
William mengambil selimut tebal yang ada di atas kasur. Kemudian berjalan mendekat ke arah Meyrin yang sedang menatap keluar jendela kamar. Wanita itu tidak menyadari kehadiran William yang berjalan semakin mendekatinya.
Begitu perlahan … begitu lembut William menyampirkan selimut itu di pundak Meyrin. Lalu memeluknya dari belakang, menumpukan dagunya di ceruk leher Meyrin, dan tangannya saling bersilangan di depan tubuh sang wanita.
"Biarkan seperti ini," pinta William.
Awan hitam pekat menjadi background mereka berdua. Air laut mulai naik ke permukaan, beberapa bangunan yang rendah mulai terendam. Begitu juga dengan lobi hotel tempat mereka bermalam.
"Menurutmu, berapa kerugian yang disebabkan oleh Acqua Alta ini?" tanya Meyrin masih fokusnya menatap air laut.
"Berapapun itu, Walikota sudah mempersiapkannya. Terbukti setiap Acqua Alta terjadi, mereka dapat memperbaikinya kembali," jawab William yang juga tak beranjak dari posisinya.
"Menurutku juga begitu. Apa kamu menyadari kalau mereka sudah mengantisipasi adanya peristiwa ini?" Meyrin menolehkan kepalanya ke kanan, tepat ke wajah William.
Mereka dapat merasakan deru napas masing-masing. Kedua mata mereka saling bersirobok, ada getaran aneh yang dirasakan keduanya. Jantung yang bertalu-talu menghantarkan gelenyar aneh. Sesuatu yang salah tapi tidak salah sedang terjadi diantara keduanya.
Hingga Meyrin memalingkan wajahnya. Dia tidak ingin hanyut dalam pesona manik hitam suaminya. Dia harus tetap menjaga rahasia jati dirinya dan fokus pada misinya.
"Menurut informasi dari Rama, hal ini terjadi dua kali selama setahun dan para penduduk lokal sudah mengantisipasinya," jawab William.
"Ah, bicara Rama sepertinya kita lupa memberi kabar pada mereka. Biarkan aku memberi kabar dulu."
Meyrin yang hendak beranjak dari posisinya ditahan oleh William. Tidak menyerah, wanita itu berusaha hingga membuat William kesal. Akhirnya tanpa persetujuan dari Meyrin, William mengangkat tubuh sang wanita beserta selimutnya.
"Apa yang kamu lakukan?" berontak Meyrin.
"Tidak ada, hanya ingin membuat Nona Muda Arlington untuk melupakan sejenak orang lain. Aku tidak suka jika ada orang lain saat kita hanya berdua," ucap William begitu tegas.
"Terserah," jawab Meyrin singkat dan berbalik memunggungi William.
"Kamu marah?" William masuk ke dalam selimut.
"Tidak. Aku mau tidur."
Setelahnya Meyrin benar-benar tertidur. Tiba-tiba ponsel wanita itu berdering, William mengambilnya dan muncul nama Lea disana. Lelaki itu menggantikan Meyrin untuk menjawab dan mengatakan kepada Lea bahwa nona mudanya baik-baik saja.
****************
__ADS_1
Cahaya matahari mulai terbentang dari ufuk timur, memasuki celah-celah jendela. Seorang wanita menggeliat dalam tidurnya. Udara dingin membuat wanita itu semakin meringkuk ke dalam pelukan seseorang.
William yang melihat tingkah Meyrin tersenyum geli. Lelaki itu kali ini tidak dapat membantahnya lagi, William mulai terpesona akan kecantikan alami seorang Liu Meyrin. Wajah Laras perlahan memudar dalam ingatannya, berganti wajah Meyrin yang sedang merona.
Ditatapnya wajah imut dan polos Meyrin saat sedang tidur. Sebuah senyuman tanpa disadari tersungging di wajah tampan William. Dirapikannya rambut Meyrin yang berantakan, lalu menyelipkannya di belakang telinga sang wanita.
Tidak puas hanya memandang, William menggerakkan jemari tangannya menyusuri wajah Meyrin. Lekukan wajah pemimpin Arlington Group itu sangat sempurna, seolah wajah itu memang diciptakan khusus untuk Liu Meyrin.
Bulu mata yang lentik, alis yang tidak terlalu tipis juga tebal dengan ujung yang runcing, bibirnya tipis dan selalu menggoda iman seorang William untuk menciumnya. Bukan hanya wajah, body sintal dan ramping Meyrin membuat William selalu berfantasi ria tentang malam panas mereka.
Sentuhan demi sentuhan lembut William membuat tidur seorang Meyrin terganggu. Wanita itu menggeliat dalam pelukan William dan tanpa sengaja menyenggol sesuatu. Sesuatu yang siap tempur dengan posisi tepat di tengah pangkal pahanya.
"Lea, tunggu lima menit lagi aku akan bangun," racau Meyrin dengan mata yang masih terpejam.
Mendengar racauan itu membuat William tersenyum dan mencubit gemas pipi Meyrin. Entah kenapa, sesuatu ada yang salah dengan dirinya. Setiap bersama Meyrin, dia melupakan sosok Laras yang selama ini dicintainya.
William memijat pangkal hidungnya saat kembali teringat istri tercintanya. Dia benar-benar merindukan seorang Larasati Indria Putri. Suami mana yang bisa menahan rindu saat ditinggal pergi oleh istri tercintanya. Tiga tahun bukan waktu yang lama, tapi William bisa membuktikan hal itu. Bahkan dia tidak goyah sampai akhirnya bertemu dengan Liu Meyrin.
William menghembuskan napas panjangnya, kesal dan kecewa terhadap dirinya sendiri. Perlahan namun pasti, William menggantikan tubuhnya dengan bantal guling untuk dipeluk oleh Meyrin. Setelah berhasil, dirinya beranjak dari kasur menuju kamar mandi.
Tak lama William pergi, dering sebuah ponsel terdengar. Meyrin menghembuskan napas kasarnya saat dering ponsel itu tak kunjung berhenti. Wanita itu dengan perasaan jengkel dan kesal membuka kedua matanya. Pandangan yang samar, dia dapat melihat dimana ponselnya berada.
"Mommy!" teriak si penelepon.
Sontak Meyrin langsung membuka kedua matanya secara sempurna. Panggilan yang selalu dia rindukan, suara yang menjadi candunya dan tersimpan secara sempurna di rungu seorang Meyrin.
Meyrin menatap layar ponselnya yang ternyata berupa panggilan video. Disana, di layar ponsel terlihat wajah bocah berumur 2,5 tahun sedang duduk manis. Wajah tampan dengan rambut ikalnya menjadi ciri khas dari sang bocah. Bahasa candelnya jangan dilupakan karena itu sudah menjadi makanan Meyrin saat berbicara dengan bocah itu.
"Juna sayang! Mommy merindukanmu, Nak," jawab Meyrin menatap Juna.
"Una lindu Mommy," ucap Juna dengan memanyunkan bibirnya.
"Juna sendirian, Sayang? Daddy, Oni dan yang lainnya kemana?" tanya Meyrin yang sekarang merubah posisinya menjadi duduk.
"Daddy kelja, Oni ambil salapan Una," jelas Juna dengan bahasa candelnya.
Setelahnya seorang berseragam baby sitter masuk ke dalam kamar. Juna langsung menyambutnya dengan antusias.
__ADS_1
"Oni, Una apal! (Juna lapar!)"
"Iya, Sayang. Selamat pagi Nona Muda," sapa baby sitter itu saat melihat Meyrin yang hanya dijawab anggukan kepala.
"Kalau begitu, Juna makan dulu yah. Nanti kita lanjut telepo—"
"No Mommy!" cegah Juna.
"Baiklah, Mommy akan menemani Juna makan setelah itu sambung nanti yah. Mommy harus kerja, Sayang. Bisa-bisa nanti grandpa marah." Meyrin memberi pengertiannya.
"Ok," setuju Juna.
Baby sitter itu mulai menyuapi Juna dengan begitu telaten. Bahkan, sesekali Juna akan mengajaknya berbicara atau bermain. Meyrin hanya tersenyum saja melihat bocah itu berlarian dan bermain bersama Oninya.
Tanpa Meyrin sadari, William berjalan mendekat ke arahnya. Dilihatnya layar ponsel Meyrin yang memperlihatkan Juna dan Oninya sedang bermain. Sesekali sang Oni menyuapi Juna dan kembali bermain.
"Dia memanggilmu, Mommy?" tanya William tiba-tiba membuat Meyrin tersentak kaget.
"Astaga William! Bisa kan kalau tidak membuat orang terkejut? Syukur aku tidak punya penyakit jantung," sungut Meyrin.
"Aku tanya, dia memanggilmu Mommy?"
"Iya, Juna adalah anakku. Apa ada masalah jika dia memanggilku dengan Mommy?"
Bagai tersambar petir di siang bolong, William terkejut bukan main. Angannya yang ingin berdamai dengan masa lalu dan mulai menatap masa depan dengan Meyrin, harus hancur akan kehadiran Juna. Tidak ada lagi harapan untuknya mendekati Meyrin.
Akan tetapi, sesuatu yang berada jauh di dalam hatinya tidak ingin mengakui kehadiran Juna. Jiwa terkelamnya ingin menjadikan Meyrin sebagai miliknya. Ditambah kelainan paranoidnya membuat keinginannya semakin kuat. Obsesi besar dari seorang William Anderson Plowden adalah memiliki Meyrin seutuhnya.
"Apa dia memiliki seorang ayah?"
Jawaban apa yang akan diberikan oleh Meyrin?
.
.
.
__ADS_1
~ To Be Continue ~
IG @hana_ryuuga