
Pelayan sudah datang untuk menyajikan minuman sekaligus makanan ringan. Namun, setelah itu pelayan kembali pergi ke luar meninggalkan ruangan tersebut. Begitu juga dengan Rino yang tetap menunggu di luar ruangan karena tidak ingin mengganggu pertemuan Raja dengan tamu yang datang, meski harus menekan rasa penasaran dalam dirinya.
Tak lama kemudian, Ratu, Yura dan Arsha tampak berjalan mendekat ke ruang kerja Istana Kerajaan.
"Salam dan hormat saya pada Yang Mulia Ratu dan Yang Mulia Putra Mahkota," ucap Rino seraya membungkukkan badan.
"Selamat pagi, Rino." Yura yang sengaja menyapa lebih dulu.
"Selamat pagi juga, Nona Yura ... " balas Rino usai menegakkan kembali menegakkan badan.
"Kami datang untuk menemui Baginda Raja," kata Ratu
"Baginda Raja ada di dalam ruangan. Namun, sedang ada tamu yang menemuinya," ujar Rino
"Apa itu tamu penting? Apa kita kembali nanti saja?" tanya Ratu sambil bergumam.
"Jangan dulu. Rino, tolong kau sampaikan dulu perihal kedatangan ini pada Baginda Raja. Jika Baginda Raja berkata agar kami kembali nanti saja, kami baru akan mengikuti perkataannya," ujar Yura
"Baiklah. Mohon tunggu, saya akan memberi tahu Baginda Raja ... " kata Rino yang beranjak masuk ke dalam ruang kerja Istana Kerajaan untuk memberi tahu kedatangan Ratu dan Arsha serta Yura pada Baginda Raja.
"Baginda Raja berkata, Anda sekalian bisa langsung masuk ... " sambung Rino yang kembali ke luar untuk mempersilakan masuk pada Ratu, Arsha, dan Yura.
"Terima kasih banyak, Rino," ucap Yura
"Sama-sama. Silakan masuk. Nona Yura juga diminta untuk ikut masuk," ujar Rino
"Baiklah, aku akan masuk ... " kata Yura
Ratu, Arsha, dan juga Yura pun melangkah masuk ke dalam ruang kerja Istana Kerajaan secara beriringan.
Begitu masuk, Raja sedang duduk bersama Arvan, dan seseorang lainnya di sofa. Meninggalkan setumpuk pekerjaan begitu saja.
"Arsha, kau pulang untuk mengunjungi Ayah bersama setelah mengunjungi Ibu dan Bibi-mu, ya? Kebetulan sekali saat ini gurumu dari Akademi Kerajaan juga datang untuk mengunjungi Ayah," ujar Raja
__ADS_1
"Salam sejahtera bagi Yang Mulia Ratu dan Yang Mulia Putra Mahkota," ucap Dean yang langsung membungkukkan badan usai bangkit berdiri.
"Anda adalah Guru saya. Saya rasa tidak perlu memberi salam, meski kini sedang berada di Istana Kerajaan. Lalu, panggil saja saya dengan nama seperti biasa," ujar Arsha
"Arsha, jadi ini adalah guru yang kau ceritakan pada Ibu tadi?" tanya Ratu sambil menatap tidak menyangka ke arah Dean.
"Benar, Bu. Apa Ibu mengenal Guru?" tanya balik Arsha
"Arsha, melebihi seorang guru, dia adalah Paman-mu ... " ungkap Raja
"Syukurlah. Kak Dean, kau sudah kembali," ujar Ratu
"Aku mengerti. Pantas saja aku merasa wajah Guru Dean sedikit mirip dengan Ayah," kata Arsha yang tidak bertanya banyak hal sebagai sikap sopan santunnya.
"Bagaimana kabarmu selama ini, Kak?" tanya Ratu
"Seperti yang terlihat, saya baik-baik saja. Saya memulai kembali kehidupan dengan menata karir sebagai seorang guru di Akademi Kerajaan," jelas Dean
"Pekerjaan yang sangat cocok untukmu. Semoga kau tidak merasa kewalahan mendidik begitu banyak murid di sana," ucap Ratu
"Syukurlah, kalau begitu ... " ujar Ratu
"Mohon maaf, jika saya lancang menyela pembicaraan ini. Namun, apa kita pernah bertemu sebelumnya, Tuan?" tanya Yura pada Dean.
"Kita tidak pernah bertemu secara langsung. Namun, saya pernah melihat Nona saat mengantar Murid Arsha pada hari pertama datang ke Akademi Kerajaan. Mohon maaf atas kelancangan saya saat itu. Namun, saya pikir akan terasa canggung jadinya jika Murid Arsha langsung bertemu dengan guru saat hari pertama datang ke Akademi Kerajaan, jadi saya hanya bisa melihatnya dari jauh dan Nona juga ada di sana," jelas Dean
"Begitu, rupanya. Saya mengerti, itu sebabnya saya merasa seperti tidak asing dengan cara Anda menatap," kata Yura
"Maaf, Kak. Adikku memang sangat peka dengan situasi sekitar. Mungkin saat yang kalian maksud itu, Yura menyadari keberadaan seseorang di sana," ujar Ratu
"Yura, setidaknya kau bisa melepas cadarmu saat berada di dalam ruangan, bukan?" tanya Raja
"Anda benar, Baginda ... " sahut Yura yang mengerti bahwa Raja bukan hanya sekadar bertanya melainkan nengajukan permintaan yang mutlak.
__ADS_1
Yura pun langsung melepaskan cadar yang menutupi sebagian wajahnya.
Saat itu, Arvan langsung merasa tidak suka. Lelaki itu mengerti jika sebenarnya Raja meminta Yura melepas cadar dengan dalih mengajukan pertanyaan. Arvan juga mengerti maksud Raja meminta Yura melepas cadar adalah karena ingin memperkenalkan sosok Yura pada Dean. Hal inilah yang membuat lelaki itu merasa tidak suka.
Padahal Raja mengetahui bahwa dirinya menyukai Yura, namun Raja justru memperkenalkan sosok gadis yang disukai olehnya pada lelaki lain di hadapannya langsung. Seketika saja Arvan merasa tidak suka dengan kehadiran Dean padahal harusnya ia tidak seperti itu karena kali ini adalah pertemuan mereka kembali setelah bertahun-tahun lamanya.
"Rupanya, Ibu asuh Murid Arsha adalah Bibi-nya sendiri. Sungguh wajah yang mirip bagai pinang dibelah dua," kata Dean
"Pada sebagian waktu lainnya mungkin Anda akan menyesal hingga langsung menarik perkataan Anda barusan, Tuan. Saya bukanlah gadis yang baik hati dan anggun seperti Yang Mulia Ratu," ucap Yura
"Kalau begitu, saya harap bisa mengalami sebagian waktu lainnya seperti yang Nona ucapkan barusan itu agar bisa menyaksikannya sendiri secara langsung. Nona pasti tahu kalau penilaian setiap orang itu berbeda. Mungkin saja saya tidak akan menyesal dengan perkataan saya," ujar Dean sambil tersenyum hingga mampu membuat merasa Arvan tidak senang melihatnya yang tersenyum pada Yura.
"Karena Kak Dean sudah ada di sini, bagaimana kalau kalian makan bersama dulu? Kebetulan aku sudah membawakan makanannya," ujar Ratu
Keranjang makanan pun diletakkan di atas meja.
"Evan, jangan bilang Anda selalu melewatkan waktu makan hingga istri Anda harus membawakan makanan sendiri untuk Anda?" tanya Dean
"Ya, istriku memang sangat perhatian padaku," sahut Raja
"Namun, mohon maaf karena saya tidak bisa berlama-lama di sini, jadi tidak bisa ikut perjamuan makan ini," kata Dean
"Kakak sudah ada di sini. Apa tidak ingin menginap saja? Bukankah sekolah baru akan dimulai lagi pada hari Senin nanti?" tanya Raja
"Selain ingin berkunjung, saya masih ada urusan di tempat lain. Mohon maaf jika saya harus mengabaikan undangan kehormatan dari Anda," jawab Dean
"Sudah kubilang tidak perlu bersikap atau bicara formal. Kalau tidak bisa menginap setidaknya tinggallah sebentar untuk makan bersama. Cobalah rasa makanan di sini yang tidak pernah berubah," ujar Raja
"Pasti rasanya lezat seperti biasa," kata Dean
Akhirnya, mereka pun makan bersama.
"Dean, kurasa kau pun tahu kalau kau tidak bisa dan tidak mungkin merebut Ratu dari Raja. Namun, jangan sampai kau justru mengharapkan Yura karena aku sudah lebih dulu berharap padanya. Jangan rusak pertemanan kita karena aku tidak akan menyerah dengan perasaanku pada Yura," batin Arvan
__ADS_1
Dahulu sudah menjadi rahasia umum bagi sebagian orang bahwa selain ingin dirinya menjadi Putra Mahkota, Dean juga menginginkan Yuna yang merupakan calon pasangan Evan untuk menjadi pasangannya karena mencintai gadis yang sama dengan Evan. Namum, selain gagal menjadi Putra Mahkota, Dean juga tidak bisa mendapatkan atau mengharapkan Yuna karena harus memenuhi hukuman pengasingan.
Arvan adalah salah satu orang yang mengetahui rahasia umum tersebut. Kini ia merasa was-was dengan Dean yang seolah telah menjadi saingan cinta baginya.