One & Only

One & Only
110 - Menyusul dan Mengejar Kereta Kuda.


__ADS_3

Kereta kuda yang awalnya melaju secara perlahan dengan hati-hati karena melewati jalanan berbatu, kini justru berjalan dengan sangat cepat hingga menimbulkan guncangan yang berkali lipat dirasakan oleh penumpang di dalam kereta kuda atau bahkan kusir yang mengendarai laju kuda itu sendiri.


Penumpang di dalam kereta kuda sibuk menahan diri dari guncangan agar tidak sembarang terbentur. Yura dan Ratu mendadak merasa semakin gelisah dan bertambah cemas. Sedangkan Arsha terus terpejam meski pun tidak benar-benar tertidur karena guncangan yang diakibatkan oleh kereta kuda yang melaju cepat pada jalan berbatu itu.


"Yang di depan sana, tolong kendarai kuda dengan hati-hati!" seru Yura dari dalam kereta kuda.


"Sedang saya usahakan. Namun, kita harus bergerak cepat. Mohon tahan guncangan ini sebentar lagi saja." Kusir yang merupakan seorang prajurit itu bicara dengan suara bergetar.


Entah mungkin memang karena guncangan yang membuat suara kusir bergetar. Namun, tak hanya itu nada suaranya pun sedikit aneh. Hingga Yura tak sanggup menahan diri untuk melihat ke luar jendela kereta kuda. Saat itu Yura menahan agar matanya tidak terbelalak karena melihat beberapa orang yang bergerak cepat mengejar kereta kudanya itu.


Kemungkinan beberapa orang yang mengejar adalah penjahat yang menyusup ke Istana Kerajaan. Namun, Yura tidak menyangka mereka akan menyusul dan mengejar sampai sana secepat ini.


"Ada apa di luar sana, Yura?" tanya Ratu


"Hanya penunggang kuda yang ugal-ugalan. Benar-benar sangat mengganggu," jawab Yura yang masih menyembunyikan dugaan kuat miliknya.


Dari yang Yura lihat, ada beberapa penunggang kuda dan beberapa orang yang berlarian mengejar kereta kuda itu. Namun, orang-orang yang berlari kecepatannya sama dengan lari kuda yang mengejar di belakang. Pengejar itu bergerak dengan sangat cepat dan memiliki kemampuan yang sangat gesit.


Orang-orang dengan kemampuan seperti itu sama dengan prajurit berani mati. Jika mereka adalah prajurit bayaran, maka mereka pasti akan terus mengejar sampai berhasil menangkap target. Benar-benar membuat orang waspada.


Untung saja l meski kereta yang digunakan Yura, Ratu, dan Arsha merupakan kereta kuda kayu yang tampak biasa dari luar, di dalam kereta kuda telah diberi lapisan besi sebagai lapisan perlindungan. Padahal mereka sudah sengaja menggunakan kereta kuda biasa agar tidak mencolok hingga tidak dikejar oleh penjahat. Namun, itu adalah usaha yang sia-sia. Setidaknya Yura masih ada untuk melindungi saudari kembar dan keponakan lelakinya.


Terdengar suara pintu kereta kuda digebrak dari luar. Kereta kuda sungguhan telah terkejar.


"Cepat hentikan kudanya dan ke luarlah dari dalam kereta!"


"Yura, bagaimana ini?" tanya Ratu seraya berbisik dengan raut wajah panik.


"Sst ... tenanglah. Lebih baik Kakak tutupi kedua telinga Arsha agar tidurnya tidak terganggu dengan suara bising ini," jawab Yura sambil berbisik dengan tetap berusaha untuk tenang.


Ratu langsung mengulurkan kedua tangannya untuk menutupi kedua telinga Arsha. Namun, usahanya percuma saja karena sebenarnya Arsha tidak benar-benar tertidur dan hanya sekadar menutup kedua matanya. Sedangkan Yura berusaha untuk tetap tersenyum tenang.


Kereta kuda yang terus melaju, kini tiba-tiba berhenti begitu saja setelah terdengar ringkikan suara kuda yang melengking keras. Yura dapat menduga bahwa para pengejar mengganggu laju kuda yang menarik kereta kuda. Namun, untungnya kusir prajurit dapat mengendalikan kuda dengan baik hingga akhirnya kuda dapat berhenti dan bukannya melaju dengan tak terkendali seperti kuda gila.


Saat itulah terdengar suara pertarungan yang mungkin dilakukan oleh kusir prajurit dengan para pengejar itu. Lalu, terdengar juga suara orang yang berusaha membuka pintu kereta kuda yang terkunci dari dalam secara paksa dari luar.


"Tidak bisa terus seperti ini. Aku harus membantu kusir, maksudku prajurit itu ... " gumam Yura

__ADS_1


"Jangan macam-macam, Yura. Tetaplah di dalam sini," kata Ratu


"Prajurit yang pernah kalah saat bertarung melawanku itu pasti kewalahan melawan para penjahat di luar sana, lalu cepat atau lambat mungkin saja pintu kereta ini bisa didobrak dari luar. Jadi, biarkan aku mencegah hal itu terjadi. Tetaplah tenang berada di dalam kereta," ujar Yura


"Bibi Yura, jangan pergi ke luar sana. Terlalu bahaya untukmu," pinta Arsha yang langsung tidak berpura-pura tertidur lagi dan mencekal lengan Yura untuk menahan Bibi-nya pergi.


"Arsha, kau sudah terbangun, rupanya. Maaf, jika perjalanan ini sudah membuat tidurmu jadi terusik. Jadilah anak baik dan temani Ibunda Ratu-mu di sini. Percayalah kalau Bibi akan baik-baik saja dan akan segera kembali," ucap Yura sambil tersenyum.


"Lalu, Bibi ingin menitipkan sesuatu padamu. Bibi percaya padamu, jadi percayalah pada dirimu sendiri seperti kau juga yang percaya pada Bibi. Begitu Bibi ke luar dan menutup pintu, kau harus mengunci kembali pintu kereta kuda ini," sambung Yura berpesan sambil menyerahkan sebuah belati yang masih dilengkapi sarung pelindung pada telapak tangan Arsha.


Setelah itu, Yura pun beranjak ke luar dan melangkah turun dari kereta kuda. Setelah pintu kereta kuda kembali menutup, Arsha pun dengan cepat menguncinya lagi.


"Yura, aku bahkan tidak melihatmu membawa senjata. Bagaimana bisa kau melawan para penjahat itu?" tanya Ratu seraya bergumam.


"Ibu, semoga semuanya baik-baik saja, jadi kita bisa kembali meneruskan perjalanan," ujar Arsha


"Kau benar, Arsha. Teruslah berdoa," kata Ratu


Arsha terus menggenggam belati yang diberikan oleh Yura dengan erat, di dalam hatinya terus mendoakan keselamatan Bibi-nya. Ratu dan Arsha sama-sama tidak tahu apa yang sedang terjadi di luar kereta kuda itu. Hanya terdengar dentingan senjata tajam hasil pertarungan karena ibu dan anak itu sama-sama tidak berani melihat ke luar.


"Kenapa Nona ke luar? Di sini terlalu berbahaya. Kembalilah masuk ke dalam kereta kuda."


"Fokus saja bertarung dan cepat kalahkan mereka semua!" pekik Yura


Karena hanya menggunakan belati kecil, Yura hanya bisa menyerang lawan dan melukainya tidak secara fatal. Hingga lawan yang terjatuh setelah terluka terus bangkit dan menyerang balik. Para penjahat itu benar-benar lawan yang sangat tangguh. Tak peduli sebanyak dan separah apa pun luka yang didapat, mereka tidak juga menyerah.


"Nona, tangkap ini!"


Melihat Yura kesulitan bertarung dengan belati, kusir yang merupakan seorang prajurit itu melemparkan sebuah pedang ke arah Yura yang berhasil ditangkap oleh Yura dengan sempurna. Hingga kini Yura dapat bertarung dengan lebih leluasa.


Yura bertarung dengan terus berdiri di dekat kereta kuda supaya dapat menghalangi para penjahat yang ingin mendekat ke arah kereta kuda. Namun, salah satu penjahat itu berhasil lolos dari penjagaan Yura dan mendekati kereta kuda bahkan sampai mencungkil pintu kereta kuda hingga terbuka. Hingga terdengar suara teriakan dari dalam kereta kuda.


Melihat itu Yura tidak tinggal diam. Yura langsung menumpas lawan di sekelilingnya dengan sekali serangan, lalu berlari ke arah penjahat yang berhasil membuka pintu kereta kuda dari luar dan menarik serta menghunuskan pedang pada penjahat tersebut. Yura pun menyempatkan diri untuk melihat keadaan di dalam kereta kuda.


"Kalian berdua, tidak ada yang terluka, kan?" tanya Yura dengan kepalanya melongok setengah masuk dari pintu kereta kuda yang telah dirusak.


Ratu dan Arsha yang berada di dalam kereta kuda tak sanggup bersuara hingga hanya menganggukkan kepala. Saat itu dari arah belakang ada yang menusukkan pedangnya pada tubuh Yura hingga menembus ke bagian depan perutnya. Yura bahkan sampai memuntahkan darah karena organ dalam tubuhnya pasti ikut terluka.

__ADS_1


Darah terus menetes ke luar dari perut dan mulut Yura membuat Ratu dan Arsha sama-sama membungkam mulutnya dengan tangan mereka. Hingga saat penjahat itu menarik kembali pedang yang tertancap di tubuh Yura dan membuat darah semakin deras keluar, Ratu, Arsha, dan kusir yang merupakan prajurit yang juga melihatnya pun berteriak. Namun, Yura hanya tersenyum lembut.


"Aku sudah lengah dan maafkan kelalaian ini," kata Yura


Reaksi Yura yang tetap tenang bahkan membuat penjahat yang tak banyak bicara itu merasa heran. Namun, Yura tak memberinya kesempatan untuk merasa heran terlalu lama karena gadis itu dengan cepat berbalik dan langsung menyerang titik vital hingga penjahat itu tumbang seketika.


Melihat pintu kereta kuda yang berhasil dibuka paksa dan Yura yang terluka membuat para penjahat lainnya menyerbu ke arahnya. Kusir yang merupakan prajurit itu pun berlarian untuk membantu Yura. Melihat dirinya mendapat bantuan, Yura pun kembali menyempatkan diri untuk berbalik dan bicara pada kedua orang di dalam kereta kuda. Sebelum bicara, Yura mengelap darah yang ke luar dari mulutnya.


"Kau terluka ...."


"Aku baik-baik saja, ini hanya luka kecil. Arsha, peluklah Ibu-mu untuk menenangkannya. Jangan khawatir karena sebentar lagi urusan di luar sini akan berakhir," ucap Yura


Lalu, Yura pun kembali berbalik untuk bertarung. Lawan memang tidak terlalu banyak, tapi mereka sangat tangguh. Dari sekitar 20 orang lawan, hanya ada beberapa yang tidak bisa bangkit lagi. Meski pun tidak separah dirinya, kusir yang merupakan prajurit itu juga mendapat luka sayatan pada tubuhnya.


Yura mengeluarkan kantong kecil dari gaunnya yang memiliki saku. Dari kantong tersebut, Yura menelan 3 butir pil obat sekaligus. Itu adalah pil obat yang berkhasiat untuk menghentikan pendarahan. Lalu, Yura menumpas beberapa lawan sekaligus hingga memiliki kesempatan untuk melemparkan kantong kecil berisi pil obat pada kusir yang merupakan seorang prajurit itu.


"Tuan kusir, cepat tangkap ini!" pekik Yura


"Telanlah beberapa pil obat dari kantong itu sekaligus, lalu pergilah kendarai kereta kuda ini dari sini. Jangan pedulikan aku. Cepat ... " sambung Yura


Yura kembali fokus bertarung. Kali ini Yura langsung menyerang ke arah titik vital dan membuat lawan tumbang dalam sekejap untuk memberi kesempatan agar kusir yang merupakan seorang prajurit itu dapat melarikan diri dengan mengendarai kereta kuda menuju tujuan awal. Namun, kusir yang merupakan seorang prajurit itu tampak merasa ragu meninggalkan Yura begitu saja melawan para penjahat itu di sana.


Yura pun tidak punya pilihan selain mengeluarkan lencana emas pemberian dari Raja yang memang selalu dibawa olehnya ke mana pun.


"Ini adalah perintah! Cepat pergi!" teriak Yura sambil memperlihatkan lencana emas yang diangkat oleh tangannya.


Kusir yang merupakan seorang prajurit itu pun tidak lagi merasa ragu. Saat Yura sibuk menangani lawan, ia menyempatkan diri untuk naik kembali ke kursi kusir kereta kuda dan melajukan kembali kereta kuda. Meninggalkan Yura di sana.


"Aku pasti akan segera menyusul sebentar lagi!" teriak Yura


"Ada apa ini? Kenapa kereta kuda kembali bergerak? Cepat berhenti karena Yura masih belum naik!" pekik Ratu dari dalam kereta kuda.


"Maafkan saya, Yang Mulia ... " Kusir yang merupakan seorang prajurit itu bergumam pelan sambil memasukkan beberapa pil obat yang diberikan oleh Yura tadi ke dalam mulut dan menelannya meski pun ia tidak tahu apa khasiat pil obat tersebut. Namun, ia percaya pada Yura.


"Bibi Yura menyuruhku memeluk Ibu pasti bukan agar aku menenangkan Ibu, tapi bibi Yura justru berharap aku bisa menenangkan diri sambil memeluk Ibu. Bibi Yura sangat baik dan peduli dengan kami. Aku percaya bibi Yura pasti akan menyusul kami," batin Arsha


Sebelumnya Yura tidak pernah berniat membunuh meski pun berada dalam pertarungan. Namun, berbeda dengan kali ini. Yura tak akan memberi ampun pada orang-orang yang dengan berani nenargetkan keluarganya yang sangat berharga.

__ADS_1


__ADS_2