
Sepertinya saat Yura mengantarkan Arsha pergi menuju ke Akademi Kerajaan, ada juga beberapa orang yang datang ke Istana Kerajaan. Karena saat Yura kembali ke Istana Kerajaan, tampak beberapa orang yang baru saja membubarkan barisan.
"Sepertinya habis ada yang datang. Siapa mereka?" tanya Yura seraya bergumam.
"Belum lama ini Raja menerima beberapa prajurit baru dan itulah mereka yang baru saja datang dan berbaris tadi," jawab seorang pelayan Istana Kerajaan yang menyambut kedatangan Yura yang baru saja kembali dari Akademi Kerajaan.
"Begitu, rupanya. Terima kasih karena sudah memberi tahu padaku," ucap Yura
"Sama-sama, Nona Yura."
Pelayan tersebut pun beralih pergi karena tugasnya hanya menyambut kembalinya Yura dan membantunya turun dari kereta kuda yang meski tanpa bantuannya pun Yura bisa melakukan semuanya sendiri dengan baik.
Setelah mengetahui tentang prajurit baru dan demi ingin memastikannya, Yura langsung memiliki inisiatif untuk beranjak mencari dan mememui Raja menuju ke ruang kerja Istana Kerajaan.
Saat itu terdengar suara yang memanggil nama dan ada dua orang yang menghampirinya.
"Nona Yura!"
"Maaf, tapi sekarang aku sedang terburu-buru ... " kata Yura
"Sudah kubilang tadi agar kita berdua tidak mengganggu Nona Yura di sini."
"Tapi, aku hanya ingin membuktikan kalau kita bertemu lagi seperti yang pernah dikatakan oleh Nona Yura sebelumnya."
Mendengar perkataan salah seorang di antara keduanya, Yura pun berhenti melangkah dan menoleh hingga menyadari dan mendapati dua pelayan Vila Kerajaan tepat berada di sampingnya.
"Nona Yura, apa masih ingat dengan kami berdua?" tanya salah seorang di antara keduanya, seorang lelaki yang tampak senang bisa bertemu dengan Yura lagi.
"Maaf, tapi aku lupa ... siapa namamu?" tanya balik Yura
"Aku, Rio ... " jawabnya
"Dan, aku-"
"Aku sudah ingat sekarang. Rio dan Pevita, kan?" tanya Yura
"Benar, Nona ... " jawab satu orang lainnya, seorang perempuan yang bernama Pevita.
__ADS_1
"Nona Yura, bisa mengingat nama Pevita, tapi tidak ingat dengan namaku. Sungguh terlalu, ini tidak adil ... " ujarnya, Rio.
"Maaf, itu karena di sini ada seorang yang namanya hampir sama denganmu," kata Yura
"Itu hanya alasan Nona Yura saja, kan? Memangnya siapa dia yang namanya hampir sama denganku?" tanya Rio
"Ada seorang lelaki, dia adalah asisten tuan Penasehat. Omong-omong, ada urusan apa kalian berdua datang ke Istana Kerajaan?" tanya balik Yura
"Karena itu kami menghampiri Nona Yura begitu melihatmu untuk memberi tahu padamu kalau kami berdua adalah prajurit baru yang terpilih langsung oleh Baginda Raja," ungkap Rio
"Bahkan Pevita juga? Bukan untuk menjadi pelayan, tapi unyuk menjadi prajurit?" tanya Yura
"Benar, Nona. Saya datang ke sini setelah diterima menjadi prajurit baru bersama Rio dan yang lainnya," jelas Pevita
"Ini adalah hal yang langka bahwa seorang perempuan menjadi prajurit. Selamat untukmu, Pevita. Kau pasti telah bekerja keras untuk bisa sampai ke tahap ini. Kerja bagus dan teruskan usahamu semaksimal mungkin untuk ke depannya," ucap Yura
"Terima kasih, Nona. Ini karena Nona Yura yang telah memberi inspirasi pada saya," ungkap Pevita
"Inspirasi apa yang telah kuberikan padamu? Aku tidak pernah melakukan apa pun terhadapmu. Ini adalah karena usahamu sendiri. Bahkan aku hanya seorang pelayan di sini, bukan seorang prajurit sepertimu," ujar Yura
Karena biasanya lebih banyak orang yang meremehkannya, Pevita pun merasa usahanya sia-sia saja. Namun, kini Pevita bisa merasa senang bangga terhadap diri dan usahanya sendiri.
"Omong-omong, kalian berdua diberi perintah apa setelah menjadi prajurit baru?" tanya Yura
"Prajurit lainnya sudah diperintah untuk langsung menuju ke arena latihan. Hanya kami berdua yang diminta untuk menunggu. Katanya, nanti akan ada orang yang datang untuk mengantar kami untuk menghadap ke Baginda Raja," jelas Pevita
"Bukan karena apa, tapi mungkin karena kami adalah 2 prajurit terbaik, jadi kami harus menghadap Baginda Raja lebih dulu ... " sahut Rio seraya berbangga diri.
"Prajurit terbaik, ya? Kalau begitu, kuucapkan selamat sekali lagi untuk kalian berdua. Namun, omong-omong soal Baginda Raja, aku ada perlu hingga harus segera menemuinya. Jadi, maaf karena tidak bisa mengobrol lebih lama," ujar Yura yang kembali melanjutkan langkahnya.
"Karena kami berdua juga harus menghadap Baginda Raja, apa boleh kalau kami mengikuti Nona Yura?" tanya Rio yang terus berjalan di belakang Yura, begitu juga dengan Pevita.
"Baiklah, silakan. Terserah kalian saja," jawab Yura
Rio dan Pevita pun terus mengikuti arah jalan Yura untuk menemui Raja ke ruang kerja Istana Kerajaan.
Sampai di depan pintu ruang kerja Istana Kerajaan, di sana ada Arvan dan Rino.
__ADS_1
"Yura ... " sapa Arvan yang langsung merasa tidak suka saat melihat ada orang lain yang mengikuti Yura, terutama pada yang seorang lelaki.
"Nona Yura, Anda datang bersama siapa?" tanya Rino
"Aku harus segera menemui Baginda Raja. Apa Baginda Raja ada di dalam?" tanya balik Yura tanpaebih dulu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Rino padanya.
"Baginda Raja memang baru kembali setelah bicara dengan Yang Mulia Ratu, tapi Baginda sudah ada di dalam ... " jawab Rino
"Kalau begitu, aku akan masuk untuk menemuinya. Permisi," ujar Yura yang langsung beranjak masuk ke dalam ruang kerja Istana Kerajaan tanpa basa-basi lagi.
"Aku belum pernah lihat kalian berdua sebelumnya. Siapa kalian sampai mengikuti Nona Yura datang ke sini?" tanya Rino
"Kami berdua adalah prajurit baru yang diminta untuk menghadap ke Baginda Raja, jadi kami mengikuti Nona Yura sampai ke sini ... " jelas Pevita
"Kami berdua telah diminta untuk menghadap Baginda Raja. Kalau begitu, apa kami boleh ikut masuk ke dalam seperti Nona Yura?" tanya Rio
"Alasan Nona Yura ingin mememui Baginda Raja pasti karena ada urusan penting yang harus dibahas. Lebih baik kalian berdua menunggu di sini dan menunggu giliran," jawab Rino
"Begitu, rupanya. Baiklah, kami akan menunggu. Kita bertemu lagi, Tuan Penasehat Besar. Apa kabar?" tanya Rio seraya menyapa.
"Aku selalu sibuk," jawab Arvan
"Apa Tuan mengenal mereka berdua? Kenapa tidak bilang apa-apa pada saya?" tanya Rino
"Sebelumnya kami berdua adalah pelayan yang bekerja di Vila Kerajaan dan kami pernah beberapa kali bertemu dengan Tuan Penasehat Besar saat berlibur bersama Keluarga Kerajaan di Vila Kerajaan," ungkap Pevita
"Begitu, rupanya. Kalau begitu, siapa nama kalian berdua?" tanya Rino
"Saya Pevita dan dia adalah Rio," jawab Pevita
"Karena kalian berdua sudah mengenal Tuan Penasehat, biar saya yang memperkenalkan diri. Nama saya, Rino, Asisten Tuan Penasehat Besar. Nama kita hampir sama," ujar Rino dan terakhir menunjuk ke arah Rio.
"Kata nona Yura, ada seseorang yang namanya hampir sama denganku di sini. Rupanya, itu adalah kau ... " kata Rio
"Apa sebelum menuju ke sini, mereka sudah lebih dulu saling mengobrol? Sungguh, aku tidak suka dengan dia yang tampak akrab dengan Yura ... " batin Arvan yang melirik sinis ke arah Rio tanpa disadari oleh siapa pun.
Sungguh kebetulan Rino bertemu dengan orang yang namanya hampir sama dengan dirinya. Orang itu adalah orang yang tidak disukai oleh Arvan yang mungkin mulai saat ini akan sering bertemu hingga seterusnya. Hal itu membuat Arvan semakin merasa tidak suka.
__ADS_1