One & Only

One & Only
78 - Pegadaian.


__ADS_3

Sudah cukup Yura dan Arvan berkeliling di jalan pusat pertokoan untuk mengunjungi beberapa toko untuk membeli banyak barang yang akan dijadikan buah tangan.


Bahkan kini langit di malam hari makin gelap. Namun, itu tidak membuat jalan menjadi sepi, bahkan masih cukup terang. Karena meski langit menjadi gelap pun, masih ada bulan yang cahayanya mampu mendominasi penerangan di bumi. Tak hanya itu, di beberapa tepi dan sudut jalan pun lampu jalan telah menyala dengan terang.


Arvan pun mengambil alih koper barang yang dibawa oleh Yura karena tidak tega melihat gadis bercadar itu membawa beban koper barang berisi barang belanjaan buah tangan yang baru saja dibeli itu.


"Aku tidak bermaksud merampok, namun biarkan aku yang membawanya ... " kata Arvan


"Padahal aku bisa membawa koper barang itu sendiri karena itu bahkan tidak berat, tapi terserah sajalah ... " gumam Yura


"Masih ada waktu sebelum tengah malam. Apa kita ke luar terlalu cepat? Atau, apa masih ada tempat yang ingin kau tuju?" tanya Arvan


"Ya, masih ada satu tempat lagi. Kau ikutilah aku," jawab Yura yang langsung berjalan mendahului Arvan menuju ke suatu tempat.


Arvan pun berjalan mengikuti Yura dari belakang.


Yura dan Arvan pun sampai dan berhenti sejenak di depan suatu gedung pegadaian.


"Kenapa berhenti di sini? Apa kau ingin menggadaikan atau menebus suatu barang?" tanya Arvan


"Pokoknya suatu urusan. Kau boleh ikut masuk denganku ke dalam atau menunggu di luar sini," jawab Yura


"Aku akan ikut masuk ke dalam bersamamu," kata Arvan


"Kalau begitu, sembunyikan wajahmu dengan benar dengan tudung jubahmu. Akulah yang punya urusan di dalam sana. Aku tidak berniat memanfaatkan dirimu lagi seperti yang pernah terjadi sebelumnya," ujar Yura yang juga bermaksud meminta agar Arvan tidak ikut campur.


"Baiklah, aku mengerti ... " sahut Arvan dengan patuh.


Arvan pun menyembunyikan wajahnya di balik tudung jubah dalam-dalam, lalu ia dan Yura pun melangkah masuk ke dalam gedung pegadaian yang ada tepat di depan.


"Permisi ... " Yura melangkah masuk lebih dulu.


"Selamat datang. Apa ada yang busa saya bantu? Anda ingin menggadai atau menebus sesuatu, Nona dan Tuan?"

__ADS_1


"Dia hanya teman yang menemani saya, hanya saya yang memerlukan sesuatu di sini. Saya ingin menggadaikan seauatu," ungkap Yura


"Boleh saya lihat barang yang akan Anda gadaikan, Nona?"


"Tunggu sebentar," kata Yura


Yura pun meminta Arvan untuk membuka koper barang miliknya yang dibawa oleh lelaki itu. Yura memang sudah lebih dulu menyimpan barang miliknya di dalam koper tersebut sebelum mulai pergi dari penginapan, lalu dikeluarkan barang miliknya itu dan diserahkan pada pelayan di sana untuk digadaikan.


"Saya punya benda ini dan ingin menggadaikannya dengan uang tunai. Berikan saya uang yang banyak sebagai nilai gadainya," ucap Yura


"Wah, Anda memiliki barang bagus yang bernilai besar. Tunggu sebentar, saya akan mengambil uang sebagai harga gadai barang ini," kata pelayan di sana saat melihat barang milik Yura yang hendak digadaikan, lalu beralih untuk mengambil uang sebagai harga tukar barang yang digadaikan.


"Rara, kau yakin ingin menggadaikan barang milikmu tadi?" tanya Arvan


"Aku sudah berada di sini. Tentu saja, aku yakin ... " jawab Yura


"Kata pelayan tadi itu adalah barang bagus bernilai besar itu artinya pasti barang yang berharga bagimu, tapi kenapa kau menggadaikannya?" tanya Arvan


"Kau masih kekurangan uang bahkan setelah berbelanja tadi? Kalau seperti itu, kau tidak seharusnya berbelanja begitu banyak tadi," ujar Arvan


"Ini demi kelangsungan misi. Misi ini butuh informasi dan untuk mendapat infomasi itu di tempat sebelumnya butuh uang yang banyak. Tidak tahu informasi yang kita butuhkan berapa besar harganya. Ini hanya untuk berjaga-jaga jika uangku kurang. Misi adalah misi dan janji adalah janji. Keduanya adalah hal yang berbeda dan aku tetap harus memenuhi keduanya," ucap Yura


"Aku juga punya uang, pakai saja punyaku. Simpan saja barangmu, kau tidak perlu menggadaikannya. Batalkan saja penggadaian kali ini," kata Arvan


"Bagaimana pun juga ini tetap misi kita berdua, kau juga harus mengeluarkan biaya untuk kelangsungan misi, tapi penggadaian kali ini tetap harus dilakukan. Seperti yang kukatakan tadi, butuh banyak uang untuk misi kali ini. Masih perlu uang tambahan untuk berjaga-jaga. Tenang saja, tentang barang yang kugadaikan kali ini pasti akan aku tebus kembali lain kali," ujar Yura


"Tapi, tetap saja ... itu adalah barang yang berarti bagimu. Sayang sekali," gumam Arvan


"Dengarkan ini, barang yang memiliki arti dan keluarga sama-sama berharga bagiku. Namun, dibandingkan barang yang tidak memiliki jiwa, keluarga lebih penting bagiku. Bagiku, tidak masalah kehilangan barang yang berarti itu, dari pada kehilangan orang-orang yang kusayangi. Seperti yang kukatakan tadi, barang yang kugadai kali ini masih bisa kutebus lain kali. Setelah ini aku bisa memastikan keluarga dan barang berarti milikku semuanya aman, maka aku bisa tenang. Biarkan aku melakukan urusanku, kau jangan mengganggu atau ikut campur," ucap Yura


"Ya, kau memang benar. Aku hanya kurang berpikir panjang. Maafkan aku," kata Arvan


"Baguslah, kalau kau mengerti ... " sahut Yura

__ADS_1


Pelayan di sana pun kembali dengan membawa uang gadai barang untuk diserahkan pada Yura.


"Saya hanya bisa mengeluarkan sebanyak ini sebagai harga gadainya. Apa Anda menyetujuinya, Nona?"


"Ya, kuharap ini cukup. Tidak, ini harus cukup. Ya, saya setuju."


"Baiklah. Harus saya tulis nama pemiliknya dan kapan Anda akan menebus kembali barang yang digadaikan ini?"


"Tulis saja nama saya, Rara. Saya akan menebusnya 2 bulan lagi," jawab Yura


"Baiklah. Jika lewat dari dua bulan Anda tidak kembali untuk menebusnya, akan saya anggap barang ini sudah menjadi milik tempat ini. Jika setelah itu Anda ingin memiliki barang ini dan barang pun masih ada, mumgkin saat itu harga sudah berbeda dari pada harga gadai kali ini."


"Baik, saya mengerti. Namun, itu adalah barang yang cukup penting bagi saya. Bisakah Anda tetap menyimpannya sampai 2 bulan ke depan agar bisa saya tebus kembali? Saya janji akan menebusnya. Jika saya tidak kembali lebih dari dua bulam waktu yang dijanjikan barulah Anda bebas ingin apakan barang itu," ujar Yura


"Saya mengerti. Akan saya usahakan untuk memenuhi harapan Anda dan akan saya simpan barang ini dengan baik."


Setelah melakukan pegadaian, Yura dan Arvan pun beranjak pergi dari sana.


"Akulah yang menggadaikan dan kehilangan barang untuk sementara. Namun, kenapa malah kau yang tampak sedih? Kau bahkan seperti akan menangis?" tanya Yura


"Alu tidak seperti itu," elak Arvan


"Ya ampun, selain pemalu kau juga lelaki melow, rupanya. Sudahlah. Karena masih ada waktu, ayo kita makan dulu sebelum ke tujuan utama akhir ... " ujar Yura


"Baiklah. Ayo," kata Arvan


Yura dan Arvan pun beranjak untuk makan malam bersama. Keduanya memilih kedai makan sederhana di pinggir jalan dari pada tempat makan mewah. Alasannya karena lebih santai dan tidak perlu peduli dengan tanggapan orang tak penting. Di sana, Yura dan Arvan bisa makan dengan tenang karena itu adalah tempat makan yang tidak membedakan pelanggan.


Tak disangka, Yura dan Arvan tampak menikmati makanan di sana. Terutama Arvan yang tampak senang bisa makan bersama Yura dengan tenang di sana. Sungguh menyenangkan. Benar-benar seperti kencan sungguhan.


Setelah makan bersama, Yura dan Arvan langsung menuju ke toko senjata. Dengan memakai topeng yang sudah dibeli sebelumnya, Yura dan Arvan mendatangi acara pelelangan yang diadakan di toko senjata.


Barang, senjata langka atau pun ilegal dilelang di sana. Termasuk infomasi penting. Apa pun yang dibituhkan bisa didapatkan. Yura dan Arvan pun menggali dan mencari informasi terkait insiden penari kipas di sana. Hingga mendapatkan apa yang memang dibutuhkan.

__ADS_1


__ADS_2