
Sudah selama seminggu Yura dan Ratu menetap di vila milik kedua orangtua sejak insiden penyusup di Istana Kerajaan pada malam hari. Tuan dan Nyonya Haris tidak merasa keberatan sedikit pun, justru malah merasa senang karena bisa berkumpul bersama kedua putri mereka. Meski anggota keluarga mereka masing kurang lengkap tanpa putra sulung mereka, yaitu Yasha yang masih bertugas menjaga keamanan di daerah perbatasan.
Selama seminggu ini, Raja dan Arvan tidak ikut menginap di Vila milik Keluarga Haris karena masih harus mengurus masalah dan pekerjaan di Istana Kerajaan. Saat malam insiden terjadi, Raja dan Arvan memang menyusul Ratu dan Yura untuk memastikan kondisi sepasang saudari kembar itu di Vila milik Keluarga Haris, tapi esok harinya keduanya harus kembali pergi ke Istana Kerajaan. Hari ini kabarnya Raja akan kembali menemui Ratu di Vila milik Keluarga Haris.
Setelah menyambut kedatangan Raja, Ratu dan Yura pun mengobrol bersama Raja.
"Yuna, bagaimana keadaanmu selama di sini? Apa kau mengalami keluhan pada usia muda kehamilanmu kali ini?" tanya Raja
"Aku baik-baik saja, hanya ada sedikit keluhan ... " jawab Ratu
"Beberapa hari ini, Kak Yuna jadi sulit tidur malam karena selalu merasa mual sebelum tidur," kata Yura
"Saat hamil Arsha dulu, aku selalu merasa mual saat bangun tidur pagi seperti kehamilan pada umumnya. Namun, kali ini justru sebaliknya. Aku malah merasa mual sebelum tidur," ujar Ratu
"Gejala orang hamil memang berbeda-beda. Untung saja gejala yang Kakak alami tidak terlalu parah," sahut Yura
"Kau benar, Yura ... " kata Raja
"Kak Evan, bagaimana denganmu selama seminggu ini? Kau tidak melupakan waktu makan lagi hanya karena aku tidak ada untuk mengingatkanmu, kan? Kapan aku dan Yura bisa kembali ke Istana Kerajaan bersama denganmu?" tanya Ratu
"Maaf, jika aku menyela, Kak Yuna, Kakak ipar. Namun, aku sungguh merasa penasaran. Sebenarnya apa tujuan para penyusup menyerang Istana Kerajaan saat itu? Apa mereka disuruh seseorang? Jika memang benar, siapa dalang yang bahkan membayar pasukan terlatih seperti mereka itu?" tanya Yura
"Meski pun sudah mengintrogasi penyusup yang ditangkap, masih sulit untuk mengungkap motif dan dalang di balik kejadian saat itu karena mereka mengatakan hal yang berbeda-beda. Mereka pasti sengaja karena tidak ingin tujuannya terungkap. Dari yang sudah dapat dipastikan para penyusup itu memang menargetkan keluarga kerajaan, tapi kenapa, untuk apa dan siapa yang menyuruh mereka melakukan itu masih belum terungkap dan belum bisa dipastikan ... " jelas Raja
"Kalau yang ditargetkan oleh mereka adalah keluarga kerajaan bukankah itu berarti yang mereka lakukan adalah pemberontakan? Sebenarnya siapa dalang yang merencanakan hal seperti itu? Apa Kakak ipar tidak bisa menduga apa pun?" tanya Yura
"Entahlah, Yura. Sama seperti yang pernah kubilang sebelumnya, hal ini tidak bisa sembarangan menduga-duga. Meski pun ada dugaan, harus ada bukti kuat yang pasti kalau ingin menghukum pelakunya. Jangan sampai hukum malah tampak seolah menghakimi orang lain," jawab Raja
"Meski begitu, karena sudah seminggu berlalu setelah penjagaan telah diperketat, Istana Kerajaan sudah dapat dipastikan keamanannya. Jadi, aku datang ke sini untuk menjemput Ratu untuk kembali bersamaku ke Istana Kerajaan," sambung Raja
"Akhirnya, sudah bisa kembali. Syukurlah, kalau begitu ... " ujar Ratu
"Aku harus membicarakan hal ini lebih dulu pada ayah dan ibu mertua. Mereka berdua pasti ditinggalkan oleh putri mereka begitu saja setelah tinggal bersama. Kalau mau, mereka boleh ikut untuk tinggal di Istana Kerajaan untuk menemanimu dalam beberapa waktu kehamilan keduamu," ucap Raja
"Omong-omong, di mana Arvan? Kenapa dia tidak ikut denganmu ke sini, Kakak ipar? Bukankah biasanya kalian selalu bersama?" tanya Yura
__ADS_1
"Arvan kubiarkan tetap di Istana Kerajaan untuk mengurus pekerjaan. Tumben sekali kau menanyakan tentang Arvan, apa kau merasa rindu padanya?" tanya balik Raja usai menjawab.
"Aku bertanya karena biasanya kalian berdua seperti sepasang kekasih yang tidak terpisahkan. Kalau Arvan adalah wanita dan aku tidak dekat dengan keluarga kerajaan, aku pasti sudah akan mengira Arvan adalah pasanganmu," jawab Yura
"Sudahlah. Karena Kakak ipar ingin bicara dengan ibu dan ayah, aku akan memanggil mereka ke sini ... " sambung Yura
Yura pun bangkit beralih untuk memanggil kedua orangtuanya. Saat hendak menemui kedua orangtuanya, Yura bertemu dan mendengar pembicaraan antara Pevita dan Rio yang sedang berjaga tak jauh dari sana.
"Apa yang sedang kalian berdua bicarakan?" tanya Yura
"Maafkan kami, Nona Yura," sahut Pevita dan Rio yang merasa bersalah karena tertangkap basah sedang mengobrol saat bertugas.
"Aku tidak marah, aku bertanya karena ingin tahu ... " kata Yura
"Kami dengar, banyak prajurit Istana Kerajaan yang dikirim ke daerah perbatasan. Ada juga yang bilang kalau penerimaan prajurit baru yang bersamaan dengan kami berdua itu sebenarnya untuk menjaga Istana Kerajaan karena prajurit lama akan dikirim pergi ke perbatasan dan yang dimaksud adalah saat-saat ini," ucap Rio
"Dari mana kalian mendengar kabar ini?" tanya Yura
"Banyak prajurit keluarga Haris yang ada di vila ini yang membicarakannya," jawab Pevita
"Salah satu dari kalian berdua, tolong gantikan aku temui kedua orangtuaku dan beri tahu pada mereka kalau Baginda Raja datang ingin bicara dengan mereka. Antarkan juga mereka ke tempat Baginda Raja dan Yang Mulia Ratu berada. Aku ada urusan lain sebentar," ujar Yura
"Siap, laksanakan, Nona ... " sahut Pevita dan Rio secara bersamaan.
Yura langsung bergegas menuju ke kamarnya di vila tersebut. Di dalam kamarnya, Yura membereskan senjata miliknya. Senjata yang ia minta orang lain antarkan dari Istana Kerajaan ke Vila milik kedua orangtuanya karena menginap di sana. Selain senjata, Yura juga membereskan pakaian miliknya. Karena sebelumnya Yura juga sering tinggal di vila tersebut, jadi banyak pakaian miliknya yang disimpan di sana.
Namun, sebenarnya Yura membereskan barang miliknya bukan karena ingin bersiap kembali ke Istana Kerajaan bersama Ratu dan Raja. Melainkan karena dirinya berniat untuk pergi ke daerah perbatasan untuk membantu kakak sulungnya berperang melawan negara kerajaan tetangga.
Sejak mengetahui pembicaraan Pevita dan Rio, Yura jadi merasa khawatir pada kakak sulungnya. Selama ini Yura memang selalu bersama saudari kembarnya di Istana Kerajaan, tapi ia selalu memikirkan nasib kakak lelakinya. Kini Yura hanya tinggal memikirkan cara pergi ke daerah perbatasan sana.
Cukup lama bersiap-siap, Yura pun beranjak ke luar dari kamarnya setelah mengganti gaun yang dipakai olehnya dengan setelan bercelana. Tak jauh setelah ke luar dari kamarnya, Yura pun berpapasan dengan Raja.
"Kakak ipar, kebetulan bertemu denganmu yang sedang seorang diri. Aku ingin bicara denganmu, kumohon ikutlah denganku sebentar saja ... " ucap Yura
"Kalau memang bicara, kau tinggal bicara saja di sini ... " ujar Raja
__ADS_1
"Yang ingin kubicarakan adalah hal penting yang sedikit rahasia," kata Yura
"Baiklah," sahut Raja yang akhirnya mengikuti Yura beralih ke tempat yang lebih sepi untuk bicara berdua.
"Jadi, hal apa yang ingin kau bicarakan denganku di sini?" tanya Raja
"Kenapa Kakak ipar tidak mengatakan kalau situasi di daerah perbatasan sudah semakin genting sampai harus mengirim prajurit tambahan untuk membantu ke sana?" tanya balik Yura
"Rupanya, kau sudah mengetahuinya. Aku hanya merasa kurang tepat waktu membicarakannya setelah baru saja mengalami insiden penyerangan di Istana Kerajaan kemarin. Lagi pula, Yuna sedang hamil muda, aku tidak ingin kakakmu jadi merasa stress karena memikirkan hal ini. Itu tidak baik untuk ibu hamil sepertinya," jawab Raja
"Lalu, kenapa Kakak ipar tidak memberi tahu padaku? Apa menurutmu, aku tidak berhak mengetahuinya saat kakakku yang lain ada di sana untuk mempertaruhkan nyawanya demi kedamaian dan keamanan negara?" tanya Yura
"Aku hanya tidak sempat memberi tahu padamu karena kau selalu bersama Yuna. Maafkan aku soal itu," jawab Raja
"Alu selalu memikirkan dan merasa khawatir dengan kak Yasha, meski pun selalu bersama kak Yuna. Mengetagui hal ini membuat perasaanku semakin resah dan gelisah. Karena itu, kumohon biarkan aku pergi ke daerah perbatasan untuk membantu kakakku melindungi negara ini ... " ujar Yura
"Tidak boleh, di sana terlalu berbahaya untukmu. Belum lama ini kau baru saja terluka karena melindungi Yuna dan Arsha, lukamu bahkan belum pulih sepenuhnya. Di sana sudah banyak yang membantu kakakmu, bahkan aku juga sudah mengirim prajurit tambahan seperti yang telah kau tahu. Yang terjadi di sana adalah perang sungguhan bukan pertarungan biasa seperti yang selalu kau alami. Aku menolaknya," ucap Raja
"Meski pun hanya sebentar, saya sudah melindungi kakak saya di sini kini giliran saya membantu kakak saya yang ada di sana. Keduanya adalah kakak dan keluarga saya yang berharga, saya tidak mungkin meninggalkan dan tidak peduli begitu saja dengan salah satunya, saya tidak bisa hanya berdiam diri," ujar Yura yang kembali berbicara formal dengan Raja.
"Tidak peduli perang besar atau pertarungan biasa, bagi saya itu sama saja. Saya yakin bisa membantu dan akan selalu baik-baik saja. Sekali pun tidak untuk bertarung dalam perang, saya bisa membantu di pihak medis yang ada di sana. Jadi, saya mohon beri izin pada saya untuk pergi ke daerah perbatasan sebagai bantuan, Baginda Raja ... " sambung Yura yang langsung berlutut seperti seorang prajurit di hadapan Raja.
"Berdirilah, Yura. Jangan seperti ini. Bagaimana kalau tiba-tiba ada yang datang melihat dan mengira aku sedang menindas adik iparku sendiri?" tanya Raja
"Tidak akan ada yang melihat dan tidak akan ada yang berani berprasangka buruk pada Anda. Saya tidak akan berdiri sebelum Anda memberi izin atas permintaan saya barusan," jawab Yura
"Jadi, saat ini kau sedang menahanku dengan permintaanmu yang sudah seperti ancaman itu, Yura?" tanya Raja
"Saya tidak mungkin berani seperti itu," jawab Yura yang masih enggan untuk berdiri.
"Baiklah ... dasar, kau keras kepala. Kau pasti akan terus memohon padaku sampai aku memenuhi permintaanmu. Aku memberi izin untuk kau pergi ke daerah perbatasan hanya sebagai bantuan pihak medis," ujar Raja
"Terima kasih banyak, Baginda Raja ... " ucap Yura yang masih terus berlutut.
"Sama-sama. Sekarang berdirilah, jangan hanya terus berlutut seperti ini," kata Raja
__ADS_1
Akhirnya, Yura pun bangkit berdiri setelah permintaannya telah berhasil dipenuhi oleh Raja.