One & Only

One & Only
137 - Bertemu Dengan Pangeran Kedua.


__ADS_3

Melengking suara tangis bayi pun terdengar. Bayi mungil kini berada dalam dekapan Yura yang menggendongnya setelah membantu proses persalinan.


"Selamat, bayinya berjenis kelamin perempuan. Cantik dan sehat," ucap Yura sambil tersenyum dengan wajah yang berpeluh sama seperti saudari kembarnya yang baru saja melahirkan.


Setelah membawa Ratu ke kediaman utama dan membaringkan di atas ranjang besar, Yura memang sempat izin untuk beranjak membersihkan diri. Begitu kembali setelah 15 menit, Yura pun menemani Ratu selama proses pembukaan jalan lahir hingga akhirnya gadis itu juga yang membantu saudari kembarnya dalam proses melahirkan anak ketiga.


Beberapa dokter dan tenaga medis Kerajaan memang sudah dikumpulkan di dalam ruangan, namun tetap Yura-lah yang lebih banyak menangani segala proses dengan bantuan arahan hingga bayi perempuan berhasil lahir ke dunia.


"Bayinya akan dibersihkan lebih dulu sebelum mengonsumsi ASI pertamanya," kata Yura


"Biar kami saja yang membersihkan bayinya."


"Berhati-hatilah. Dia adalah Tuan Putri Negeri ini," pesan Yura


"Kami mengerti, Nona."


Yura pun menyerahkan bayi mungil yang baru saja lahir itu pada tenaga medis yang ada.


"Yura, terima kasih sudah bersedia membantuku hingga berhasil melahirkan dengan selamat," ucap Ratu


"Tidak masalah, Kak. Aku memang sangat ingin melakukannya dan ini adalah pengalaman yang sangat berharga bagiku," kata Yura


"Kau pasti merasa lelah setelah berjuang untuk melahirkan. Kau minumlah air dulu supaya bisa merasa tenang dan lega. Apa kau juga merasa lapar? Katakan apa yang ingin kau makan, agar seseorang bisa mennyiapkannya untukmu," sambung Yura sambil memberikan segelas air minum pada Ratu.


"Aku hanya ingin segera memberikan minum juga untuk bayiku," sahut Ratu


Raja yang sedari tadi menemani dan berada di samping Ratu pun membantu agar Ratu bisa menegak air minum lebih mudah.


Tangan Raja yang sedari tadi memucat karena terus dicengkram kuat oleh Ratu selama proses persalinan akhirnya kembali memerah menandakan peredaran darahnya mulai kembali normal.


"Tenang saja, Kak. Kau akan segera bertemu dengan bayimu lagi. Tidak butuh waktu lama saat membersihkan bayi," kata Yura


"Kau benar. Namun, kau jadi tidak bisa istirahat karena tertahan di sini. Padahal masih ada pesta yang menantimu nanti malam," ujar Ratu

__ADS_1


"Aku bisa istirahat sebentar lagi, lagi pula aku sudah lebih dulu istirahat selama perjalanan kembali ke sini sebelumnya, lalu aku merasa tidak harus hadir dalam pesta malam ini. Sebaliknya aku merasa senang bisa menemanimu, apa lagi juga bisa melihat dan bertemu dengan keponakan perempuanku yang baru saja lahir. Dia tampak cantik seperti Ibu-nya," ucap Yura


"Itu berarti bayiku juga akan mirip denganmu karena kau adalah saudari kembar yang sangat mirip denganku dan juga Bibi-nya," kata Ratu


"Aku merasa sangat senang mendengarnya," sahut Yura


Yura sampai meneteskan air mata haru karena merasa bahagia. Gadis yang bahkan tidak menitikkan air mata saat terhunus pedang atau saat hampir kehilangan indera penglihatannya justru menangis di saat seperti ini. Sungguh sosok yang sulit ditebak.


"Kau akan merasa lebih senang jika punya anak yang kau lahirkan sendiri dan lebih mirip denganmu. Karena itu cepatlah menikah dan miliki anak dengan suamimu," ucap Raja


Yura yang dituntut untuk segera menikah, namun justru Arvan yang tampak salah tingkah. Lelaki yang juga berada di ruangan tersebut untuk memantau proses persalinan sebagai Dokter Utama Kerajaan itu tampak bersemu merah pada pipi dan wajahnya. Entah apa yang berada di dalam pikirannya saat ini.


"Aku akan pergi untuk mengawasi tenaga medis yang sedang membersihkan Tuan Putri," kata Arvan yang kemudian beranjak pergi dari sana.


"Apa-apaan Arvan itu? Dia sedang berusaha melarikan diri dari tugasnya," ujar Raja


"Kenapa disebut melarikan diri dari tugas? Mengawasi tenaga medis juga merupakan tanggung jawab Arvan," sahut Yura


Raja menghela nafas karena adik iparnya yang tidak mengerti dan tidak peka dengan isyarat dan kode yang telah diucapkan olehnya. Padahal yang maksud Raja adalah cepatlah menikah dan punya anak untuk Yura dan Arvan. Saat Raja berkata Arvan melarikan diri dari tugasnya juga maksudnya adalah tugas melamar untuk menikahi Yura.


Setelah menunggu, akhirnya si bayi mungil kembali usai dibersihkan dan dipakaikan pakaian bayi. Tenaga medis yang membawanya pun menyerahkan bayi perempuan itu pada Ratu agar bisa mendapatkan ASI (Air Susu Ibu) pertama dari Ratu sebagai ibu kandungnya.


"Apa Kak Yuna dan Kakak ipar sudah menyiapkan nama untuk anak ketiga kalian?" tanya Yura


"Kami berdua sudah memikirkannya, tapi kami masih ingin mempertimbangkannya lagi sebelum benar-benar memberi nama yang cocok untuk bayi kami," jawab Ratu


"Anak kita benar-benar cantik dan sehat, Yuna. Terima kasih sudah membantu proses persalinan kali ini, Yura," ucap Raja


"Tidak masalah, Kakak ipar. Namun, aku tidak akan minta maaf atas sikapku sebelumnya karena aku tidak merasa menyesal sama sekali meski pun telah mengeraskan suaraku pada Anda dengan tidak sopan mengingat situasi genting yang terjadi tadi," ujar Yura


"Aku tidak akan mempermasalahkannya karena terkadang aku memang perlu disadarkan sesekali. Sebenarnya tadi aku merasa sangat panik, mungkin tidak akan benar jika aku yang menggendong Yuna tadi. Aku jadi sadar kalau kau gadis yang sangat kuat dan hebat," kata Raja


Tak lama setelah itu, ada pelayan Ratu yang masuk ke dalam ruangan tersebut sambil menggendong anak kedua Raja dan Ratu yang masih berusia sekitar 1 tahun.

__ADS_1


"Salam dan hormat pada Baginda Raja dan Yang Mulia Ratu. Saya datang bersama Pangeran Kedua."


"Rupanya, yang kedua adalah seorang pangeran. Berarti yang baru lahir hari ini adalah Putri Mahkota," ujar Yura


"Ini adalah pertama kalinya kau bertemu dengan Pangeran Kedua," kata Ratu


"Itu benar. Serahkan Pangeran Kedua padaku saja. Omong-omong, siapa nama Pangeran Kedua ini?" tanya Yura yang langsung mengambil alih Pangeran Kedua dari tangan pelayan Ratu ke dalam gendongannya.


"Namanya adalah Arkan Arsalan," jawab Ratu


"Yang artinya lelaki berhati terang dan pemberani," sahut Raja


"Wajahnya tampan. Sepertinya dia mirip dengan Arsha saat masih kecil," ujar Yura


"Kedua anak lelakiku tentu saja mirip denganku," kata Raja


"Itu sudah pasti. Omong-omong, bagaimana kabar Arsha?" tanya Yura


"Beberapa kali hari libur dia pulang dan selalu mencari keberadaanmu hingga akhirnya dia selalu menanyakan kabar tentangmu setelah dia tahu kalau kau ikut pergi berperang. Sepertinya dia sangat rindu padamu," jelas Ratu


"Sama seperti aku merindukannya dan kalian semua juga," kata Yura


"Yura, lebih baik kau istirahat dulu karena sebentar lagi malam acara pesta akan tiba. Itu adalah acara untuk menyambut kepulanganmu dan yang lain, setidaknya hadirlah meski pun sebentar hanya untuk menunjukkan wajahmu," ucap Ratu


"Sepertinya kau memang harus datang, Adik ipar. Ratu tidak bisa menemaniku menjadi pemimpin pesta, setidaknya ada kau yang seorang perempuan di sana. Kalau tidak pasti sangat membosankan jika pesta hanya diisi oleh para lelaki prajurit itu," ujar Raja


"Kau bisa menyerahkan Arkan pada pelayan lagi," kata Ratu


"Baiklah, kalau memang harus seperti itu. Kita bisa bertemu lagi besok, aku akan menemuimu dan keponakanku lagi. Arkan, jangan ganggu Ibunda, ya. Ibunda sedang bersama adik bayi kecil. Menurutlah dengan Ayahanda, Ibunda, dan juga Bibi pelayan," ucap Yura


Dengan sikap patuhnya, Arkan yang baru berusia sekitar 1 tahun pun mengangguk kecil. Yura pun kembali menyerahkan Arkan pada pelayan Ratu.


"Istirahatlah dengan baik, Nona Yura. Agar bisa tampil cantik di pesta malam nanti."

__ADS_1


"Baiklah," sahut Yura sambil terkekeh kecil menyahuti perkataan pelayan Ratu yang memang sudah dekat dengan dirinya.


Setelah itu, Yura pun beranjak pergi untuk beristirahat sebelum waktunya menghadiri acara pesta yang diadakan malam ini.


__ADS_2