One & Only

One & Only
139 - Memanjakan Kekasih Hati.


__ADS_3

Meski pun merasa terkejut, Yura tetap tersenyum saat melihat kedatangan kedua orangtuanya di sana. Tuan dan Nyonya Haris pun berjalan menghampiri anak gadisnya itu.


"Selamat datang dan selamat malam, Tuan dan Nyonya Haris," sapa Arvan yang masih berada di dekat Yura.


Tuan dan Nyonya Haris hanya tersenyum sambil mengangguk kecil untuk menanggapi sapaan dari Arvan.


"Yura, akhirnya kau kembali juga ... " ucap Nyonya Haris


"Ibu, Ayah!" seru Yura yang langsung mengikis jarak untuk memeluk kedua orangtuanya.


"Sepertinya ini akan menjadi pertemuan keluarga yang mengharukan. Kalau begitu, saya permisi dulu ... " ujar Arvan yang lanhsung beralih pergi dari sana.


"Bagaimana kabarmu, Yura? Kau tidak kembali dengan terluka, kan?" tanya Tuan Haris yang langsung melepaskan diri dari pelukan.


"Aku baik-baik saja dan kembali tanpa luka, Ayah. Tenang saja," jawab Yura


Saat itu Nyonya Haris pun melepas pelukan dan beralih memerhatikan dan memeriksa kondisi tubuh anak gadisnya secara seksama dan teliti.


"Tidak perlu merasa khawatir, Ibu. Tidak ada yang kurang atau bertambah pada diriku," kata Yura seolah memberi kepastian pada sang ibu.


"Oh, ya ampun. Syukurlah, kalau begitu. Ibu sangat khawatir selama kau berada di medan perang. Kau hanya memberi kabar dengan mengirim surat, bagi Ibu itu tidak cukup. Kau juga terus berada di sana sampai perang berakhir," ujar Nyonya Haris


"Aku harus menyelesaikan sampai tuntas dengan baik hal yang telah kulakukan. Ibu dan Ayah sendiri yang mengajarkan hal itu padaku," sahut Yura


"Berbeda dengan kakakmu, Yasha, kau adalah seorang gadis, Yura. Kau bahkan pergi tanpa pamit secara langsung. Kami berdua sebagai orangtua pasti merasa khawatir," ucap Tuan Haris


"Omong-omong tentang Kak Yasha, apa Ibu dan Ayah tidak ingin menemui Kakak? Dia juga ada di sini. Kalian berdua bahkan belum menyapa Baginda Raja. Lalu, kalian berdua pasti sudah tahu kalau kak Yuna sudah melahirkan keponakan ketiga. Apa kalian berdua tidak ingin menengok cucu kalian?" tanya Yura


Saat itulah Yasha datang menghampiri hingga Yura merasa sedikit lega karena kakak sulungnya mengambil alih posisi untuk bicara dengan kedua orangtua mereka. Setelah mengobrol dengan Yasha, Tuan dan Nyonya Haris beralih untuk menyapa sekaligs berbincang dengan Raja.

__ADS_1


Saat itu barulah Yura bisa beranjak untuk mengambil minuman untuk dirinya sendiri. Tak sedikit juga anggota prajurit yang mendekatinya untuk mengobrol atau sekadar basa-basi. Yura pun menanggapi obrolan mereka dengan santai dan ramah. Namun, mereka mendadak berlalu pergi saat Arvan datang menghampiri. Seolah mereka sadar diri untuk tidak ingin menjadi nyamuk pengganggu antara kedua sejoli itu.


"Apa yang kau bicarakan dengan mereka tadi?" tanya Arvan


"Hanya pembicaraan ringan yang santai. Kenapa kau datang ke sini?" tanya balik Yura


"Aku ingin mengambil camilan untuk dimakan. Aku juga tidak mungkin mengganggu orangtuamu saat bicara dengan Baginda Raja dengan keberadaanku di antara mereka. Lalu, kalau aku bilang aku merasa cemburu saat melihat kau bicara dengan para prajurit tadi itu, apa kau akan percaya?" tanya balik Arvan lagi.


"Entahlah, kupikir kau hanya menganggap itu secara berlebihan padahal kami hanya bicara ... " jawab Yura


"Kaulah yang terlalu meringankan hal seperti itu. Omong-omong, apa kau hanya ingin minum tanpa makan sesuatu?" tanya Arvan


"Saat ini aku hanya ingin minum sesuatu yang menyegarkan," jawab Yura


"Ya, minuman dan makanan di sini memang sangat dirindukan ketika kita masih berada di medan perang yang semua persediaannya serba terbatas," kata Arvan


Yura melihat sekitar. Kedua orangtuanya sudah tidak ada di sana. Mungkin Tuan dan Nyonya Haris sedang beranjak untuk menjenguk Ratu dan cucu mereka yang baru saja lahir.


"Arvan, kau bergabunglah dengan yang lain dulu. Aku ingin pergi ke balkon sebentar untuk menikmati udara segar," ucap Yura yang langsung berlalu pergi meninggalkan Arvan.


Yura pun beranjak pergi dan membuka pintu pembatas balkon untuk melangkah ke luar hingga berdiri di balkon seorang diri. Gadis itu menaruh gelas minumannya di atas pagar pembatas dan menumpu kedua tangannya di sana. Yura termenung dan membiarkan udara malam menyentuh permukaan kulitnya dengan bebas bahkan sampai membuat helaian rambut dan rok pada gaunnya berkibar-kibar.


Tampaknya pikiran gadis cantik itu sedang melayang. Mungkin karena kini perang telah berakhir dan sudah saatnya Yura untuk memberi kepastian pada Arvan tentang hubungan keduanya. Yura bingung harus mengatakan apa atau apa harus dirinya yang bicara lebih dulu.


"Aku tidak pernah mengalami hal yang seperti ini sebelumnya," gumam Yura dengan pelan.


Tanpa pengalaman serupa, Yura tidak tahu apa yang harus dilakukan. Selama hidupnya gadis itu hanya selalu belajar pengetahuan umum, ilmu medis, bela diri, bertarung, dan pergi mengembara. Bahkan Arvan adalah lelaki pertama yang menyatakan perasaan padanya dengan berani. Meski pun telah membuatnya merasa senang, Yura juga merasa bingung.


Sesekali Yura menghela nafasnya dan memejamkan kedua matanya untuk merileksasikan dirinya. Saat itu Yura mendengar suara pintu balkon terbuka hingga membuatnya berbalik badan. Rupanya, yang sedang dipikirkan pun muncul. Arvan datang sambil membawa beberapa camilan di atas piring pada tangannya.

__ADS_1


"Arvan, itu kau. Kupikir siapa ... " kata Yura


"Yura, minumanmu sudah hampir habis. Apa kau mau kuambilkan minuman lagi untukmu?" tanya Arvan yang melihat isi gekas minuman milik Yura yang tersisa sedikit.


"Tidak perlu. Kalau minum lebih dari ini, mungkin sebentar lagi aku akan punya keinginan untuk pergi ke toilet," jawab Yura


"Kalau begitu, ke marilah ... " ujar Arvan meminta.


"Kenapa kau ke sini?" tanya Yura sambil berjalan mendekat ke arah Arvan dengan meninggalkan gelas minumannya di atas pagar pembatas balkon.


"Aku ingin menemanimu di sini. Apa aku bisa mendapat kehormatan untuk itu?" tanya balik Arvan


"Kau sudah repot-repot datang ke sini, untuk apa lagi kau bertanya seperti itu?" tanya balik Yura lagi.


"Kau tidak akan mengusirku pergi dari sini, kan?" tanya balik Arvan untuk kedua kalinya.


"Asalkan kau tidak menggangguku," jawab Yura


"Bagus, karena itu tidak akan pernah terjadi dan tidak akan pernah kulakukan. Omong-omong, aku bawakan makanan untukmu. Aku sengaja membawa yang tampak akan terasa menyegarkan karena kau bilang ingin sesuatu yang menyegarkan," ujar Arvan


"Kalau begitu, duduklah dulu. Apa kau membawa makanan hanya untuk kumakan dan kau tidak makan apa pun?" tanya Yura yang langsung membuka mulutnya saat Arvan menyodorkan makanan dengan maksud menyuapinya.


"Sebelum datang untuk menemanimu di sini, aku sudah lebih dulu makan sesuatu. Namun, kalau kau berkenan untuk berbagi denganku, maka aku akan merasa sangat senang," jawab Arvan yang akhirnya duduk bersama Yura.


"Baiklah. Kalau begitu, kita makan bersama saja ... " ujar Yura


Di teras balkon tersebut memang telah disediakan tempat untuk duduk. Hingga Yura dan Arvan pun duduk berdua di sana sambil makan bersama. Ralat, Arvan tidak membiarkan Yura untuk makan dengan menggunakan tangannya sendiri, lebih tepatnya lelaki itu terus menyuapi makanan ke dalam mulut Yura hingga membuat gadis itu bahkan tidak punya kesempatan untuk makan dengan menggunakan tangannya sendiri.


Namun, memang Arvan ikut makan sambil terus menyuapi Yura seperti itu. Hingga tampaklah keduanya yang sedang membina hubungan asmara dengan Arvan yang memanjakan Yura sebagai kekasih hatinya.

__ADS_1


__ADS_2