One & Only

One & Only
44 - Membayangkan Makan Bersama.


__ADS_3

Usai berlatih, Arsha pun beralih untuk istirahat bersama Yura.


"Minumlah lagi dan makan juga camilannya," kata Yura


Arsha hanya mengangguk. Ia mengambil sepotong kue setelah meneguk minuman.


"Arsha, menurut Bibi setelah ini kau hanya perlu fokus pada latihan bela diri karena banyak yang harus kau lakukan dan kuasai dalam bidang ini, kemampuan berpedang pun termasuk ke dalam kemampuan bela diri, jadi kau harus melakukan semuanya dengan baik dalam banyak waktu yang kau miliki," ucap Yura


"Sedangkan, Bibi rasa latihan menunggang kuda sudah cukup untukmu. Dalam hal berkuda, kau hanya perlu meningkatkan keberanian dan percaya diri untuk menambah kemampuanmu. Jadi, kau hanya perlu mengingat semua yang telah kau pelajari dalam dua hari latihan, termasuk apa yang kukatakan tentang jika kau memilih kuda yang akan kau miliki sendiri. Itu akan sangat membantumu. Lalu, apa pun latihan yang kau lakukan, harap selalu berhati-hati agar kau tidak terluka," sambung Yura


"Baik, Bibi. Aku mengerti, tapi tidak jadi masalah jika sesekali aku ingin menunggang kuda?" tanya Arsha


"Ya, itu tidak masalah. Justru itu bagus untuk menambah kemampuan agar kau semakin cepat mahir melakukannya. Namun, kau tidak perlu mendapat bimbingan lagi dan hanya tetap perlu ada yang mengawasi. Jika kau ingin berkuda, bilang saja supaya Bibi bisa menemanimu dan jika kau ingin bertanya sesuatu saat berkuda nanti, kau bisa langsung tanyakan pada Bibi saat itu juga," jawab Yura


Arsha pun mengangguk tanda mengerti.


"Agak aneh rasanya," gumam Arsha


"Kenapa kau berkata seperti itu?" tanya Yura


"Karena saat kita berlatih kemarin ada paman Arvan yang ikut menemani. Sekarang dia tidak ada, rasanya seperti ada yang kurang," jelas Arsha


"Padahal baru kemarin paman Arvan ikut menemani latihan kita dan baru hari ini juga dia tidak ada saat kita latihan, tapi kau sudah merasa kalau seperti ini aneh?" tanya Yura


"Ya. Bibi Yura, apa kau tahu alasan paman Arvan tidak terlihat usai sarapan pagi hari ini?" tanya balik Arsha


"Entahlah, Bibi juga kurang tahu soal itu. Namun, ini hanya dugaan Bibi saja ... sebenarnya saat Bibi membantu memeriksa isi koper barang milik ibunda Ratu dan ayahanda Raja, ditemukan beberapa berkas dokumen Istana Kerajaan di dalam koper barang milik ayahanda Raja. Mungkin sebenarnya banyak pekerjaan yang harus ditangani sampai berkas dokumen itu terbawa ke sini dan kalau ayahanda Raja membawa berkas dokumen seperti itu, mungkin paman Arvan juga membawanya. Jadi, mungkin sekarang paman Arvan sedang sibuk mengurus berkas dokumen itu," jelas Yura


"Begitu, rupanya. Aku mengerti," kata Arsha

__ADS_1


"Ini hanya dugaan Bibi saja. Namun, kalau kau memang ingin bertemu dengan paman Arvan, kau bisa menemuinya dan minta diajarkan sesuatu padanya. Paman Arvan itu pintar karena merupakan seorang Penasehat sekaligus seorang Dokter, dia pasti bisa mengajarimu dan mau melakukannya. Kau bisa mulai minta belajar bersamanya besok dan tidak perlu selalu berlatih dengan Bibi setiap hari," ucap Yura


Arsha hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai respon atas ucapan Yura.


"Maaf, Arsha, kau tidak bisa bertemu dengan paman Arvan jika sedang bersama Bibi karena paman Arvan ingin menjauhkan dirinya dariku. Bibi tidak bisa memaksa untuk bertemu dengannya saat dia tidak ingin. Jika kau ingin bertemu dengan paman Arvan, kau harus melakukannya secara terpisah dariku," batin Yura


Yura dan Arsha pun terus makan camilan bersama.


"Karena latihan bela diri kali ini sudah selesai, Bibi akan mengantarmu ke kamarmu. Kau harus banyak istirahat setelah banyak berlatih hari ini," ujar Yura


"Kau tidak perlu mengantarku, kau istirahat saja di dalam kamarmu ini, Bibi. Aku akan kembali ke kamarku sendiri, lagi pula kamarku sangat dekat, tepatnya berada di samping kamar ini ... " tolak Arsha


"Setidaknya Bibi akan mengantarmu sampai ke luar dari kamar ini," kata Yura


"Baiklah," sahut Arsha


"Arsha, camilannya masih ada banyak yang belum dimakan. Apa kau mau makan beberapa camilan lagi atau membawanya beberapa ke kamarmu? Kalau tidak, apa semua sisa camilan ini untuk Bibi saja?" tanya Yura


"Baiklah. Bibi akan memindahkan sisa camilannya dari troli makanan ini ke atas meja dulu, agar troli makanannya bisa dikembalikan pada pelayan," ucap Yura yang mulai memindahkan camilan dari troli makanan ke atas meja di dalam kamarnya itu.


"Biar kubantu, Bibi ... " kata Arsha yang ikut membantu memindahkan camilan dari troli makanan ke atas meja kamar Bibi-nya itu.


"Terima kasih sudah membantu, Arsha ... " ucap Yura usai memindahkan camilan dari troli makanan ke atas meja dengan bantuan Arsha.


"Terima kasih karena Bibi Yura sudah mau melatihku hari ini juga," sahut Arsha


"Tidak masalah. Ayo, aku antar kau ke luar dari kamar ini ... " kata Yura sambil membawa troli untuk dikeluarkan dari dalam kamarnya.


Sebelum ke luar dari kamarnya, Yura menyempatkan diri untuk kembali memakai cadar untuk menutupi sebagian wajahnya. Yura pun mengantar Arsha ke luar dari kamarnya sambil membawa troli makanan.

__ADS_1


"Nona, biar saya saja yang mengembalikan troli makanan ini." Seorang pelayan yang berjaga di lorong kamar langsung mendekat saat melihat Yura membawa troli makanan ke luar dari kamarnya.


"Baiklah. Kalau begitu, terima kasih banyak ... " ucap Yura


"Sama-sama, Nona." Pelayan itu pun membawa troli makanan dan beralih pergi dari sana.


"Kalau begitu, aku kembali ke kamarku dulu, ya, Bibi ... " ujar Arsha


"Baiklah. Istirahat dengan baiklah setelah ini," kata Yura


Arsha hanya mengangguk, lalu berjalan menuju ke kamar dan Yura memerhatikannya sampai keponakannya masuk ke dalam kamarnya sendiri. Sebelum masuk ke dalam kamarnya, Arsha menyempatkan diri untuk melambaikan tangannya dan Yura pun membalas melambaikan tangan pada keponakan lelakinya.


Setelah memastikan Arsha masuk ke dalam kamarnya Yura pun kembali masuk ke dalam kamarnya sendiri.


Yura belum benar-benar menutup pintu kamarnya, kamar Arvan yang tepat berada di seberang kamarnya tampak terbuka pintunya. Namun, saat Arvan ke luar dari kamarnya, saat itu jugalah Yura menutup pintu kamarnya dengan rapat.


Arvan tertegun saat bisa melihat meski hanya sedikit sosok wajah Yura sebelum pintu kamarnya tertutup rapat. Arvan pun menghela nafas pelan.


"Aku ingin melihat wajah Yura, tapi malu menunjukkan wajahku sendiri di depannya. Akhirnya, kali ini hanya bisa melihat sedikit wajah Yura. Entah ini adalah keberuntungan atau sebaliknya," batin Arvan


"Tuan Penasehat Arvan, apa Anda butuh sesuatu?" Seorang pelayan menghampiri Arvan usai mengembalikan troli makanan.


"Aku ingin kau membawakan camilan dan minuman yang sama dengan yang tadi kau antarkan ke kamar Nona Yura untukku," jawab Arvan


"Padahal sedari tadi Tuan Penasehat Arvan hanya terus berada di dalam kamarnya sendiri, lalu dari mana dia tahu aku mengantarkan camilan dan minuman ke dalam kamar Nona Yura? Apa sedari tadi dia menguping dari balik pintu kamarnya? Sudahlah, untuk apa aku banyak berpikir soal itu. Lebih baik kupenuhi saja pesanannya," batin pelayan tersebut.


"Baik, akan segera saya bawa dan antarkan ke kamar Anda. Mohon ditunggu."


Pelayan itu pun pergi dan tak butuh waktu lama kembali membawakan camilan dan minuman ke dalam kamar Arvan, lalu kembali pergi setelah itu.

__ADS_1


"Dengan makan camilan yang sama dengan yang Yura makan bersama Arsha tadi, anggap saja aku juga makan bersama mereka berdua. Sama seperti kemarin," gumam Arvan


Sambil membayangkan dirinya sedang makan camilan bersama Yura dan Arsha sama seperti kemarin, Arvan pun mulai melahap satu per satu camilan yang telah dibawakan oleh pelayan ke dalam kamarnya.


__ADS_2