
Seorang dokter baru saja keluar dari UGD dengan wajah tersenyum. Ken dan Lea berjalan mendekati sang dokter dan menanyakan keadaan Meyrin.
"Keadaan pasien sudah stabil dan berhasil melewati masa kritisnya. Semangat hidupnya dan tindakan dari pihak keluarga membuat semua proses berjalan lancar dan tidak ada kendala. Kita hanya perlu membiarkan dia untuk istirahat dan menunggu hingga sadar." Dokter itu menjelaskan keadaan Meyrin.
"Terima kasih, Dokter," ucap Ken dan Lea bersamaan. Mereka berdua akhirnya bisa bernapas lega.
Setelah itu brankar di mana Meyrin berbaring keluar dari ruangan UGD. Beberapa perawat mendorong brankar tersebut menuju kamar rawat inap yang sudah disiapkan oleh Lea.
Ken memberikan kode kepada Lea untuk mengikuti Meyrin, sedangkan lelaki itu memasuki ruang UGD. Di dalam ruangan masih ada Daniel, sang paman belum keluar. Dia meminta pada perawat untuk mencarikan kamar kosong yang jaraknya jauh dari ruangan Meyrin.
"Baik, Tuan."
Ken mendekat ke arah brankar di mana Daniel sedang menatap langit-langit ruangan. Tatapan pria yang sudah memasuki usia 50 tahun lebih itu seperti memikirkan sesuatu.
"Paman," panggil Ken.
"Apa kalian berdua tidak bisa tenang? Ini rumah sakit milik Venesia bukan milik Arlington," ujar Daniel tanpa menatap Ken.
Ken yang langsung paham hanya menundukkan kepalanya. Dia meminta maaf pada Daniel atas keributannya dengan William di depan ruang UGD. Bagaimanapun dirinya tidak bersalah, William lah yang harus disalahkan di sini.
Sejenak suasana menjadi hening karena Daniel tidak mengatakan apapun. Pria itu tidak membahas lebih lanjut perihal keributan yang diciptakan William dan Ken.
"Ken," panggil Daniel akhirnya memecah keheningan di antara mereka.
"Iya, Paman?"
"Apa Paman salah jika mempercayakan semuanya pada Meyrin? Apa salah jika Paman menaruh harapan besar dan mempercayakan Arlington kepada Meyrin?" gumam Daniel menatap kedua mata Ken dengan begitu pilu.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Paman?" Bukannya menjawab, Ken malah bertanya balik.
"...."
Daniel terdiam membisu. Dia tidak menjawab pertanyaan Ken. Akan tetapi, pikirannya kembali terbayang saat kondisi Meyrin kritis tadi.
__ADS_1
"Paman?" Ken menatap Daniel. Pamannya itu seperti memikirkan suatu hal yang begitu berat.
"Ken, tadi Paman melihat Meyrin drop. Tidak. Meyrin bukan hanya drop tapi jantungnya sempat berhenti berdetak beberapa menit. Seolah Meyrin sudah lelah dengan ini semua. Seolah Meyrin sudah tidak ingin melihat Paman yang membuatnya seperti saat ini," lirih Daniel.
"Padahal sejak kecil dia dibesarkan dan dididik oleh Indah menjadi wanita yang polos, anggun dan lembut. Tapi, setelah bersama Paman dia harus berubah 180° karena dunia hitam. Dia harus menerima akibat dari penolakannya terhadap Rizzo. Di—"
"Paman, jangan berkata seperti itu. Ini sepenuhnya bukan salah Paman. Meyrin sendiri yang memutuskan untuk ikut terjun bersama kita. Jika Meyrin mendengar ayahnya berkata seperti ini, pasti dia akan sedih. Tolong jangan seperti ini, Paman. Paman harus percaya pada Meyrin. Dia gadis yang kuat dan Ken yakin Meyrin bahagia dengan hidupnya saat ini."
Ken mencoba menegarkan hati seorang Daniel Arlington. Walaupun dia sendiri tidak yakin dengan kalimat terakhirnya. Bukan sekali dua kali dia mendengar Meyrin mengeluh dengan dunianya saat ini. Akan tetapi, untuk kali ini saja biarkan Ken berbohong demi kebaikan Daniel.
Tiba-tiba seorang perawat datang dan mengatakan kalau kamar untuk Daniel sudah siap. Ken menganggukkan kepalanya dan mengikuti beberapa perawat yang mendorong brankar Daniel. Mereka akan membawa Daniel ke kamarnya untuk istirahat pasca transfusi darah. Bahkan, darahnya diambil beberapa kantong untuk keperluan Meyrin.
Suster itu menyuruh Daniel untuk beristirahat agar staminanya kembali pulih, lalu meninggalkan kamar rawat inap. Ken juga berpamitan untuk kembali ke kamar Meyrin yang mendapat persetujuan dari Daniel.
****************
Sedangkan di kamar Meyrin, terlihat William yang melarang Lea untuk mendekat. Bahkan pria itu menyuruh Lea menjaga jarak dengan Meyrin dua meter jauhnya. Sedangkan dirinya duduk di kursi samping kasur tempat sahabat barunya terbaring.
Ada dua selang infus yang terpasang dengan berbeda warna kantong. Satu kantong berwarna bening dan satunya lagi berwarna merah yang sudah pasti itu darah. Selain itu, sebuah selang nasogastric tube (NGT) terpasang di hidung Meyrin. Hal ini berfungsi untuk mensuplai makanan dan minuman pada Meyrin yang tidak memungkinkan untuk menelan karena kondisinya.
William segera menghapus air mata yang sudah membasahi kedua pipinya. Sayangnya, air mata itu seolah enggan untuk berhenti. Hari ini dirinya terlalu banyak menangis karena dua wanita yang dicintainya.
Lelaki itu membenci perasaannya sendiri, tapi seperti kata Nikolai, dia pun tidak bisa menghentikan perasaan cinta. William hanya lelaki biasa yang ketika cinta itu hadir, dia sendiri tidak bisa melarangnya.
William tertunduk, mencium tangan Meyrin berkali-kali. Rasa kehilangan itu kembali menghantuinya. Dia tidak ingin merasakan kehilangan orang-orang tercintanya lagi. Cukup kehilangan istri dan kedua orang tuanya membuat lelaki itu hancur sehancur-hancurnya.
Rama dan Lea yang melihat itu memilih untuk keluar dari kamar. Dia ingin memberikan kesempatan William untuk berdua dengan Meyrin, istri sahnya.
"Kenapa keluar?" tanya Ken saat hendak membuka pintu. Rama dan Lea tersentak kaget.
"Kami ingin memberikan ruang untuk Tuan William, Tuan." Lea lah yang menjawab.
"Lea, kembalilah ke mansion dan urus semuanya. Jika Alex sudah datang, suruh dia untuk mengantarkan baju untukku, Paman Daniel dan Meyrin," perintah Ken.
__ADS_1
"Baik, Tuan."
Lea yang menerima titah itu langsung paham, apalagi di bagian urus semuanya. Itu artinya Lea yang akan mengambil tindakan pada bawahan kapak putih. Lea membungkuk hormat dan pergi meninggalkan koridor tempat nona mudanya di rawat.
Seorang pengawal datang menghampiri Lea dan membungkuk hormat. Saat Ken tiba di rumah sakit, pria itu menyuruh Aite dan Joker untuk kembali ke mansion membantu King dan Queen. Dia juga meminta untuk mengirim satu mobil ke rumah sakit.
"Kita kembali ke mansion Tuan Aite," perintah Lea kepada pengawal itu.
"Baik, Nona."
Setelah itu mobil melaju di tengah kota Venesia yang jalanannya masih renggang. Lea menatap jam di layar ponselnya, pukul 5.00 pagi waktu setempat. Lea menyandarkan punggung dan kepalanya di sandaran jok mobil. Dia mulai memijat keningnya yang terasa berdenyut.
Sesampainya di halaman mansion, Lea segera keluar dari mobil. Benar saja, Alex sudah tiba di mansion. Pria itu baru saja selesai mandi, terlihat dari rambutnya yang masih basah.
Lea segera menyampaikan pesan Ken kepada Alex untuk menyiapkan baju tuannya. Sedangkan dia sendiri menyiapkan keperluan nona mudanya dan Daniel setelah bertanya pada Josh, suaminya.
Setelah semua selesai, Lea keluar dari kamar nona mudanya. Aite datang menyambut Lea dan menanyakan kabar bos kecilnya itu. Lea menyampaikan secara garis besar keadaan Meyrin dan meminta Aite untuk mengantar dirinya ke ruang bawah tanah.
Aite membawa Lea menuju ruang bawah tanah yang ada di samping mansion. Pintu ruang bawah tanah itu terbuat dari besi yang tertutupi oleh rumput sintetis hingga tersamarkan. Pintu itu seperti sama saja dengan tanah yang ditumbuhi oleh rerumputan alami.
Melihat kedatangan tangan kanan bos kecilnya, semua memberikan hormat. Para petinggi mendekat dan menanyakan kabar terkini sang Bos.
"Sebelum Nona sadar, pastikan kalian mendapatkan informasi dalang di balik semua ini. Lakukan apapun untuk mendapatkan identitas pemimpin yang sebenarnya. Jika kalian ingin berkunjung ke rumah sakit, tunggu info dari saya karena Tuan Plowden ada di sana."
Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.
.
.
.
~ To Be Continue ~
__ADS_1
@hana_ryuuga