
Begitu ke luar dari kandang kuda, Yura langsung beranjak naik dan duduk di atas punggung kuda miliknya yang bernama Grace. Sedangkan, Rio mengikutinya dari belakang dengan menunggangi kuda vila bernama Nick.
Begitu memijaki tanah lapangan berkuda, Yura langsung memacu kuda miliknya dengan kecepatan tinggi. Rio yang menemaninya pun ikut berpacu mengejar ketertinggalan dengan kuda Nick.
Berlari kencang sambil menunggang kuda, merasakan terpaan udara dari segala sisi yang terasa menyegarkan, lembut, dan kebcang di saat bersaman. Saat itu Yura merasa senang seolah dirinya sangat bebas di tengah alam yang mempesona, begitu juga dengan Rio. Namun, kebahagiaan Rio adalah saat dirinya bisa bersama Yura sambil terus mengagumi keindahan gadis bercadar yang memesonanya itu.
Saling berpacu dengan menunggang kuda, setelah beberapa kali putaran Yura pun memperlambat laju kuda miliknya, diikuti dengan Rio yang terus mendampinginya di sana.
"Apa Nona Yura akan kembali lagi ke sini besok untuk mengajak Grace jalan-jalan seperti ini?" tanya Rio
"Mungkin, lalu aku ingin pergi berkeliling sekali lagi setelahnya ... " jawab Yura
"Kalau begitu, apa Nona Yura mau mencoba berkeliling sambil menunggang kuda?" tanya Rio
"Memangnya yang seperti itu diperbolehkan?" tanya balik Yura
"Boleh saja kok. Aku akan menemanimu berkeliling besok dan aku berjanji tidak akan bersikap kurang ajar lagi padamu seperti sebelumnya," jawab Rio
"Aku hanya tinggal menghajarmu jika kau mengulangi hal seperti itu lagi dan aku tidak akan memaafkanmu," ucap Yura
"Aku tidak akan pernah melakukannya, Nona. Kau memegang janjiku. Yang kau pegang adalah janji seorang lelaki," kata Rio yang bermaksud tidak akan ingkar.
"Baiklah, itu sudah cukup ... " sahut Yura
Rio tampak senang bisa menemani dan mengobrol dengan Yura. Apa lagi mereka hanya berdua di sana.
Saat itu, Arvan ke luar dari kamarnya setelah cukup lama mengurung diri usai sarapan pagi. Tuan Penasehat itu berkeliling seperti kemarin dan berharap akan dapat melihat Yura meski hanya dari kejauhan hingga akhirnya kakinya melangkah sampai sekitar tempat berkuda.
Namun, bukan merasa senang, hatinya justru bersedih dan sakit saat melihat Yura yang bukan sedang bersama Arsha, tapi justru hanya berduaan dengan pelayan lelaki yang tampak menyukai gadis bercadar itu. Arvan merasakan kepedihan pada organ bernama hati.
__ADS_1
"Yura tidak sedang melatih Arsha. Apa kali ini pun aku terlambat selangkah dari lelaki lain? Dulu Yuna memilih Evan, apa kali ini pun Yura akan memilih orang lain dari pada diriku ini? Bodoh sekali. Aku hanya seorang pecundang dalam hal asmara dan cinta," batin Arvan
Saat itu Arvan melihat tak jauh dari tempatnya ada seorang pelayan perempuan yang membela saat pelayan lelaki yang sedang bersama Yura itu berbuat salah.
"Kau sedang apa di sini?" tanya Arvan
"Tuan Penasehat Arvan ... saya-" Pelayan perempuan itu menggantung bicaranya saat pandangan kedua matanya memandang ke arah lain.
"Kau juga melihat teman lelakimu itu, rupanya. Lain kali bisakah kau saja yang menemani aktivitas Yura? Akan lebih baik jika seorang gadis bersama gadis lainnya, bukan dengan seorang lelaki yang membuat mereka terlihat tidak pantas saat bersama," ujar Arvan setelah mengikuti arah pandang pelayan perempuan itu.
"Maaf, Tuan Penasehat. Saya tidak tahu apa saja yang nona Yura lakukan atau soal jadwal aktivitasnya."
"Kalau begitu, teruslah ikuti Yura di sampingnya mulai besok. Ingatlah itu," ujar Arvan
Setelah mengatakan itu, Arvan langsung beranjak pergi dari sana. Lelaki itu tidak mau terus menerus atau berlama-lama merasa sakit hati saat melihat Yura sedang bersama lelaki lain.
"Tuan Penasehat itu berasal daerah suku, mungkin karena itu cara pikirnya masih kuno seperti orang zaman dulu yang tidak setuju dengan kedekatan antar lawan jenis yang tidak memiliki hubungan keterikatan. Memikirkannya seolah aku pun seperti punya pola pikir kuno saja. Atau sebenarnya Tuan Penasehat merasa cemburu saat melihat nona Yura yang sedang bersama Rio saat ini? Sulit sekali menebak isi hati orang lain," gumamnya
•••
Keesokan harinya.
Saat ini baru saja menyelesaikan sarapan pagi. Bahkan Yura baru saja memakai kembali cadarnya untuk menutupi sebagian wajahnya.
"Paman Arvan, hari ini aku ingin ikut denganmu. Jadi, ajaklah aku beraamamu jika kau ingin pergi," ucap Arsha sebelum Arvan pergi seorang diri lebih dulu seperti dua hari sebelumnya.
Arsha ikut bangkit berdiri saat melihat Arvan berdiri dari kursinya.
"Kalau begitu, saya dan Putra Mahkota akan pergi lebih dulu. Permisi, semuanya ... " ujar Arvan
__ADS_1
"Sampai jumpa lagi, Ayah, Ibu, Bibi ... " Arsha melambaikan tangannya saat mendekati Arvan dan berlalu pergi berdua dari sana.
"Tidak disangka Arsha mengajukan diri lebih dulu untuk ikut dengan Arvan," kata Ratu
"Saya yang menyarankan padanya untuk belajar bersama Arvan karena dia juga memerlukan itu, apa lagi dia juga bertanya dan mencari Arvan saat hanya berdua denganku dua hari yang lalu," ujar Yura
"Lalu, kenapa kau tidak ikut bersama dengan mereka berdua saja, Yura?" tanya Raja
"Maaf, Baginda. Saya ingin melakukan hal lain," jawab Yura
"Yura, apa kau tahu alasan Arvan memisahkan diri dari kita?" tanya Ratu
"Saya juga tidak tahu soa itu, tapi mungkin Arvan sedang sibuk. Dia mungkin juga membawa berkas dokumen Istana Kerajaan sama seperti Baginda Raja," jawab Yura
"Arsha juga mengatakan hal yang sama denganmu kemarin, tapi berkas dokumen itu bukan aku yang sengaja membawanya, Arvan-lah yang menaruhnya di koper barang milikku," ucap Raja
"Yura, apa kau bertengkar dengan Arvan?" tanya Ratu
"Tidak," jawab Yura dengan cepat dan singkat sambil menggelengkan kepalanya.
"Lalu, ada apa dengan Arvan? Kenapa sikapnya jadi aneh seperti itu?" tanya Ratu
"Saya pikir Yang Mulia Ratu atau Baginda Raja lebih tahu soal itu karena setidaknya Anda berdua memiliki hubungan pekerjaan dengan Arvan, sedangkan aku ... kami berdua tidak punya hubungan apa-apa," jawab Yura
"Arvan itu tipe orang yang pendiam dan kurang terbuka," kata Raja
Raja, Ratu, dan Yura pun ke luar dari ruang makan. Barulah para pelayan masuk ke dalam ruang makan untuk membersihkan san merapikannya.
Setelah ke luar dari ruang makan, Yura menuju arah yang berbeda dengan yang dituju Raja dan Ratu.
__ADS_1
Ratu tampak memerhatikan saudari kembarnya yang terus pergi menjauh. Ia merasa sedih karena gagal menjodohkan Yura dan Arvan. Padahal Ratu telah berharap hubungan Yura dan Arvan bisa menjadi dekat dan berhasil hingga bersatu.