One & Only

One & Only
120 - Masih Keliru.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Berada di medan perang membuat Yura semakin tidak bisa bersantai seenaknya hingga membuatnya bangun dari tidur pagi-pagi sekali bahkan lebih awal dari biasanya. Yura tidak mungkin bangun lebih siang saat orang lain bahkan mungkin tidak tidur karena harus terus berjaga.


Saat ini Yura sedang bersiap dengan mengurus rambutnya sebelum beranjak ke luar dari tenda. Karena rambut panjangnya, Yura harus mengikat rambutnya untuk mempermudah gerak mobilitasnya karena Yura tak mungkin rela memotong rambut yang menjadi kesayangannya menjadi pendek.


Biasanya Yura memang selalu membiarkan rambut panjangnya tergerai indah, berbeda dengan kini yang sedang berada di medan perang hingga Yura harus menyesuaikan diri dan penampilannya selama berada di sana.


Saat sedang sibuk mengurus rambutnya, Yura menyadari dan bisa merasakan kalau ada seseorang yang berada tepat di luar tenda karena mungkin merasa ragu untuk masuk.


"Aku sedang bersiap dengan merapikan rambutku. Kak Yasha, apa itu kau? Silakan masuk saja," ujar Yura


Setelah tetap terdiam beberapa saat, akhirnya tirai tenda disibakkan dan seseorang pun masuk ke dalam tenda yang ditempati oleh Yura.


Yura sedang duduk di depan meja tanpa cermin dan posisinya membelakangi tirai yang merupakan akses masuk ke dalam tenda hingga gadis itu tidak tahu siapa yang sudah masuk ke dalam tendanya dan hanya mengira itu adalah kakak sulungnya.


"Kak Yasha, apa keadaan di luar aman? Apa kau tidak punya urusan seperti mengatur strategi perang atau latihan fisik sebelum perang bersama pasukan prajuritmu? Kalau begitu, apa kau bisa tolong bantu aku ikat rambutku seperti dulu?" tanya Yura meminta.


Orang yang disangka oleh Yura adalah kakak sulungnya pun akhirnya mulai menyentuh rambut panjang nan halus dan indah itu setelah hanya terus berdiam diri tanpa bersuara.


"Ini adalah suatu kehormatan bagiku dan aku senang melakukannya. Aku juga bisa mengikat rambut perempuan dan sering melakukannya untuk Azkia dulu. Semoga kemampuan itu masih ada dan aku bisa mengikat rambut Yura tanpa menghilangkan keindahannya," batinnya yang ternyata bukanlah Yasha, melainkan Arvan.


"Biasanya Kakak selalu mengoceh saat kuminta mengikat rambutku karena itu hal yang merepotkan, padahal aku tahu Kak Yasha suka melakukannya karena Kakak menyayangiku. Sekarang Kak Yasha sudah tidak mengomel seperti dulu lagi, apa karena sekarang Kakak sudah dewasa? Sekarang aku juga sudah dewasa, Kak. Apa rambut panjangku jadi sulit diatur? Apa setelah dewasa, rambutku berubah jadi kasar?" tanya Yura


"Tidak, rambutmu terasa halus dan tampak indah, Yura ... " jawab Arvan dengan suara rendah.


"Aku juga suka melakukannya, bisa mengikat rambutmu seperti ini membuatku merasa senang, tapi aku tidak akan mengomel ... karena aku bukan kakakmu, Yura. Aku bukan Yasha, melainkan Arvan. Orang yang menyayangimu sebagai seorang lelaki terhadap seorang perempuan, bukan sebagai keluarga atau seorang kakak terhadap adiknya. Aku juga lelaki yang sangat mencintaimu," sambung Arvan seraya bergumam di dalam hati.

__ADS_1


Kali ini Yura juga ikut terdiam. Sebenarnya Yura sudah merasa curiga saat yang masuk ke dalam tenda terus tidak bersuara dan sentuhan tangan pada rambutnya pun terasa berbeda dari sentuhan milik Yasha. Meski pun sudah sangat lama tidak bertemu, Yura masih sangat ingat sentuhan dari kakak sulungnya.


Pertanyaan terakhir darinya pun sengaja Yura lakukan untuk memastikan siapa yang masuk ke dalam tendanya. Hingga saat mendengar jawaban atas pertanyaan darinya, Yura bisa memastikan dengan sangat yakin kalau itu bukan kakak sulungnya. Yura pun mengenali dan cukup hafal dengan suara itu yang merupakan milik Arvan.


"Kenapa kau diam saja?" tanya Arvan yang memberanikan diri karena ingin mendengar suara Yura lagi.


"Bukankah kau yang lebih dulu diam sebelum aku ajak bicara, Arvan?" tanya balik Yura


"Kau sudah menyadarinya kalau ini adalah aku. Apa kau tidak senang saat yang datang adalah aku dan bukan kakakmu?" tanya balik Arvan lagi.


"Kenapa kau tidak bilang padaku kalau itu dirimu yang masuk ke dalam sini?" tanya balik Yura untuk kedua kalinya.


"Apa kau masih marah padaku, Yura?" tanya balik Arvan untuk yang sekian kalinya.


"Entahlah, sepertinya tidak ... " jawab Yura


"Aku bahkan sudah lupa dengan alasan kenapa aku harus marah. Kenapa kau masih saja mempertanyakannya? Lalu, untuk dan mau apa kau sampai masuk ke sini?" tanya Yura yang langsung berbalik badan menghadap ke arah Arvan.


"Aku hanya ingin melihat dan bertemu denganmu. Sudah kuduga, kau tetap terlihat cantik meski dengan rambut yang diikat," ungkap Arvan sambil tersenyum kecil.


"Sebelumnya aku benar-benar mengira kau adalah kak Yasha. Terima kasih sudah membantu mengikat rambutku. Kau lebih baik dari pada kak Yasha dalam hal membantu mengikat rambut. Kau lebih mahir melakukannya dari pada kakakku," ucap Yura


"Aku hanya terus melakukannya untuk Azkia sebelum ini, kau jangan salah paham. Aku belum pernah melakukannya pada perempuan lain karena aku tidak pernah punya kekasih selain hanya punya seorang adik perempuan," ujar Arvan yang justru terdengar seperti sebuah alasan.


"Memangnya siapa yang ingin salah paham denganmu? Kau berkata seperti itu justru seperti sedang berusaha untuk menyangkal. Sepertinya setidaknya kau pernah sering bertemu dengan seorang perempuan dan melakukan hal-hal manis dan menyenangkan untuknya meski tanpa status sepasang kekasih," kata Yura


"Sama sekali tidak pernah. Kenapa kau bisa sampai berpikir seperti itu? Kalau seperti ini sama saja kau sudah salah paham denganku," sahut Arvan

__ADS_1


"Baiklah, maaf karena aku sudah menjahilimu. Sekarang kau sudah bisa ke luar dari ini," ucap Yura


"Apa kau sungguh sudah tidak marah denganku? Tapi, kenapa sekarang kau malah ingin mengusirku?" tanya Arvan


"Kau berpikir berlebihan dan kaulah yang salah paham denganku. Aku tidak marah, tapi bukankah tidak pantas bagi kita berada di ruang yang sama hanya berdua seperti ini? Jadi lebih baik salah satu dari kita ke luar saja," jawab Yura


Yura pun bangkit dari duduknya dan bersiap untuk beranjak ke luar dari tenda jika Arvan tidak ingin ke luar lebih dulu.


"Yura, kau tahu kalau aku menyukaimu, kan? Aku sudah pernah mengatakannya padamu sebelumnya," ujar Arvan


"Karena kau hanya mengatakannya secara sembarangan, maka aku menganggap tidak pernah mendengarnya. Kali ini atau pun sebelumnya," kata Yura yang langsung berhenti saat mendengar perkataan Arvan.


"Bagaimana bisa kau berkata seperti itu? Bagaimana kau bisa menilai perasaanku ini secara sembarangan?" tanya Arvan


"Kau sendiri juga yang pernah mengakui jika kau menyukai Ratu, kakakku ... " sahut Yura


"Itu sebelum aku menyadari perasaanku padamu dan sebelum aku sadar kalau yamg menyelamatkan aku dari kejaran anjing saat kecil dulu adalah kau dan bukannya Yuna. Aku hanya salah mengira bahwa kau adalah dirinya dan salah paham dengan perasaanku sendiri, tapi sekarang aku sudah tahu dan yakin untuk siapa sebenarnya perasaanku ini. Perasaanku hanya untukmu, Yura. Sejak dulu aku hanya menyukai gadis yang pernah menyelamatkan aku dari kejaran anjing saat masih kecil," ucap Arvan


"Tidak, justru sebaliknya. Kurasa kau masih keliru dengan perasaanmu. Mungkin memang benar yang kau suka adalah gadis yang menyelamatkanmu di masa lalu itu, tapi sejak saat kau mengira kalau gadis itu adalah kak Yuna dan selama ini kau berada dan tinggal dekat dengan kak Yuna selama kau bekerja di Istana Kerajaan, maka selama itulah kau hanya menyukai dan perasaanmu hanya tertuju pada kak Yuna," ujar Yura


"Bahkan mungkin sampai saat ini pun masih seperti itu. Kau hanya tidak bisa memiliki kak Yuna yang sudah menjadi Ratu bagi Raja dan dengan perasaan tak tersampaikan milikmu itu, kau bertemu denganku. Hingga kau hanya bisa mengalihkan perasaanmu itu padaku yang memiliki wajah yang mirip dengan kak Yuna. Kau hanya menganggapku sebagai seorang pengganti. Kau tidak bisa dan tidak perlu terus menyangkal hal itu dan perasaanmu sendiri," sambung Yura


"Coba pikirkan, tanyakan, dan lihatlah baik-baik ke dalam lubuk hatimu ... siapa yang sebenarnya kau sukai? Maaf, Arvan. Untuk saat ini aku hanya bisa menganggap kalau kau sedang berdalih dari kenyataan dan keliru dengan perasaanmu sendiri. Jika kau bersikeras mengatakan kau suka padaku, maka aku hanya bisa menganggapmu seorang pecundang yang tidak bisa menerima kenyataan dari perasaan milikmu sendiri," lanjut Yura lagi.


Perkataan Yura berhasil membuat Arvan terdiam mematung dan membisu di tempat seolah dapat mencuci otaknya. Namun, Arvan merasa apa yang dikatakan oleh Yura ada benarnya hingga ia merasa dikhianati oleh perasaannya sendiri. Kata-kata Yura memang mampu menyakiti hatinya, namun Arvan merasa telah menyakiti hati Yura karena tidak bisa memiliki pendirian atas perasaannya sendiri dan merasa seolah seperti dirinya benar-benar hanya menganggap Yura sebagai seorang pengganti.


Setelah berkata panjang lebar, Yura pun beranjak pergi meninggalkan Arvan dan ke luar dari tenda lebih dulu.

__ADS_1


"Maafkan aku, Yura. Karena sepertinya kau benar dengan semua perkataanmu itu. Aku hanya lelaki buruk yang tidak bisa menentukan pendirian atas perasaanku sendiri," batin Arvan yang merasa tertohok dan merutuki dirinya sendiri.


__ADS_2