One & Only

One & Only
127 - Saling Memberi Kesempatan.


__ADS_3

Arvan sibuk mengemas diri dan barang miliknya setelah kembali dari medan perang ke kamp prajurit. Arvan meletakkan dan menyimpan pedang yang juga diikatkan dengan sapu tangan pemberian dari Yura dengan sangat hati-hati.


Melihat pedang baja hitam yang diikat dengan sapu tangan biru dengan sulaman daun semanggi itu membuat Arvan tersenyum karena mengingat bisa berperang dan merasa lega karena kembali dari medan perang dengan selamat bersama Yura.


Senyum pada bibir di wajah Arvan semakin merekah dengan lebar begitu teringat pada saat Yura memberi pedang sekaligus sapu tangan untuknya. Apa lagi saat Yura berkata untuk jangan sampai terluka pada dirinya sebelum berangkat ke medan perang karena selain Yasha, Yura hanya mengenal dan dekat dengan dirinya. Itu artinya Yura sangat peduli pada dirinya.


Dengan perasaannya yang semakin bertumbuh menjadi besar dan kuat, Arvan merasa tidak bisa menahan dirinya lagi untuk mencari Yura dan menyatakan perasaannya pada gadis itu.


"Sepertinya aku sudah tidak bisa lagi menunggu sampai masalah peperangan ini berakhir atau bahkan menunggu sampai besok saja, aku sudah tidak tahan lagi. Kalau terus menyimpan perasaan yang kian membesar ini rasanya aku akan menjadi gila. Aku harus menyatakan perasaanku pada Yura sekarang juga," batin Arvan yang langsung beranjak pergi untuk menemui Yura.


Namun, begitu sampai di depan tenda Yura, Arvan menjadi ragu untuk melangkah lebih jauh. Pasalnya tenda tersebut tertutup dengan sangat rapat hingga Arvan merasa kedatangannya di sana akan terkesan tidak sopan.


"Tendanya tertutup sangat rapat, apa Yura sudah istirahat di dalam? Apa kedatanganku ke sini akan mengganggunya?" batin Arvan yang bertanya-tanya di tengah keragu-raguannya.


"Namun, aku sudah terlanjur sampai di sini. Aku tidak bisa kembali atau menunggu lebih lama lagi, maka aku harus memberanikan diriku. Coba dulu saja dengan memanggilnya," gumam pelan Arvan


Arvan pun mencoba untuk menarik dan menghembuskan nafasnya secara perlahan.


"Yura, ini aku. Apa kau ada di dalam?" tanya Arvan seraya memanggil dan menyapa.


"Arvan, apa itu kau? Tolong tunggu sebentar dan jangan masuk dulu," ujar Yura dari dalam tenda.


"Baiklah, aku akan tetap di sini ... " kata Arvan yang langsung kembali tersenyum senang hanya karena bisa mendengar suara lagi.


Usai kembali dari medan perang, Yura langsung menemui Yasha di posko pengobatan untuk memeriksa keadaan kakak sulungnya sampai akhirnya ada beberapa prajurit yang menjenguk Yasha dan membicarakan beberapa urusan terkait posisi jabatan dalam pasukan.


Jadi, Yura belum lama kembali ke tenda. Hingga beberapa saat sebelumnya, Yura sedang membasuh tubuhnya dengan air segar. Kondisi di daerah peperangan tidak akan sebaik daerah sejahtera penduduk, hingga masih mendapat pasokan air bersih saja sudah sangat menguntungkan dan itu pun masih harus menghemat fasilitas yang ada, termasuk dan terutama adalah air.


Saat Arvan datang memanggilnya, Yura sedang berganti dan mengenakan pakaian. Hingga harus meminta dan membuat Arvan untuk menunggu di luar tenda.


"Arvan, apa kau masih di luar sana? Kau sudah boleh masuk," ujar Yura dari dalam tenda.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan masuk. Permisi," kata Arvan yang melangkah masuk ke dalam tenda setelah menghela nafas pelan untuk menghilangkan rasa gugupnya.


Saat Arvan masuk, Yura tampak sedang merapikan barang di dalam tenda dan terlihat sedang menyingkirkan pakaian yang dipakai sebelumnya karena saat ini Yura telah mengenakan pakaian yang berbeda dari sebelumnya.


"Untung saja tadi aku tidak langsung masuk. Karena tadi pasti Yura sedang berganti pakaian," batin Arvan yang langsung menyadari keputusannya yang tepat.


"Maaf karena sudah membuatmu menunggu. Sudah malam seperti ini di luar sana pasti terasa dingin," kata Yura


"Tidak masalah. Tadi aku hanya perlu menunggumu sebentar," sahut Arvan


"Jangan hanya berdiam diri seperti itu, duduklah di mana pun kau mau. Lalu, katakan urusanmu datang mencariku ke sini. Apa kau terluka di suatu tempat saat berperang tadi? Atau kau merasakan sesuatu setelah berperang? Katakan saja padaku, terkadang seorang dokter memang memerlukan bantuan orang lain untuk memerika kondisi dirinya karena sulit melakukannya seorang diri," ujar Yura


"Aku baik-baik saja. Yura, apa kau masih ingat yang dengan apa yang kukatakan sebelum kita pergi ke medan perang?-" Arvan yang menggantungkan perkataannya karena sibuk untuk memberanikan diri membuat Yura langsung menyela perkataannya.


"Maaf, tapi kau sedang membicarakan hal apa dan yang mana?" tanya Yura


"Apa Yura benar-benar tidak ingat?" batin Arvan


"Soal aku ingin membicarakan dan memberikan sesuatu padamu setelah perang ini berakhir. Aku memang tidak bisa memberikan sesuatu itu lansung padamu sekarang, tapi aku ingin langsung membicarakan sesuatu padamu. Aku merasa tidak bisa menundanya lagi karena akan butuh waktu lama jika menunggu hingga perang ini berakhir," jelas Arvan


"Sepertinya kau benar saat mengatakan bahwa aku keliru dengan perasaanku sendiri. Aku akui mulai saat aku mengira Yuna adalah kau yang menyelamatkan aku dulu, aku memang menyukainya. Tapi, Yura, itu semua berubah saat kau muncul dan aku tahu kalau adalah saudari kembar Yuna. Saat aku mulai sadar kalau bukan Yuna yang menyelamatkan aku, melainkan dirimu, saat itu pun aku sadar bahwa sebenarnya kau telah mengambil alih semua perasaanku, perhatianku, dan duniaku," ucap Arvan


"Semua itu tertuju padamu dan kau telah mencuri hatiku. Seolah semuanya dipenuhi oleh dirimu. Aku benar-benar menyukaimu, bahkan aku sangat mencintaimu dan semuanya hanya tentang dirimu. Aku sudah memikirkan semua itu dan aku hanya ingin menyatakan dengan jujur tentang perasaanku padamu dan kali ini aku sangat yakin kalau aku tidak lagi keliru," sambung Arvan


Yura tampak enggan mendengar apa yang sedang Arvan bicarakan dengannya. Meski begitu, Yura tetap berusaha mendengar sampai akhir dengan tenang. Hingga Arvan selesai bicara, Yura justru tampak bingung harus memberi respon seperti apa terhadap lelaki yang sudah menyatakan perasaan padanya.


"Arvan, kau sungguh membuatku merasa bingung. Sebenarnya aku tidak membencimu dan aku merasa nyaman dengan keberadaanmu. Selama ini aku hanya menganggapmu sebagai rekan dan teman yang baik," ujar Yura


"Namun, aku juga mengakui karena sebelumnya tidak pernah mendapat pernyataan suka atau cinta dari lelaki mana pun aku jadi merasa senang saat mendengar dan mendapat suatu pernyataan seperti ini. Aku jadi merasa seolah aku menjadi begitu istimewa, aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Namun, kurasa hanya sebatas itu," sambung Yura


"Yura, apa kau sungguh tidak punya perasaan apa pun padaku meski hanya sedikit saja? Tolong berikan kesempatan padaku untuk menunjukkan kesetiaanku dan kesungguhanku padamu. Kumohon jadilah kekasihku, ya?" tanya Arvan yang langsung memberanikan diri untuk mengikis jaraknya dengan Yura dan bergerak menggenggam tangan gadis pujaan hatinya.

__ADS_1


"Entahlah, Arvan. Aku tidak mengerti karena tidak pernah merasakan atau mengalami hal seperti ini sebelumnya," jawab Yura


"Aku juga belum pernah menyatakan perasaanku selain hanya pada dirimu. Aku sungguh akan bersikap baik dan tidak akan pernah menyakitimu atau membiarkanmu menangis. Biarkan aku menunjukkan dan membuktikannya padamu bahwa aku tidak pernah main-main dengan perasaanku dan aku sangat mencintaimu dengan selalu mendampingi, bersama, dan berada di dekatmu. Komohon kau jangan menolakku," ucap Arvan


Yura hanya terdiam sambil menatap Arvan dengan penuh kebingungan.


"Bukankah kau merasa nyaman denganku dan tidak membenciku? Mungkin kau hanya tidak menyadari kalau sebenarnya kau juga menyukaiku. Kalau begitu, aku akan membantumu menyadari perasaanmu yang sebenarnya," ujar Arvan


"Jadi, ini seolah kita saling memberi kesempatan. Aku memberi kesempatan padaku untuk membuktikan kesungguhanmu dan kau memberi kesempatan padaku untuk menyadari perasaanku yang sebenarnya. Kalau begitu, baiklah ... " sahut Yura


"Apa ini artinya kau tidak menolak untuk menjadi kekasihku?" tanya Arvan sambil tersenyum.


"Itu ... tunggu dan lihat saja sampai setelah perang ini berakhir," jawab Yura


"Ya, itu sudah cukup. Aku senang. Terima kasih," ucap Arvan yang langsung menarik dan merengkuh tubuh Yura ke dalam pelukannya.


"Setelah perang ini berakhir aku akan memberikan sesuatu padamu sambil menyatakan perasaanku sekali lagi. Aku jamin sampai saat itu perasaanku tidak akan pernah berubah, justru akan semakin bertambah besar dan kuat. Aku juga yakin saat itu kau juga akan menyadari perasaanmu yang sesungguhnya," sambung Arvan yang semakin mengeratkan pelukannya pada Yura hingga lelaki itu bisa menghirup aroma tubuh gadis cantik itu secara langsung.


"Arvan, ini tidak pantas, kita tidak boleh seperti ini. Lepaskan aku," pinta Yura


Meski pun, merasa enggan. Arvan langsung melepas dan menjauhkan dirinya dari Yura sambil tersenyum dengan rasa canggung.


"Maafkan aku. Ini karena kau membuatku merasa senang," kata Arvan


"Sudahlah. Jadi, apa ada yang ingin kau bicarakan lagi selain hal yang barusan?" tanya Yura


"Tidak ada. Kau pasti merasa lelah dan maaf telah mengganggu waktumu. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Istirahatlah dengan baik. Selamat malam dan sampai jumpa," jawab Arvan


"Kau juga, jangan lewatkan waktu istirahatmu dengan begadang semalaman ... " sahut Yura


"Apa hanya aku yang merasa sangat gugup dan senang di saat yang bersamaan? Sepertinya Yura tampak biasa saja," batin Arvan yang beranjak ke luar dari tenda tersebut meninggalkan Yura untuk istirahat.

__ADS_1


Setelah Arvan ke luar dari tendanya, Yura langsung menjatuhkan bok*ngnya di tepi ranjang sambil memegangi dadanya.


"Ada apa denganku? Kenapa aku merasa aneh dengan debaran jantung ini dan sepertinya aku merasa senang," batin Yura sambil tersenyum kecil.


__ADS_2