One & Only

One & Only
74 - Seperti Habis Minum Kopi.


__ADS_3

Saat tiba waktu istirahat makan siang, penjaga yang berjaga di luar penginapan masuk ke dalam penginapan untuk istirahat sejenak dan makan siang. Namun, bukannya langsung mencari sesuatu untuk dimakan, pria itu malah lebih dulu menghampiri meja pemesanan dan menemui rekan kerja pegawai penginapan yang bertugas melayani pemesanan kamar tamu.


"Hei, Nona. Apa kau lihat tamu yang datang berdua tadi?"


"Tamu mana yang kau maksud? Cukup banyak tamu yang datang, aku tidak bisa mengingat semua tamu satu per satu."


"Ituloh, sepasang lelaki dan perempuan. Sepertinya aku cukup yakin kalau yang lelaki adalah Tuan Penasehat Besar. Lalu, kira-kira siapa gadis yang memakai cadar? Apa keduanya adalah sepasang kekasih?"


"Jangan sok tahu dan ikut campur. Dari mana kau tahu kalau itu adalah Tuan Penasehat Besar dan keduanya adalah sepasang kekasih? Memangnya kau sudah pernah lihat secara langsung dengan mata kepalamu sendiri seperti apa Tuan Penasehat Besar itu? Lalu, jangan tanya padaku soal siapa gadis bercadar itu. Kau sendiri tahu dia memakai cadar, jadi aku pun tidak tahu siapa dia. Lagi pula, meski tak memakai cadar pun belum tentu aku mengenalinya."


"Kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga, sih ... setelah bicara denganmu, aku jadi tidak begitu yakin kalau itu adalah Tuan Penasehat Besar. Aku hanya pernah lihat lukisan potret Tuan Penasehat Besar dan belum pernah melihatnya secara langsung dengan mata kepalaku sendiri. Lagi pula, tidak mungkin pesohor seperti Tuan Penasehat Besar malah menginap di penginapan kecil seperti ini. Kalau benar itu adalah Penasehat Besar pasti lebih memilih menginap di penginapan mewah. Mungkin hanya sekadar mirip."


"Ya, pokoknya kau jangan asal bicara. Jangan sampai ucapanmu ini menjadi gosip dan terdengar sampai kedua tamu tadi. Bisa-bisa keduanya merasa tersinggung dan membatalkan penginapannya di sini."


"Ya, baiklah, maaf. Kalau begitu, aku ingin pergi makan siang dulu."


"Ya, cepatlah. Jangan sampai kau kehabisan waktu untuk makan siang."


"Sebenarnya dugaan itu memang benar. Lelaki itu adalah Tuan Penasehat Besar. Namun, jangan sampai pembicaraan ini menjadi gosip tak menyenangkan yang akan mengurungkan niat tamu untuk menginap di sini."


 


Arvan sedang termenung saat duduk di tepi ranjang kamar penginapan. Tuan Penasehat Besar itu masih tidak menyangka bisa mendapat pengalaman tak biasa sekaligus luar biasa seperti kali ini.

__ADS_1


Saat ini Arvan hanya seorang diri karena Yura sedang di dalam kamar mandi yang berada di dalam kamar penginapan tersebut. Dan kini gelagat lelaki itu seperti habis minum kopi segelas besar.


Perasaannya gelisah dan tidak bisa tenang, jantungnya berdebar tak karuan. Rasanya juga persis seperti sedang menunggu pengantin wanita untuk melakukan malam pertama. Hanya karena kali ini berada di dalam kamar yang sama dengan Yura yang sedang berada di dalam kamar mandi.


Namun, Arvan berusaha untuk tetap berpikir jernih dan membuang segala pikiran yang membuat otaknya menjadi keruh bahkan terkesan kotor. Karena meski sejak awal lelaki itu telah bertekad untuk melindungi Yura, tidak dapat dipungkiri bahwa dirinya juga merupakan lelaki biasa yang sangat normal.


"Apa yang harus kulakukan sekarang? Seharusnya aku bersikap biasa saja, tapi kenapa jadi merasa gelisah dan tidak bisa tenang seperti ini? Tidak, kalau terus seperti ini jadinya, aku ke luar saja dari sini ... " batin Arvan


Baru saja hendak bangkit berdiri, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka di dalam kamar penginapan tersebut. Hal itu membuat Arvan kembali terpaku di tempat dan tak dapat bergerak.


Tubuh Arvan menjadi kaku dan saat Yura kembali menampakkan dirinya seolah memenuhi kamar tersebut dengan keberadaannya, pandangan mata Arvan langsung tertuju pada gadis tersebut dengan teramat fokus.


"Hei, Arvan. Ada apa denganmu? Apa yang sedang kau lihat sampai seperti itu?" tanya Yura


"Tidak ada apa-apa. Namun, apa kau tidak merasa gerah? Apa hanya aku yang merasakan hawa panas di kamar ini?" tanya balik Arvan yang berusaha mengalihkan topik pembicaraan dan fokusnya terhadap Yura ke sesuatu yang lain.


"Bukannya aku tidak ingin ke luar, tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa bergerak begitu mendengar suara pintu kamar mandi yang kau buka," batin Arvan


Yura membalikkan badan dan melihat ke arah Arvan yang sedang memegang selembar kertas di tangannya.


"Apa yang sedang kau pegang itu? Coba perlihatkan padaku," pinta Yura


"Kalau kau mau lihat, silakan saja ... " kata Arvan yang langsung menyerahkan selembar kertas yang berada di tangannya pada Yura.

__ADS_1


"Bukankah ini adalah lembaran kertas undangan yang diberikan oleh pegawai toko senjata tadi? Ini adalah kertas, kenapa kau memegangnya sekuat itu? Kau bisa merusaknya. Bahkan jangan sampai kertas ini tertekuk. Ini adalah tiket kita untuk bisa menemukan informasi dan petunjuk soal insiden penari kipas saat itu. Meski pun terlihat remeh, benda ini sangat penting ... " ujar Yura usai mengambil alih lembaran kertas yang sebelumnya Arvan pegang.


"Maafkan aku, Yura. Aku hanya melakukannya tanpa sadar," sahut Arvan


"Mulai sekarang aku yang akan menyimpan lembar kertas undangan ini," kata Yura


"Baiklah, terserah kau saja ... " pasrah Arvan


Meski begitu, Yura tidak lsngsung menyimpan lembaran kertas undangan di suatu tempat. Melainkan menggunakan kesempatan kali ini untuk membacanya dengan seksama karena sejak awal lembaran kertas undangan itu diberikan oleh pegawai toko senjata, Arvan-lah yang terus membawa lembaran kertas undangan itu bersamanya.


"Untunglah aku membaca lembaran kertas undangan ini, rupanya kita harus hadir dengan menyesuaikan kode busana dengan acara malam nanti," ucap Yura


"Benar. Aku juga sudah membaca sebelumnya, kita harus memakai jubah dan topeng. Mungkin temanya adalah pesta topeng," ujar Arvan


"Kalau kau sudah tahu, kenapa kau tidak langsung beri tahu padaku?" tanya Yura


"Aku juga baru membacanya saat kau berada di dalam kamar mandi," jawab Arvan


"Begitu, rupanya ... " kata Yura


"Namun, bisa-bisanya mereka mengatas-namakan acara penyebaran informasi dan senjata ilegal menjadi acara pelelangan bahkan sampai membuatnya terkesan seperti acara pesta topeng. Benar-benar tak dapat dipercaya," ucap Arvan


"Tentu saja, karena meski acaranya dibuat tertutup di dalam suatu toko pada malam hari, cara yang digunakan untuk menjadi dalih seperti ini tetap diperlukan untuk mempertahankan kesan baik dan bersih dari suatu tempat usaha," ujar Yura

__ADS_1


"Kau benar juga. Lalu, apa rencana kita selanjutnya? Bukankah katanya, kau ingin membahas tentang rencana selanjutnya saat kita ada di penginapan?" tanya Arvan


"Aku memang mengatakan seperti itu sebelumnya, tapi aku tidak punya rencana apa pun. Karena bagaimana pun juga, tidak punya strategi adalah strategiku. Aku juga sudah pernah mengatakan tentamg ini padamu sebelumnya," jelas Yura


__ADS_2