One & Only

One & Only
83 - Membuat Orang Lain Salah Paham.


__ADS_3

"Lalu, karena misi penyelidikan telah usai, saya ingin mengembalikan lencana yang Anda berikan sebelumnya," ujar Yura


"Kuberikan lencana itu untukmu, kau simpan saja. Lain kali atau mungkin kau akan lebih sering memerlukannya nanti," kata Raja


"Kalau kipas senjata yang diambil dari ruang penyimpanan sebelumnya, harus diapakan?" tanya Yura


"Terserah kau saja mau apakan benda itu. Yang penting aku tidak mau melihatnya lagi," jawab Raja


"Apa boleh kusimpan sebagai koleksi? Aku janji tidak akan memakainya di depan Anda atau pun Ratu," ujar Yura


"Sudah kubilang, terserah kau saja ... " kata Raja


"Terima kasih banyak, Baginda," ucap Yura


"Sama-sama, Adik ipar ... " balas Raja


"Anda bilang akan menghukum orang-orang yang ada di balik insiden penari kipas itu. Lalu, kalau boleh saya tahu, apa yang akan Anda lakukan pada toko senjata yang telah memproduksi kipas senjata yang digunakan untuk membunuh Anda dan berakhir dengan melukai Ratu saat itu?" tanya Yura


"Akan kubiarkan toko senjata itu untuk sementara waktu. Namun, aku berencana untuk menutupnya secara permanen atas kuasa dan perintahku. Apa lagi, kau bilang toko itu juga merupakan tempat penyebaran senjata dan informasi secara ilegal," jelas Raja


"Kalau begitu, saya akan berkata jujur. Saya membeli beberapa senjata dari toko tersebut yang awalnya dilakukan demi misi penyelidikan. Karena Anda juga berencana untuk menjatuhkan hukuman pada toko tersebut, apa saya boleh memiliki senjata yang telah saya beli sebelumnya atau saya harus menyerahkan senjata itu sebagai bentuk benda sitaan dari toko tersebut? Anda mungkin tidak suka melihat benda yang diproduksi dari toko senjata tersebut, kan?" tanya Yura


"Kurasa hal ini tidak saling berhubungan. Karena kau membeli senjata itu dengan cara yang sah, jadi kau boleh memilikinya. Lagi pula, hanya karena aku tidak suka dengan toko senjata itu tidak mungkin aku mencari satu per satu orang yang menjadi pelanggan toko itu dan menyita barang yang dibeli dari toko itu," jawab Raja


"Kalau begitu, terima kasih sekali lagi, Baginda. Lalu, ada sesuatu yang ingin saya berikan untuk Anda. Ini saya beli dari toko lain, tolong jangan lihat dari bentuk dan harganya ... " ujar Yura yang memberikan sebuah kotak kecil pada Raja.


"Kau tidak perlu repot-repot seperti ini. Namun, apa ini?" tanya Raja


"Bukan sesuatu yang berharga. Benda ini tidak memiliki arti apa-apa, tapi saya harap Anda mau menerimanya. Saya membelinya karena sudah berjanji akan membawa buah tangan untuk Arsha, jadi memurut saya sekalian saja saya beli sesuatu untuk Anda. Anggap saja ini pemberian dari adik ipar untuk Anda, karena memang seperti itu faktanya ... " jawab Yura

__ADS_1


"Baiklah, akan kuterima dengan senang hati. Terima kasih banyak, Yura," ucap Raja


"Tidak masalah, Baginda ... " sahut Yura


Lagi-lagi Arvan hanya bisa diam menyaksikan interaksi antara Raja dan Yura.


Sebelumnya Arvan merasa cemburu begitu melihat interaksi antara Raja dan Ratu saat masih mengira bahwa penyelamat masa kecilnya adalah Ratu. Setelah mengetahui penyelamat masa kecilnya ternyata adalah Yura, lelaki itu pun kembali merasa cemburu. Apa lagi saat melihat Yura memberikan sesuatu untuk Raja sebagai buah tangan. Sedangkan, Yura tidak memberi apa pun untuk dirinya.


"Benar juga. Aku pun punya dan beli sesuatu untuk Yura, tapi bagaimana caranya aku memberikan benda itu padanya? Aku jadi bingung dan menjadi sangat gugup. Jika kuberikan, apa Yura akan menyukainya? Atau apa dia akan menerimanya atau tidak? Aku takut dia akan menolak pemberian dariku ini," batin Arvan


"Tunggu dulu ... selain buah tangn yang kubeli dan ingin kuberikan untuk Arsha, kak Yuna, lalu untuk Raja. Aku juga masih ada barang yang kubeli untuk diberikan pada Arvan. Aku membelikan sebuah pedang untuknya, tapi bagaimana caraku memberikan pedang itu untuknya? Ah, lagi pula aku tidak membawa pedang itu sekarang, jadi lain kali saja aku berikan pedang itu padanya ... " batin Yura


Yura pun melirik ke arah Arvan dan secara kebetulan pandangan matanya saling bersitatap dengan Arvan yang memang terus menatap ke arahnya. Arvan bahkan tersenyum tipis ke arahnya.


"Hasil misi penyelidikan sudah saya laporkan dan yang ingin saya berikan pun telah saya berikan, jadi saya akan undur diri karena urusan saya di sini sudah selesai. Kalau begitu, saya permisi, Baginda ... " ujar Yura usai mengalihkan pandangannya dari Arvan.


"Ya, silakan. Kau sudah bekerja keras, kau bisa langsung istirahat setelah ini," kata Raja


"Terserah kau saja. Arvan akan mengantarmu ke luar," ujar Raja


"Baik, Baginda ... " sahut Arvan dengan patuh dan senang hati.


"Padahal aku bisa ke luar sendiri, tidak perlu siapa pun untuk mengantarku," gumam pelan Yura


Namun, saat Yura beranjak ke luar dari ruang kerja Istana Kerajaan itu, Arvan pun mengikutinya untuk mengantarnya. Bukan hanya karena perkataan Raja, tapi karena Arvan memang ingin melakuknnya dengan rela dan senang hati.


Sebelum ke luar dari pintu masuk ruang kerja Istana Kerajaan, Yura berbalik badan.


"Maaf, saya melupakan satu hal yang ingin ditanyakan. Karena Anda selalu bilang untuk tidak perlu memberi salam penghormatan pada Anda, apa lain kali saya boleh hanya mengatakan selamat pagi dan semacamnya?" tanya Yura

__ADS_1


"Rupanya, hanya tentang ini. Ya, lakukan saja sesukamu dan kau tidak perlu terlalu bersikap formal, sungkan, atau segan denganku ... " jawab Raja


"Baiklah. Maaf telah mengganggu Anda. Permisi," kata Yura yang lalu melangkah ke luar melewati pintu ruang kerja Istana Kerajaan dengan Arvan yang senantiasa mengikuti untuk mengantarnya.


Di luar ruang kerja Istana Kerajaan, Yura dan Arvan berpapasan dengan Rino.


"Tuan Arvan, terima kasih karena sudah bersedia untuk langsung kembali bekerja hari ini meski hanya setengah hari," ucap Rino dengan mata berbinar gembira.


"Kenapa kau sangat senang dengan hal ini?" tanya Arvan


"Saya sangat senang bisa bekerja untuk Raja negeri ini dan juga senang saat Raja memberi saya makanan pemberian Ratu. Namun, beberapa hari ini saya agak kesulitan saat harus makan di hadapan Raja, maksud saya di satu ruangan yang sama dengan Raja. Saya merasa tidak enak saat harus makan saat Raja sedang bekerja, namun saya harus melakukannya karena permintaan langsung dari Raja dan Ratu," ungkap Rino


"Kau sudah bekerja keras selama beberapa hari ini, Rino. Alu mengerti, Raja dan Ratu mungkin berniat baik dengan orang yang bekerja padanya tanpa mengetahui bahwa terkadang kebaikan seseorang malah membuat orang lainnya merasa terbebani dan tertekan," ucap Yura


"Nona Yura, tolong jangan mengatakan kalau saya terbebani atau tertekan seperti itu juga ... " kata Rino


"Aku mengerti kalau kau merasa tidak enak dan seolah serba salah," sahut Yura


"Syukurlah, kalau Nona Yura bisa mengerti. Omong-omong, selama beberapa hari ini, Nona Yura dan Tuan Arvan pergi ke mana saja?" tanya Rino


"Kami berdua pergi untuk bersenang-senang," jawab Yura


"Yura, kau menjawab dengan perkataan yang bisa membuat orang lain salah paham. Lagi pula, yang bersenang-senang hanya kau seorang diri, sedangkan aku hanya diam menemanimu," sahut Arvan


"Arvan, apa kau tahu kalau perkataanmu justru lebih bisa membuat orang lain menjadi salah paham? Bahkan juga membuat orang lain berpikir yang macam-macam tentangku?" tanya Yura


"Maaf, aku sungguh tidak bermaksud seperti itu ... " jawab Arvan


Rino hanya terdiam. Ia merasa bingung. Apa yang dimaksud dengan bersenang-senang oleh Yura dan Arvan?

__ADS_1


"Memang bisa membuat orang lain menjadi sangat salah paham, sungguh ... " batin Rino dalam kebingungan.


__ADS_2