
Para prajurit terkejut dengan kehadiran Raja dan Ratu di sana. Namun, entah apa yang ada di dalam pikiran mereka. Lebih tepatnya banyak sekali hal yang mereka pikirkan. Salah satunya adalah mereka takut akan mendapat hukuman karena telah membuat Yura terluka padahal gadis itu adalah saudari kembar Ratu dan calon selir Raja, terutama si prajurit yang bertarung melawan Yura-lah yang paling merasa ketakutan saat ini.
"Salam kalian semua diterima, sekarang bangkitlah ... " kata Raja yang merasa risih melihat semua orang yang berlutut di sana.
Para prajurit pun kembali bangkit dan berdiri tegak termasuk si prajurit yang telah bertarung melawan Yura. Namun, prajurit itu masih terus menundukkan kepala.
"Yura, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Raja
"Saya hanya ingin melihat-lihat dan ikut berlatih di sini," jawab Yura
"Ya ampun, Yura ... bagaimana kau bisa terluka seperti itu?" tanya Ratu saat melihat noda darah di lengan atas pada gaun Yura yang tampak tergores.
"Ini adalah penghargaan saat berlatih, Yang Mulia Ratu. Hanya luka kecil, Anda tidak perlu khawatir ... " jawab Yura
"Mudah sekali kau berkata seperti itu," kata Ratu
Saat itu Pevita menghampiri Yura dan ikut berhadapan dengan Raja dan Ratu.
"Mohon maaf atas kelancangan saya, Baginda Raja, Yang Mulia Ratu. Saya hanya akan membalut luka Nona Yura agar tidak terinfeksi," ujar Pevita yang setelah itu langsung mengikat lengan atas Yura dengan menggunakan sapu tangan miliknya.
"Terima kasih, Pevita ... " ucap Yura yang hanya dibalas dengan anggukan kecil oleh Pevita.
"Maafkan saya karena lalai dalam tugas yang Anda berikan, Yang Mulia Ratu ... " kata Pevita
"Pevita, apa Yang Mulia Ratu memintamu untuk mengikutiku?" tanya Yura
"Itu karena aku merasa khawatir dan ingin memastikan kau baik-baik saja, Yura." Alih-alih Pevita yang memberi jawaban, Ratu-lah yang menjawab pertanyaan Yura.
"Anda sudah bisa memastikannya sekarang, seperti yang Anda lihat bahwa saya baik-baik saja. Sementara luka ini bukanlah apa-apa bagi saya," ucap Yura
"Wajar saja jika Yang Mulia Ratu merasa khawatir padaku karena sebagai seorang kakak memang sepantasnya seperti itu. Namun, kau tidak perlu merasakan hal yang sama, Pevita. Begitu juga denganmu, Rio. Aku sungguh baik-baik saja," sambung Yura yang bicara pada Pevita dan Rio. Karena Yura tahu selain memberi tugas pada Pevita, Ratu juga pasti memberi tugas yang sama pada Rio.
__ADS_1
"Yura, bukankah biasanya kau selalu memakai cadar? Lalu, di mana cadarmu?" tanya Raja
"Itu tidak sengaja terlepas saat berlatih tadi, Baginda," jawab Yura
Meski begitu, Raja melihat cadar milik Yura tergeletak di atas tanah dengan bekas koyakan senjata tajam. Selain itu juga ada pedang yang ikut tergeletak begitu saja di sana.
"Bukankah itu cadar milikmu, Yura? Lalu, siapa pemilik pedang tanpa sarung pelindung itu? Dengan sekali lihat, aku bisa tahu kalau koyakan pada cadar milik Yura sama persis dengan yang akan ditinggalkan oleh bilah pedang itu. Bahkan luka pada lenganmu juga disebabkan oleh pedang itu, kan? Jadi, siapa di sini yang sangat ingin melukai adik iparku?" tanya Raja
"Tidak ada yang seperti itu, Baginda. Saya yang meminta untuk ditemani berlatih," jawab Yura
"Baiklah, aku mengerti yang kau maksud. Namun, siapa orangnya yang menemanimu berlatih tadi?" tanya Raja
Pada akhirnya prajurit yang terus menundukkan kepalanya karena merasa takut itu kembali berlutut.
"Mohon ampun, Baginda Raja. Saya mengakui kesalahan atas perbuatan yang telah saya lakukan."
"Tidak ada yang berbuat kesalahan, Baginda. Kami hanya sekadar berlatih bersama. Kalau saya boleh tahu, sama seperti Yang Mulia Ratu, apa Baginda Raja juga meminta Tuan Penasehat untuk mengikuti saya seperti yang dilakukan Prajurit Pevita dan Prajurit Rio?" tanya Yura
"Tuan Penasehat ada di sini, lebih tepatnya lagi di sana ... " jawab Yura sambil menunjuk ke arah suatu tempat di mana Arvan berdiri.
Arvan pun berjalan mendekat ke arah Raja. Sama seperti saat kehadiran Raja dan Ratu di sana, para prajurit juga tidak menyadari keberadaan Arvan di sana hingga mereka merasa terheran saat melihat Tuan Penasehat Besar Kerajaan itu.
"Hanya kau yang menyadari keberadaanku di sini, Yura. Karena pandangan mata semua orang hanya tertuju ke arahmu," kata Arvan
"Apa maksud perkataanmu, Arvan?" tanya Raja
"Mungkin Anda bisa bertanya pada salah satu prajurit yang ada di sini, Baginda. Begitu melihat Yura masuk ke dalam tempat ini, ada yang berkata bahwa dialah calon selir Baginda Raja. Apa yang saya dengar itu benar, Baginda?" tanya Arvan
Yura tidak menyangka kalau Arvan akan membahas hal tersebut saat dirinya sudah berusaha menyembunyikan rumor seperti itu dari Raja dan Ratu. Namun, Yura juga penasaran dengan jawaban yang akan diberikan Raja atas pertanyaan dari Arvan.
"Saya juga ingin mendengar jawaban Anda atas pertanyaan tersebut, Baginda. Karena itu, saya mohon pada Anda untuk memberi jawaban. Bagaimana anggapan Anda terhadap saya?" tanya Yura
__ADS_1
"Tentu saja, kau adalah adik iparku. Tidak lebih dari itu dan aku pun tidak pernah ada rencana untuk menambah selir di Istana Kerajaan ini. Sebenarnya siapa yang mengatakan hal seperti itu?" tanya balik Raja usai memberi jawaban sebagai klarifikasi.
"Syukurlah, kalau begitu. Entah siapa yang mengatakannya. Itu hanya terdengar secara simpang-siur. Namun, terima kasih atas jawaban Anda, Baginda," jawab Yura
Para prajurit di sana tidak menyangka bahwa Yura akan membela mereka semua dengan menutupi kebenaran tentang rumor yang beredar di tempat latihan itu, terutama si prajurit yang tadi bertarung melawan Yura.
"Nona, maafkan perbuatan saya tadi. Namun, hal apa yang Nona inginkan setelah menang bertarung melawan saya tadi?" Si prajurit yang telah dikalahkan itu memberanikan diri untuk bertanya.
"Apa maksudnya sebelum aku darang telah terjadi taruhan di sini?" tanya Raja
"Hal ini juga saya yang memintanya supaya membuat sesi latihan menjadi terasa lebih seru. Namun, kami hanya ingin bermain-main sedikit dan tidak ada maksud lain. Begitu juga dengan yang saya inginkan, tidak ada hal apa pun ... " ungkap Yura
"Mana bisa seperti itu, Nona. Tolong katakan permintaanmu, Nona."
"Tidak ada yang kuinginkan selain ingin ikut berlatih di temoat ini dan itu pun sudah dilakukan, jadi tidak ada hal lainnya lagi. Namun, kalau boleh meminta sesuatu, aku ingin kalian mengambil uang pemberian dariku sebelumnya. Anggap saja itu sebagai hadiah perkenalan dariku dan aku menraktir kalian semua makan, jadi gunakanlah uang itu semau kalian," ucap Yura
"Aku akui senang bisa berlatih bertarung bersamamu, Tuan Prajurit. Teruslah berlatih dengan giat bersama semua rekan yang ada di sini. Lalu, ingatlah ini sebagai catatan latihanmu bahwa kau masih harus berusaha untuk menutupi banyak titik celah pada teknik bertarung yang kau lakukan," sambung Yura
"Sudahlah, cepat kau ikut denganku, Yura. Bisa-bisanya kau menraktir banyak orang lain padahal dirimu sendiri masih belum makan sejak pagi. Pantas saja kau bisa terluka saat berlatih bertarung tadi," ujar Ratu
"Baiklah, Yang Mulia Ratu ... " kata Yura
"Karena sepertinya adik iparku menginginkannya, jadi aku tidak akan memberi hukuman apa pun pada kalian semua. Namun, aku tidak ingin sampai mendengar ada rumor palsu yamg tersebar lagi. Kalian semua adalah prajuritku, jangan sampai bukannya bersikap tangguh, kalian justru bersikap seperti perempuan yang suka bergosip. Lanjutkanlah latihan kalian," ucap Raja
"Baik. Dimengerti, Baginda."
Setelah itu, Raja dan Ratu pun beralih pergi dari sana. Begitu juga dengan Yura, Arvan, Rio, dan Pevita.
Yura pun merasa sedikit lega karena setidaknya masalahnya dapat diselesaikan di tempat itu. Tidak peduli seperti apa anggapan orang lain terhadapnya, yang terpenting Raja sudah memberikan klarifikasi dari mulutnya sendiri.
Sama seperti Yura, para prajurit pun merasa lega karena berkat saudari kembar Ratu yang terus membela mereka, mereka semua tidak diberi hukuman oleh Raja.
__ADS_1