
Keesokan harinya.
Karena sudah berjanji untuk pergi menemui Azkia dan Afia bersama Arvan hari ini, Yura pun pergi bersama lelaki itu meski pun sedang merasa kesal di dalam hatinya.
Sebenarnya kalau saja Arvan mengatakan kalau ingin menemui kedua orangtuanya untuk melamar dirinya, Yura mungkin tidak akan bertengkar dengan kedua orangtuanya dan merasa kesal karena setidaknya ia bisa mempersiapkan diri dan hatinya lebih dulu. Padahal Arvan sendiri yang meminta diajak pergi ke kediaman kedua orangtuanya saat waktu liburan nanti untuk melamarnya.
Namun, Arvan justru malah menemui kedua orangtuanya dan melamarnya lebih cepat tanpa lebih dulu memberi tahu padanya. Namun, meski pun merasa kesal, Yura masih tetap memakai gelang dan tusuk rambut pemberian lelaki itu bahkan berjalan bersama.
"Saat kemarin aku menemuimu yang sedang bersama dengan dua prajurit pelindung Ratu, saat itu kalian baru saja habis latihan bersama, ya? Kenapa kau tidak mengajakku latihan bersama juga?" tanya Arvan
"Aku pikir kau sedang sibuk setelah kembali dari perang, jadi aku tidak mau mengganggumu. Aku bahkan tidak tahu kalau saat itu kau sedang datang ke kediaman Ratu untuk menemani Raja," jawab Yura
"Aku juga tidak tahu kalau kau bicara dengan kedua orangtuaku untuk melamarku. Kau tidak memberi tahu padaku tentang itu," sambung Yura yang bergumam di dalam hati.
"Kalau kau memberi tahu padaku, aku pasti akan berkerja lebih cepat agar kesibukanku lebih cepat selesai dan bisa ikut latihan bersama denganmu juga. Kau tidak lupa kalau Rio menyukaimu, kan?" tanya Arvan
"Kalau kau mempermasalahkan soal Rio, kami berlatih bersama Pevita juga hingga tidak hanya berdua. Aku sudah lebih dulu berjanji pada mereka berdua sebelum pergi ke medan perang bahwa aku akan latihan bersama mereka setelah kembali, jadi aku harus menepati janji itu. Lagi pula, sekarang Pevita dan Rio sudah menjadi sepasang kekasih, jadi jangan bilang kalau kau merasa cemburu ... " jelas Yura
Tidak bicara lebih banyak lagi, Yura dan Arvan hanya saling diam saat berjalan bersama menuju ke kediaman selir untuk menemani Azkia dan Afia. Saat itu Arvan menyadari sesuatu bahwa sikap Yura kembali cuek padanya dan kemungkinan besar sedang marah padanya. Namun, lelaki itu tidak tahu alasan kemarahan gadis pujaan hatinya itu.
Namun, Yura langsung tersenyum saat bertemu dengan Azkia dan Afia di kediaman selir.
"Lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu dan Afia, Azkia?" tanya Yura
"Kami berdua baik-baik saja, Kak. Bagaimana denganmu? Apa kau sempat terluka selama berperang?" tanya balik Azkia
"Tidak ada, aku juga baik-baik saja. Hai, Cantik. Apa kau masih ingat dengan Bibi?" Yura beralih pada gadis kecil di sana.
__ADS_1
"Afia, ayo beri salam pada Paman Arvan dan Bibi Yura," ucap Azkia
"Selamat pagi, Paman, Bibi ... " sapa Afia dengan wajah imutnya.
"Anak pintar, Bibi merindukanmu. Sayangnya, terakhir kali kita bertemu kau masih sangat kecil. Hingga mungkin kau tidak mengingat Bibi," ujar Yura
"Paman, ayo temani aku melihat bunga di sana," pinta Afia yang berjalan mendekat ke arah Arvan dan memeluk kaki Paman-nya dengan tangan dan tubuh mungilnya sambil menunjuk ke arah taman bunga di kediaman selir tersebut.
"Baiklah. Ayo, Paman temani ... " kata Arvan yang langsung menggendong tubuh keponakan perempuannya.
"Afia, jangan nakal saat bermain dengan Paman. Mainnya jangan terlalu lama dan cepatlah kembali untuk makan," pesan Azkia
"Baik, Ibu ... " sahut Afia
"Kalian berdua bermain bersama dulu saja. Aku akan mengobrol bersama Azkia," kata Yura
Yura pun masuk ke dalam kediaman Azkia dan mengobrol bersama pemilik tempat itu. Yura bahkan menceritakan keluh kesahnya tentang Arvan yang melamar dirinya di hadapan kedua orangtuanya tanpa memberi tahu padanya lebih dulu dengan Azkia.
"Omong-omong, katanya sekarang hanya tersisa dirimu di dalam Istana Harem ini sebagai selir Raja. Kalau boleh tahu, apa dulu mereka berdua pernah memperlakukanmu dengan buruk?" tanya Yura
"Tidak pernah. Sejak sebelum masuk ke dalam Istana Harem, aku sudah lebih dulu mempersiapkan diri. Sebisa mungkin aku akan menjauhi selir yang lain dan tetap dalam kediaman pribadi yang diberikan padaku untuk menghindari keributan yang tidak diinginkan karena aku tahu seperti apa kehidupan di dalan Istana Harem," jelas Azkia
"Kau sudah melakukan hal yang benar. Memang lebih baik menjauhkan diri dari mereka karena tidak ada hal baik pada mereka berdua," kata Yura
"Ya, dari awal aku memang hanya ingin hidup dengan tenang ... " sahut Azkia
"Azkia, aku jadi merasa penasaran tentang sesuatu hal dan ingin bertanya padamu. Namun, maaf jika aku terkesan lancang karena aku ingin bertanya hal yang bersifat pribadi," ucap Yura
__ADS_1
"Tidak masalah, Kak. Kau bahkan belum bertanya, jadi tidak perlu minta maaf seperti itu," sahut Azkia
"Meski pun kau bilang sudah mempersiapkan diri, bagaimana perasaanmu saat dikirim pergi dari kampung halaman tempat kelahiranmu ke tempat yang terbilang asing dan jauh hanya untuk menjadi seorang selir? Apa lagi kau yang dikirim untuk dijadikan sebagai selir hanya pergi sendiri tanpa ada keluarga yang mendampingiku, kan? Bahkan kau pergi karena dijemput oleh pihak Istana Kerajaan, kan? Bukankah kau tidak kenal dengan satu pun orang yang menjemputmu saat itu? Apa kau sama sekali tidak pernah protes dengan keputusan yang tidak kau inginkan itu?" tanya Yura
"Saat itu aku memang merasa sedih, tapi aku tidak bisa protes karena keputusan itu dibuat atas kepentingan dan kebaikan semua orang. Lalu, aku jadi tidak merasa terlalu sedih saat mengingat di tempat tinggal baruku aku akan bisa tinggal dekat dengan kakakku meski pun itu juga kami tidak bisa selalu bersama," ungkap Azkia
"Aku jadi merasa tidak akan kesepian karena aku tidak sendiri. Orang-orang yang menjemputku saat itu juga bersikap baik padaku. Meski pun mungkin itu karena aku pun bersikap patuh, kalau tidak seperti itu mungkin orang-orang itu akan memperlakukanku dengan buruk," sambung Azkia
"Kau memang perempuan yang memiliki hati seluas semesta dan lembut. Padahal saat itu kau masih berusia muda," puji Yura
"Kak Yura masih lebih hebat dari pada aku," sahut Azkia
"Aku tidak sebaik dirimu. Aku ini tipe orang yang memperlakukan orang lain setimpal dengan cara orang lain memperlakukanku. Kalau dia baik, aku tentu juga akan seperti itu. Jika ada orang yang jahat padaku, aku juga akan membalasnya. Bahkan dengan pribadiku yang suka mengembara saja sudah membuktikan kalau aku ini meniliki sifat pembangkang," ucap Yura
"Aku tidak sesabar dirimu yang bisa hidup tenang begitu saja dan aku lebih suka jalan hidup yang menantang. Makanya, banyak orang yang bilang aku ini aneh, sembrono, ceroboh, dan tidak seperti seorang perempuan pada umumnya. Namun, sebenarnya aku masih jauh lebih beruntung dari pada dirimu, makanya aku merasa sedikit iri denganmu," sambung Yura
"Dari yang kutahu, Kak Yura lebih baik dari yang kau katakan barusan. Kau memang suka membalas kejahatan yang setimpal dengan yang kau dapatkan, tapi setelah itu kau juga sering memberikan kesempatan pada orang yang bersalah padamu. Kau juga sering menolong orang yang kesulitan dan menegakkan keadilan. Bagiku kau yang seperti itu sangat keren. Pada dasarnya setiap orang memang memiliki sifat dan sikap yang berbeda-beda," ujar Azkia
"Ya, kau memang benar. Kau membuatku menyadari hal yang tidak mampu disadari oleh diriku sendiri di usiaku yang tak lagi muda. Aku jadi merasa malu," sahut Yura
"Kak Yura hanya sedang mrmiliki sedikit masalah hingga pikiranmu yang sedang terbebani oleh masalah itu melupakan kenyataan sederhana yang sangat penting untuk sementara waktu. Selesaikanlah masalahmu dulu dan jangan hanya membicarakannya padaku. Setelah itu kau pasti bisa kembali berpikir dengan baik dan jernih," kata Azkia
"Terima kasih, Azkia. Setelah bicara denganmu, aku merasa seperti tidak punya dan bisa menyelesaikan masalah apa pun," ucap Yura
"Tidak masalah, Kak. Aku merasa senang bisa mengobrol denganmu lagi seperti ini setelah sekian lama," sahut Azkia
Saat itu akhirnya Arvan dan Afia kembali setelah bermain sambil melihat bunga bersama. Pada tangan mungilnya, Afia membawa sesuatu. Sedangkan kedua tangan Arvan telah penuh dengan keponakan perempuannya yang berada di dalam gendongannya.
__ADS_1