
Yura langsung menghela nafasnya setelah satu-satunya lawan yang tersisa pergi dengan cepat. Saat itu, Yasha, Arvan, dan beberapa prajurit lainnya langsung menghampiri Yura.
"Tenanglah, aku masih baik-baik saja. Dari pada itu, lawanku yang ada di sini masih hidup dan hanya terluka parah. Aku menyerang tanpa berniat ingin membunuh mereka. Siapa pun itu tolong obati mereka seadanya, lalu tahan mereka sebagai tawanan perang. Sementara itu kuda mereka yang dibiarkan begitu saja bisa jadi harta rampasan perang atau digunakan untuk jadi kuda perang untuk pasukan kita," ucap Yura
"Bisa-bisanya kau memikirkan hal lain di saat yang tidak tepat seperti ini? Bagaimana kau bisa baik-baik saja kalau kau bahkan tidak bisa membuka kedua matamu itu? Jangan pikirkan hal lain lagi, kita harus segera mengobati kedua matamu dulu. Hanya itu yang paling penting," ujar Yasha
"Harusnya kau berhenti bertarung saat wajahmu dilempari tanah berpasir sampai mengenai matamu, Yura. Kalau seperti ini, matamu bisa infeksi karena tidak langsung segera diobati. Kau sudah terlalu memaksakan dirimu," kata Arvan
"Selain seorang perempuan, aku juga seorang prajurit meski pun belum lama bergabung dalam pasukan. Aku tidak mungkin diam saja saat ada pasukan musuh yang datang hanya untuk meremehkan keluarga, pasukan, bahkan negara kita sendiri. Aku juga tidak bisa berhenti atau menyerah begitu saja saat berada di tengah-tengah pertarungan. Yang ada mereka hanya akan semakin meremehkan kita dan bertindak semena-mena jika kita diam saja. Itu tidak bisa dibiarkan terjadi begitu saja," ucap Yura
"Nona Wakil Ketua sudah membuktikan kemampuan milik Anda yang sangat hebat dengan melindungi kami semua yang ada di sini seorang diri. Tidak perlu khawatirkan apa pun lagi, obati saja kedua matamu dulu. Kami yang akan mengurus musuh yang terluka parah di sini, tenang saja."
"Ya, baiklah. Aku jadi merasa harus setelah bertarung tadi. Kak Yasha, apa kau bisa pegangi tanganku dan bantu aku berjalan? Aku ingin istirahat di dalam tenda," ujar Yura meminta.
"Biar aku saja," kata Arvan yang langsung mengambil alih tangan Yura untuk dilingkarkan pada lehernya dan bergerak menggendong tubuh gadis itu ala bridal style.
Arvan pun membawa dan menggendong Yura dalam pelukannya untuk beranjak masuk ke dalam tenda agar bisa beristirahat dan diobati secepat mungkin. Saat itu sebagai seorang kakak, Yasha mengikuti keduanya karena merasa sangat khawatir dengan kondisi adik bungsunya.
"Apa-apaan ini? Kau, Arvan ... cepat turunkan aku. Aku bisa jalan sendiri. Yang bermasalah hanya kedua mataku, kedua kakiku masih baik-baik saja dan sangat sehat," protes Yura
"Sudah tahu kedua matamu jadi bermasalah, lalu kau mau apa? Berjalan memang menggunakan kaki, tapi tetap butuh mata untuk melihat ke arah jalan di depan. Lebih baik seperti ini karena bisa menghemat banyak waktu dan lebih cepat," ujar Arvan
"Kau bisa tinggal menuntunku berjalan saja, tidak perlu seperti ini. Jadi, cepat turunkan aku ... " kata Yura
"Kau diam saja atau aku akan mencium bibirmu supaya mulutmu terbungkam," sahut Arvan
"Kau tidak akan berani. Kalau kau macam-macam, maka aku akan mencekik lehermu ... " ujar Yura
"Kau juga tidak akan berani. Jadi, diamlah dengan patuh dan jangan protes lagi," kata Arvan
__ADS_1
"Kak Yasha, sudah cukup jalan-jalannya dan istirahat saja!" teriak Yura secara sembarangan untuk melampiaskan rasa kesalnya terhadap Arvan.
"Aku memang sudah selesai berjalan-jalan dan akan istirahat bersamamu. Aku ada di sampingmu dan Arvan, jadi jangan berteriak-teriak. Sudah cukup jika memang kedua matamu jadi bermasalah, tapi kau jangan sampai membuat kedua telingaku dan Arvan jadi bermasalah juga karena suara tinggimu itu," ucap Yasha
"Biar saja. Aku memang sengaja ingin berteriak semauku," kata Yura yang tidak tahu kalau Yasha berada di dekatnya karena kedua matanya yang terus terpejam.
"Jadi, Kak Yasha memang sudah ada di dekatku? Berarti dia mendengar saat Arvan mengancam akan menciumku? Ini semua karena Arvan bicara secara sembarangan. Ya ampun, sungguh memalukan," batin Yura
Yura pun mencengkram pakaian Arvan dengan sangat kuat karena tidak bisa menahan rasa malu dan kesalnya sekaligus. Arvan pun tersenyum saat menyadari jika Yura sedang merasa malu.
"Aku tidak nenyangka kalau Yura bisa bereaksi seperti ini, tapi dia terlihat imut saat sedang merasa lucu. Pasti dia juga merasa kesal denganku, tapi dia bahkan tidak tega untuk menyakitiku dan lebih baik menahan rasa kesalnya itu," batin Arvan
Di dalam tenda, Arvan menurunkan Yura di tepi ranjang dengan posisi duduk karena gadis itu tidak bersedia untuk berbaring.
"Karena kau merasa lelah, maka berbaring saja dulu. Aku akan mengambil obat untuk membersihkan kedua matamu," ujar Arvan
"Aku memang merasa lelah setelah bertarung, tapi aku juga haus dan ingin minum," sahut Yura
"Memangnya aku bisa apa dengan kondisi seperti ini? Jadi, mohon bantuanmu saja ... " ujar Yura
"Kau bicara seperti bukan orang yang habis bertarung melawan 10 orang musuh seorang diri. Ada Yasha yang menemanimu di sini. Jangan khawatir karena kau tidak sendiri," ucap Arvan yang kemudian berlalu pergi dari sana.
"Aku juga bukan anak kecil yang merasa takut karena ditinggal seorang diri, tidak. Jika aku masih kecil pun, aku tidak akan merasa takut meski pun hanya ada aku sendiri di sini," oceh Yura
"Arvan sudah pergi," kata Yasha
"Aku juga tahu karena mendengar suara langkah kakinya yang pergi menjauh," sahut Yura
"Apa kau tidak bisa membuka kedua matamu sama sekali, Yura?" tanya Yasha
__ADS_1
"Mungkin masih bisa jika dipaksakan," jawab Yura
"Apa terasa sangat sakit?" tanya Yasha
"Rasanya lumayan perih," jawab Yura
"Sebenarnya apa yang kau pikirkan saat bertarung bahkan dengan kedua mata yang tidak bisa dibuka tadi?" tanya Yasha
"Aku suka melakukannya dan aku tidak suka berhenti di tengah jalan. Harus melakukannya sampai akhir dengan tuntas," jawab Yura
"Ya, ini salahku hingga terjadi seperti ini. Harusnya aku yang melindungimu sebagai seorang kakak. Jika saja aku tidak terluka parah sebelumnya, aku yang akan maju menerima tantangan mereka yang datang tadi," ujar Yasha
"Jangan pernah mengatakan perkataan yang tidak punya hasil kepastian seperti jika saja dan buatlah jadi yang pasti-pasti saja. Jangan berlebihan dan jangan menyalahkan diri sendiri. Semua terjadi karena berjalan sesuai takdir," ucap Yura
"Kau bisa terluka parah sebelumnya bukan karena kau yang menginginkannya, tapi itu adalah jalan takdir dan bukan salahmu. Aku yang masih bisa melakukan apa pun belum memerlukan perlindungan darimu. Lagi pula, keluarga memang harus saling melindungi. Jika kau tidak bisa melindungiku, biar aku saja yang melakukannya untukmu. Makanya, saat musuh itu datang, aku menerima tantangan mereka dengan suka hati. Mataku yang jadi bermasalah karena aku ceroboh saat bertarung tadi dan itu adalah kelalaianku, jadi itu pun bukan salahmu ... " sambung Yura
"Kau memang benar, tapi apa kau tidak bisa untuk tidak membuatku khawatir? Sebelumnya saat aku terluka parah, kau mengomel karena merasa khawatir. Jadi, apa kali ini kau ingin balas dendam dengan cara yang sama, yaitu membuatku merasa khawatir? Atau kau hanya ingin diomeli oleh kakakmu ini?" tanya Yasha
"Dari pada diomeli karena merasa khawatir, aku lebih ingin kau merasa bangga dan memuji tindakanku yang meski harus mempertaruhkan nyawaku karena hal yang berbahaya setelah aku berhasil melaluinya dengan baik. Lagi pula, dalam hidup memang tidak selalu merasa senang. Perasaan sedih, kecewa, khawatir, takut, bahkan menyesal pun adalah hal yang wajar ... " jawab Yura
"Kau sangat pandai bicara. Kau bahkan berbohong padaku tentang kau yang datang ke sini atas perintah Baginda Raja. Sebenarnya kau memaksa Baginda Raja untuk memberi izin pergi padamu, kan?" tanya Yasha
"Pasti kau diberi tahu soal ini oleh Arvan," sahut Yura
"Aku sama sekali tidak merasa menyesal setelah memberi tahu pada Yasha soal itu," kata Arvan yang telah kembali masuk ke dalam tenda.
"Aku tidak bermaksud untuk menyalahkanmu. Terima kasih, Arvan," ucap Yura saat menerima segelas air minum yang diberikan oleh Arvan pada tangannya.
"Arvan memang harus kembali dengan cepat untuk mengobati kedua mata Yura, tapi dia sudah kembali bahkan sebelum aku menanyakan pada Yura tentang hubungan mereka berdua. Agak disayangkan," batin Yasha
__ADS_1
Arvan meletakkan bahan dan alat untuk mengobati kedua mata Yura di atas meja dan mulai bersiap untuk melakukan pengobatan dan pembersihan pada kedua mata Yura setelah gadis itu selesai meminum air.