One & Only

One & Only
9 - Melihat Pemandangan Sambil Mengobrol.


__ADS_3

Usai bertarung, Yura tidak langsung masuk ke dalam kediaman untuk istirahat. Ia justru duduk di atas hamparan rumput untuk melihat pemandangan. Saat itu Arvan menghampiri dan menemaninya sambil mengobrol bersama.


"Kau benar. Untuk bisa sampai seperti sekarang ini memanglah tidak mudah. Dulu, saat wilayah Suku Barat dan Kerajaan berperang, aku hanyalah seorang tawanan. Namun, setelah kami berdamai dan memutuskan menjadi bagian dari Kerajaan, aku barulah terus menetap dan bekerja untuk Raja di sini. Seperti saat ini," ucap Arvan


"Ternyata, kau orang yang penyabar dan membanggakan. Serius! Aku pun bangga saat mendengar ceritamu. Teruslah menjadi orang yang membanggakan dan sabar menghadapi banyak orang yang bermacam-macam kriterianya. Teruslah seperti itu, Arvan," ucap Yura


"Cukup memujinya. Terima kasih," kata Arvan


"Ternyata, kau orang yang jadi malu saat dipuji ya ... lucu sekali," ungkap Yura


"Aku tidak seperti itu. Aku hanya tidak ingin jadi sombong dan tinggi hati," sangkal Arvan


"Aku tahu kau bukan orang yang akan seperti itu. Kau benar-benar orang yang pemalu, Arvan ... " ucap Yura


"Kubilang, tidak!" seru Arvan


"Hei, berhentilah malu-malu seperti itu. Kalau kau terus begitu, aku pun juga ikut malu jadinya saat melihatmu. Haha ... " ledek Yura


"Hei, kaulah yang harusnya berhenti, Yura ... " sebal Arvan


"Baiklah. Melihat wajahmu yang sudah memerah, aku akan berhenti," kata Yura yang bangkit dan berlalu.


"Kau ini, sepertinya tidak bisa dibiarkan ya ... " geram Arvan


Yura pun tertawa dan Arvan mulai mengejarnya yang menjauh. Yura pun berlari sambil terus tertawa.


"Berhentilah mengejarku! Kau takkan bisa menangkapku! Kalau bisa pun kau mau apa? Aku mau mandi, apa kau akan tetap mau mengikutiku?" tanya Yura


Arvan pun langsung menghentikan langkahnya dan terdiam di tempat.


"Siapa yang mengikutimu? Mengejar dan mengikuti itu hal yang berbeda, tahu ... " kata Arvan


"Haha ... lihatlah, wajahmu yang sangat merah itu! Sepertinya sebentar lagi akan ada yang meledak! Berhati-hatilah!" seru Yura


Arvan pun terdiam sambil menutupi wajahnya.

__ADS_1


"Aduh, gadis itu! Kenapa dia malah bisa membuat jantungku berdebar seperti ini!? Aneh sekali!" batin Arvan


Yura pun meninggalkan Arvan yang berdiri diam mematung untuk masuk ke dalam kediaman.


...


Usai membersihkan tubuhnya dan selesai memakai pakaiannya, Yura pun mengeringkan rambutnya dengan handuk sambil menatap ke arah cermin.


Tok-tok-tok!


"Siapa itu? Buka saja pintunya!" seru Yura dari dalam kamar.


Pintu kamar pun terbuka nenampakkan sosok Arvan yang memalingkan wajah tanpa melihat Yura.


"Ini aku, Arvan ... " ungkapnya


"Arvan, ada apa?" tanya Yura


"Ini sudah malam, seperti kata Raja, kau istirahatlah di sini. Aku akan pergi menemui Ratu untuk memeriksa kondisinya malam ini," jelas Arvan


"Aku bilang lebih dulu padamu karena sebelumnya kau bilang tidak suka saat aku memeriksa Ratu, kakakmu ... " jawab Arvan


"Aku juga bukannya tidak tahu pekerjaanmu, jadi lakukan saja apa yang sudah jadi tugasmu, tidak perlu selalu melapor padaku seperti ini. Hei, kau sendiri yang mencariku, tapi kau bicara tidak dengan menatapku. Aku ini sudah berpakaian dan bukannya telanjang. Lihatlah, lawan bicaramu saat kau bicara," ucap Yura


"Hei, jangan bicara asal seperti itu. Bicara itu harus mencerminkan kalau kau seorang gadis dong ... " protes Arvan


Arvan melirik ke arah Yura, lalu kembali berpaling darinya.


"Sudahlah, aku pergi ... " kata Arvan yang kembali menutup pintu kamar sebelum beranjak pergi.


"Benar-benar lelaki yang pemalu," gumam Yura


Ternyata, Arvan masih terdiam di depan pintu kamar. Ia sempat melihat sekilas sosok Yura yang berpakaian lengkap sehabis mandi dengan rambutnya yang masih basah. Itu adalah penampilan yang normal dan biasa saja, namun dapat membuat jantung Arvan kembali berdebar.


"Ini tidak benar! Harusnya aku biasa saja! Tadi juga, kenapa aku berharap dia benar-benar akan mencariku saat aku tidak di sini?" batin Arvan

__ADS_1


...


Arvan benar-benar melakukan seperti yang dia ucapkan, menemui Ratu di kediamannya dan memeriksa kondisinya.


"Lukanya terus membaik dan sepertinya sebentar lagi pun lukanya dapat menghilang. Yang Mulia Ratu juga masih minum obat yang saya berikan secara teratur, kan?" tanya Arvan


"Kau yang bilang sendiri, lukaku terus membaik dan bisa menghilang sebentar lagi. Bisakah aku tidak meminum obat itu lagi? Rasanya sangat pahit," pinta Ratu


"Tidak bisa. Obatnya masih harus terus diminum sampai lukanya menghilang sepenuhnya. Kalau tidak, luka yang sudah hampir tertutup ini bisa saja terbuka lagi karena adanya sedikit saja gerakan. Itu adalah resep andalan khusus dari keluargaku, dijamin sangat ampuh. Jadi, Yang Mulia Ratu harus tetap meminumnya secara rutin setiap hari. Raja, tolong terus ingatkan Ratu-mu dan jangan berikan dia kelonggaran sedikit pun. Ini pun demi kebaikan Yang Mulia Ratu," Ucap Arvan


"Yuna, kau turuti saja kata Arvan. Yura juga pasti akan berkata hal yang sama demi kebaikanmu," kata Raja


"Baiklah, aku mengerti. Bagaimana dengan Yura? Kau tidak bertengkar lagi dengannya, kan, Arvan?" tanya Ratu


"Sudah tidak lagi. Namun, tidak hanya ceroboh dan baik hati, tapi dia juga jahil sekali. Dia orang yang unik," jawab Arvan


"Benar, dialah adikku. Adikku itu memang suka hal yang berbeda dari pada yang lainnya. Dia menyukai hal yang menantang. Kau dan juga Raja sudah melihatnya sendiri hari ini. Selain sukanya mengembara ke banyak tempat dia juga cukup mahir bela diri dan bermain pedang. Terkadang memikirkannya saja sudah membuatku khawatir. Untung saja mulai sekarang dia akan tinggal di istana dalam waktu yang lebih lama. Alih-alih menyuruhnya melindungiku, sebenarnya aku pun ingin melindunginya di sisiku. Bisa melihat dan memastikan kondisinya baik-baik saja setiap hari membuatku sangat lega dan bersyukur. Aku ingin dia merasa nyaman berada di sisiku walau berada di istana yang ada banyak trik di dalamnya, jadi kuharap setidaknya dia memiliki hubungan baik dengan orang-orang yang juga berhubungan baik denganku," ucap Ratu


"Aku mengerti. Kau tenang saja, Yang Mulia Ratu. Adikmu itu gadis yang tangguh. Walau pun dia akan melihat banyak hal di istana, itu pasti tidak akan memengaruhinya. Asalkan dia ada di dekatmu, dia pasti akan senang dan nyaman," kata Arvan


"Baguslah, kalau menurutmu pun seperti itu ... " ujar Ratu


•••


Esok harinya.


"Apa kabarmu, Kak? Kita akan melakukan apa hari ini?" tanya Yura begitu sampai di kediaman Ratu.


"Aku baik. Seperti hari sebelumnya, kita akan terus berada di kediaman ini," jawab Ratu


"Begitu, ya. Apa kau tidak bosan terus berdiam diri? Melihat keadaan sekeliling juga baik untuk pemulihan, lho. Apa kau ingin aku menemanimu berkeliling sebentar? Sebelum itu, apa kau sudah minum obatmu pagi ini?" tanya Yura


"Obat itu sudah kuminum tadi. Kita tidak akan ke mana-mana untuk hari ini karena akan ada yang datang ke sini," jawab Ratu


"Siapa itu?" tanya Yura

__ADS_1


Sesaat setelah Yura bertanya, Dina, pelayan Ratu pun datang bersama seorang anak lelaki.


__ADS_2