
"Apa aku sungguh harus pergi meninggalkan Istana Kerajaan ini? Tapi, kalau aku pergi, bagaimana caraku jika ingin melindungi Ratu? Karena bagaimana pun juga itulah tujuan pertamaku datang dan menetap di Istana Kerajaan ini. Yah, tidak peduli apa pun masalahnya, aku tidak pernah takut dan pasti aku bisa menyelesaikannya dengan baik. Aku tidak perlu pergi hanya karena ada sedikit masalah kecil seperti ini. Karena jika aku pergi itu justru akan membuat dalang di balik semua ini merasa senang dan berpikir kalau mereka telah menang karena rencana yang mereka buat telah berhasil, yaitu untuk menyingkirkan aku serta merusak hubungan antara aku dan Ratu, juga Ratu dan Raja ... " batin Yura
"Aku tidak ingin Yura pergi, tapi kalau tetap di sini, apa dia akan terus menjadi target kedua selir itu? Yah, Yura tidak harus pergi karena apa pun yang direncanakan oleh kedua selir itu tidak akan pernah berhasil. Apa pun itu tidak akan pernah bisa berhasil merusak hubungan antara aku dengan Yura atau pun dengan Raja. Yura akan tetap di sini karena seperti dia yang melindungiku, aku pun akan menjaganya. Bagaimana pun juga sebagai keluarga, kami berdua harus tetap saling berdekatan ... " batin Ratu
Memang seperti itulah hubungan yang terjalin baik antara Yura dan Ratu. Kedua kakak beradik kembar itu akan selalu saling percaya juga saling melindungi dan menjaga serta saling memikirkan antara satu sama lain.
Ratu pun menghela nafas setelah Yura pergi, lalu beralih menatap ke arah ketiga pelayan pribadinya.
"Kalian bertiga pasti tahu sesuatu lebih dulu dari pada aku. Apa ada yang bisa menceritakan dan menjelaskan padaku, apa yang telah terjadi antara Yura dan Baginda Raja?" tanya Ratu
"Rumor ini sudah menyebar dengan sangat cepat dan sudah banyak yang membicarakannya. Menurut rumor yang beredar, semalam waktu kejadiannya dan itu terjadi di kediaman selir kedua." Salah satu dari ketiga pelayan Ratu pun menceritakan apa yang telah didengarnya dari rumor yang tersebar pada Ratu dengan sangat jelas dan rinci.
"Yura tidak mungkin berbuat hal sampai seperti itu," gumam Ratu
"Seperti yang diketahui bahwa rumor adalah gosip yang dibuat-buat secara berlebihan. Itu pasti sebuah kebohongan."
"Ya, benar. Orang baik seperti nona Yura tidak mungkin melakukan hal licik seperti itu."
"Kami bertiga juga tidak percaya dengan rumor yang tersebar itu. Itu pasti jebakan yang ingin memfitnah nona Yura, tapi bagaimana pun juga rumor sudah terlanjur tersebar seperti itu."
"Pasti ada cara untuk menghentikan atau mengubah rumor itu. Bagaimana pun juga masalah ini tidak boleh sampai mencemari nama baik Yura dan Baginda Raja," kata Ratu
"Silakan Yang Mulia Ratu memberi kami perintah. Kami siap melakukan apa pun yang Anda katakan."
"Siapkan makanan. Aku akan menemui Raja untuk membahas hal ini dengannya. Lalu, beri tahu pada Pevita dan Rio supaya mereka berdua mengikuti dan menemani Yura. Bilang juga agar keduanya memastikan Yura tidak melewatkan waktu makannya," ucap Ratu
"Baik, Yang Mulia Ratu."
Pevita sangat terkejut saat salah satu pelayan pribadi Ratu ke luar dari kediaman. Seolah tertangkap basah kalau dirinya hanya berjaga seorang diri karena Rio bersikeras meninggalkan tempatnya untuk menemui Yura yang sudah lebih dulu beranjak pergi dari sana.
__ADS_1
"Nona Prajurit, kenapa hanya kau yang ada di sini? Ke mana temanmu?"
"Rio pergi sebentar untuk ke toilet, sekalian minta tolong diantarkan oleh nona Yura setelah ke luar tadi," jawab Pevita dengan bumbu dusta.
"Begitu, rupanya. Karena hanya ada kau di sini, maka langsung kuberi tahu saja. Yang Mulia Ratu memberi tugas."
"Siap, laksanakan. Tugas apa itu?" tanya Pevita
"Yang Mulia Ratu meminta prajurit untuk mengikuti dan menemani nona Yura yang pikirannya sedang dalam keadaan kacau. Yang Mulia Ratu berpesan, tolong pastikan nona Yura baik-baik saja dan tidak melewatkan waktu makannya lagi."
"Baik, dimengerti. Siap laksanakan tugas pemberian Yang Mulia Ratu," sahut Pevita
"Untung saja tidak ketahuan dan Nona pelayan tidak curiga dan juga untungnya Yang Mulia Ratu memberi tugas untuk menemani nona Yura. Karena Rio sedang pergi menemui nona Yura, aku jadi lebih mudah mencari keduanya secara bersamaan. Aku akan mencari ke arah mereka berdua pergi," batin Pevita
Setelah itu, pelayan pribadi Ratu kembali masuk ke dalam kediaman untuk membantu menyiapkan makanan sebelum Ratu hendak menemui Raja. Sedangkan, Pevita beranjak mencari keberadaan Yura yang kemungkinan sedang bersama Rio.
"Nona Yura, tunggu sebentar ... " panggil Rio
"Rio, kenapa kau ke sini? Apa kau sedang melaksanakan tugas Ratu untuk pergi ke suatu tempat? Atau, apa kau merasa kesulitan selama bekerja?" tanya Yura yang mendapati Rio mengikutinya.
"Ada yang ingin kusampaikan padamu," ungkap Rio
"Silakan, katakan saja ... " kata Yura
"Mungkin Nona Yura sudah tahu dan menyadarinya, bahwa aku menyukaimu sejak awal bertemu di Vila Kerajaan. Meski pun, kesan pertama Nona terhadapku mungkin tidak baik karena kelancangan dan ketidak-sopananku saat itu, namun Nona juga sudah sangat berbaik hati padaku. Aku sungguh tidak bisa menghilangkan perasaanku padamu. Mungkin ini memang sangat tidak tepat waktu juga tempatnya, tapi aku hanya ingin Nona tahu dan menyampaikannya selagi aku telah mengumpulkan tekad dan keberanianku," ucap Rio
"Rio, biar kukatakan padamu. Aku yang gemar mengembara ini jarang menemukan orang sepertimu yang membuatku nyaman saat bersama. Kau sungguh teman yang baik, tapi aku tidak menganggapmu lebih dari pada teman dan tidak punya perasaan yang sama sepertimu. Seperti perasaanmu yang tidak hilang, perasaanku pun tidak akan berubah dari sekadar menganggapmu temanku," ujar Yura
"Ini mungkin tidak adil bagimu, tapi jangan kau sia-siakan perasaanmu itu. Jadi, lebih baik kau lupakan perasaanmu karena aku pun tidak ingin kehilangan teman, lagi pula kau pasti bisa menemukan perempuan lain yang cocok denganmu," sambung Yura
__ADS_1
Yura tidak menyangka akan mendapat pernyataan seperti ini lagi saat pikirannya sedang kacau karena masalah yang sedang terjadi dan dialami olehnya. Rio adalah orang kedua yang mengatakan hal seperti ini setelah Arvan. Namun, entah kenapa. Mungkin karena telah mengalami hal serupa, Yura jadi teringat pada Arvan.
Tanpa disadari sudah ada dua orang di tempat yang berbeda yang melihat dan sedikit mendengar percakapan antara Yura dan Rio dari kejauhan. Keduanya adalah Arvan dan Pevita.
Yura tidak merasa menyesal setelah menolak perasaan Rio meski pun merasa dirinya telah menjadi orang yang kejam. Tanpa memiliki kesempatan melakukan pembicaraan lebih, Arvan sudah lebih dulu memanggil dan menyerukan nama Yura dan menghampiri gadis bercadar itu.
"Yura ...."
"Arvan // Tuan Penasehat," gumam Yura dan Rio secara bersamaan saat Arvan muncul di sana.
"Kau memanggilku, ada perlu apa kau mencariku, Arvan?" tanya Yura
"Ada yang harus kubicarakan dengan Yura. Jadi, maaf ... kami berdua permisi dulu," ujar Arvan yang bicara pada Rio tanpa menjawab pertanyaan dari Yura lebih dulu.
Arvan langsung menarik tangan Yura dan membawanya pergi begitu saja dari hadapan Rio. Tanpa bisa protes, Rio hanya bisa terdiam saat Arvan membawa Yura pergi dari hadapannya.
"Apa yang mau kau bicarakan sampai harus membawaku pergi seperti ini? Lepaskan dulu tanganku, baru kita bisa bicara ... " ujar Yura
"Maaf," kata Arvan yang langsung berhenti melangkah dan melepaskan tangan Yura.
"Ya, tidak apa-apa. Tidak masalah," sahut Yura
Meski pun tidak sampai dilarang, lelaki dan perempuan yang bersentuhan merupakan hal yang tabu. Karena biasanya kaum bangsawan sangat menjaga sikap satu sama lain terhadap lawan jenis, termasuk pada menjaga jarak. Kecuali jika memang keduanya adalah anggota dari satu keluarga, sepasang suami istri, atau sepasang kekasih.
Sedangkan, tindakan yang dilakukan oleh Arvan adalah karena dirinya lagi-lagi merasa cemburu saat melihat kedekatan antara Yura dan Rio hingga ke tahap tidak bisa menahan dirinya lagi.
"Padahal baru saja semalam aku menyatakan perasaanku padamu, Yura, tapi kau masih tidak mau percaya. Namun, kini kau malah menjadi sangat dekat dengan lelaki lain bahkan sampai lelaki itu juga menyatakan perasaannya padamu. Aku tidak bisa mendengar semua percakapan kalian berdua, tapi tahukah kau seperti apa perasaanku saat ini? Aku sangat tidak suka dengan lelaki itu, apa lagi saat dia berdekatan denganmu ... " batin Arvan
Kini Arvan sedang berusaha keras mengontrol perasaannya agar bisa bicara lebih lanjut dengan Yura.
__ADS_1