One & Only

One & Only
79 - Menata Rambut.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Saat sinar matahari pagi menembus jendela dan ventilasi hingga menerobos masuk ke dalam kamar, Yura justru menutupi wajahnya dengan selimut yang sama dengan yang menutupi tubuhnya. Namun, pada detik selanjutnya gadis itu malah menendang selimut hingga wajahnya kembali terekspos dengan menunjukkan ekspresi kesal.


Yura bukan merasa kesal karena terganggu sinar matahari yang masuk ke dalam kamar, melainkan dengan apa yang telah dilewatinya semalam. Gadis itu bahkan berdecak sebal dengan cukup keras.


"Yura, ada apa denganmu?" tanya Arvan yang juga berada di dalam kamar yang sama.


"Maaf, apa aku mengganggu tidurmu? Atau, apa kualitas tidurmu jadi kacau karena aku?" tanya balik Yura


"Tidak sama sekali. Aku memang berniat untuk bangun. Apa kau ingin menggunakan kamar mandi lebih dulu?" tanya balik Arvan lagi.


"Kau dulu saja. Aku ingin merenggangkan tubuh lebih dulu," jawab Yura


"Baiklah. Kalau begitu, aku mandi dulu ... " ujar Arvan yang sudah bangkit dari ranjangnya.


"Ya. Silakan saja," kata Yura


Arvan pun beranjak menuju ke kamar mandi di dalam kamar tersebut dan meninggalkan Yura yang masih terdiam duduk di atas ranjang.


Yura pun beralih bangkit untuk merapikan ranjang dan kasurnya serta melipat selimut. Tak hanya ranjangnya, Yura juga sekalian merapikan ranjang tempat tidur Arvan. Karena memang keduanya tertidur di ranjang yang terpisah meski berada di dalam satu kamar yang sama.


Yura sempat lupa sesaat jika dirinya masih berada di penginapan dan berbagi kamar dengan Arvan. Kalau ingat, tidak mungkin Yura bertingkah seperti saat bangun tidur tadi. Gadis itu tidak merasa malu meski telah melakukan tingkah seperti itu, hanya saja ia merasa kalau tingkahnya bisa mengganggu teman sekamarnya. Hanya karena lupa.


Setelah merapikan kedua ranjang tidur pada kamar tersebut, Yura pun beranjak menuju jendela kamar dan membukanya dengan lebar untuk menghirup udara pagi.


Yura menarik nafas dalam dan menghembuskannya secara perlahan untuk meredakan rasa kesal di dada atas yang dialaminya semalam.

__ADS_1


Tepatnya saat tengah malam tadi, saat Yura dan Arvan mengunjungi toko senjata untuk mencari informasi terkait insiden penari kipas yang melukai Ratu, keduanya hanya berhasil mendapat sedikit informasi. Yang membuat Yura merasa kesal bukan karena hanya mendapat sedikit informasi. Gadis itu sadar dan tahu bahwa misi penyelidikan tidaklah mudah, maka wajar saja jika hanya sedikit membuahkan hasil.


Yang membuat Yura kesal adalah justru karena ia telah mengetahui kemungkinan siapa yang menjadi dalang dari insiden penari kipas yang melukai Ratu. Dari informasi yang di dapatkan semalam, Yura dan Arvan dapat mengetahui siapa keluarga yang berada di belakang yang mendukung toko senjata tersebut. Setelah mendapat informasi itu, Yura merasa sangat yakin kalau keluarga pendukung toko senjata itulah yang menjadi dalang dari insiden penari kipas yang melukai Ratu.


Awalnya Yura tidak menyangka karena Arvan bilang keluarga itu adalah keluarga yang pertama kali mendukung pengangkatan Putra Mahkota yang telah menjadi Raja saat ini, bahkan itu adalah keluarga dari salah satu selir Raja. Namun, setelah dipikir-pikir semua menjadi masuk akal karena bisa saja keluarga tersebut menaruh rasa iri dan benci terhadap Ratu.


Baru sebentar Yura menatap ke arah pemandangan luar dari jendela yang terbuka, terdengar suara Arvan yang memanggilnya tepat di belakangnya.


"Yura, kau sedang apa?" tanya Arvan


"Kau sudah selesai, rupanya. Aku hanya sedang melihat pemandangan dari sini," jawab Yura yang langsung berbalik saat mendengar suara Arvan.


"Ya, aku sudah selesai. Kau bisa menggunakan kamar mandinya sekarang," kata Arvan


"Baiklah. Kalau begitu, aku akan mandi dan kau bisa mengenakan pakaian dengan nyaman," ujar Yura yang langsung menutup kembali jebdela kamar yang dibuka olehnya.


Melihat Yura yang tampak sedikit aneh saat bicara dengannya, Arvan langsung menatap ke arah dirinya sendiri. Lelaki itu bahkan menatap ke arah cermin yang kini memantulkan sosok bayangan dirinya. Wajah Arvan langsung bersemu merah dan lelaki itu langsung menutupi kedua pipinya yang tampak seperti tomat. Ia benar-benar lupa jika masih hanya memakai jubah mandi yang bahkan mengekspos dadanya yang terbuka.


"Pantas saja Yura terlihat aneh tadi, rupanya karena dia melihat penampilanku seperti ini. Ini karena aku lupa membawa pakaian ganti ke dalam kamar mandi tadi. Memalukan sekali," batin Arvan


Arvan pun bergegas mengenakan pakaiannya selagi dan Yura masih berada di dalam kamar mandi. Yura pun sengaja berlama-lama di dalam kamar mandi karena memberi waktu bagi Arvan untuk mengenakan pakaian. Gadis itu tidak mau jika terburu-buru ke luar dari kamar mandi malah melihat sosok lelaki yang sedang mengenakan pakaian.


Namun, karena tidak bisa terus menerus berada di dalam kamar mandi, Yura pun membuka pintu dan berjalan ke luar dari dalam kamar mandi secara perlahan.


Yura yang sudah mengenakan pakaiannya secara lengkap pun melihat Arvan yang sedang duduk di tepi ranjang sambil membaca sebuah buku dengan pakaiannya yang juga sudah lengkap.


"Kau sudah selesai, Yura?" tanya Arvan tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.

__ADS_1


"Ya, baru saja. Kukira kau sudah ke luar untuk makan," jawab Yura


"Aku menunggumu agar kita bisa ke luar dan makan bersama," kata Arvan


"Padahal kau bisa ke luar untuk makan lebih dulu, tidak perlu menungguku ... " gumam Yura


"Aku tidak ingin sampai kau tidak makan dengan benar lagi seperti kemarin dan hanya makan roti dan minum susu. Makanya, aku sengaja ingin menunggumu sampai selesai," ucap Arvan


"Kalau begitu, tunggulah sebentar lagi atau kau bisa ke luar lebih dulu. Kali ini aku pasti menyusul," ujar Yura


"Aku akan menunggu sampai kau benar-benar selesai," sahut Arvan


Yura meminta Arvan untuk menunggunya karena sebagai gadis, ia harus mengatur rambutnya lebih dulu usai mandi. Terlebih lagi, Yura memang sengaja membiarkan rambutnya tumbuh panjang. Karena rambut panjang adalah satu-satunya yang dipertahankan agar tetap terlihat seperti perempuan tulen selain hobinya yang sudah seperti seorang lelaki.


Arvan memerhatikan Yura yang sedang mengurus rambutnya dari belakang. Lelaki itu jadi teringat bahwa sejak kecil ia sering membantu adik perempuannya untuk menata rambut. Bahkan setelah beranjak dewasa pun Arvan masih suka menata rambut adik perempuannya sesekali. Ia jadi membayangkam dirinya jika diperbolehkan membantu menata rambut Yura. Arvan pasti akan merasa sangat bahagia dan bangga jika itu benar-benar terjadi.


"Yura, setelah mendapat sedikit informasi semalam, apa lagi yang akan kita lakukan? Apa kita akan menunggu sampai dua hari ke depan atau kita langsung kembali ke Istana Kerajaan saja?" tanya Arvan


"Kita tunggu dulu karena aku masih punya rencana terakhir untuk dua hari ke depan. Kau bisa ikut menunggu atau langsung kembali ke Istana Kerajaan. Terserah kau saja," jawab Yura


"Aku akan menunggu bersama dan terus mengikuti sampai kau juga kembali ke Istana Kerajaan," kata Arvan


"Kalau begitu, pastikan jangan sampai kau mengganggu atau mengacaukan saat aku menjalankan rencana terakhir nanti. Sekali pun kau tidak menyukai rencana terakhirku nanti," ujar Yura


"Baiklah, aku mengerti ... " sahut Arvan


Akhirnya, Yura pun selesai mengurus rambutnya yang hanya diikat kuncir kuda. Lalu, gadis itu kembali memakai cadar miliknya untuk menutupi sebagian wajahnya.

__ADS_1


Setelah itu, Yura dan Arvan pun ke luar dari kamar penginapan untuk makan bersama.


__ADS_2