
Arsha telah terlelap dengan nyenyak, kini hanya Raja yang tampak biasa saja karena baik Arvan atau Yura dan Ratu sedang saling melamun berjamah. Entah apa yang membuat ketiganya melamun di saat yang bersamaan seperti itu.
Raja yang memerhatikan jadi merasa bingung dan penasaran.
"Apa kalian semua berniat mengabaikan aku seoramg diri seperti ini di sini? Arsha sudah tidur, tapi kalian bertiga malah terdiam secara bersamaan? Anggaplah sejak awal, Arvan memang sudah lebih dulu melamun, tapi ada apa dengan Ratu dan Yura? Kenapa kalian berdua ikut melamun seperti Arvan?" tanya Raja
Mendengar hal yang dipertanyakan oleh Raja, Arvan langsung tersadar dari lamunannya dan ikut memerhatikan kakak beradik kembar, Ratu Yuna dan Yura.
"Benar saja, Ratu dan Yura juga sedang melamun. Namun, apa yang sedang dipikirkan oleh keduanya? Meski pun kembar, keduanya tidak mungkin sedang memikirkan hal yang sama, kan? Terlebih lagi, sangat tidak mungkin yang keduanya pikirkan sama dengan apa yang sedang mengganggu pikiranku saat ini," batin Arvan
"Kebetulan kau sudah tersadar, Arvan. Kira-kira, apa yang sedang dipikirkan oleh Ratu dan Yura? Apa kau bisa menebaknya?" tanya Raja sambil melihat ke arah Arvan yang sudah tidak melamun lagi.
"Maaf jika saya melamun sebelumnya, Baginda. Namun, saya tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Yura dan Yang Mulia Ratu," jawab Arvan sambil menggeleng pelan.
"Ratu, Yura, apa yang sedang kalian pikirkan? Kenapa kalian berdua bisa-bisanya sama-sama melamun seperti ini?" tanya Raja
Yura dan Ratu sama-sama tersenyum. Namun, sedikit berbeda. Yura tidak menghela nafasnya seperti Ratu. Gadis yang memakai cadar tidak berani melakukan hal semacam itu saat bersama Keluarga Kerajaan yang terhormat.
"Membahas soal momen bersama yang mengingatkan pada keluarga dan soal pertempuran yang sebelumnya, aku jadi teringat dengan kakak lelaki kami, Yasha ... " ungkap Ratu
"Benar. Berbeda dengan ibu dan ayah yang berada di rumah, kak Yasha yang menjadi Prajurit Kerajaan sedang berjaga perbatasan negara di wilayah suku Barat. Yang kudengar setiap hari ada saja bentrokan yang terjadi antara wilayah suku Barat negara Kerajaan Chuya kita dengan wilayah suku Timur negara Kerajaan Brande," ucap Yura
"Saya khawatir bentrokan yang terjadi hampir setiap hari itu akan menjadi perang besar. Apa lagi, surat yang sudah kukirim ke tempat kak Yasha sejak beberapa hari lalu tak kunjung dapat balasan. Padahal surat yang kukirim secara terpisah tapi di saat yang bersamaan ke rumah saja sudah dapat balasan. Tak kunjung dapat surat balasan menandakan kak Yasha sangat sibuk, saya jadi khawatir soal itu ... " sambung Yura
"Rupanya, kekhawatiran yang sedang dipikirkan keduanya bahkan sama. Namun, tidak sampai sama seperti yang sedang aku pikirkan. Apa kakak beradik kembar akan mempunyai banyak kesamaan seperti ini? Seperti saat ini, keduanya sama-sama sedang memikirkan dan khawatir soal kakak lelaki yang menjadi Prajurit Kerajaan, Yasha ... " batin Arvan
Kini baik Raja dan Arvan bisa mengerti dengan apa yang sedang dipikirkan sekaligus menjadi kekhawatiran Ratu dan Yura. Keduanya sedang memikirkan sekaligus mengkhawatirkan hal dan sosok yang sama. Yaitu, sang kakak lelaki, Yasha.
"Kalau soal Pemimpin Prajurit Yasha, kalian berdua tidak perlu merasa khawatir. Meski pun sedang menjaga perbatasan, dia tidak hanya seorang diri melainkan bersama anggota prajurit lainnya dan suku Barat juga ikut membantu penjagaan. Semua pasti akan baik-baik saja," ujar Raja
__ADS_1
"Ya, kami berharap juga seperti itu," kata Ratu
"Semoga saja ... " sahut Yura
Semua pun kembali memandang ke arah langit malam bertabur bintang dan tersenyum bersama, kecuali Arsha yang masih terlelap pulas di atas pangkuan Yura.
Saat itu, tubuh Ratu mulai menggigil kedinginan karena udara malam yang semakin dingin hingga menusuk ke tulang meski telah memakai selimut dan syal untuk menghangatkan badan juga ada api unggun yang telah menyala. Padahal sampai beberapa saat yang lalu Ratu masih nyaman berada dalam rengkuhan Raja yang membuatnya merasa hangat. Namun, kini dekapan Raja pun tak mampu mengusir udara dingin yang menerpa tubuhnya.
Raja yang menyadari tubuh Ratu bergetar karena dingin pun mendekap wanita tercintanya semakin erat.
"Sepertinya sudah waktunya untuk kita kembali ke dalam Vila. Udara di luar sini sudah semakin dingin," kata Raja
"Baiklah, saya setuju dengan Baginda Raja ... " sahut Yura
"Silakan, Baginda Raja membawa Yang Mulia Ratu masuk lebih dulu. Saya akan membantu Yura untuk bangunkan Putra Mahkota dulu sebelum kembali masuk," ucap Arvan
"Ya, aku puas, suka, dan senang ... " jawab Ratu
"Bagus. Kalau begitu, ayo kita kembali masuk ke dalam vila," ujar Raja
Ratu hanya mengangguk sebagai respon atas perkataan Raja. Raja masih terus merangkul Ratu saat berjalan kembali masuk ke dalam vila.
Melihat Raja dan Ratu sudah brranjak masuk ke dalam, semua pelayan yang ikut menunggu di sekitar halaman vila langsung menunjukkan sikap hormat.
"Kalian bantulah Yura dan Arvan juga rapikan semua seperti semula," ucap Raja yang sudah bagaikan perintah mutlak.
"Baik, Baginda."
Arvan tampak siap membangunkan Arsha agar bisa kembali masuk ke dalam vila. Saat itu para pelayan menghampiri untuk membantu.
__ADS_1
"Jangan bangunkan, biarkan saja Arsha tidur. Kasihan kalau dibangunkan sekarang akan sulit baginya untuk tidur lagi setelah ini," kata Yura dengan suara pelan.
"Lalu, bagaimana Arsha akan kembali ke dalam Vila? Apa kau mau menggendongnya? Kalau begitu, biar aku saja yang menggendongnya ... " ujar Arvan
"Tidak. Biar aku sendiri saja," tolak Yura
Yura tampak bersusah payah untuk bangkit berdiri sambil memeluk Arsha di dalam gendongannya.
"Kau pasti sulit menggerakkan kakimu setelah dijadikan bantalan tidur untuk Arsha. Biar aku membantu," kata Arvan
"Arvan, aku tidak selemah yang kau pikirkan itu ... " ucap Yura yang berhasil berdiri sambil menggendong Arsha di dalam pelukannya dengan kedua kaki yang sedikit terasa kaku.
"Nona, apa ada yang perlu kami bantu?"
"Biar aku saja yang membantumu, Yura," kata Arvan
"Aku hanya perlu bantuan pelayan untuk menyelimuti Arsha yang sedang kugendong agar tidak merasa kedinginan," ujar Yura
Mendengar itu, salah satu pelayan langsung menyampirkan selimut pada tubuh Arsha yang berada dalam gendongan Yura. Arvan terlambat selangkah dari pelayan tersebut yang rupanya adalah Rio, pelayan lelaki yang menyukai Yura.
"Terima kasih, Rio. Setelah ini kau bantulah Tuan Arvan merapikan semua sisa kemah dan api unggun yang ada di sini," ucap Yura
"Baik, Nona Yura ... " sahut Rio sambil tersenyum sumringah.
"Bahkan Yura sudah tahu dan saling berkenalan nama dengan pelayan kurang ajar ini," batin Arvan yang tampak tidak suka.
"Tak kusangka, ternyata Nona Yura sudah menghafal namaku dengan cepat dan mudah," batin Rio yang merasa sangat senang di dalam hatinya.
Yura pun beranjak pergi dari sana sambil menggendong Arsha di dalam pelukannya.
__ADS_1