
Arvan pun melihat hasil sketsa wajah yang diperlihatkan oleh Yura padanya. Itu adalah lukisan potret seseorang yang persis dengan sketsa wajah penjahat yang sering dibuat oleh penanggung-jawab lembaga kriminalitas kerajaan.
Saat itu juga Arvan merasa kalau Yura cocok dan punya bakat untuk menjadi pasukan pemberantas kejahatan.
"Aku tidak menyangka kau juga pandai melukis, Yura ... " kata Arvan yang memuji saat melihat hasil potret sketsa wajah buatan Yura..
"Kenapa? Apa hasilnya terlihat tidak jelas dan jelek? Apa menurutmu lukisan buatanku tidak dapat memprediksi wajah seseorang?" tanya Yura
"Tidak, bukan seperti itu maksudku ... " jawab Arvan
"Kalau memang begitu, kau coba saja buat sketsa wajah versimu sendiri dengan bertanya pada beberapa pelayan yang sempat melihat saat itu," ujar Yura
"Apa boleh aku juga melakukannya?" tanya Yura
"Kenapa tidak? Tentu saja, boleh ... " jawab Yura
"Kalau aku melakukannya juga, bagaimana denganmu? Apa kau akan pergi lebih dulu meninggalkanku?" tanya Arvan
"Tentu saja, aku akan menemanimu agar kau tidak terlalu lama atau jadi lupa waktu saat melakukannya. Lagi pula, kau sendiri yang bilang kalau mungkin toko senjata itu belum buka, jadi percuma saja kalau pergi dengan cepat saat toko senjatanya masih tutup. Dengan adanya keputusan Raja, aku tidak mungkin meninggalkanmu dan pergi seorang diri. Namun, aku hanya akan menemanimu. Kau bicara dan tanya sendiri pada para pelayan yang menjadi saksi saat itu," jawab Yura
"Kalau begitu, ayo kita pergi bersama ... " ujar Arvan
Yura pun pergi bersama Arvan untuk menemaninya mencari beberapa pelayan yang menjadi saksi melihat orang yang mengantar kipas properti pada penari pembunuh saat kejadian.
Saat keduanya sudah bertemu beberapa pelayan yang dicari, Yura pun mengeluarkan selembar kertas dan pena dari dalam tas miliknya pada Arvan karena saat Arvan menemuinya, lelaki itu tidak membawa barang bawaan miliknya.
"Ini, kau bisa menggunakan kertas dan pena milikku," kata Yura
"Baiklah, terima kasih, Yura ... " ucap Arvan
Yura hanya mengangguk pelan.
__ADS_1
"Aku sampai lupa karena terlalu merasa senang saat Yura berkata akan menemaniku, tapi aku juga senang saat bisa menggunakan barang milik Yura. Yura yang bersedia meminjamkan dan berbagi kegunaan barang miliknya padaku berarti dia masih peduli denganku," batin Arvan
Arvan pun mulai bertanya pada beberapa pelayan untuk meminta penjelasan tentang rupa wajah pengantar kipas properti pada penari pembunuh dan melukiskan sketsa wajah orang tersebut.
Setelah selesai dibuat, Arvan pun menyamakan lukisan buatannya dengan milik Yura. Rupanya, hasil lukisan keduanya tak jauh berbeda dan memiliki kesamaan. Artinya sketsa wajah buatan Yura memang bisa memprediksi sosok pengantar kipas yang dimaksud.
"Apa benar wajah orang yang kalian lihat saat itu adalah seperti ini?" tanya Arvan pada beberapa pelayan yang ditanyai olehnya.
"Benar, seperti itu, Tuan."
"Kalau begitu, dari kedua sketsa yang kita buat yang bisa menjelaskan ciri-ciri orang yang kita cari adalah bekas luka sayatan di ujung bibir bawah sebelah kanan dan di batang hidung," ujar Yura
"Kau benar, Yura. Dengan dua lukisan sketsa yang tidak jauh berbeda ini, kita pasti bisa menemukan orang itu," kata Arvsn
Sebenarnya saat melihat hasil lukisan sketsa wajah buatannya, Arvan malah sibuk memikirkan hal lain.
"Benar juga, aku tidak pernah terpikirkan hal ini. Aku lupa kalau diriku sendiri bisa melukis. Dengan kemampuanku ini, aku bisa melukis wajah atau potret sosok diri Yura dengan lengkap dari ujung kepala hingga ujung kaki. Lalu, aku akan menyimpannya untuk kupandangi saat aku merasa rindu karena tidak bisa berjumpa langsung dengan sosok gadis yang kusukai. Aku akan mengingat hal ini dan melakukannya nanti meski pun sepertinya hal ini dirasa kurang pantas. Karena bagaimana pun Yura bahkan bukan calon istriku. Untuk satu hal ini saja aku akan mengabaikan larangan menyimpan lukisan portet orang yang bukan keluarga. Lagi pula, aku akan merahasiakan ini untuk diriku sendiri secara pribadi dengan sangat rapat," batin Arvan
"Baiklah, ayo kita berangkat ... " sahut Arvan
"Terima kasih banyak karena sudah bersedia menjelaskan sekali lagi pada kami dan maaf karena sudah mengganggu waktu kalian," ucap Yura
"Benar. Terima kasih dan maaf," ucap Arvan
"Tidak masalah, Tuan, Nona."
Setelah itu, Yura dan Arvan pun beranjak pergi menuju kandang istana.
"Akhirnya, Anda kembali juga, Tuan ... " ujar pengurus kandang istana
"Ya, maaf karena sudah pergi terlalu lama," kata Arvan
__ADS_1
"Tidak masalah, Tuan. Toh, saya tidak akan pergi dari sini karena harus bekerja. Namun, saya jadi sempat berpikir kalau Tuan tidak jadi pergi dengan menggunakan kuda."
"Saya akan tetap pergi, tapi tadi masih harus mengurus sesuatu lebih dulu," kata Arvan
"Baiklah. Kalau begitu, ini dua kuda yang tadi sudah disiapkan untuk pergi," ujar pengurus kandang istana.
Pengurus kandang istana itu pun mengeluarkan kuda milik Yura dan Arvan dari bilik pagar di dalam kandang tersebut.
"Bahkan Grace juga sudah selesai bersiap," gumam Yura ysng melihat kuda miliknya sudah dipasangi pelana agar bisa langsung dibawa pergi.
"Benar. Sebelum menghampirimu tadi, aku memang sudah datang ke sini untuk menyiapkan kuda agar kita bisa langsung pergi dengan cepat," ujar Arvan
"Pantas saja, kulihat kau tidak membawa barang apa pun. Rupanya, kau sudah menitipkannya di sini bersama kudamu," kata Yura
Yura pun meletakkan sebagian barang bawaannya di atas punggung kuda selain tas ransel yang sudah dipaut di balik punggungnya, lalu ia dan Arvan pun beranjak naik ke atas punggung kuda yang sudah dipasangkan pelana milik masing-masing.
"Terima kasih, Tuan. Kami berdua akan langsung pergi," ucap Yura dan Arvan secara bersamaan.
"Sama-sama. Harap selalu hati-hati, Tuan, Nona."
Setelah itu, Yura dan Arvan beranjak ke luar dari kandang istana dengan menunggang kuda masing-masing. Terus berjalan berdampingan hingga ke luar dari gerbang masuk Istana Kerajaan.
"Apa kita akan langsung menuju ke toko senjata?" tanya Arvan
"Ya, karena setidaknya kau harus tahu letak di mana toko senjata itu berada. Kau ikuti saja aku," jawab Yura
Yura pun menunggang kuda di depan untuk menunjukkan arah jalan pada Arvan yang berjalan sambil menunggang kuda di belakang untuk mengikutinya.
Yura dan Arvan menunggang kuda dengan kecepatan rata-rata sedang agar tidak mengganggu pengguna jalan lain. Karena pada zaman ini sudah jarang menunggang kuda secara pribadi dan telah digantikan dengan penggunaan kereta kuda.
Apa lagi saat sedang melewati jalan yang ramai pada daerah deretan toko yang berjajar di sepanjang jalan. Karena di sana juga banyak pengguna jalan yang berjalan kaki atau pengguna kereta kuda, saat itulah Yura dan Arvan memperlambat laju kuda masing-masing.
__ADS_1