
Berbeda dengan Yura, kini Arvan terdiam karena merasa perasaannya yang semakin tak menentu. Seolah ada yang mengganjal di dalam hatinya.
"Aku merasa ada yang aneh dengan perasaanku. Hatiku terasa semakin tidak enak dan tidak karuan setelah pembicaraan ini. Kurasa ini bukan karena Yura sudah mengetahui tentang perasaanku terhadap Ratu, melainkan ini adalah tentang perasaanku sendiri. Entah kenapa aku tidak merasakan apa pun lagi meski membicarakan Ratu. Tidak ada perasaan senang, sedih, atau berdebar seperti sebelumnya karena perasaan bertepuk sebelah tanganku ini. Seolah perasaanku terhadap Ratu telah hilang sepenuhnya, bahkan seolah tidak pernah ada. Sekarang perasanku hanya memedulikan Yura dan aku merasa tidak rela jika Yura menganggapku menyukai Ratu karena perasaanku hanya untuknya. Ya, kali ini aku yakin kalau yang aku sukai adalah Yura, dan bukannya Ratu ... " batin Arvan
Arvan pun menoleh dan menatap Yura yang ada di sampingnya. Seketika saja saat itu juga Arvan semakin merasa aneh dengan apa yang dirasakan oleh hatinya. Jantung hatinya berdebar tak karuan dan darahnya berdesir hebat. Perasaannya kali ini berbeda karena apa yang dirasakannya kini lebih kencang, lebih cepat, lebih besar, lebih dahsyat dari yang pernah dirasakan sebelumnya saat lelaki itu menyukai Ratu.
Hingga dengan semua perasaannya itu membuat Arvan sangat yakin bahwa dirinya sangat menyukai Yura bahkan melebihi rasa sukanya ketika menyukai Ratu.
"Aku tidak menyangka kalau rasa sukaku yang sudah lama kurasa dan kupendam terhadap Ratu setelah sekian lama bisa dikalahkan begitu saja dengan perasaanku untuk Yura hanya dalam beberapa waktu yang bahkan tidak genap sebulan. Aku sangat yakin kalau perasaanku untuk Yura kali ini melebihi yang kurasakan untuk Ratu. Aku sangat menyukaimu, Yura. Setelah merasa sangat yakin dengan perasaanku ini, apa aku katakan saja kalau aku menyukai Yura sekarang?" batin Arvan
"Tapi, apa tidak aneh jadinya kalau aku mengatakan perasaanku pada Yura setelah aku mengakui soal perasaanku terhadap Ratu di depan Yura? Bisa-bisa Yura akan menganggapku plin-plan dan serakah. Meski kuakui awalnya memang seperti itu, aku tidak ingin Yura mengira aku menyukainya hanya karena wajahnya yang mirip dengan Ratu. Sekarang aku hanya akan menganggap Ratu sebagai penyelamat semasa kecilku dulu dan tidak lebih dari itu. Sedangkan perasaanku untuk Yura sangat tulus. Mungkin lebjh bakk kutunda mengungkap perasaanku sebentar lagi," sambung Arvan bicara dalam hati.
Berbeda dengan Arvan yang merasa ragu untuk mengatakan perasaannya yang sebenarnya, Yura tampak sangat yakin ingin mengatakan sesuatu.
__ADS_1
"Arvan, apa kau ingat aku pernah berjanji akan menceritakan suatu kisah padamu dan kau bilang akan menagih janjiku saat itu?" tanya Yura yang langsung direspon dengan anggukan kepala oleh Arvan sebagai jawaban.
"Apa kau ingin mendengar aku menceritakan suatu kisah sesuai dengan janji saat itu sekarang?" tanya Yura lagi.
"Kalau aku bilang, kau ceritakan nanti saja ... apa kau akan tetap menepati janjimu untuk bercerita di kesempatan lain?" tanya balik Arvan
"Yang pasti aku akan menepati janjiku, tapi itu juga tergantung situasi dan kondisi ... apa mungkin aku bisa menepati janji itu di lain waktu atau tidak atau bahkan tidak bisa sama sekali. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan," jawab Yura
"Tidak, maksudku ... kalau begitu, ceritakanlah sekarang saja. Aku ingin mendengar kau bercerita," ujar Arvan
"Memangnya, kau ingin menceritakan tentang kisah apa, Yura?" tanya Arvan
"Kali ini aku tidak ingin msnceritakan kisah saat aku mengembara dahulu, tapi aku hanya akan menceritakan kisah saat aku kecil dulu. Apa kau tetap ingin mendengarnya?" tanya balik Yura
__ADS_1
"Ya, asalkan kau yang bercerita dan itu adalah kisah tentangmu, aku tetap ingin mendengar ceritanya ... " jawab Arvan
"Baiklah, aku memang akan tetap bercerita meski mungkin kau tidak menyukainya. Karena aku hanya ingin menepati janjiku. Ini adalah cerita masa lalu saat pertama kali aku masuk ke dalam Istana Kerajaan saat aku masih kecil dulu. Saat itu adalah acara pesta perayaan setelah Kerajaan Chuya berhasil memenangkan perang. Ayahku, seorang bangsawan Earl yang menjadi pemimpin pasukan ksatria saat itu berhasil membawa kemenangan besar hingga kami sekeluarga diundang untuk masuk Istana Kerajaan dan ikut dalam acara pesta perayaan itu." Yura mulai menceritakan kisahnya di masa lalu.
"Pada hari itu aku datang bersama kak Yuna, kak Yasha, dan ibuku. Karena ayahku saat itu masih berada di Istanan Kerajaan setelah kepulangannya dari medan perang, kami akan bertemu jika aku bersama ibu dan kedua kakakku masuk ke dalam aula pesta. Karena ketentuan yang ada mengharuskan para tamu undangan masuk ke dalam aula pesta sesuai panggilan, ibuku masuk lebih dulu hingga nyonya Earl berpisah dengan kami, yaitu putra-putri keluarga Earl. Saat itu aku merasa gugup karena aku yang masih kecil tidak terbiasa dengan suasana orang ramai," sambung Yura yang masih meneruskan ceritanya.
"Aku ingat ... hari pesta perayaan itu adalah saat aku pertama kali bertemu dengan Yuna yang menyelamatkan aku dari kejaran anjing penjaga dulu. Rupanya, Yura juga ada pada saat itu, namun aku tidak melihatnya. Kukira Yura tidak ikut acara itu karena saat itu yang kulihat hanya Yuna. Pada hari itu adalah hari saat pertama kali aku menyukai seorang gadis, yaitu Yuna yang menyelamatkanku. Namun, saat itu juga perasaanku harus pupus karena aku melihat ada rasa saling suka antara Yuna dan Evan saat aku melihat keduanya sedang bersama," batin Arvan yang kembali mengingat masa lalu.
"Hari itu adalah hari pertama aku jatuh cinta sekaligus patah hati di saat yang bersamaan. Andai saja saat itu yang bertemu dan yang menyelamatkan aku adalah Yura, semuanya akan berbeda jadinya. Maka, gadis yang kusukai dari dulu hanya satu dan itu adalah kau, Yura. Namun, kenyataan yang ada justru sangat berbeda," sambung Arvan yang terus bicara di dalam hati.
Arvan masih menyimak saat Yura sedang bercerita. Namun, lelaki itu tidak menyangka jika Yura akan menceritakan kisah saat masa lalu yang itu. Yaitu, saat pertama kali Arvan jatuh cinta sekaligus patah hati di hari yang sama. Arvan memang sangat menyayangkan kisahnya yang menyedihkan. Namun, Arvan masih tetap ingin mendengar kisah Yura saat itu secara keseluruhan.
"Aku yang masih belum bisa mengatasi rasa gugupku, saat itu meminta izin pada kedua kakakku, kak Yasha dan kak Yuna untuk pergi berkeliling sebentar supaya rasa gugupku bisa sedikit mereda dan bisa merasa sedikit lebih tenang. Setelah diberi izin, aku pun pergi berkeliling seorang diri dan kedua kakakku tetap menunggu panggilan untuk masuk ke dalam aula pesta," ucap Yura yang terus bercerita.
__ADS_1
"Aku masih sangat mengingatnya, saat itu aku bertemu dengan beberapa pelayan yang hendak mengantarkan hidangan ke aula pesta dan aku diperbolehkan untuk mengambil hidangan yang sedang dibawa itu yang akhirnya aku menerima dua hidangan yang terbuat dari daging yang dibentuk menjadi kotak. Namun, sayangnya aku tidak bisa memakan dua hidangan yang kuterima dari pelayan saat itu ... " sambung Yura
Arvan tampak sedikit terperanjat saat mendengar kelanjutan kisah yang sedang diceritakan oleh Yura. Namun, tidak ingin hanya menduga-duga seorang diri, Arvan tetap ingin mendengar kisah tersebut sepenuhnya hingga akhir dari mulut Yura sendiri.