
Kereta kuda yang akan digunakan untuk menuju ke Istana Kerajaan berjumlah dua karena Tuan dan Nyonya Haris akan ikut karena telah diundang langsung oleh Raja. Jadi, Raja dan Ratu akan menggunakan kereta kuda yang sama, sedangkan Tuan dan Nyonya Haris akan menggunakan kereta kuda yang berbeda. Sementara Pevita dan Rio akan menunggang kuda secara terpisah agar bisa melindungi dari luar kereta kuda.
"Karena semua sudah siap, ayo kita berangkat sekarang ... " ujar Raja
"Kita masih harus menunggu Yura," kata Ratu
"Yura sudah meminta izin padaku untuk pergi mengurus sesuatu lebih dulu. Mungkin adik ipar tidak akan kembali ke Istana Kerajaan hari ini karena urusannya itu," ucap Raja
"Kenapa dia tidak bilang padaku? Apa Ibu dan Ayah tahu soal ini?" tanya Ratu
"Ibu tidak tahu kalau Yura pergi karena ada urusan," jawab Nyonya Haris
"Adikmu itu memang seperti itu. Sering pergi terburu-buru tanpa memberi tahu lebih dulu," kata Tuan Haris
"Apa Yura mengatakan tentang urusannya padamu, Kak Evan? Sejak kapan dia pergi?" tanya Ratu
"Yura tidak bilang hal lain selain ada urusan dan aku tidak sempat bertanya. Adik ipar pergi sekitar setengah jam yang lalu," jawab Raja
"Biarkan saja Yura pergi. Adikmu seperti itu pasti karena sudah bisa menjaga dirinya sendiri," ujar Tuan Haris
"Ya, nanti Yura juga pasti menyusul dan semoga saja adikmu itu baik-baik saja ... " kata Nyonya Haris
"Jadi, apa kita bisa pergi sekarang?" tanya Raja
"Baiklah, ayo kita berangkat ... " jawab Ratu
Raja dan Ratu pun beranjak naik memasuki kereta kuda. Begitu juga dengan Tuan dan Nyonya Haris. Setelah itu mereka pun pergi menuju ke Istana Kerajaan dengan Pevita dan Rio yang mengawal perjalanan mereka sambil menunggang kuda.
Setelah melakukan perjalanan tanpa henti, akhirnya Yura sudah dapat melihat letak perkemahan prajurit di sekitaran daerah perbatasan yang dekat dengan wilayah Suku Barat.
Biasanya jarak tempuh dari Ibukota Kerajaan untuk sampai ke daerah perbatasan memerlukan waktu paling cepat sekitar 6 jam di perjalanan dengan berkuda. Namun, Yura bisa sampai hanya dengan menempuh perjalanan selama 4 setengah jam.
Dari kejauhan, Yura melihat lahan yang harusnya merupakan padang rumput yang telah menjadi tandus kini menjadi lokasi perang antar 2 Negara Kerajaan. Harusnya pada saat-saat ini adalah waktunya gencatan senjata perang untuk kedua pihak saling memberi waktu istirahat, tapi di sana masih tampak beberapa pasukan yang saling menyersng meski pun tidak tampak sebanyak yang harusnya terjadi pada perang besar.
Yura menduga itu adalah perbuatan beberapa orang yang merasa sombong dan tidak puas karena ingin segera memenangkan perang. Melihat hal itu, Yura tidak bisa diam saja. Yura pun merasa harus mengambil tindakan.
Yura mulai mengukur jarak dari pandangannya dan melihat dan merasakan arah angin. Lalu, gadis yang lengkap memakai cadar dan juga jubah itu pun mengatur kuda yang ditunggangi olehnya untuk bergerak mundur beberapa langkah. Kedua tangannya dengan lihai mengambil busur dan anak panah.
Yura pun berdiri di atas pijakan kaki pada pelana kuda. Lalu, mengatur dan menarik anak panah pada busur miliknya. Hal yang terjadi pada detik selsnjutnya adalah panah melontar jauh ke arah yang telah diperhitungkan. Tak cukup melontarkan satu panah pada sekali tembakan, Yura menggunakan 3 anak panah sekaligus.
__ADS_1
Setelah beberapa kali menembak, tampaklah pasukan musuh, yaitu prajurit Brande pun berlari tunggang langgang meninggalkan lokasi yang menjadi medan perang dan pasukan Chuya bergerak mundur agar bisa langsung istirahat. Melihat keadaan cukup kondusif meski tidak sepenuhnya seperti itu, Yura pun kembali melajukan kuda yang ditunggangi olehnya untuk menuju ke kamp prajurit.
Prajurit yang telag bergerak mundur untuk beristirahat sebenarnya merasa heran karena telah mendapat bantuan dari arah belakang. Salah satu prajurit yang baru sampai di kamp prajurit usai perang berakhir sementara pun langsung menghadap kepada pemimpin prajurit di sana, yaitu Yasha.
"Akhirnya, kalian kembali. Apa pasukan lawan sudah sepakat melakukan gencatan senjata yang sedari tadi ditunda?" tanya Yasha, Pemimpin Pasukan Prajurit Chuya.
"Lapor, Ketua. Pasukan lawan menarik mundur sambil berlari tunggang langgang setelah ada yang menyerang mereka dengan tembakan anak panah dari arah yang tidak diketahui. Namun, sebenarnya dari arah serangannya itu adalah dari arah belakang pasukan kita. Apa itu adalah bala bantuan yang baru datang atau Ketua telah mengatur strategi untuk membantu kami yang berada di medan perang tadi?"
"Aku atau dari pihak kamp sama sekali tidak mengatur strategi bantuan. Apa itu adalah bala bantuan prajurit yang baru dikirim? Namun, yang kuminta pada surat yang kukirim hari ini adalah bantuan pihak medis. Kenapa yang datang malah tambahan prajurit baru? Surat yang kukirim pun baru pergi beberapa jam, harusnya surat itu baru sampai dan pihak Istana Kerajaan belum sempat membuat keputusan atau suratnya bahkan masih berada di perjalanan saat ini. Sebenarnya serangan bantuan yang kau katakan barusan itu datang dari mana?"
Pasukan Prajurit Chuya pun semakin merasa heran sekaligus bertanya-tanya. Bahkan Ketua Yasha Sang Pemimpin Pasukan pun tidak tahu-menahu tentang serangan bantuan yang membuat musuh bergerak mundur.
"Jika, kemungkinan besar itu adalah serangan bantuan yang datangnya dari arah belakang pasukan kita. Kalau benar seperti yang kau bilang, pasti akan ada yang datang sebentar lagi, cepat atau lambat. Mari kita lihat, siapa itu sebenarnya. Kalau begitu, perintahkan beberapa orang untuk memperketat penjagaan pada kamp prajurit. Kita harus selalu berjaga-jaga karena mungkin bisa saja itu adalah mata-mata yang sedang berusaha mengelabuhi pasukan kita," ujar Yasha
"Siap, laksanakan, Ketua!"
Perintah baru saja dibuat, seorang penunggang kuda sudah berhasil masuk ke dalam area kamp prajurit. Beberapa prajurit pun segera bersiap siaga untuk menghadapi apapun kemungkinan yang akan terjadi. Beberapa prajurit langsung siap sambil menodongkan senjata ke arah penunggang kuda yang baru saja datang.
"Maafkan kami, Ketua. Orang itu datang dengan cepat menerobos tempat ini."
"Tetap bersiap dan berjaga-jaga di tempat," kata Yasha
"Jangan bergerak. Ini bukan tempat yang bisa dimasuki sembarangan."
"Kak, ini aku ... " kata Yura yang langsung menurunkan tudung jubah dan melepaskan cadar yang menghalangi wajahnya.
Seketika semua prajurit yang melihat di sana langsung berlutut sambil bergumam, "Yang Mulia Ratu!"
Hanya Ketua Yasha yang tidak ikut berlutut bersama pasukan prajuritnya karena lelaki pemimpin itu mengetahui dan mengenal sosok yang baru saja datang itu.
"Hormat kami bagi Yang Mulia Ratu!"
"Kenapa Ketua tidak berlutut padahal Yang Mulia Ratu ada tepat di hadapannya?"
"Memangnya kau tidak tahu. Ketua adalah kakak dari Yang Mulia Ratu."
"Apa hanya karena itu Ketua boleh tidak memberi hormat pada anggota Keluarga Kerajaan sekaligus Ibu Negara Kerajaan ini? Bukankah sebagai seorang pemimpin, Ketua harus memberi contoh yang baik di depan kita semua?"
"Sudahlah, kita tidak perlu mempertanyakan sikap Ketua."
__ADS_1
Seperti itulah bisik-bisik beberapa prajurit yang mengira Yura sebagai Ratu.
"Sebenarnya kalian semua tidak perlu berlutut. Perkenalkan ini adalah adikku, Yura. Yang sekaligus saudari kembar Yang Mulia Ratu, jadi dia bukanlah Ratu yang sesungguhnya. Hanya wajahnya yang mirip," ujar Yasha memperkenalkan Yura sebagai adiknya pada pasukan prajuritnya.
"Salam kenal dan senang bertemu dengan kalian semua. Maafkan saya, Para Tuan Prajurit. Anda semua bisa berdiri. Saya adalah Yura, adik dari Ketua, sekaligus saudari kembar Yang Mulia Ratu ... " ucap Yura sambil tersenyum.
Para prajurit pun kembali bangkit berdiri.
"Rupanya, hanya Nona Yura. Senang bertemu denganmu juga."
"Jadi, kenapa dan untuk apa kau datang ke tempat yang berbahaya seperti ini, Yura? Apa serangan bantuan berupa tembakan anak panah tadi itu adalah perbuatanmu?" tanya Yasha
"Ya, aku yang melakukan serangan anak panah itu dan aku datang ke sini untuk tujuan membantu," jawab Yura
"Tidak mungkin." Para prajurit merasa tidak percaya kalau Yura yang sudah melakukan serangan tembakan anak panah sebelumnya.
"Untung saja aku tahu dengan jelas seragam baju besi pasukan prajurit Chuya, jadi aku tidak salah dalam membuat sasaran. Namun, anak panah yang kugunakan tadi itu adalah favoritku, jadi setelah perang ini berakhir Kakak harus menggantinya. Kak Yasha, kau berhutang padaku," ucap Yura
"Jangan berbanga diri. Kalau tahu anak panah itu adalah favorotmu, kenapa kau malah membuang-buang dengan menggunakannya? Lalu, seperti yang kau tahu di sini adalah medan perang yang berbahaya, jadi kembalilah. Di sini tidak butuh bantuanmu," ujar Yasha
"Aku tidak sedang membanggakan diri, aku hanya bilang kalau Kakak berhutang padaku. Aku ingin Kak Yasha mengganti anak panah milikku nanti. Lalu, aku tidak bisa dan tidak mau kembali. Aku datang ke sini atas perintah Baginda Raja sebagai bantuan pihak medis," ungkap Yura sambil menunjukkan lencana emas kehormatan milik Raja.
Seketika saja, para prajurit kembali belutut sekali lagi dan kali ini, Yasha pun ikut berlutut bersama pasukan prajuritnya karena melihat lencana emas kehormatan milik Raja yang ditunjukkan oleh Yura.
Yura memang sengaja memunjukkan lencana emas kehormatan pemberian Raja yang selalu disimpan dan dibawa ke mana pun olehnya. Hal ini dilakukan agar kedatangannya diterima dengan cepat tanpa ada yang berani menolak atau melarang kedatangannya di sana. Saat melihat semua prajurit sekaligus kakaknya berlutut saat lencana emas kehormatan milik Raja ditunjukkan, Yura pun merasa puas karena rencananya berjalan mulus.
"Kami menerima perintah dari Baginda Raja!" seru seluruh pasukan prajurit Chuya sekaligus Yasha.
"Kalian semua menerima perintah dengan baik. Harap kembali berdiri," kata Yura yang langsung menyimpan kembali lencana emas kehormatan milik Raja.
Yasha dan pasukan prajuritnya pun kembali ke posisi berdiri seperti semula.
"Karena perintah sudah diturunkan sekaligus diterima, biar kuperkenalkan sekali lagi. Ini adalah Yura yang mempunyai kemampuan medis dan sedikit kemampuan bertarung. Mulai hari ini akan bertugas di pihak medis. Kehadirannya di sini sama seperti seorang prajurit lain pada umumnya. Maksudku adalah meski pun dia adalah adikku, perlakukan dia seperti sesama rekan kita karena di sini tidak memberikan perlakuan istimewa pada siapa pun," ucap Yasha
"Saya setuju. Karena saya lebih muda dari Ketua Yasha, maka anggap saja saya seperti junior kalian semua. Saya pun tidak mengharapkan perlakuan istimewa sedikit pun, jadi saya harap perlakukan saya sama dengan yang lain. Mulai hari ini saya adalah prajurit medis di sini," ujar Yura
"Sebenarnya kemampuan bertarung milikku lebih besar dan unggul dari pada kemampuan medis. Kak Yasha salah karena terbalik saat tadi menyebutkannya, tapi itu tidak akan jadi masalah. Aku akan melakukan yang terbaik," batin Yura
Sebenarnya meski pun Ketua Yasha sudah nengatakannya secara langsung, para prajurit masih merasa tidak percaya dan lebih pada tidak menyangka kalau Yura, adik Ketua Yasha sekaligus saudari kembar Ratu memiliki kemampuan yang tidak biasa. Karena memiliki kemampuan medis sekaligus kemampuan bertarung dinilai hebat oleh sebagian besar orang pada umumnya. Terlebih lagi jika itu adalah seorang perempuan.
__ADS_1
Yura pun merasa senang karena semua berjalan lancar dan kehadirannya diterima dengan baik. Setelah itu kegiatan di kamp prajurit kembali berlangsung seperti biasa dan Yura pun mulai langsung bergerak mengobati prajurit yang terluka di sana.