
Arsha memerhatikan leher Yura dan leher Ratu secara bergantian.
"Aku sudah memerhatikan cukup lama, tapi tak enak hati saat ingin bertanya, jadi kali ini aku memberanikan diri untuk bertanya. Apa leher Ibunda juga pernah terluka sebelumnya? Yang menutupi leher Ibunda bukannya adalah kain perban?" tanya Arsha
"Kalau itu sebenarnya adalah kesalahan Bibi. Saat tempo hari Bibi Yura datang ke Istana Kerajaan, Ibunda hendak menyambut kedatangan Bibi, tapi Ibunda malah tersengat serangga lebah saat tidak melihat ada sarang lebah di atas pohon dekat tempat Ibunda menunggu untuk menyambut kedatangan Bibi," jawab Yura dengan bumbu dusta.
"Kenapa kejadian itu jadi kesalahan Bibi Yura?" tanya Arsha
"Karena kalau Ibunda tidak ke luar untuk menyambut kedatangan Bibi Yura saat itu, Ibunda tidak akan tersengat serangga lebah. Jadi, itu adalah kesalahan Bibi karena sudah membuat Ibunda repot-repot menyambut kedatangan Bibi," jelas Yura
"Kedatangan Bibi bukan hal yang salah, justru Ibunda merasa senang karena kedatangan Bibi. Ibunda ingin menyambut Bibi juga bukan permintaan Bibi melainkan Ibunda sendiri yang ingin melakukannya. Apa lagi, dari yang kudengar, Bibi Yura-lah yang mengobati luka di leher Ibunda," ujar Arsha
"Yang mengobati luka leher Ibunda bukan hanya Bibi Yura sendiri, Paman Arvan juga melakukannya. Namun, Arsha mendengar hal ini dari siapa? Kalau Arsha tahu sudah mendengar bahwa Bibi yang mengobati luka leher Ibunda, kenapa kau masih bertanya soal leherr Ibunda yang tertutup perban?" tanya Yura
"Aku hanya mendengar sekilas dari pelayan yang sedang mengobrol, makanya aku merasa penasaran, apa itu benar atau tidak dan Ibunda terluka karena apa. Namun, aku baru sempat menanyakannya sekarang," jelas Arsha
"Jadi, itu bukan kesalahan Bibi. Saat itu Ibunda memang sedang kurang beruntung saja hingga bisa tersengat serangga lebah. Bibi Yura sendiri yang bilang padaku untuk jangan menyalahkan diri sendiri, jadi untuk masalah ini pun Bibi Yura jangan menyalahkan diri sendiri," sambung Arsha
"Arsha, benar. Anak pintar," puji Ratu
"Terima kasih karena Bibi Yura dan Paman Arvan sudah mengobati luka Ibunda," ucap Arsha
"Sudah menjadi tugas kita ubtuk membantu mengobati seseorang yang terluka," sahut Yura dan Arvan secara bersamaan.
"Aku tahu kalau Paman Arvan bisa ilmu pengobatan, tapi apa Bibi Yura juga bisa melakukan hal yang sama?" tanya Arsha
"Ya, Bibi pernah mempelajarinya dulu. Namun, itu tidak sehebat kemampuan Paman Arvan," jawab Yura
"Bibi Yura, kau hebat sekali ... " puji Arsha
__ADS_1
Arsha memang tidak tahu dan tidak diberi tahu kalau Ratu mendapat luka karena insiden percobaan pembunuhan penari kipas tempo hari lalu dan semua merasa lega saat Yura bisa membuat alasan lain ketika Arsha bertanya tentang leher Ratu yang tertutup perban karena terluka. Namun, sepertinya Yura sudah berlebihan mengarang alasan tentang leher Ratu, apa lagi Yura juga telah berbohong mengatakan kalau semalam Raja-lah yang memindahkan Arsha ke dalam kamar, padahal Yura sendiri yang melakukannya.
Semuanya pun meneruskan makan bersama. Tepat setelah makan, Arvan terus memandangi Yura secara diam-diam karena pasti gadis itu akan segera memakai cadar untuk menutupi wajahnya lagi. Hingga saat Yura memakai kembali cadar miliknya, Arvan tersenyum tipis karena merasa senang dan cukup puas karena setidaknya sudah sempat melihat wajah Yura secara keseluruhan dan langsung saat tanpa penutup cadar.
"Karena semuanya sudah menyelesaikan sarapannya, saya akan memanggil pelayan untuk merapikan semua yang ada di atas meja makan ini. Saya permisi dulu," ujar Arvan yang langsung bangkit beralih pergi dari sana.
"Arvan sudah pergi saja. Padahal kita bisa pergi bersama," kata Ratu
"Biarkanlah saja dia," sahut Raja
Arvan melangkah ke luar dari ruang makan dan menemui pelayan yang menunggu di depan pintu masuk ruang makan tersebut.
"Semua sudah menyelesaikan sarapan pagi. Kalian tolong rapikan kembali meja makan di dalam. Lalu, kalau ada yang mencari saya bilang saja saya sedang ada urusan yang harus dikerjakan," ucap Arvan
"Baik, Tuan."
Setelah itu, Arvan langsung beranjak pergi dari sana tanpa menunggu Raja atau yang lain dan beberapa pelayan yang menunggu di depan pintu pun masuk ke dalam ruang makan.
"Di mana Arvan? Apa dia sudah pergi?" tanya Ratu
"Tadi Tuan Penasehat Arvan, menyampaikan kalau ada suatu urusan yang harus dikerjakan, jadi dia harus langsung pergi lebih dulu."
"Kami mengerti. Kalian lakukanlah, rapikan ruang makan ini. Kami akan pergi," kata Raja
"Baik, Baginda."
Para pelayan pun mulai bergerak membereskan ruang makan usai dipakai makan bersama. Sedangkan Raja, Ratu, Arsha, dan Yura beralih pergi dari sana.
"Arsha, Ayah dan Ibu akan pergi berkeliling untuk mencerna makanan. Apa kau mau ikut?" tanya Raja
__ADS_1
"Ayahanda dan Ibunda, pergilah berdua saja. Aku ingin bersama Bibi Yura saja. Bolehkah, Bibi?" tanya Arsha beralih bicara pada Yura usai menjawab pertanyaan Raja.
"Tentu saja, boleh. Aku akan menjaga Arsha. Baginda Raja dan Yang Mulia Ratu, Anda berdua tenang saja ... " jawab Yura
"Harus patuh dengan Bibi Yura, ya, Arsha ... " pesan Ratu
"Aku mengerti, Ibunda," sahut Arsha
Raja dan Ratu pun berpisah dengan Yura dan Arsha. Raja dan Ratu beralih ke arah sebelah kanan, sedangkan Yura dan Arsha ke arah sebelah kiri.
"Sebelumnya Arsha sempat mengajak kita untuk pergi berkeliling bersama. Aku kira dia akan ikut bersama kita. Tidak kusangka dia lebih ingin bersama Yura, sepertinya sebelum ini pun dia ingin berkeliling bersama kita agar bisa bertemu dengan Yura. Bibi dan keponakan itu benar-benar sudah menjadi sangat akrab," ujar Ratu
"Sebelumnya kau bilang tidak merasa iri dengan kedekatan mereka berdua. Lalu, apa baru sekarang kau merasa keberatan soal ini?" tanya Raja
"Tidak, tapi aku jadi teringat tentang masa lalu. Kami adalah tiga bersaudara dan saat kecil kami selalu pergi bertiga. Saat aku sedang bersama Yura dan Arsha, bertiga saja ... aku jadi teringat saat bersama Yura dan kak Yasha saat kecil dulu," ungkap Ratu
"Rupanya, kau masih memikirkan kakakmu itu. Sudah kubilang, kau tidak perlu merasa khawatir. Jika sesuatu terjadi di perbatasan, akan ada kabar yang dikirim secepatnya padaku dan aku akan langsung mengetahuinya. Saat ini dan seterusnya pasti akan baik-baik saja," ujar Raja
"Semoga saja, aku harap juga seperti itu ... " kata Ratu
"Arsha, kali ini kau ingin kita pergi ke mana dan melakukan apa? Apa kau ada ide?" tanya Yura
"Bagaimana kalau kita pergi latihan berkuda seperti kemarin?" tanya balik Arsha memberi saran.
"Ini masih pagi, tapi kau sudah mau latihan berkuda? Apa kau yakin?" tanya balik Yura
"Justru karena masih pagi, jadi aku sangat yakin. Udara pagi masih segar dan suasananya enak untuk melakukan olahraga," jawab Arsha
"Baiklah, kalau itu yang kau mau ... " kata Yura
__ADS_1
Yura dan Arsha pun beranjak pergi bersama menuju ke arena berkuda.