One & Only

One & Only
42 - Dari Kejauhan.


__ADS_3

Merasa tambah percaya diri, Arsha pun mengguncang tali kendali kudanya dengan tenaga yang lebih kuat dan saat itulah kuda yang ditungganginya mulai berlari lebih cepat.


"Tepat, seperti itu! Bagus sekali, Arsha! Pertahankan!" seru Yura


Yura pun mengejar dan mensejajarkan posisi kudanya dengan kuda yang ditunggangi oleh Arsha.


"Bagaimana perasaanmu saat ini, Arsha?" tanya Yura


"Aku menikmatinya, Bibi ... " jawab Arsha sambil tersenyum senang dengan pandangannya yang tetap terarah ke depan untuk mencegahnya kehilangan fokus.


"Kalau begitu, kita akan berlari bersama sejauh satu putaran," ujar Yura


"Baiklah," kata Arsha


Yura dan Arsha pun berlari dengan menunggang kuda masing-masing bersama. Usai berkuda satu putaran, Yura dan Arsha pun siap untuk menghentikan laju kuda.


"Kita berhenti sekarang, Arsha. Kau bisa menarik tali kudanya secara perlahan untuk berhenti. Biarkan kudanya memperlambat geraknya dan berhenti perlahan-lahan. Jangan menariknya dengan sekali tarikan kencang karena bisa membuat kudanya secara mendadak karena terkejut. Bibi akan menunggumu berhenti lebih dulu," ucap Yura


"Aku mengerti, Bibi," sahut Arsha


Seperti yang diajarkan padanya, Arsha pun menghentikan laju kuda secara perlahan. Kuda yang ditunggangi oleh Arsha mulai memperlambat lajunya hingga akhirnya benar-benar berhenti di tempat. Barulah saat itu juga Yura menghentikan laju kudanya dengan sekali gerakan menarik tali kendali kuda.

__ADS_1


"Kerja bagus, Arsha. Sebagai pemula yang baru berlatih dua kali, lari kudamu sudah termasuk sangat cepat. Kau melakukannya dengan sangat baik dan cepat," ujar Yura


"Ini berkat kau yang melatihku dengan baik dan sabar, Bibi. Terima kasih," ucap Arsha


"Sama-sama. Untuk latihan kali ini cukup sampai di sini," kata Yura


Yura dan Arsha pun menjalankan kuda dengan santai untuk kembali menuju ke kandang. Rio yang menunggu di sana pun mengikuti dari belakang sambil berjalan kaki.


Sampai di pintu masuk kandang, Yura dan Arsha pun beranjak turun dari atas punggung kuda.


"Kerja bagus dan kau sangat hebat, Nick," gumam Yura mengajak kuda yang baru ditunggangi olehnya bicara sambil memberi pujian sebagai penghargaan.


"Biar aku saja yang membawa masuk kedua kuda ke dalam kandang. Nona Yura dan Putra Mahkota di sini saja," kata Rio


"Kalau begitu, mohon bantuanmu, Rio ... " ujar Yura


Rio pun mengambil alih dua kuda tersebut untuk dimasukkan ke dalam kandang.


"Kita tunggu di sini dulu untuk bilang terima kasih pada Tuan Rio, ya. Jadi, bagaimana menurutmu latihan kali ini, Arsha?" tanya Yura


"Seperti biasa, aku merasa sangat senang bisa berlatih bersamamu, Bibi. Seperti katamu, aku bisa merasakan seolah sedang terbang saat menunggang kuda tadi. Aku sangat menyukainya," ungkap Arsha

__ADS_1


"Syukurlah, kalau begitu. Namun, masih ada yang perlu kau tahu, Arsha. Latihan kali ini terasa mudah karena kau menggunakan kuda yang sudah terlatih, apa lagi kuda itu adalah milik Bibi yang mengerti harus bersikap baik padamu. Di kesempatan lain, kau harus memilih kuda yang akan jadi milikmu sendiri dan harus berlatih dengannya dari awal jika kuda itu masih belum pernah dilatih sebelumnya," ujar Yura


"Jika, kau memilih dan berlatih dengan kuda yang sudah terlatih sekali pun terkadang kuda itu memiliki karakter yang sulit diatur, jadi kau harus banyak bersabar saat berlatih ke depannya nanti. Makanya, saat memilih kuda yang akan jadi milikmu nanti kau harus memilih kuda yang kau sukai dan kuda yang menyukaimu. Saat tiba waktunya nanti, kau juga akan tahu cara memilih kuda dengan baik. Kau hanya perlu mengingat yang Bibi katakan saat ini," sambung Yura


"Baik, Bibi. Aku mengerti," kata Atsha


Saat itu dari kejauhan tampak Arvan yang sedang berkeliling karena mulai bosan saat melakukan banyak hal seorang diri karena meski sudah tidak ingin menjauhi Yura, lelaki itu merasa malu saat harus berhadapan dengan gadis bercadar itu karena sebelumnya niat dirinya ingin menjauhi gadis itu sudah disadari oleh gadis itu sendiri.


Arvan seolah merasa tidak punya muka lagi jika harus berhadapan dengan Yura saat niat ingin menjauhnya telah disadari oleh gadis itu meski dirinya sudah mengurungkan niat itu.


Ssat itu Arvan melihat Yura yang sedang bersama Arsha dari kejauhan. Melihat Yura saat Arvan sudah menyadari rasa suka terhadap gadis itu membuatnya merasa senang dan lega meski lelaki itu tidak bisa menghampirinya.


"Rupanya, Yura sedang ada di sana bersama Arsha. Pasti hari ini pun masih tentang latihan berkuda," gumam Arvan sambil tersenyum di kejauhan.


Namun, senyuman Arvan langsung pudar saat ada seorang lelaki ke luar dari kandang kuda yang langsung menghampiri Yura dan Arsha.


"Rupanya sudah ada pelayan lelaki itu yang menemani Yura dan Arsha di sana. Aku telat lagi selangkah dari pelayan lelaki itu," gumam Arvan


"Kalau tahu seperti ini jadinya, harusnya dari awal aku bisa lebih cepat menyadari perasaanku pada Yura tanpa harus menjauhinya seperti kemarin. Pasti sekarang aku bisa terus berada di dekatnya dan bukan pelayan lelaki itu yang ada di sana melainkan aku. Sekarang aku terlalu malu untuk berhadapan dengan Yura saat dia telah menyadari jika aku sempat berniat untuk menjauh darinya," batin Arvan


Melihat Yura tanpa bisa menghampirinya, Arvan pun memilih untuk berlalu pergi dari sana dari pada hatinya merasa sedih saat melihat Yura sedang mengobrol bersama pelayan lelaki itu dengan tampak akrab.

__ADS_1


__ADS_2