One & Only

One & Only
24 - Fokus Berlatih dan Dilatih.


__ADS_3

Yura terlebih dulu membantu Arsha untuk naik dan duduk di atas punggung kuda.


"Aku merasa sangat terhormat bisa menunggang kuda bersamamu seperti ini, Arsha. Apa posisi dudukmu sudah nyaman?" tanya Yura


"Hmm ... saat aku sudah besar nanti, aku yang akan membantu Bibi Yura untuk naik dan duduk di atas punggung kuda. Tentu saja dengan aku yang mengendalikan kudanya," kata Arsha


"Itu adalah suatu kehormatan bagiku. Namun, untuk kali ini biar Bibi yang melakukannya dengan baik," sahut Yura


Yura pun naik dan duduk di atas punggung kuda di belakang Arsha.


Ratu yang duduk di belakang Raja di atas kuda yang sama menatap ke arah putranya yang sedang bersama adik kembarnya.


"Baginda Raja, bukankah ini tidak benar?" tanya Ratu


"Apa yang mengganggu pikiranmu, Ratu-ku?" tanya balik Raja


"Harusnya Arsha naik kuda bertiga dengan kita dan harusnya kita tidak mengganggu acara kebersamaan Yura dan Arvan. Kalau kita tidak ada di sini mungkin Yura sedang menaiki kuda yang sama dengan Arvan," jelas Ratu


"Biarkan saja. Lagi pula, Arvan sendiri yang menawarkan kita untuk ikut dan Yura juga bilang tidak masalah jika kita ikut. Bahkan Yura sendiri yang mengajak Arsha untuk naik kuda bersamanya. Biar pun kita tidak ada di sini, Yura dan Arvan tidak akan langsung menaiki kuda yang sama berdua karena mereka masih dalam tahap pendekatan," ucap Raja


"Setidaknya kita jangan mengganggu rencana yang mereka berdua buat bersama. Padahal sebelumnya Anda dan Arsha masih merasa penasaran dengan seperti apa hubungan antara Yura dan Arvan, tapi sekarang malah mengganggu pendekatan mereka berdua," ujar Ratu


"Sudahlah, Yuna ... lebih baik sekarang kita nikmati saja waktu bersama mereka kali ini," kata Raja


Kuda yang ditunggangi oleh Raja bersama Ratu pun diarahkan untuk berjalan mendekati kuda yang ditunggangi oleh Arsha dan Yura.


"Kali ini adalah waktu kita untuk bersantai dan bermain. Abaikan formalitas untuk saat ini. Yura, kau bisa memanggil Ratu dengan pangilan Kakak dan memanggilku dengan sebutan Kakak ipar. Lalu, Arvan, kita sudah lama berteman ... kau bebas memanggilku dengan nama," ucap Raja


Yura dan Arvan pun mengangguk secara bersamaan.


"Yura, tolong jaga Arsha. Jangan sampai dia terjatuh," pinta Ratu


"Baik. Kak Yuna, tenang saja. Ada aku bersamanya, Arsha tidak akan terjatuh atau pun terluka," kata Yura


"Sebenarnya kenapa kalian berdua sampai merencanakan untuk menunggang kuda bersama?" tanya Raja


"Yura sedang merasa kesal. Katanya, ini adalah cara pelampiasan yang bagus dan menyenangkan untuk menghibur diri. Jadi, aku ikut untuk menemaninya," jelas Arvan


Saat itu Yura langsung mendelik ke arah Arvan. Dari tatapan matanya yang tajam, Yura seolah berkata, "harusnya kau tidak perlu mengatakan apa-apa. Aku tidak ingin sampai membuat Kak Yuna merasa khawatir." Dengan tatapan biasa dan wajah datarnya, Arvan seolah balas berkata, "aku sengaja mengatakannya karena setidaknya Kakakmu berhak tahu apa yang terjadi pada adiknya."


Yura pun menghela nafas kesal.


"Memangnya ada masalah apa sampai Bibi Yura harus melakukan pelampiasan yang nenghibur diri untuk menghilangkan rasa kesal?" tanya Arsha


"Apa ada sesuatu yang telah terjadi sebelumnya?" tanya Ratu


"Itu bukan apa-apa. Hanya masalah kecil yang sudah teratasi dengan baik," jawab Yura


"Apa kau tidak mau memberi tahu dan memilih untuk terus menutupi masalah?" tanya Ratu


"Bukan seperti itu, Kak. Masalahnya juga sudah selesai, jadi untuk apa dibahas lagi? Aku bukan mau menutupi masalah kok," jawab Yura


Akhirnya Yura memilih untuk mengendalikan kuda lebih cepat.


"Arsha, bagaimana kalau kita mengajak kuda ini untuk berlari lebih cepat lagi? Apa kau mau merasakannya?" tanya Yura


"Pasti akan terasa sangat menyenangkan. Tunggu apa lagi, Bibi? Ayo, suruh kuda ini berlari lebih cepat lagi ... " ujar Arsha


"Baiklah. Kalau begitu, kau harus berpegangan dengan kuat dulu," kata Yura


Arsha pun langsung berpegangan dengan bagian depan pelana kuda.


"Apa kau sudah siap, Arsha?" tanya Yura


"Aku sudah siap, Bibi Yura ... " jawab Arsha


"Baiklah, mari kita mulai petualangannya!" seru Yura


Yura pun mengguncang tali kendali kudanya dengan kuat untuk mulai memacu kudanya untuk berlari dengan cepat. Arsha tampak merasa gembira saat bisa berpacu menunggang kuda bersama Yura.

__ADS_1


"Arsha, terlihat sangat senang. Sepertinya dia sangat menyukai Yura," ucap Ratu


"Apa kau merasa cemburu melihat kedekatan anak kita dengan adikmu, Yuna?" tanya Raja


"Tidak sama sekali. Seperti ini justru bagus karena awalnya aku sempat bingung harus melakukan apa agar anak kita bisa akrab dengan bibinya, tapi ternyata tanpa aku harus bertindak, anak kita sudah cepat akrab dengan bibinya. Yura sangat pandai membuat orang tertarik pada dirinya," ungkap Ratu


"Sepertinya memang benar begitu, buktinya saja Arvan juga tertarik pada Yura terbukti dengan saat ini lelaki itu terus mengikuti Yura dengan kudanya. Tentu saja, meski wajah Yura mirip denganmu, aku hanya akan mencintaimu, Yuna-ku sayang ... " ujar Raja


"Aku tahu itu dan aku juga hanya mencintaimu seorang, Kak Evan," ucap Ratu


"Apa kita juga harus ikut mengejar mereka dan mulai berlomba memacu kuda?" tanya Raja


"Tidak perlu, biarkan saja mereka bermain dengan senang ... " jawab Ratu


"Ya, seperti ini juga bagus. Hanya ada kita berdua di sini," kata Raja


Ratu pun mengeratkan pelukan pada pinggang Raja dan mulai menyandarkan kepalanya pada punggung Raja yang mampu membuatnya merasa tenang dan damai. Meski tidak berhenti atau berlari cepat, Raja mengendalikan kudanya agar berjalan dengan santai. Pasangan suami istri itu pun saling merasa bahagia bisa menghabiskan waktu bersama. Benar-benar tidak buruk.


"Padahal sebelumnya kau yang tidak ingin mengganggu Yura dan Arvan, tapi kau masih meminta Yura untuk menjaga Arsha," ujar Raja


"Itu karena Arsha tetap anak kita dan sudah terlanjur ikut dengan Yura, aku yang tidak mau hal buruk terjadi pada Arsha tentu saja harus berpesan pada Yura untuk menjaga Arsha. Padahal akan lebih baik kalau kita yang menjaga anak agar bisa memastikan keamanannya secara langsung tanpa harus mengganggu dua orang yang sedang melakukan pendekatan. Sama seperti perkataanku tadi," ucap Ratu


Arsha tak henti-hentinya tertawa senang saat Yura membawanya memacu kuda bersama.


"Ayah, Ibu, ayo kejar aku!" teriak Arsha yang hanya sia-sia karena kuda milik Yura sudah berlari terlalu jauh meninggalkan kuda yang ditunggangi Raja dan Ratu di belakang.


"Arsha, sepertinya ayah dan ibumu tidak akan mendengar karena kita sudah berlari terlalu jauh," ucap Yura


"Kalau begitu, ayo kita berlomba dengan Paman Arvan saja. Wah ... Paman Arvan mengejar kita dengan cepat, Bibi!" seru Arsha saat melihat posisi kuda milik Arvan yang berlari sejajar dengan kuda milik Yura setelah berusaha mengejar.


"Ingin berlomba denganku? Baiklah, mari kita mulai lombanya dari sekarang!" pekik Arvan


Arvan pun memacu kudanya lebih cepat dan mendahului laju kuda yang ditunggangi kuda yang ditunggangi oleh Yura dan Arsha.


"Hei, Arvan ... tunggu dulu! Kau jangan curang!" seru Yura


"Tidak ada yang curang di sini karena kuda kita sama-sama sudah berlari sejak awal," ucap Arvan


"Arsha, pegangan yang erat ... " kata Yura


"Baik," patuh Arsha yang langsung mengeratkan pegangannya.


Perlombaan pun terus berlangsung antara kuda yang ditunggangi Yura bersama Arsha dengan kuda yang ditunggangi Arvan. Keduanya saling mendahului. Namun, pada akhirnya yang memenangkan lomba adalah kuda milik Arvan.


Hingga akhirnya kedua kuda pun diberhentikan setelah perlombaan usai.


"Kalau mau, harusnya kita berhenti untuk memulai ulang lombanya dari awal ... " ujar Yura


"Kau saja yang tidak bisa mengejar atau mendahuluiku padahal awalnya akulah yang berada di belakangmu," kata Arvan


"Aku harus memacu kuda dengan hati-hati karena sedang bersama Arsha, tapi lain kali kamilah yang akan menang," ucap Yura


"Benar. Lain kali tidak perlu khawatir denganku dan pacu saja kudanya lebih cepat dari pada yang barusan, Bibi," ujar Arsha


"Baiklah. Sekarang, apa kau merasa lelah, Arsha?" tanya Yura


"Tidak kok. Bibi, maukah kau mengajariku cara berkuda?" tanya balik Arsha meminta.


"Baiklah, tapi kita kembali dulu supaya ibu dan ayahmu tidak merasa khawatir," jawab Yura


Yura pun mengendalikan kuda yang ditungganginya bersama Arsha untuk kembali ke posisi awal, diikuti oleh Arvan yang mengendalikan kudanya sejajar dengan milik Yura. Keduanya mengendalikan kuda dengan santai tanpa memacunya dengan cepat.


"Apa kalian sudah cukup bersenang-senang?" tanya Raja


"Maaf, karena sudah neninggalkan kalian berdua, Kak Yuna, Kakak ipar ... " kata Yura


"Hei, bukan itu yang kutanyakan. Kenapa kau menjawabnya lain? Apa kau merasa senang, Arsha?" tanya Raja yang beralih bicara dengan putranya.


"Ya, Ayah. Aku pernah mendengar tentang Vila Kerajaan ini sebelumnya, ternyata memang sangat menyenangkan berlibur di sini," jawab Arsha

__ADS_1


"Jadi, kau menyukai tempat ini? Lalu, siapa yang menang tadi? Sepertinya kalian berlomba tadi, kan?" tanya Ratu


"Benar dan sayangnya kami dikalahkan oleh Paman Arvan tadi," jawab Arsha


"Tapi, lain kali kami tidak akan kalah lagi," kata Yura


"Apa kalian juga menikmati waktu kali ini seperti Arsha, Yura, Arvan?" tanya Raja


"Ya, aku juga suka tempat ini dan tidak menyangka kalau di sini juga ada tempat untuk berkuda. Tempat yang bagus dan menyenangkan," jawab Yura


"Ya, yang tadi itu benar-benar terasa menyenangkan," ungkap Arvan


"Ayo, Arsha ... kita turun dulu," kata Yura setelah lebih dulu turun dari atas punggung kuda.


"Kenapa harus turun, Bibi? Bukankah, katanya kau mau mengajariku cara berkuda?" tanya Arsha


"Baiklah, Bibi akan langsung mengajarimu sekarang. Bibi kira kau ingin istirahat lebih dulu," kata Yura


"Tidak, aku ingin belajar berkuda sekarang ... " sahut Arsha


Setelah itu, Yura benar-benar menepati perkataannya untuk mengajari cara berkuda pada Arsha.


Tanpa harus kembali naik ke atas punggung kuda, Yura terus mendampingi Arsha agar tidak terjatuh sambil mengajarinya cara berkuda dengan baik. Untuk memulai latihan, Yura membawa kuda miliknya yang masih ditunggangi oleh Arsha ke tempat yang lebih sesuai dan leluasa untuk berlatih berkuda. Kali ini benar-benar hanya berdua, Yura dan Arsha. Karena seperti itulah permintaan Arsha agar bisa lebih fokus berlatih dan dilatih cara menunggang kuda.


"Pertama, kau harus memastikan kalau posisi dudukmu sudah benar. Pastikan posisi dudukmu sudah nyaman dan peganglah tali kendali kudanya dengan kuat dan erat. Jangan sampai saat kau mulai mengendalikan kudanya, kau malah terjatuh karena posisi dudukmu tidak nyaman dan kau tidak memegang tali kuda dengan benar," ucap Yura


"Aku mengerti, Bibi ... " kata Arsha


"Mengendalikan kecepatan kuda adalah hal yang penting. Sekarang kau mulai dari menjalankan kudanya dengan pelan dulu. Caranya goyangkan tali kudanya dengan pelan. Cobalah praktekkan secara langsung," ujar Yura


"Baiklah," sahut Arsha yang langsung memraktekkan apa yang diajarkan oleh Yura.


Saat kuda yang ditunggangi oleh Arsha mulai berjalan, Yura mengikutinya dari samping.


"Bibi Yura, aku bisa melakukannya!" seru Arsha


"Benar seperti itu. Bagus, Arsha. Pertahankan kecepatannya dan jangan takut. Kau harus tetap tenang, lalu cobalah percepat jalan kudanya. Goyangkan tali kendalinya sedikit lebih kuat dari yang pertama kau lakukan tadi," ucap Yura


Arsha pun mengikuti arahan Yura untuk mempercepat sedikit laju kudanya. Yura pun terus mengikuti sambil berlari.


"Sekarang coba arahkan kudanya untuk berbelok. Tarik tali kendali kudanya ke kiri kalau kau ingin berbelok ke kiri, begitu juga sebaliknya ... " ujar Yura


"Bagus sekali, Arsha. Sekarang coba hentikan kudanya. Dengarkan Bibi baik-baik, untuk melakukan ini kau harus melakukannya dengan benar. Gunakan kedua tanganmu untuk menarik tali kendali kuda secara perlahan, namun dengan tenaga. Kalau kau melakukannya dengan kuat atau mendadak, kudanya bisa terkejut dan kau mungkin akan jatuh," sambung Yura saat Arsha berhasil melakukan belokan saat praktek menunggang kuda.


Saat Arsha mencoba melakukan seperti yang Yura ajarkan, kuda mulai memperlambat lajunya hingga akhirnya berhenti di tempat.


Yura pun dengan cepat menghampiri Arsha yang masih berada di atas kuda.


"Kau melakukannya dengan sangat baik, Arsha. Kau langsung bisa melakukan prakteknya saat pertama kali mencoba. Hebat sekali," puji Yura


"Terima kasih, Bibi. Ini karena kau yang mengajariku dengan baik," ucap Arsha


"Sekarang bagaimana perasaanmu setelah mencoba praktek menunggang kuda seorang diri?" tanya Yura


"Rasanya menyenangkan sekaligus mendebarkan," ungkap Arsha


"Itu artinya kau sudah lelah. Kalau begitu, ayo kita kembali ke tempat awal," ujar Yura yang lalu kembali naik dan duduk di atas punggung kuda, di belakang Arsha.


"Karena tadi kau sudah melakukannya dengan baik, sekarang coba kau saja yang mengendalikan kudanya untuk kembali ke tempat awal. Bibi hanya akan duduk diam di belakangmu. Kau pasti bisa karena kita hanya perlu berjalan lurus ke depan," sambung Yura


"Baik, Bibi. Aku akan melakukannya sekali lagi," kata Arsha


Kali ini Yura membiarkan Arsha yang mengendalikan kuda miliknya untuk kembali.


"Arsha, sebenarnya Bibi merasa sedikit lelah karena tadi mengikutimu sambil berjalan dan juga berlari dari belakang. Sekarang, bolehkah Bibi memelukmu?" tanya Yura


"Baiklah, Bibi. Karena kau bukan orang lain, kau boleh memelukku ... " jawab Arsha


Merasa lelah hanya sebagai dalih, Sebenarnya Yura menggunakan kesempatan ini untuk menjaga Arsha yang kini sedang membawanya sambil menunggang dan mengendalikan kuda. Yura khawatir setelah berlatih, Arsha akan merasa lelah hingga membuat posisi duduknya di atas kuda menjadi goyah. Yura memastikan agar Arsha tidak terjatuh. Namun, dari pada memeluk lelaki kecil itu, sebenarnya Yura hanya sedikit merangkul bagian pinggangnya.

__ADS_1


__ADS_2