
Sedih yang dirasakan oleh Arvan membuatnya langsung tersadar dari mimpi yang memperlihatkan memori masa kecilnya itu. Arvan bahkan menitikkan air mata saat melihat memori masa lalunya melalui mimpi itu.
Arvan menghela nafas panjang begitu terbangun dari tidurnya. Lelaki itu juga menghapus air matanya yang tanpa sadar menetes saat sedang bermimpi di dalam di tidurnya.
"Kata orang, jika sedang merasa sangat lelah memang suka membuat kita jadi bermimpi aneh. Tapi, tidak kusangka yang kulihat bukan mimpi buruk, tapi malah mimpi tentang ingatan pada masa itu ... " gumam Arvan
"Namun, setelah dipikir-pikir sepertinya mimpi itu muncul karena ingin membuatku sadar terhadap suatu hal. Aku benar-benar baru sadar, meski memiliki wajah yang mirip, pakaian gadis yang kulihat di masa lalu ternyata berbeda. Gadis yang menyelamatkanku dari kejaran anjing memakai gaun berwarna hijau dan itu adalah Yura, sedangkan gadis yang bersama Putra Mahkota saat itu memakai gaun berwarna ungu dan itu adalah Yuna. Namun, apa gunanya aku baru sadar dan mengingatnya sekarang? Setelah belasan tahun lamanya, semuanya sudah sangat terlambat. Hubunganku dengan Yura sekarang telah menjadi sulit dan rumit," batin Arvan
Setelah itu, Arvan pun bangkit dari tidurnya dan segera bersiap sebelum hendak memulai hari ini yang tentunya dengan mengurus banyak pekerjaan.
Usai bersiap dengan pakaian formal pekerjaannya, Arvan baru sadar kalau dirinya telah kehilangan sesuatu. Suatu benda yang berharga dan berjasa.
"Sapu tangan penyelamat," Begitulah Arvan menyebut barang berharga dan berjasa miliknya sambil bergumam saat sadar telah kehilangannya.
Lalu, Arvan pun terburu-buru mencari benda berharga dan berjasa yang juga kesayangannya itu ke banyak penjuru tempat.
...
Setelah terbangun dan bersiap di pagi hari, Yura langsung menuju ke kediaman Ratu untuk menghampiri saudari kembarnya.
Di kediaman Ratu juga ada Arsha yang sedang bersiap untuk sarapan bersama. Yura pun diajam untuk makan bersama kakak dan keponakan lelakinya.
"Bibi Yura, ayo ikut sarapan bersama kami," ajak Arsha
"Apa kalian hanya makan berdua? Lalu, di mana Raja?" tanya Yura setelah ikut duduk untuk sarapan bersama.
"Ayah bilang, pekerjaannya masih banyak yang menumpuk, jadi ayah langsung pergi ke ruang kerja sejak pagi-pagi sekali," jelas Arsha
"Begitu, rupanya ... " gumam Yura sambil menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Setelah sarapan, aku akan mengantar makanan ke ruang kerja Istana Kerajaan untuk diberikan pada Raja. Ayo, kita makan dulu ... " ujar Ratu
Yura pun mulai sarapan bersama Ratu dan Arsha. Usai sarapan ada pelayan Ratu yang membereskannya.
__ADS_1
"Sebenarnya, setelah sarapan ada hal yang ingin kukatakan," ujar Yura
"Langsung katakan saja. Apa itu?" tanya Ratu
"Aku ingin minta izin karena hendak pergi, jadi aku tidak bisa menemani di sisimu hari ini. Lalu, maaf. Arsha, Bibi tidak bisa melatih dan menemanimu latihan untuk hari ini," ungkap Yura
"Ya, tidak apa-apa, Bibi ... " kata Arsha
"Tumben sekali kau minta izin untuk pergi. Memangnya kau ingin pergi ke mana, Yura?" tanya Ratu
"Aku ingin membeli sesuatu di luar Istana Kerajaan. Jika melihat ada barang yang bagus, aku akan membelinya untukmu dan Arsha. Aku usahakan tidak akan lama dan akan cepat kembali jika sudah selesai membeli keperluanku," jawab Yura
"Tidak perlu membeli sesuatu untukku. Hati-hati saja saat pergi dan cepatlah kembali setelahnya," pesan Ratu
"Aku akan langsung pergi supaya bisa cepat kembali," kata Yura
"Bibi Yura, berhati-hatilah ... " pesan Arsha
Yura hanya mengangguk dan langsung bangkit untuk segera beranjak pergi dari sana.
...
"Tuan Arvan, sebenarnya benda apa yang sedang Anda cari? Anda meminta saya untuk ikut membantu cari, tapi Anda tidak mengatakan telah kehilangan benda apa?" tanya Rino, asisten pribadi Arvan.
"Itu adalah sesuatu yang berharga dan berjasa juga benda kesayanganku. Sebuah sapu tangan berwarna biru," ungkap Arvan
"Apa Anda harus sepanik ini aaat mencarinya? Bahkan Anda sampai meninggalkan Baginda Raja mengurus pekerjaan seorang diri, padahal Anda tidak pernah seperti ini. Kalau sapu tangan itu sangat berarti untukmu, kenapa Anda bisa sampai kehilangannya? Cobalah ingat-ingat lagi, sebenarnya di mana terakhir kali Anda meletakkannya?" tanya Rino
"Aku ingat sekarang, sapu tangan itu tertinggal di kamar Vila saat aku menginap di sana sebelumnya. Aku harus kembali ke Vila Kerajaan untuk mengambilnya," jawab Arvan setelah mengingat kembali di mana terakhir kali meletakkan sapu tangan kesayangan miliknya.
"Apa harus sekarang juga?" tanya Rino sambil menahan Arvan yang hendak langsung pergi dari sana.
"Sudah kubilang, sapu tangan itu sangat berharga dan berjasa bagiku. Seharusnya aku tidak boleh kehilangannya seperti ini dan harus segera menemukannya kembali," jelas Arvan
__ADS_1
Saat Arvan hendak bergegas pergi, langkahnya terhenti saat melihat Yura muncul di sana.
"Apa yang kau maksud adalah sedang mencari sapu tangan ini dan tidak boleh kehilangannya?" tanya Yura sambil memberikan sebuah sapu tangan berwarna biru cerah pada Arvan.
"Rupanya, ini ada padamu. Bagaimana bisa?" tanya Arvan yang langsung mengambil sapu tangan berwarna biru itu dari tangan Yura.
"Di hari kita pergi meninggalkan Vila Kerajaan, ada pelayan yang menitipkannya padaku. Aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu, aku hanya lupa untuk langsung mengembalikannya padamu. Maaf," jelas Yura
"Terima kasih sudah mengembalikan sapu tangan ini padaku, Yura," ucap Arvan yang tampak merasa sangat senang.
"Sama-sama," balas Yura
"Nona, apa kau datang hanya untuk mengembalikan sapu tangan milik Tuan Penasehat Besar? Atau, apa kau punya keperluan lain di sini?" tanya Rino
"Sebenarnya aku datang ke sini karena ingin bicara sesuatu yang penting dengan Baginda Raja dan aku ingat harus mengembalikan sesuatu pada Tuan Arvan saat melihatnya sedang mencari sesuatu karena kehilangannya. Jadi, bolehkah aku masuk untuk bertemu Baginda Raja?" tanya balik Yura
"Kalau memang ingin membicarakan urusan penting, silakan saja masuk. Baginda Raja ada di dalam," jawab Rino
"Tuan Arvan, apa dia adalah asistenmu?" tanya Yura
"Benar, Nona. Saya adalah asisten Tuan Penasehat Besar," jawab Rino
"Jadi, siapa namamu?" tanya Yura
"Nama saya, Rino ... " ungkapnya memperkenalkan diri.
"Rino, namaku adalah Yura. Urusan penting yang ingin kubicarakan dengan Baginda Raja kali ini juga bersifat rahasia. Tolong jangan biarkan siapa pun masuk dan mengganggu pembicaraan kami berdua, termasuk jika Yang Mulia Ratu dan Yang Mulia Putra Mahkota yang datang sekali pun. Mohon bantuan darimu," ucap Yura dengan suara pelan.
"Baiklah, Nona. Saya mengerti," kata Rino
Arvan merasa tidak suka melihat Yura yang lagi-lagi mengobrol dengan lelaki lain selain dirinya, apa lagi lelaki itu adalah asistennya sendiri. Terlebih lagi, Rino malah terus menanggapinya seolah tidak peduli dengannya yang bahkan tidak bisa ikut bicara bersama.
"Kalau Yura bilang, jangan biarkan siapa pun masuk dan mengganggu pembicaraannya dengan Raja, apa itu juga termasuk dengan diriku? Apa bahkan aku pun tidak boleh mengetahui pembicaraan mereka berdua? Sebenarnya urusan penting apa yang ingin dibicarakan oleh Yura dengan Raja?" batin Arvan bertanya-tanya.
__ADS_1
Kedatangan Yura ke sana memang untuk bertemu dan bicara dengan Raja. Namun, melihat Arvan sedang mencari sesuatu karena kehilangan, Yura jadi teringat ada benda milik Arvan yang dititipkan oleh pelayan Vila Kerajaan padanya dan harus dikembalikan pada Tuan Penasehat Besar sekaligus Dokter Utama Kerajaan itu.
Setelah mengembalikan benda milik Arvan, Yura pun masuk ke dalam ruang kerja Istana Kerajaan untuk menemui Raja.