
Di dalam ruang kerja Istana Kerajaan, Raja mengobrol bersama dengan Guru Akademi Kerajaan bernama Dean sambil duduk di atas sofa.
"Mungkin pertanyaan saya akan terdengar sedikit lancang. Namun, bagaimana dengan kabar Baginda Raja selama ini?" tanya Dean
"Aku selalu baik, hanya selalu sibuk dengan pekerjaan yang terus berdatangan dan menumpuk setiap harinya. Begitu juga dengan Yuna. Namun, Kakak tidak perlu menjadi terlalu formal denganku panggil saja aku dengan menyebut namaku," jelas Raja
"Saya tidak mungkin berani menyebut nama Baginda Raja yang terhormat. Omong-omong, Yang Mulia Putra Mahkota sangat mirip dengan Anda sewaktu kecil, Baginda Raja," ujar Dean
"Benar, kau adalah guru di Akademi Kerajaan dan pasti sudah bertemu langsung dengan putraku karena kau yang mengajarnya. Namun, meski di sini adalah Istana Kerajaan, aturannya tetap sama. Di mana pun juga murid yang harus hormat dengan gurunya, bukan justru malah sebaliknya. Jadi, sebut saja putraku dengan nama panggilannya. Sama seperti cara yang seharusnya saat kau memanggilku," ucap Raja
"Baiklah, sejak dulu saya memang selalu kalah dari Anda, Evan ... " kata Dean
"Aku ingin tahu, bagaimana penilaianmu tentang Arsha selama dia menjadi murid di Akademi Kerajaan?" tanya Raja
"Murid Arsha baru bersekolah selama sebulan terakhir ini, namun sudah tampak karakternya yang baik yang juga selalu berusaha menjadi contoh baik bagi teman lainnya, mungkin karena dia ingin menjadi panutan yang baik sebagai Putra Mahkota. Pemahamannya juga cepat. Sungguh mirip dengan Anda," ungkap Dean
"Aku jarang mengajari atau bahkan menemani Arsha belajar karena terlalu sibuk mengurus pekerjaan. Aku jadi merasa iri denganmu, Kak," kata Raja
"Untuk apa Anda merasa iri dengan saya? Tidak hanya wajahnya, Arsha juga mirip dengan pembawaan dan karakter Anda. Hal itu sudah membuktikan bahwa Arsha berusaha mencontoh Anda. Dia sangat menyukai sosok Ayah dan Raja-nya. Anda harusnya merasa senang dan bangga. Harusnya saya yang merasa iri karena sebagai seorang Paman saya bahkan tidak pernah melihat keponakan saya tumbuh sejauh ini," ujar Dean
"Kau benar. Namun, kau tidak perlu merasa iri karena setidaknya kau bisa melihatnya tumbuh saat belajar di sekolah. Kalau kau memang iri melihat pertumbuhan seorang anak, kenapa kau tidak menikah saja supaya bisa memiliki anak dengan pasanganmu sendiri?" tanya Raja
__ADS_1
"Saya yang baru kembali menata hidup yang sebelumnya kacau belum bisa menginginkan kehidupan pernikahan, saya khawatir tidak bisa menghidupi keluarga dengan baik dan layak," jawab Dean
"Sebelumnya mungkin seperti itu. Namun, kau sudah memiliki pekerjaan yang baik sebagai guru Akademi Kerajaan, jadi sekarang kau sudah bisa memikirkan dan mulai membuat rencana lainnya dalam hidupmu," ujar Raja
"Perkataan Anda mungkin ada benarnya. Namun, apa tidak ada yang marah dengan kedatangan saya seperti ini ke sini hari ini?" tanya Dean
"Aku adalah Raja di sini, selagi aku menyambut kedatanganmu dengan terbuka, maka siapa yang berani marah atau bahkan melarang? Apa mungkin maksudmu adalah Raja dan Ratu yang sebelumnya? Ayah dan ibu sekarang sedang tinggal di desa pada negara tetangga dengan tenang, keduanya juga sudah menyerahkan seluruh pekerjaan terkait Kerajaan padaku dan Yuna," jawab Raja
"Aku yakin yang terjadi di masa lalu itu, ayah dan ibu pun terpaksa melakukannya demi menekan pandangan negatif rakyat. Di dalam hati mereka juga pasti menganggap Kakak sebagai korban, hati mereka pun pasti terluka saat melakukannya karena sudah menganggap Kakak sebagai anak mereka sendiri," sambung Raja
"Tanpa Anda menjelaskannya pun saya sudah bisa mengerti permasalahan ini sejak dulu. Semua yang terjadi di masa lalu memang salah ibu saya yang dengan tidak sepantasnya menginginkan saya untuk menjadi Putra Mahkota yang kemudian bisa menguasai tahta. Sudah begitu, cara yang dilakukan oleh ibu saya bukannya bersaing secara baik-baik justru malah membuat rencana jahat bahkan juga pemberontakan. Dengan semua rencana busuk yang ibu saya buat, memang sudah sepantasnya saya dan ibu saya diberi hukuman berat," ucap Dean
"Sekali pun saya hanya korban dari ibu saya yang sudah mengendalikan saya seperti boneka, saya yang tidak menolak dan bahkan tidak berusaha mencegah semuanya memang pantas menerima hukuman itu. Beruntung hanya hukuman berupa pengasingan selama 5 tahun, dengan hukuman itu pun Raja dan Ratu sebelumnya sudah sangat berbaik hati. Namun, tidak seperti saya, ibu saya justru tidak bisa menerima hukuman hingga hidupnya berakhir dengan sangat buruk," sambung Dean
Maka, dengan menjadikan Dean yang merupakan putra kandungnya sebagai boneka, Selir tersebut merencanakan banyak hal agar dapat memegang kekuasaan di masa depan. Selir tersebut ingin Dean yang terpilih sebagai Putra Mahkota pada akhirnya dan menduduki tahta sebagai Raja, bahkan pemberontakan pun menjadi bagian dari rencananya. Namun, semua rencana busuknya terungkap hingga Selir tersebut dan Dean harus dijatuhi hukuman.
Hal itu termasuk pengkhianatan yang merupakan kejahatan besar hingga harus menerima hukuman berat pula sesuai hukum dan peraturan yang ada. Apa lagi berita tentang pengkhianatan keduanya telah diketahui oleh rakyat umum yang menginginkan agar keduanya dieksekusi dengan hukuman terberat. Meski begitu, mengingat adanya hubungan yang telah terjalin lama antara Selir dan Keluarga Kerajaan, hubungan darah antara Dean dengan Raja, Raja dan Ratu pun menjatuhkan hukuman yang sedikit lebih ringan. Lagi pula, jika keputusan dari Raja dan Ratu telah ditetapkan, maka tidak akan ada yang bisa menentangnya.
Tidak seperti yang seharusnya, apa bila melakukan kejahatan berupa pengkhianatan, maka harus dieksekusi mati. Namun, hukuman yang ditimpakan kepada Selir dan Dean hanya berupa pengasingan selama 5 tahun. Meski begitu, Selir yang masih saja tidak terima dengan semua keputusan itu menganggap hukuman pengasingan sama saja dengan tidak adanya kesempatan hidup. Maka setelah diputuskan hukuman untuknya, ia justru bunuh diri dengan membenturkan kepalanya pada jeruji besi penjara dengan sangat keras.
Hingga akhirnya, Selir tersebut dimakamkan secara tidak hormat tanpa nama keluarga yang tertulis pada batu nisannya dan lokasi pemakamannya pun jauh dari pemukiman sebagai ganti atas hukuman yang harusnya diterima olehnya. Pada akhirnya, Dean hanya menjalani hukuman pengasingan seorang diri. Itu terjadi sekitar beberapa tahun sebelum pernikahan Evan dengan Yuna.
__ADS_1
Dean mengasingkan diri bahkan lebih dari 5 tahun lamanya dan kini ia kembali muncul di Kota Kerajaan dengan menjadi guru Akademi Kerajaan setelah menjalani hukumannya dengan masa yang cukup. Bahkan hari ini kembali mendatangi Istana Kerajaan untuk menemui Raja (yang sekarang atau saat ini) yang merupakan saudara alias adik tirinya.
"Itu semua hanya kejadian yang telah lalu, tidak perlu membahasnya lagi. Kakak hanya perlu melihat ke depan dan yang terpenting Kakak juga selalu baik-baik saja," ucap Raja
"Anda benar, Evan," kata Dean
"Sebenarnya ada perlu apa Kakak datang ke sini? Tidak mungkin hanya ingin bertemu denganku, kan?" tanya Raja
"Saya memang hanya ingin menemui dan untuk melihat secara langsung kabar Anda. Sebenarnya kalau boleh saya memang ingin bertanya. Saat hari pertama Murid Arsha datang ke Akademi Kerajaan, saya juga melihat seorang perempuan bersamanya. Ia memakai cadar dan tampak seperti Ratu Yuna. Namun, saya tahu ia bukanlah Ratu. Jadi, siapa dia?" tanya balik Dean
"Kakak melihatnya juga, rupanya. Dia adalah adik ipar, namanya Yura. Saudari sekaligus adik kembar Yuna," jawab Raja
"Begitu, rupanya ... " kata Dean
Mendengar orang lain membicarakan tentang Yura mampu membuat Arvan yang sedari tadi tetap berada di dalam ruangan untuk terus lanjut mengurus pekerjaan menjadi tidak fokus hingga menjatuhkan beberapa lembar berkas seperti orang yang sedang salah tingkah.
"Sepertinya saya memang tidak seharusnya ada di sini hingga terus mendengar pembicaraan Anda berdua. Kalau begitu, saya akan ke luar. Permisi," ujar Arvan
"Kau tidak perlu ke luar, duduklah bersama kami seperti dulu. Kita mengobrol bersama," kata Raja
Dahulu hubungan antara ketiganya memang sangat baik. Evan, Dean, dan Arvan. Tidak hanya sebagai teman, tapi juga seperti saudara.
__ADS_1
Akhirnya, Arvan menerima ajakan Raja untuk duduk bersamanya dan Dean. Ketiganya pun saling mengobrol bersama.