
Tak seperti dirinya yang memeriksa kamar orang lain, di dalam kamar yang dipilihnya sendiri, Yura hanya langsung berbaring di atas ranjang tanpa memeriksa ruangan atau merapikan barang bawaan miliknya.
Melihat ke arah langit-langit kamar, Yura menghela nafas saat berbaring.
"Kakak ipar, Raja bilang tidak perlu lagi memeriksa dan memastikan keamanan sesuatu dengan berlrbihan, itu artinya aku tidak perlu lagi memeriksa ruangan kamar ini. Keamananku tidak sepenting keluarga kerajaan, aku pun bisa menjaga diri dengan baik," gumam Yura
Yura memang sangat peduli dengan keamanan orang lain atau banyak orang, tapi terlalu santai pada keamanan dirinya sendiri.
Seketika Yura pun bangkit dari posisi berbaring di atas ranjang dan pandangan kedua matanya menuju ke arah jendela kamar yang juga ada koper barang yang diletakkan di dekat sana.
"Rapikan barangnya nanti saja, sekarang aku pergi berkeliling di sekitar Vila ini dulu, seperti kata kak Yuna ... " gumam Yura
Yura pun bangkit berdiri dan beranjak pergi ke luar dari dalam kamar.
Yura memang sudah biasa membiarkan barang bawaan miliknya di dalam koper atau tas karena lebih sering mengembara dan berkelana ke tempat yang jauh hingga lebih praktis saat harus berpindah tujuan ke tempat lain. Asalkan barang bawaan miliknya tetap tersusun rapi di dalam koper atau tas, itu pun sudah cukup.
Begitu, Yura ke luar dari dalam kamar, terlihat Arvan juga baru saja ke luar dari kamarnya yang berada tepat di depan kamar Yura. Keduanya ke luar dari kamar secara bersamaan hingga membuat keduanya saling berhadapan langsung dan bersitatap.
"Yura, kau hendak pergi ke mana?" tanya Arvan memecah suasana hening dan canggung.
"Aku hendak pergi berkeliling sebentar. Kau sendiri ingin pergi ke mana?" tanya balik Yura, namun langsung berjalan pergi begitu saja.
"Kau ini bertanya, tapi main pergi begitu saja. Aku juga ingin berkeliling di luar," jawab Arvan yang langsung mengejar dan menyamakan langkah kaki Yura yang berjalan lebih dulu.
"Habisnya kukira kau akan sibuk mengerjakan sesuatu, meski nyatanya kau ikut sampai ke sini," ujar Yura
"Kenapa kau berpikir seperti itu?" tanya Arvan
"Saat aku memeriksa koper barang milik Ratu dan memerhatikan saat Ratu memeriksa koper barang milik Raja, aku melihat ada berkas dokumen yang terdapat di dalamnya. Pasti kau yang meletakkan berkas dokumen itu di dalam koper barang milik Raja, kan?" tanya balik Yura
"Kenapa kau mengira aku yang meletakkannya di sana?" tanya balik Arvan lagi.
"Sebelum pergi ke sini, aku sempat bertemu dengan Raja sebelum aku menemui Ratu untuk membantu mengemas barang, lalu Raja berkata dia juga ingin meminta bantuan darimu untuk mengemas barangnya dan setelah itu terlihat kau yang ke luar bersama Raja. Pasti memang saat itu kau yang membantu Raja mengemas barang, kan?" tanya balik Yura lagi.
"Tak hanya memeriksa barang setelah sampai di sini, kau juga membantu mengemas barang sebelum pergi ke sini?" tanya balik Arvan lagi.
__ADS_1
"Tentu saja. Sedari tadi kau hanya bertanya balik, tapi belum ada satu pertanyaan dariku yang kau jawab. Sekarang kau jawablah, apa alasanmu menaruh berkas dokumen itu di dalam koper barang milik Raja?" tanya balik Yura
"Ya, memang aku yang meletakkan berkas dokumen itu ke dalam koper barang milik Raja. Tidak ada alasan khusus, aku hanya ingin Baginda bisa fokus meninjau berkas dokumen yang kutaruh itu. Aku sedikit merasa kesal saat Raja menggangguku yang sedang memeriksa berkas dokumen sebelum pergi ke sini," ungkap Arvan
Saat itu Yura pun terkekeh kecil.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Arvan
"Rupanya, kau bisa juga merasa kesal dan bersikap sedikit kekanakan. Aku pikir kau hanya bisa serius dan fokus, tapi itu lebih baik karena kau jasi tidak terlalu kaku hingga kau tidak akan cepat bertambah tua," jawab Yura
"Sayangnya wajahmu masih tertutup oleh cadar, kalau tidak kau pasti terlihat cantik saat tertawa seperti tadi," batin Arvan yang tanpa sadar tersenyum tipis.
Tak terasa, rupanya keduanya terus berjalan bersama hingga kini sudah berada di luar vila.
Yura mengedarkan pandangannya ke segala arah. Kalau saja wajahnya tidak tertutupi oleh cadar, mungkin atau sudah pasti saat ini gadis itu sedang mengembangkan senyum terindah yang dimilikinya.
"Arvan, kau sudah lama bekerja dengan Raja di dalam Istana Kerajaan, berarti kau sudah pernah datang ke Vila ini setidaknya sekali, kan?" tanya Yura
"Memang benar," jawab Arvan
"Baiklah, karena aku pun ingin berkeliling, jadi sekalian saja ... " jawab Arvan
Yura pun mulai berkeliling sekitar Vila dengan Arvan yang menemaninya sebagai pemandu lokasi.
...
Arsha yang sedang istirahat di dalam kamar, tiba-tiba beranjak ke luar. Saat itu ada seorang pelayan vila yang menyapanya.
"Salam, Putra Mahkota. Apa Anda memerlukan sesuatu?"
"Apa kau melihat bibi Yura? Apa kau tahu yang mana kamarnya?" tanya balik Arsha
"Mungkin yang Anda maksud adalah perempuan yang memakai cadar itu, ya? Tadi saya lihat dia pergi ke luar bersama tuan Penasehat juga."
"Begitu, rupanya. Kalau begitu, apa kau tahu yang mana kamar ayahanda Raja dan ibunda Ratu?" tanya Arsha
__ADS_1
"Kamar Baginda Raja dan Yang Mulia Ratu berada tepat di sebelah kiri kamar Anda, Yang Mulia Putra Mahkota."
"Baiklah, terima kasih ... " ucap Arsha
"Tidak perlu sungkan. Kalau Anda memerlukan sesuatu atau bantuan, silakan katakan atau tanyakan saja pada saya atau pelayan lainnya."
Arsha hanya mengangguk dan langsung beralih menuju kamar kedua orangtuanya. Sebelum membuka pintu dan masuk, Arsha lebih dulu mengetuk pintu yang ada di hadapannya.
"Ayahanda, Ibunda, ini aku ... apa Anda ada di dalam? Apa aku boleh masuk?" tanya Arsha
Mendengar suara ketukan pintu bahkan juga suara sang anak, Ratu pun melepaskan diri dari pelukan Raja bahkan dari ciuman mesra yang sedang dilakukan oleh keduanya.
"Itu, anak kita datang ... " kata Ratu
"Sepertinya Putra Mahkota sedang merasa bosan sampai harus datang mengganggu kita," ujar Raja
"Anda jangan bicara seperti itu, Baginda. Dia adalah putra kita. Biarkan dia masuk," ucap Ratu
"Suruhlah dia masuk," kata Raja
Ratu pun tersenyum dan beranjak duduk dari posisi tidurnya.
"Ya, Arsha ... masuklah. Ibu dan Ayah ada di dalam!" pekik Ratu
Pintu pun mulai terbuka dari luar dan muncullah Putra Mahkota dari baliknya. Melihat Arsha masuk, Ratu langsung beranjak turun dari ranjang dan bangkit berdiri.
"Ayahanda, Ibunda, apa kedatanganku mengganggu istirahat kalian?" tanya Arsha
"Tidak kok, Arsha. Ada apa?" tanya Ratu
"Di mana bibi Yura dan paman Arvan? Bukankah mereka berdua masih menemanimu tadi?" tanya Raja yang beranjak duduk dari posisi tidurnya.
"Bibi Yura dan paman Arvan tadi pergi untuk memilih kamar, lalu barusan pelayan vila bilang mereka berdua sedang pergi ke luar," ungkap Arsha
Raja hanya bisa tersenyum kecil sambil menghela nafas pelan saat putranya datang mengganggu kemesraannya dengan Ratu.
__ADS_1
"Rupanya, mereka berdua mulai aktif bermesraan hingga anakku merasa kesepian dan mengganggu kemesraanku dengan Ratu. Sepertinya aku harus lebih banyak bersabar dan sesekali mengalah dengan kedua lajang itu," batin Raja