
"Saat penyelidikan pertama sebelumnya, aku sudah pernah datang dengan menggunakan gaun. Jadi, kali ini aku memakai setelan pakaian dengan celana dengan harapan pegawai toko senjata itu tidak mengenaliku seperti sebelumnya yang sempat bersikap waspada denganku. Sebelumnya aku yang sempat berpenampilan anggun dengan gaun dan cadar, tapi malah pergi ke toko senjata. Hal itu saja sudah tampak aneh dan mereka juga jadi bersikap waspada setelah tahu niatku datang adalah seolah untuk menyelidiki sesuatu. Jadi, aku berharap mereka tidak terlalu waspada saat melihat penampilanku dengan setelan pakaian dengan celana," ungkap Yura setelah Arvan bertanya padanya soal alasannya hari ini memakai setelan pakaian dengan celana yang berbeda dengan biasanya yang selalu memakai gaun.
"Ini memang terdengar agak konyol dan sama saja yang bahkan tidak ada harapan lagi untuk berhasil, tapi mau bagaimana pun juga aku harus membawa hasil yang jelas. Aku harus berhasil dalam penyelidikan kali ini bagaimana pun caranya," sambung Yura
"Tidak konyol kok, hanya sepertinya memang sulit. Soalnya kau selalu memakai cadar dan itu membuatmu jadi mencolok. Sedangkan kalau kau tidak memakai cadar, akan ada banyak orang yang salah paham kalau kau adalah Ratu. Sebenarnya tidak apa-apa juga kalau kau mau menjelaskan kau adalah saudari kembar Ratu," ujar Arvan
"Seperti itu juga sulit karena merepotkan. Pasti akan ada banyak yang bertanya ini dan itu. Dalam hal penyelidikan kali ini juga orang-orang toko itu tetap akan waspada padaku jika mengira aku adalah Ratu atau tahu kalau aku adalah saudari kembarnya," kata Yura
"Kalau begitu, memang sangat sulit. Semua jadi serba salah. Setidaknya warna dan jenis pakaianmu berbeda dengan sebelumnya dan kita hanya bisa berharap kalau orang-orang di toko senjata itu tidak mengingat atau mengenalimu yang pernah datang sebelum ini," sahut Arvan
Akhirnya, Yura dan Arvan berhenti di dekat suatu toko senjata. Keduanya pun turun dari atas punggung kuda masing-masing dan mengikatkan tali kendali kuda pada pagar pembatas yang memang sering digunakan untuk mengikat kuda yang dibawa oleh para pelanggan.
"Menurutmu bagaimana cara kita masuk ke dalam? Apa secara bersamaan atau sendiri-sendiri secara bergantian?" tanya Yura
"Apa kau tidak punya rencana atau strategi sebelumnya?" tanya balik Arvan
"Karena awalnya aku ingin datang sendiri, tentu saja aku berpikir untuk masuk sendiri. Lagi pula, aku ini seorang pengembara. Aku selalu memikirkan rencana secara spontan, jadi tidak pernah membuat strategi adalah strategiku. Aku adalah petarung yang tidak pernah merancang strategi sebelum bertarung alias baru memikirkan strategi selama pertarungan berlangsung sambil membaca kemampuan lawan," ungkap Yura
"Kalau begitu, kita masuk bersamaan saja," ujar Arvan
__ADS_1
"Baiklah, ayo ... " kata Yura
Arvan merasa senang saat Yura tidak menolak untuk masuk ke dalam toko senjata bersamanya. Arvan benar-benar berharap Yura tidak akan menghindar darinya lagi setelah ini.
Sebelum masuk ke dalam toko senjata tersebut, Yura sempat melihat plang nama toko yang terpampang besar di atas. Captain Store: Toko Senjata Kapten.
Yura membaca nama toko itu dengan perasaan geram. Munhkin saat pertama kali ia datang ke sana masih belum muncul perasaan tersrbut. Namun, entah kenapa kali ini Yura jadi merasa yakin kalau toko tersebut ada hubungannya dengan insiden penari kipas yang membuat Ratu terluka.
Yura bertekad akan menemukan dalang dari insiden itu dengan caranya sebdiri dalam menyelidiki toko tersebut.
Yura dan Arvan masuk secara bersamaan ke dalam toko senjata tersebut. Begitu masuk ada pegawai toko yang menyambut kedatangan keduanya.
"Selamat datang, Tuan dan Nona. Apa ada yang perlu saya bantu? Tuan dan Nona mencari barang seperti apa? Atau ingin melihat-lihat lebih dulu?"
"Baik, Nona. Kalau Anda berdua butuh bantuan, Anda bisa bunyikan lonceng yang ada di atas meja pelayanan di sana. Maaf karena toko kami baru buka, belum ada pelayan yang lamgsung melayani karena semuanya masih sibuk menyiapkan barang di belakang."
"Tidak masalah, kami berdua bisa mengerti ... " kata Arvan
Pegawai itu pun langsung beranjak ke luar untuk menuruti perkataan Yura untuk menjaga kedua kuda yang ada di halaman depan toko.
__ADS_1
"Yura, kau sudah pernah datang ke sini sebelumnya. Apa suasana di dalam toko senjata ini memang seperti ini?" tanya Arvan
"Ya, memang benar seperti ini. Hanya saja saat itu sudah ada banyak pegawai toko untuk melayani pelanggan yang datang," jawab Yura
Yura yang sebelumnya hanya iseng melakukan penyelidikan atas kemauannya sendiri hanya fokus pada tujuan penyelidikan sambil sesekali melihat-lihat senjata yang dijual yang sedang dipajang di sana. Sampai tidak terlalu memerhatikan suasana di dalam toko tersebut.
Kali ini pun Yura baru menyadari sesuatu setelah benar-benar memerhatikan suasana di dalam toko tersebut.
Sebelumnya Yura sempat teralihkan dengan keindahan nuansa toko yang terkesan kuat dengan memajang senjata yang dijual. Yura yang senang mengoleksi senjata merasa terkagum dengan nuansa toko yang bagaikan museum senjata. Namun, Yura baru sadar akan suasana kombinasi di dalam toko tersebut. Selain seperti museum senjata, toko tersebut juga tampak seperti bar terkenal dengan kualitas pelayanan terbaik.
Kalau diperhatikan sekali lagi, pantas saja jika toko senjata itu juga dijadikan tempat yang memperjual-belikan senjata dan informasi secara ilegal. Hal ini pun membuat Yura semakin yakin bahwa toko tersebut ada kaitannya dengan insiden penari kipas, mungkin dalang di balik insiden itulah yang memiliki hubungan dengan toko tersebut.
"Yura, apa kita langsung bunyikan saja bel pelayanan di atas meja itu?" tanya Arvan
"Lakukanlah sesukamu dan aku pun akan melakukan sesukaku, tapi kalau jadi kau, aku akan bersikap seperti pelanggan sungguhan dulu sebelum memulai aksi penyelidikan. Aku akan melihat-lihat dulu," jawab Yura
"Yura, kau tidak lupa dengan tujuan kita ke sini, kan?" tanya Arvan
"Mana mungkin aku bisa lupa? Tentu saja, aku ingat ... " jawab Yura sambil memperlihatkan tatapan kedua matanya yang memiliki tekad kuat untuk berhasil.
__ADS_1
Karena Yura sudah berkata seperti itu sambil memperlihatkan tekad, Arvan pun tidak punya pilihan selain mengikuti Yura lebih dulu.
Sebelumnya Yura memang bilang kalau dirinya tidak punya rencana atau strategi khusus serta merupakan tipe yang merancang strategi saat berlangsungnya pertarungan. Saat ini, di dalam toko senjata itu adalah medan pertarungan yang sedang berlangsung sebenarnya. Jadi, Arvan berpikir kalau Yura sudah mulai menyusun rencana misi penyelidikannya saat itu juga. Arvan pun hanya bisa mengikuti rencana gadis yang disukainya itu.