
"Kau bilang, sebelumnya Yura ada di sini? Sekarang di mana dia? Apa dia sudah langsung pergi lagi?" tanya Arvan
"Kak Yura pergi ke luar untuk berkeliling setelah mandi tadi," jawab Azkia
"Kalau begitu, aku akan ke luar untuk melihat-lihat. Mungkin bisa bertemu dengan Yura nanti," ujar Arvan
"Kalau memang bertemu nanti, bicaralah baik-baik dengannya dan nyatakan perasaanmu padanya ... " kata Azkia
"Ya, aku mengerti." Setelah berkata seperti itu, Arvan langsung beranjak ke luar dari kediaman sang adik sebagai selir.
Begitu Yura ke luar dari kediamannya, Selir Kedua, Frizka langsung mencari keberadaan lilin aroma yang mengandung obat bius yang sebelumnya dinyalakan dan diletakkan di dalam kamar.
Saat menyadari lilin aroma tersebut telah menghilang, seketika saja Selir Kedua, Frizka langsung merasa panik. Karena lilin aroma tersebut bisa menjadi bukti alasan Raja menjadi mabuk, padahal Selir Kedua mengatakan Raja mengalami kelelahan yang berat.
Harusnya lilin aroma tersebut segera dibuang untuk menghilangkan bukti. Namun, benda yang teramat penting itu justru malah menghilang sebelum dibuang. Selir Kedua, Frizka merasa yakin kalau Yura yang telah mengambil atau menyembunyikan lilin aroma tersebut untuk membersihkan nama baiknya dari tuduhan dan melemparkan kesalahan yang memang asalnya dari Selir Kedua, Frizka.
Merasa rencananya benar-benar kacau dan panik, Selir Kedua, Frizka pun melihat ke arah Raja yang berbaring di aras ranjang kamarnya. Saat itulah, Selir Kedua, Frizka berpikir masih bisa memanfaatkan rencana yang lain sambil menunggu sampai Raja tersadar.
"Bisa gawat kalau nona Yura benar-benar memanggil tuan Arvan ke sini, tapi karena Baginda Raja ada di sini, aku masih bisa memanfaatkan keadaan ... " batin Selir Kedua, Frizka.
Selir Kedua, Frizka pun mendekat ke arah ranjang untuk menghampiri Raja. Sebelum itu, Selir Kedua, Frizka lebih dulu menyuruh kedua pelayannya untuk ke luar dari kamar tersebut dan meninggalkan dirinya berdua dengan Raja.
Yura ke luar dari kediaman Selir Kedua, Frizka, secara bersamaan dengan Arvan yang ke luar dari kediaman Selir Ketiga, Azkia.
"Mengatakannya memang mudah, menyuruh orang lain untuk menyatakan perasaan. Namun, tidak semudah itu melakukannya. Membayangkan diriku saling berhadapan dengan Yura saja sudah membuat lidahku terasa kelu dan otakku seolah membeku hingga membuatku sulit bicara secara langsung dan berpikir dengan cepat. Menghadapi kenyataan itu memang terasa lebih dan sangat sulit," batin Arvan
__ADS_1
Saat itu Arvan melihat Yura berjalan dengan terhuyung-huyung. Meski pun hanya melihat dari arah belakang, Arvan merasa yakin bahwa yang dilihatnya saat itu adalah Yura. Arvan pun bergegas menghampiri Yura.
"Meski pun hanya sebentar, di dalam kamar itu aku juga sempat menghirup aroma lilin yang sama dengan yang membuat Raja menjadi mabuk. Sepertinya obat bius yang terkandung pada lilin aroma itu cukup kuat, sekarang reaksi obat biusnya mulai bekerja pada diriku ... " batin Yura
Arvan berlarian kecil dan menangkap tubuh Yura yang terhuyung ke depan agar tidak jatuh tersungkur dan menarik tubuh Yura ke dalam pelukannya.
Merasa ada orang lain selain dirinya, Yura langsung menyikut perut orang yang berada di belakangnya. Arvan pun mundur beberapa langkah ke belakang, tapi tidak melepaskan rengkuhan tangannya pada tubuh Yura.
"Yura, ada apa denganmu? Kenapa kau jadi seperti ini?" tanya Arvan sambil membalikkan tubuh Yura agar saling berhadapan dengannya.
"Arvan, sudahlah. Sekali pun aku menjelaskannya padamu, kau pasti tidak akan percaya padaku sama seperti yang lain," ucap Yura saat sadar dan melihat bahwa orang yang menolongnya adalah Arvan.
"Yang lain itu siapa? Dan percaya akan hal apa? Kau bisa menceritakannya padaku. Sebenarnya apa yang telah terjadi padamu?" tanya Arvan
"Ada yang berusaha ingin menjebakku. Selir meminta bantuanku untuk memeriksa keadaan Baginda Raja dan yang terjadi malah aku dan Baginda Raja menghirup aroma dari obat bius yang kuat di dalam kamar yang sama. Untung saja aku berhasil bertahan, tapi Baginda Raja sudah terlalu lama dan lebih banyak menghirup aroma pembius itu dari pada aku," ungkap Yura dengan cara bicara yang semakin lemah suaranya.
"Kau, benar juga. Kau harus segera menolong Baginda Raja. Dalam kondisinya sekarang, Baginda Raja pasti merasa tersiksa meski pun telah kubuat pingsan. Kau harus memberi obat penawar untuk Baginda Raja," jelas Yura
"Ya, itu akan aku lakukan setelah membawamu ke tempat Azkia. Kau juga, kenapa malah berjalan mengarah ke luar dan bukannya kembali ke tempat Azkia?" tanya Arvan sambil menuntun Yura berjalan bersama untuk kembali menuju ke kediaman Selir Ketiga, Azkia.
"Kau ... lepaskan aku dan jangan sentuh aku. Kau juga pasti tidak percaya padaku, makanya kau tidak mau mendengarkanku untuk segera menolong Baginda Raja. Padahal aku berjalan mengarah ke luar karena ingin mencarimu untuk meminta tolong agar kau menolong Baginda Raja karena kondisi Baginda Raja saat ini lebih parah dari pada aku dan lebih butuh bantuan darimu. Cepatlah, selamatkan Baginda Raja yang sedang kesulitan. Aku masih bisa menangani diriku sendiri," ucap Yura
"Aku mengerti. Aku percaya denganmu, kau tidak mungkin berbuat hal tidak baik seperti mencelakai Baginda Raja dan dirimu sendiri dengan sengaja," kata Arvan
"Kau tidak perlu berbohong dan lebih baik kau menjauh dariku. Aku sudah menghirup aroma obat bius yang sama dengan yang dihirup oleh Baginda Raja. Akan berbahaya jika aku bersama lawan jenis. Sudah kubilang, kau pergilah selamatkan Baginda Raja. Tak perlu pedulikan aku," ujar Yura yang lalu mendorong Arvan dengan tenaga miliknya yang tersisa.
__ADS_1
Yura mendorong Arvan dengan kedua tangannya hingga membuat pakaian bagian depan milik Arvan kotor dengan noda darah dari kedua telapak tangannya. Kedua telapak tangan Yura memang terluka hingga berdarah karena gadis itu berusaha untuk tetap sadar setelah obat bius yang telah dihirupnya mulai bereaksi pada tubuhnya.
Sudah sejak berdebat di dalam kamar kediaman Selir Kedua, Yura terus mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat untuk mempertahankan kesadaran dan rasionalitasnya agar tetap bisa bicara dengan normal hingga kuku-kuku jemari tangannya yang bahkan tidak berukuran panjang mampu menancap dan melukai telapak tangannya hingga mengeluarkan darah.
Arvan melihat pakaiannya yang terkena bercak noda darah dari telapak tangan Yura yang mendoringnya. Lelaki itu menjadi tambah merasa khawatir dan melihat ke arah Yura yang nafasnya semakin berat dan wajahnya yang kian memerah.
"Itu dari telapak tanganku. Maaf karena telah membuat pakaianmu jadi kotor dengan darahku. Makanya, sudah kubilang agar kau menjauh dariku. Pergi saja dan selamatkan Baginda Raja. Jangan hiraukan aku," ujar Yura yang berlalu melangkah pergi menjauh dari Arvan.
"Aku tidak mungkin tega melihat dan membiarkanmu seperti ini. Tak bisa dibiarkan, dengarkan aku, Yura. Aku percaya padamu karena aku menyukaimu. Jadi, biarkan aku membantumu lebih dulu ... " ucap Arvan yang mengejar Yura dan membuat gadis itu menghentikan langkah sejenak karena mendengar ucapan darinya.
"Entah kau bercanda atau sedang berusaha menghiburku setelah mengalami musibah seperti ini, aku tidak butuh itu. Pergilah saat aku masih bicara secara baik-baik," kata Yura yang meneruskan langkahnya.
"Memangnya kau bisa apa dengan kondisi seperti itu? Lebih baik kau simpan tenagamu dan diam saja," ujar Arvan yang dengan tidak sabar langsung menggendong tubuh Yura ala bridal style.
"Aku sudah menyatakan perasaanku, tapi Yura bahkan tidak mempercayainya. Itu terjadi begitu saja tanpa persiapan apa pun hingga terkesan terburu-buru dan dipaksakan. Pantas saja jika Yura tidak percaya, tapi aku tidak peduli karena saat ini yang paling penting adalah kondisi Yura," sambung Arvan seraya bergumam di dalam hati.
"Lepas, turunkan aku ... " pinta Yura sambil berusaha berontak di dalam pelukan Arvan yang menggendongnya.
"Aku akan membawamu kembali ke tempat Azkia karena sekalian aku ingin mengambil obat penawar yang disimpan oleh adikku. Jangan berontak karena aku harus bergerak cepat untuk nenyelamatkan Baginda Raja setelah ini," ucap Arvan
"Aku tidak suka dengan orang yang meremehkan aku seperti kau sekarang ini. Padahal aku masih sanggup menangani diriku sendiri. Lain kali akan kubuktikan kalau aku bukan orang yang pantas diremehkan," kata Yura yang akhirnya berhenti memberontak.
"Baru saja menyatakan perasaan, tapi aku sudah membuat Yura semakin tidak suka denganku. Namun, apa boleh buat karena aku tidak bisa membiarkan Yura begitu saja dalam kondisinya yang semakin melemah seperti ini. Bagaimana kalau ada lelaki lain yang melihatnya seperti ini dan memanfaatkan keadaan saat kondisinya sedang lemah? Jika itu terjadi aku tidak akan bisa berhenti menyalahkan diriku sendiri. Aku sungguh tidak ada maksud untuk meremehkan dirimu, Yura. Dan siapa pun selir yang merencanakan hal ini untuk menjebak Yura dan Baginda Raja, dia sangat keterlaluan. Aku tak akan membiarkannya begitu saja," batin Arvan
Dengan cepat, Arvan membawa Yura ke kediaman Selir Ketiga. Azkia yang baru saja bersiap hendak tidur sampai kembali bangkit untuk memeriksa apa yang terjadi hingga membuat pelayan kediamannya terdengar panik.
__ADS_1
Begitu melihat Arvan membawa Yura yang dalam keadaan lemah di dalam gendongannya, Azkia ikut merasa panik seperti pelayannya.