itu. Rambutnya tumbuh lebat seperti dirinya. Bibir Baby Al tipis seperti Mommy nya. Tidak ada yang dominan. Wajah Baby Al merupakan campuran dari wajah Mommy dan Daddy nya.
"Tuan, waktunya sudah habis. Saya akan meletakkan bayinya kembali ke dalam box," ujar perawat itu.
William menganggukkan kepalanya dan membiarkan perawat itu mengambil Baby Al. Setelah menyelesaikan tugasnya, perawat itu izin untuk keluar dari kamar.
Senyum di bibir William terbit saat melihat Laras yang sudah tertidur dengan pulasnya. Wajah wanita itu tampak damai.
Tak lama, Emily dan Alex serta Ken masuk ke dalam ruangan. Begitu juga Rama dan Lea. Bahkan, para jendral Arlington ikutan masuk. Mereka tidak sabar melihat wajah Baby Al.
"Jangan berisik. Baby Al sedang tidur. Kalian bergilir melihatnya dan jangan membuat Baby dan Mommy nya bangun," ujar William memberikan peringatan dengan nada tegasnya.
Perlahan mereka bergantian melihatnya. Pertama yang melihat ada Emily, Alex, dan Ken.
"Astaga!" teriak Emily dengan gemasnya dan sukses membuat Laras terkejut lalu terbangun. Beruntungnya Baby Al masih tetap tertidur.
"Astaga Lily, jangan berisik!" seru Laras dengan nada penuh penekanan serta kesal.
"Sayang, jangan teriak lagi," bisik Alex mencoba mengingatkan istrinya itu.
"Al, aku mau baby kayak gitu. Kak Laras, bayinya buat Lily aja yah?" pinta Emily pada Laras.
"Menyingkirlah! Kakakmu masih butuh istirahat. Jika mau seperti Baby Al, buatlah bersama Alex," sungut William sembari melepaskan genggaman Emily pada kakaknya.
Jujur saja, William cemburu pada Emily yang terlalu dekat dengan Laras. Pria itu bukan hanya tidak terima Laras dekat dengan pria lain, bahkan dengan adiknya sendiri William tidak terima.
"Tck, menyebalkan. Paman kemarilah! Lihat! Lihat ekspresi Baby Al yang imut itu!" panggil Emily kepada keempat jendral Arlington.
Mereka berempat menatap Laras dan William bersamaan, meminta izin pada Bos keduanya. Laras menganggukkan kepalanya, toh masih ada sisi yang kosong dari box bayinya untuk dilihat.
Emily mengeluarkan ponselnya. Berkali-kali dia mengambil gambar Baby Al yang tampak memanyunkan bibirnya itu. Sungguh menggemaskan bagi siapa pun yang melihatnya.
"Bos, siapa namanya?" tanya Aite penasaran.
"Madava Alvaro Plowden," jawab Laras sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang William. Sedangkan suaminya itu menciumi pucuk kepala sang istri tercinta.
"Wah, nama yang bagus. Lalu, apa kita memanggilnya dengan Tuan Muda Alvaro?" Joker ikut bertanya.
__ADS_1
"Iya, panggil dia dengan Alvaro," jawab William.
"Daddy, Mommy masih mengantuk," ujar Laras menatap William dengan pandangan sayu.
William menganggukkan kepalanya. Dia membantu Laras merebahkan tubuhnya. Bahkan pria itu mengelus-elus rambut Laras agar sang istri dapat tidur dengan nyenyak. Itu sudah menjadi rutinitas William semenjak Laras hamil. Wanita itu akan susah tidur jika rambutnya tidak di elus.
****************
Satu bulan telah berlalu, kehidupan William dan Laras telah berubah dengan kehadiran Baby Al. Setiap malam mereka bergantian bangun untuk menjaga Baby Al yang menangis.
"Mommy, Daddy boleh minta jatahnya sekarang?" William menanyakan jatahnya karena hampir 30 hari dia libur healing dengan Laras.
"Tidak bisa, Daddy. Tunggu 10 hari lagi yah," jawab Laras sambil meringkuk ke dalam pelukan William.
Tak lama, Laras langsung tertidur di dalam pelukan suaminya. Dia baru saja terbangun untuk memberikan ASI pada Baby Al. Setiap dua jam sekali dia akan terbangun untuk memberikan ASI nya.
Setiap Laras memberikan ASI, William hanya bisa meneguk ludahnya sendiri. Jujur, pria itu iri dan cemburu pada anaknya sendiri. Pasalnya, sebelum ada Baby Al semua yang ada di tubuh Laras menjadi milik William seorang.
Akan tetapi, untuk saat ini dia harus mengalah demi Baby Al. Tapi bagaimanapun, William tetap saja cemburu pada anaknya itu. Walaupun perhatian sang istri seimbang, tetap saja William tidak terima.
Lelaki harus sabar dan memendam perasaannya. William pernah mengeluh dan itu sukses membuat Laras marah dan mengabaikan sang suami seharian. Hal itu sukses membuat William uring-uringan karena diabaikan oleh Laras. Bahkan, Laras memilih untuk tidur bersama anaknya di ruang tamu.
Seperti kata pepatah, kesabaran akan membuahkan hasil. Benar saja, bukan 10 hari yang dijanjikan oleh Laras, tapi beberapa bulan setelahnya. Seperti malam ini, Laras baru saja selesai memandikan Baby Al dan memberi ASI hingga tidur.
Memang semenjak datangnya Baby Al, Laras memutuskan untuk menyerahkan semua urusan perusahaan pada Lea dan William. Dia hanya akan memantau dari rumah. Sedangkan untuk urusan organisasi, beberapa hari yang lalu peresmian pengangkatan ketua mafia terbaru yaitu Ken Lian.
"Loh, Daddy belum berangkat ke kantor?" kaget Laras saat melihat suaminya malah rebahan di atas kasur.
"Daddy ambil cuti, Mom. Kemarilah!" William menepuk-nepuk sisi kosong kasur.
Laras yang tidak menaruh curiga pada suaminya berjalan mendekat. Ketika Laras sudah di samping ranjang, William menariknya dan menindihnya. Laras dapat melihat senyum nakal suaminya. Saat itulah dia paham jika suaminya ingin dilayani.
"Daddy ambil cuti untuk bermain dengan Mommy?" tanya Laras.
"Tentu saja. Apa Alvaro sudah tidur?" tanya William karena dia tidak mau ketika sedang bermain, anaknya nangis.
"Sepertinya sudah, dia tidak akan bangun hingga beberapa jam ke depan." Laras yang selama ini mengurus Baby Al sangat paham betul jam tidur sang anak.
"Kalau begitu, mari kita bermain hingga beberapa jam ke depan, Mommy."
"Daddy mau berapa ronde?" goda Laras yang mulai melucuti kancing kemeja yang dikenakan oleh William.
Selanjutnya terjadilah pertempuran panas di atas kasur antara Mommy dan Daddy Alvaro, setelah beberapa bulan puasa. Akhirnya mereka bisa bermain tanpa ada yang mengganggu.
****************
Satu tahun kemudian, Alvaro yang sudah bisa berjalan memilih bermain dengan uncle Ken. Ken yang baru saja selesai melakukan perjalanan bisnis langsung pulang ke rumah Laras.
__ADS_1
William sibuk membantu Laras membuat menu makan malam. Kali ini bukan hanya Ken saja yang datang, Nikolai serta Emily juga akan berkunjung ke rumah keduanya. Malam ini dia ingin membuat makan malam bersama keluarga besar.
"Hi Baby Alvaro," sapa Emily yang langsung menggendong Baby Al.
"Tulun onty. Al mau main sama angkel Ken," protes Alvaro yang tidak terima dirinya dipisahkan sama Ken. Bagi Alvaro, Ken sudah seperti paman kesayangannya.
Emily yang ditolak oleh keponakannya mulai mengeluarkan rayuannya. Dia memperlihatkan sebuah tas yang berisi beragam mainan mobil kesukaan Alvaro. Saat itulah Al langsung berlari menuju onty Emily. Alex dan Ken memutar bola matanya jengah.
"Kalian sudah datang. Ayo masuk! Waktunya makan malam." Laras baru saja bergabung ke ruang tengah, melihat Emily dan Alex yang baru datang.
"Paman Nikolai sudah datang?" tanya Emily yang sudah diabaikan oleh Alvaro lagi. Bocah satu tahun itu mulai sibuk bermain mobil-mobilannya bersama Ken.
"Sudah sejak tadi. Tinggal menunggu kalian berdua."
Laras membawa Al untuk duduk di kursi makannya sendiri. Anak itu sudah mulai belajar makan sendiri walaupun masih belepotan. Tapi, Laras tidak pernah memarahinya. Bagi sang Mommy itu adalah fase dari perkembang Baby Alvaro.
Mereka pun mulai menikmati makan malam keluarga. Rumah kediaman William terlihat begitu ramai dari biasanya karena Nikolai juga membawa anak-anaknya. Ken membawa istrinya. Sedangkan Emily masih berdua dengan Alex.
Emily dan Alex yang sudah satu tahun menikah masih belum dikarunia anak. Walaupun begitu, mereka tampak baik-baik saja. Mereka tidak terlalu buru-buru memiliki anak, tapi tidak menunda juga.
"Aku punya pengumuman nih," ujar William saat semuanya sudah duduk santai di ruang keluarga.
Semua menatap William yang tampak menyembunyikan sesuatu. Hingga tiba-tiba pria yang usianya sudah memasuki kepala tiga itu menunjukkan sebuah testpack. Testpack itu menunjukkan dua garis merah yang artinya positif.
"Wow! Good job, Will. Ini baru keponakan, Paman. Pantang mundur dan top cer," komentar Nikolai sambil mengacungkan jempolnya.
"Gila!" Ken ikut berkomentar tak percaya.
"Astaga, Kak! Kasihan Alvaro masih kecil loh," protes Emily kepada William.
Walaupun begitu, mereka tetap mengucapkan selamat kepada William dan Laras. Sedangkan Alvaro menatap para orang dewasa acuh tak acuh. Dia memilih untuk bermain dengan mobil-mobilannya.
Happy Ending (✷‿✷)
Terima kasih buat semuanya yang sudah mendukung OSP hingga episode terakhir. Jangan pergi dulu yah karena ada beberapa ekstra part yang Hana siapin buat kalian.
Sekaligus untuk menuju cerita terbaru Hana.
.
.
.
~ To Be Continue ~
@hana_ryuuga
__ADS_1