OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 118 TERLAMBAT (S2)


__ADS_3

Laras mengernyitkan keningnya saat William melarang. Padahal dari saran pria itu, Laras mengambil kesimpulan bahwa dirinya dan Ken harus berbicara dengan kepala dingin.


"Jangan salah paham, Sayang. Maksudku, biarkan Ken untuk menenangkan dirinya dulu. Paling tidak kamu baca dulu surat dari Ayah, dengan begitu kamu punya alasan untuk bertemu dengannya. Bagaimana?"


"Baiklah." Laras menyetujui saran dari suaminya.


Laras mengambil surat yang ada di nakas meja. Dia mulai membacanya kata demi kata. Perasaan Daniel tertuang begitu nyata di surat itu. Laras bisa merasakan bagaimana harapan Daniel untuk Arlington ke depannya. Walaupun dia harus menekan rasa balas dendam itu demi keinginan sang Ayah.


Tiba-tiba ponselnya bergetar. Ada nomor yang tidak dikenal meminta untuk melakukan panggilan suara. Laras menunjukkannya pada William yang dijawab gelengan kepala. Laras masih enggan untuk menjawab panggilan itu. Hingga akhirnya William menyodorkan kembali ponselnya dan menganggukkan kepala.


Laras menghela napas panjangnya dan dengan terpaksa menerima permintaan panggilan suara itu. "Halo?"


"Apa kita bisa bertemu?" tanya seseorang di seberang sana.


Laras yang walaupun baru kedua kalinya mendengar suara itu, tapi dia sangat yakin bahwa si penelepon adalah Steve Arlington. Suara pria yang membunuh Ayahnya itu memiliki ciri khas sehingga mudah untuk mengenalinya.


"Tidak. Kita tidak punya urusan lagi. Kamu sudah membunuh Ayahku, berarti semua sudah lunas. Seperti katamu, nyawa di bayar nyawa dan aku akan menghentikan rantai balas dendam ini. Tolong jangan gang—"


"Ini tentang Rizzo Giovanni," timpal Steve.


Laras terkejut saat mendengar nama orang yang paling ia takuti saat ini. Dua kali Rizzo mengusik hidupnya. Jangan sampai dia kembali datang untuk ketiga kalinya. Menurut informasi Ken, Rizzo berhasil lolos saat di Venesia.


Cepat atau lambat, Rizzo pasti akan datang mengusiknya lagi. Soalnya lagi, keadaannya kali ini tidak baik untuk bertarung. Laras mengumpat dalam diamnya. Ini benar-benar kondisi yang tak disukainya jika Rizzo datang mengusik.


"Laras," panggil Steve dari seberang sana.


"Besok, di hotel Luna, milik Arlington Group. Aku yakin Paman tahu lokasinya."


Setelah mengatakan itu, Laras mengakhiri panggilannya dengan Steve. Lalu, dia menghubungi David, asisten pribadi ayahnya.


"David, aku mau tahu semua tentang Steve Arlington. Waktumu sampai besok siang," perintah Laras.


"Baik, Nyonya."


Setelah menghubungi David, Laras ganti menghubungi Lea dan Rama secara bersamaan melalui video call. Dia memberikan perintah untuk memperketat penjagaan di hotel Luna besok. Laras juga menyuruh Rama untuk mengosongkan jadwal William. William yang merasa aneh, mengerutkan keningnya.


"Ada apa?" tanya William.


"Temani aku bertemu dengan Paman Steve besok. Sekalian aku ajarin kamu cara mafia Arlington bekerja. Apa kamu keberatan?" Laras menatap William dengan was-was.

__ADS_1


"Selama itu untuk melindungi istri dan anakku, tidak masalah."


Laras langsung merangkul suaminya dan sedikit memberikan kecupan basah di bibir William. Merasa kurang, William menahan tengkuk Laras dan kembali menciumnya dengan menuntut.


"Sekarang tidurlah. Besok ada beberapa jadwal yang tidak bisa aku tunda. Bisa bertemu setelah rapat selesai?" tanya William pada Laras, mencoba menjelaskan situasinya untuk besok.


"Tidak masalah. Aku akan menunggunya bersama Ken."


"Ta—"


"Kumohon, jangan cemburu lagi. Bukannya kamu berjanji akan berdamai dengan Ken? Bagaimanapun, aku dan Ken tidak bisa dipisah di dalam organisasi. Ken adalah tangan kananku." Laras membelai lembut pipi William, memberikan pengertiannya.


"Baiklah. Ingat jangan ada pikiran untuk mencintai pria lain!" William mulai merajuk.


"Ya ampun, Sayang. Di tubuhku sedang tumbuh dan berkembang buah hati kita, bukti cinta kita berdua. Lantas, buat apa aku harus memikirkan cinta dari pria lain?"


"Janji?"


"Iya, William sayang, cintaku, kasihku," jawab Laras gemas sendiri.


Setelah itu William mengajak Laras untuk tidur karena jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. William menyuruh Laras untuk tidur di lengannya, lalu merengkuhnya ke dalam pelukan hangat pria itu.


William baru saja keluar dari mobilnya dan melangkahkan kakinya lebar-lebar menuju ruang rapat. Baru kali ini dia datang terlambat ke dalam rapat penting seperti hari ini. William mengabaikan sapaan dari para bawahannya. Fokus pria itu saat ini adalah segera tiba di ruang rapat.


Bagaimana tidak telat jika jam 04.00 dini hari dia terbangun karena morning sickness. Sedangkan yang hamil malah tidur dengan nyenyak tanpa terganggu sama sekali. Ketika William ingin meminta tolong pada Laras, dia merasa tidak tega untuk membangunkannya.


Akhirnya, William meminta tolong Rama untuk membuatkan minuman jahe dan madu hangat. Setidaknya dia harus menormalkan kembali perutnya yang terus bergejolak. Padahal sudah tidak ada yang ingin dia muntahkan.


"Rama, apa semuanya sudah tiba?" tanya William.


"Sudah sejak satu jam yang lalu, Tuan."


Beruntungnya, walaupun telat William tidak akan terkena semburan amarah dari atasan. Siapa yang berani memarahi pemilik perusahaan itu sendiri. William berhenti di depan pintu kaca, di mana orang-orang penting sudah menunggu kehadirannya sejak satu jam yang lalu.


"Rico datang?" tanya William pada Rama yang ada di sampingnya.


"Hadir, Tuan," jawab Rama lugas sambil membukakan pintu untuk William.


Melihat pemilik sekaligus pemegang saham tertinggi hadir, semua yang ada di sana berdiri dan memberikan hormat. William juga memberikan hormat kepada mereka sebagai balasan. Setelahnya dia berjalan menuju satu-satunya kursi kosong yang berada di sana.

__ADS_1


"Silakan dimulai rapat pemegang sahamnya." Rama memberikan kode kepada Rico, pemegang saham terbanyak setelah William.


Tepat pukul 11.30 rapat pemegang saham baru saja selesai. Terjadi perdebatan alot di antara pemegang saham. Beberapa ide untuk meningkatkan penghasilan perusahaan menjadi topik pembahasan yang panas. William mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja, memperhatikan para pemegang saham berdebat.


William mengernyitkan keningnya saat sesuatu di dalam perutnya bergejolak. Dorongan untuk memuntahkan seluruh isi perutnya tidak bisa ditahan lagi.


'Oh tidak! Jangan sekarang, aku mohon!' batin William.


Sayangnya dorongan alamiah itu tidak bisa diajak kompromi. Gejolak di perut William semakin tak tertahankan lagi. Lelaki itu harus ke kamar mandi sekarang juga.


"Bagaimana pendapat Tuan William?" tanya salah satu pemegang saham kepada William.


"Oh muhmmpp—"


William langsung beranjak dari kursinya menuju ke kamar mandi yang ada di ruangan. Rama langsung menyusul William, membantu tuannya itu menuntaskan hasrat untuk mengeluarkan seluruh isi dalam perut.


"Hoek! Hoek!"


Suara William yang muntah-muntah terdengar hingga ke dalam ruangan. Para pemegang saham saling melirik dan tersenyum penuh arti. Sepertinya mereka semua memiliki pendapat yang sama tentang William.


William yang merasa sudah lebih baik akhirnya kembali ke ruang rapat. Dia menyuruh Rico untuk melanjutkan rapat hingga selesai.


"Rama, tampung semua ide dan serahkan ke divisi perencanaan untuk menyempurnakannya," perintah William.


Setelah itu William beranjak dari kursinya dan keluar begitu saja. Dia menatap jarum jam di tangan kanannya, sudah telat dua jam dari waktu yang sudah dijanjikannya kepada Laras. William bisa menebak bagaimana ekspresi Laras saat ini.


"Kita langsung ke hotel Luna." William memberikan perintah pada sopir pribadinya.


Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.


.


.


.


~ To Be Continue ~


@hana_ryuuga

__ADS_1


__ADS_2