
Yura tertegun. Inilah yang Yura khawatirkan dengan kondisi Raja saat ini. Bahwa Raja akan terbangun dari pingsannya dengan kehilangan setengah dari kesadarannya dan menganggap orang lain sebagai Ratu yang dicintainya.
Apa lagi yang saat ini ada bersama Raja adalah Yura yang merupakan saudari kembar yang wajahnya sangat mirip dengan Ratu. Dengan kondisi Raja saat ini, maka akan semakin membuat Raja tak dapat mengenali siapa pun selain melihatnya dengan rupa yang sangat ingin dilihat olehnya.
"Baginda Raja, saya mohon sadarlah dan lihat baik-baik siapa saya, yang sedang bersama Anda saat ini ... " ujar Yura sambil berusaha menahan beban berat tubuh Raja yang bertumpu padanya saat memeluk dirinya dengan erat.
Yura terus berusaha menahan bahkan mendorong tubuh Raja yang memeluk tubuhnya dengan semakin erat. Namun, Yura tidak bisa, apa lagi gadis itu tidak ingin menyakiti Raja.
Hingga akhirnya, Yura terjatuh ke atas ranjang bersama Raja dengan posisinya yang berada di bawah tubuh Raja yang masih memeluk tubuhnya.
"Baginda Raja, sadarlah dan lepaskan saya. Anda telah salah mengenali orang," pinta Yura sambil berusaha memberontak untuk melepaskan diri dari pelukan Raja, apa lagi Yura juga merasakan bahwa hidung dan bibir Raja sudah mulai menjelajahi kulit lehernya.
Saat itu Raja sedikit merenggangkan pelukannya dan menjauhkan wajahnya untuk menatap Yura.
"Aku tidak akan pernah salah mengenali orang, sungguh. Kau adalah Yuna, Ratuku tercinta ... " kata Raja
Raja hendak kembali merengkuh tubuh Yura dan inilah kesempatan yang tak boleh terlewatkan bagi Yura.
"Tapi, aku adalah Yura dan bukan Yuna. Aku bukan Ratu-mu, tapi adik iparmu ... " sahut Yura dengan suara menyentak.
Yura pun dengan cepat memukul bagian belakang leher Raja hingga kembali tak sadarkan diri.
"Maafkan aku yang harus bertindak sejauh ini, Baginda Raja ... " gumam pelan Yura
Yura menahan tubuh Raja yang pingsan dengan tangannya hingga tidak lagi menindih tubuhnya. Lalu, Yura pun memperbaiki posisi tubuh Raja agar dapat berbaring dengan nyaman di atas ranjang.
Saat Yura sedang membantu Raja untuk berbaring, ada seorang pelayan yang masuk ke dalam kamar yang pintunya telah dibuka lebar-lebar oleh Yura sebelumnya. Pelayan itu seolah memergoki tindakan tidak senonoh yang dilakukan oleh Yura dengan Raja.
"Apa-apaan ini? Apa yang kau lakukan dengan Baginda Raja di dalam kamar kediaman Selir Kedua?"
Kini Yura mengerti dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Yura menoleh pada pelayan yang baru saja masuk itu dan membuatnya tampak terkejut.
__ADS_1
"Yang Mulia Ratu!"
"Lihat dan perhatikan baik-baik. Aku bukan Ratu, tapi hanya pelayannya yang juga merupakan saudari kembarnya. Adik ipar Baginda Raja," ungkap Yura
"Di mana nyonya-mu? Kenapa dia belum kembali juga?" tanya Yura melanjutkan.
"Aku masih harus memberi perhitungan dengan majikanmu," sambung Yura seraya bergumam di dalam hati.
Ini adalah kali pertama Yura masuk ke dalam jebakan yang mengandung intrik di dalam Harem. Sebenarnya Yura merasa sedikit takut akan disalah-pahami dan tidak dipercayai lagi oleh banyak orang. Namun, Yura sadar bahwa dirinya tidak perlu merasa takut karena dirinya tidak melakukan kesalahan apa pun atau bahkan sedikit pun.
Saat keberaniannya kembali, Yura merasa lebih ingin memberi perhitungan dengan Frizka, Selir Kedua. Karena telah berani membuat jebakan untuknya saat dirinya berniat membantu, namun malah dibalas dengan rencana busuk. Yang bahkan sejak awal, Selir Kedua tidak mengalami kesulitan apa pun dan hanya sekadar ingin menjebak Yura.
"Nyonya Frizka sedang mengambil barang penting dan menyuruh saya ke sini untuk memeriksa dan menjaga Baginda Raja selama nyonya pergi."
"Nyonya-mu juga meminta bantuanku untuk menjaga Baginda Raja selama dia pergi. Aku merasa heran dengan nyonya-mu itu. Sebenarnya barang apa yang harus diambil olehnya? Kedengarannya seolah barang itu lebih penting dari Baginda Raja hingga dia lebih memilih mengambil barang itu dari pada menjaga Baginda Raja," oceh Yura
"Harusnya biar kau saja yang mengambil barang itu dan dia yang harusnya kembali dengan cepat untuk menjaga Baginda Raja. Lalu, apa yang diberikan oleh nyonya-mu pada Baginda Raja hingga menjadi mabuk seperti ini? Kau pelayan yang sudah lama bekerja di sini, kan? Jawablah dengan jujur! Kau pasti tahu apa yang telah direncanakan oleh nyonya-mu itu," sambung Yura dengan memberi penekanan untuk menyudutkan pelayan agar mau membongkar rencana dari Selir Kedua.
Bahkan Yura kali ini dapat menyadari dengan sangat yakin bahwa saat ini Selir Kedua yang telah membuat rencana sedemikian rupa sebenarnya telah berada di dekat ruang kamar tersebut dan sedang menyaksikan pertunjukan yang ternyata sangat berbeda dari yang telah diekspetasikan.
"Si Yura itu sama sekali tidak merasa gelisah atau gentar sedikit pun. Ini berbeda dari yang kuduga. Baru kali ini rencanaku gagal, biasanya rencana yang kubuat selalu berhasil. Harusnya rencana ini bisa dengan mudah menuduh Yura melakukan tindakan asusila dengan Baginda Raja dan berakhir dengan dijatuhi hukuman karena tindakan lancangnya," batin Selir Kedua, Frizka.
"Apa yang kau bicarakan? Aku datang ke sini hanya karena disuruh nyonya untuk memeriksa," ujar pelayan yang menjawab pertanyaan Yura dengan gugup dan sedikit gemetar.
"Ya, nyonya-mu pasti menyuruhmu untuk memeriksa apakah rencana yang telah dibuat olehnya berhasil atau tidak, kan? Kalian semua pasti berpikir ingin menuduh dan memberi hukuman padaku. Benar begitu, kan?" tanya Yura mencoba menggertak untuk menyudutkan.
"Apa yang kau maksud? Aku tidak mengerti."
"Kalau begitu, biar kuseret nyonya-mu ke mari. Setelah melihat kerjamu yang tidak becus, mari kita lihat apa yang akan dilakukannya untuk memberimu hukuman ... " Yura berbalik hendak pergi dari sana.
"Tidak, nyonya tidak akan menghukumku."
__ADS_1
Saat situasi mulai tak terkendali, seperti yang telah Yura duga, saat itulah Selir Kedua masuk ke dalam kamar tersebut bersama seorang pelayan lainnya. Seolah Selir Kedua tidak mau terbongkar bahwa dirinya sudah ada di dekat sana untuk menyaksikan pertunjukkan.
"Ada apa ini? Apa yang terjadi di sini?" tanya Selir Kedua, Frizka begitu masuk ke dalam kamar tersebut.
"Nyonya Selir, lihatlah apa yang terjadi di sini. Begitu saya sampai di sini, pintu luar dan pintu kamar sudah terbuka dan Nona ini sudah ada di dalam kamar bersama Baginda Raja. Saya melihat dia membuat Baginda Raja pingsan. Dia pasti ingin mengambil kesempatan dan berbuat hal yang tidak baik pada Baginda Raja. Padahal dia adalah adik Yang Mulia Ratu dan ipar Baginda Raja, tapi bisa-bisanya dia punya pemikiran yang buruk seperti itu." Pelayan tersebut membuat-buat alasan dengan mengarang cerita.
"Apa benar seperti itu yang terjadi?" tanya Selir Kedua, Frizka yang seolah menjadi penengah. Pelayan lain yang baru datang bersamanya pun menatap seolah ikut menuduh Yura.
"Aku tidak menyangka kalau pelayanmu sangat pandai mengarang cerita. Apa ini adalah hasil didikan darimu, Nyonya? Padahal kau sendiri yang meminta bantuanku untuk berjaga di depan pintu kediaman ini tadi dan kau bilang, jika terdengar sesuatu dari dalam, maka aku boleh masuk untuk memeriksa kondisi Raja. Apa kau tidak mengatakan pada pelayanmu kalau aku di sini karena permintaanmu? Kalau begitu, aku merasa dikhianati dan tidak dihargai. Apa kau sendiri ingin menyangkal kalau kau meminta bantuan dariku seperti pelayanmu yang pandai mengarang cerita seperti tadi?" tanya balik Yura
"Lalu, kalau pelayanmu melihat saat Baginda Raja pingsan karena aku yang membuatnya menjadi seperti itu, harusnya pelayanmu tahu kalau Baginda Raja-lah yang berusaha menyerangku karena mabuk hingga tidak bisa mengenali orang. Aku mengaku telah membuat Baginda Raja pingsan, tapi itu untuk membela dan menyelamatkan kehormatan diriku sendiri. Lagi pula, kau bilang Baginda Raja hanya kelelahan, tapi Baginda Raja justru mabuk. Sebenarnya apa yang telah kau berikan pada Baginda Raja? Apa kau sebelumnya tengah berusaha membuat Baginda Raja mabuk hingga tergila-gila padamu? Bukankah cara seperti itu sangat licik?" tanya Yura melanjutkan lagi.
"Pelayanku mungkin hanya tidak mengira kalau Nona akan masuk sampai kamar, padahal sudah kuberi tahu kalau akulah yang meminta bantuan padamu. Pelayanku telah salah karena telah menuduhmu, aku akan menghukumnya dan mendidiknya lagi," jelas Selir Kedua, Frizka.
"Nona Yura tidak mungkin berbuat seperti yang kau tuduhkan. Minta maaflah padanya," sambung Selir Kedua, Frizka menyuruh pelayannya.
"Ampun, Nona. Saya minta maaf karena telah menuduh sembarangan."
"Namun, Baginda Raja memang kelelahan dan bukan mabuk. Baginda Raja salah mengenali orang, mungkin karena sangat kelelahan sampai jadi linglung. Saya akan meminta dokter datang untuk memeriksa kondisi Baginda Raja," ucap Selir Kedua, Frizka.
"Memeriksakan kondisi Baginda Raja memang sangat penting, tapi jangan sampai Baginda Raja diperiksa oleh sembarang dokter. Bukankah di Istana Kerajaan ada seorang Dokter kepercayaan? Aku akan segera memanggil tuan Arvan dan memintanya datang ke sini untuk memeriksa kondisi Baginda Raja," ujar Yura
"Mohon maaf karena harus merepotkan Nona Yura sekali lagi," kata Selir Kedua, Frizka.
"Tidak masalah. Jaga saja Baginda Raja dengan baik di sini dan minta pelayanmu untuk jangan berisik. Jangan sampai mengganggu tidur Baginda Raja," ucap Yura
Yura pun beranjak pergi dari sana.
Saat rencana tidak berjalan sesuai ekspetasi, Selir Kedua, Frizka langsung melempar kesalahan pada pelayannya sebagai kambing hitam karena tidak berhasil menuduh Yura.
Hanya karena pelayannya merasa gugup rencananya jadi kacau. Jika saja pelayannya terus menuduh Yura hingga Yura berhasil tertuduh, pastilah semuanya berjalan lancar. Ini juga karena Yura tidak merasa gentar sedikit pun dan malah berbalik memojokkan pelayannya hingga terpojok dan memutar balik arah permainan. Bukannya Yura yang dirugikan, justru Selir Kedua, Frizks yang merugi karena rencananya yang gagal.
__ADS_1