One & Only

One & Only
101 - Arena Latihan Prajurit.


__ADS_3

Yura benar-benar merasa tersinggung mendengar orang membuat citra dan nama keluarganya menjadi buruk karena kesalahan yang sama sekali tidak pernah diperbuat olehnya. Hingga Yura merasa butuh melakukan sesuatu untuk menghibur diri agar bisa melampiaskan emosi dalam dirinya.


Yura pun beranjak pergi bersama Pevita dan Rio yang menemaninya menuju ke suatu tempat. Yaitu, tempat para prajurit yang tadi sempat membicarakan rumor palsu tentang dirinya, alias arena latihan prajurit. Tanpa sadar Arvan juga mengikuti dari belakang.


"Ayo, kita bersenang-senang untuk menghibur diri agar bisa melampiaskan emosi dengan baik," kata Yura


"Apa yang akan Yura lakukan untuk menghibur diri agar bisa melampiaskan emosi? Dia tidak akan melakukan hal aneh yang berbahaya, kan?" batin Arvan bertanya di dalam hati sambil terus mengikuti secara diam-diam.


"Aku belum pernah mengajak kalian berdua berkeliling, kan? Karena aku pun belum selesai mengelilingi satu Istana Kerajaan ini, namun setidaknya aku tahu tempat ini, meski pun belum pernah masuk ke dalamnya. Ini adalah pertama kalinya aku datang ke tempat ini di Istana Kerajaan ini dan setidaknya kalian berdua harus tahu tempat ini. Karena di tempat inilah kalian akan berlatih bersama pasukan prajurit lainnya," ujar Yura saat terus berjalan memasuki arena latihan prajurit.


"Tempat ini adalah arena latihan prajurit. Untuk apa Yura datang dan masuk ke sini? Apa dia sedang ingin menyuruh dua prajurit baru itu untuk latihan bersama rekan prajurit lainnya?" gumam Arvan


Saat melihat Yura masuk ke dalam arena latihan prajurit, para prajurit di sana memicingkan sebelah matanya. Lebih tepatnya menatap dengan tidak suka ke arah Yura, lalu terdengarlah lagi bisik-bisik tentang rumor palsu tak berdasar itu hingga Yura mengepalkan kedua tangannya untuk menahan emosi yang terus memuncak.


"Kalian berdua adalah bagian dari pasukan, maka perkenalkanlah diri kalian di hadapan semua rekan prajurit di sini," kata Yura yang bicara pada Pevita dan Rio.


Pevita dan Rio pun mengangguk tanda mengerti.


"Selamat pagi. Saya adalah Rio, anggota prajurit Istana Kerajaan yang baru."


"Selamat pagi. Saya adalah Pevita, anggota prajurit Istana Kerajaan yang baru. Kami berdua sebelumnya telah diberi tugas langsung oleh Baginda Raja hingga baru sempat datang untuk bergabung dan memperkenalkan diri. Mohon maaf atas ketidak-sopanan kami sebagai junior," ucap Pevita


"Apa Nona tidak ingin memperkenalkan diri juga?" tanya Rio


"Ya, benar juga. Selamat pagi, semuanya. Perkenalkan, saya adalah Yura dari pelayan Yang Mulia Ratu. Mungkin sudah banyak yang mengenal saya," ungkap Yura


Arvan ikut masuk ke dalam arena latihan prajurit, namun tidak ada yang menyadari keberadaannya karena lelaki itu berdiri di belakang para prajurit lain dan memerhatikan Yura dari kejauhan.

__ADS_1


Setelah Yura memperkenalkan diri, ada seorang prajurit yang menghampiri. Kemungkinan itu adalah ketua salah satu pasukan yang ada (karena prajurit Istana Kerajaan terdiri dari beberapa pasukan), bisa dilihat dari pembawaannya.


"Permisi, mohon maaf. Ada perlu apa Nona datang ke sini?"


"Saya datang untuk mengajak dan memberi tahu dua prajurit baru tempat latihan ini. Apa saya tidak boleh ikut hadir di sini?" tanya balik Yura


"Saya tahu soal dua prajurit baru yang Nona bawa, keduanya adalah prajurit terbaik. Namun, Nona bukanlah bagian dari kami."


"Apanya yang Nona? Dia adalah calon selir Baginda Raja. Mungkin sudah harus memanggilnya dengan sebutan Nyonya." Begitulah, terdengar suara teriakan dari salah satu anggota prajurit.


"Rupanya, kedatangan saya di sini tidak disambut dengan baik. Meski begitu, izinkan saya tetap di sini untuk melihat sesi latihan yang ada," ujar Yura


Saat itu, Rio merasa geram atas perilaku prajurit yang dengan tidak sopan menghina Yura. Sebagai lelaki yang menyukai Yura, Rio merasa tidak terima. Namun, karena dirinya yang hanya seorang junior membuatnya tidak bisa berbuat banyak selain diam.


Begitu juga dengan Arvan yang ikut memerhatikan dari jauh. Lelaki itu tidak terima ada orang yang bicara secara sembarangan tentang Yura. Namun, dirinya percaya pada gadis dambaannya bahwa gadis itu mampu mengatasi situasi yang menyulitkan baginya saat ini. Hingga Arvan hanya mampu menahan ini untuk tidak ikut terlibat. Setidaknya lelaki itu akan melihat dulu situasinya dan saat situasi mulai tak terkendali, barulah ia akan turun tangan.


"Nona, tidak bagus jika ada di sini. Ini adalah tempat kami berlatih. Hati-hati, senjata tidak punya mata. Jangan sampai Nona terluka dan menyalahkan kami yang sudah memperingatkan. Lebih baik Nona kembali untuk berlatih caranya menghangatkan ranjang."


Semua anggota prajurit lainnya pun tertawa, memperolok Yura, kecuali Pevita dan Rio, tentunya juga Arvan. Para anggota prajurit lainnya pun tiak ragu-ragu membicarakan rumor palsu tentang Yura dengan suara lantang serta nada bicara yang mengejek. Bahkan kini ketua pasukan yang lebih dulu menghampiri Yura juga memandang sinis gadis bercadar di hadapannya.


Namun, Yura tetap tenang. Sedangkan, Pevita, Rio, dan Arvan terus menahan diri karena tidak terima perlakuan buruk terhadap Yura.


"Baiklah, karena kalian semua terus bicara tidak sopan denganku, maka aku pun akan berbuat sama. Lalu, apa maksud perkataanmu tadi? Aku tidak mengerti. Namun, kenapa kau lebih mengerti dari pada aku? Menghangatkan ranjang, apa kau sudah pernah melakukannya? Aku mengerti sekarang, kau adalah pria yang sudah beristri, mungkin juga sudah memiliki keluarga. Pantas saja bicaramu dewasa sekali. Kau pasti tipe suami yang memanjakan istri di atas ranjang," ujar Yura. Seketika saja wajah prajurit itu merah padam.


"Hati-hati saat bicara, Nona. Aku masih belum menikah."


"Rupanya masih belum, tapi apa kemampuanmu di atas ranjang sangat baik hingga ingin berbagi ilmu dengan para rekanmu di sini? Kau sungguh sangat baik hati. Atau aku salah lagi? Jangan bilang kau bicara sedemikian rupa karena pelayananmu tidak baik? Kau mungkin iri karena tidak punya kemanpuan. Sayang sekali," ujar Yura

__ADS_1


"Itu tidak benar. Apa hubungannya dengan kemampuan yang kumiliki. Apa Nona berniat mencoba langsung denganku?" Tidak puas dengan hanya mengolok, ia juga menghinga dengan menggoda Yura.


"Mohon maaf, biar kukatakan saja ... seleraku tidak begitu rendah. Justru sebaliknya bahwa seleraku sangat tinggi dan berbudi pekerti," jawab Yura


"Sebenarnya apa maumu datang ke sini, Nona?" tanyanya yang berusaha menahan diri setelah Yura balik menghinanya dengan mengatakan secara halus bahwa dirinya bernilai rendah dan tidak memiliki budi pekerti.


"Terima kasih sudah bertanya. Dari pada hanya melihat sesi latihan di sini, biarkan aku ikut berlatih di sini ... " jawab Yura


"Nona, kau jangan bercanda. Di sini bukan tempat untukmu main rumah-rumahan, kami berlatih dengan banyak senjata yang berbahaya. Sudah kubilang, senjata tidak punya mata. Berhati-hatilah bahkan lebih baik kau pergi saja dari sini."


"Aku memang hanya seorang gadis, tapi apa kau melihatku sebagai seorang anak kecil? Kupikir matamu tidak buta. Senjata tidak punya mata, namun senjata memiliki bilah yang tajam nan berbahaya. Aku juga tahu hal seperti itu. Maaf, aku tidak bodoh seperti dirimu. Kau tidak perlu bicara berulang kali, lagi pula pendengaran dan penglihatan milikku masih berfungsi dengan baik," ujar Yura


"Jangan salah mengira pedang yang digunakan untuk bertarung dalam perang sebagai pisau yang digunakan untuk memotong sayur di dapur."


"Namun, pisau dapur bisa mengalahkan pedang perang tergantung dengan kemampuan orang yang menggunakannya. Kau mungkin tidak akan menyangka," ucap Yura yang bermaksud jangan meremehkan seorang perempuan.


"Memangnya kau mau apa dengan mengikuti sesi latihan kami? Meski pun hanya latihan, kau pasti tidak akan bisa menang melawan salah satu di antara kami semua."


"Lalu, bagaimana jika aku bisa menang?" tanya Yura


"Jadi, kau ingin bertaruh? Kalau kau menang, kau bisa meminta apa pun dari kami di sini. Lalu, bagaimana kalau kau kalah?"


"Aku akan memberikan sejumlah uang sebagai ganti kekalahanku," jawab Yura


"Kalau begitu, telah disepakati. Kau boleh memilih untuk memakai senjata apa pun yang ada di sini yang kau mau."


"Bagus, itulah yang mau kudengar ... " kata Yura

__ADS_1


Semua prajurit di sana pun menaruh senjata miliknya masing-masing di atas tanah agar Yura dapat memilih secara bebas sesuai seperti persyaratan yang sudah dibuat. Namun, mereka semua pasti bertaruh bahwa Yura akan kalah dari rekan prajurit yang akan melawannya.


__ADS_2