One & Only

One & Only
80 - Tersangka di Depan Mata.


__ADS_3

2 hari kemudian.


Yura dan Arvan akhirnya kembali menuju ke toko senjata untuk mengambil senjata yang telah dipesan oleh Yura sebelumnya.


Namun, Arvan hanya menemani Yura mengunjungi toko senjata tersebut untuk menyerahkan uang sebagai biaya pembayaran serta pelunasan terhadap senjata yang telah dipesan sebelumnya untuk dibeli.


Setelah membayar biaya pelunasan dan mengambil senjata yang telah dipesan, Yura dan Arvan langsung beranjak pergi meninggalkan toko senjata tersebut untuk kembali menuju ke penginapan.


"Yura, aku tidak mengerti. Bukankah kau bilang sudah punya rencana untuk hari ini? Kenapa kau tidak melakukan apa-apa selain mengambil pesanan senjata milikmu saat di toko tadi?" tanya Arvan yang sudah merasa penasaran sejak pergi meninggalkan toko senjata.


"Aku memang sudah punya rencana, tapi itu untuk dilakukan malam hari. Waktunya belum tiba untuk beraksi," jawab Yura sambil tersenyum tipis, namun terkesan mengerikan.


Lagi-lagi kali ini Arvan menahan rasa penasarannya untuk tidak bertanya lebih banyak karena bagaimana pun juga lelaki itu sudah berjanji untuk tidak mengganggu atau mengacau. Ia hanya akan mengikuti dan menemani Yura apa pun rencana yang telah dibuat oleh gadis bercadar itu.


Baik Yura atau pun Arvan tampak sedang menunggu waktu. Namun, dari pada dibilang menunggu, Yura lebih tampak sedang menahan amarah untuk memberi pelajaran.


Saat malam tiba sebelum tengah malam, Yura dan Arvan tampak istirahat di atas ranjang masing-masih yang berbeda pada kamar yang sama. Yura tampak memejamkan kedua matanya, namun gadis itu lebih seperti memaksa menutup kedua matanya. Arvan menyadari jika Yura tidak benar-benar tertidur dari banyaknya gerakan yang gadis itu buat untuk memperbarui posisi tidurnya.


Arvan pun hanya sekadar istirahat membaringkan tubuh saja. Namun, lelaki itu tetap terjaga. Karena ia tidak ingin ditinggal pergi oleh Yura yang mengatakan akan memulai rencana pada malam hari jika dirinya tertidur pulas.


Namun, sampai mendekati tengah malam Yura tetap terbaring di atas ranjangnya hingga Arvan yang terus terjaga pun akhirnya tertidur juga.


Beberapa saat lewat tengah malam, akhirnya Yura bangkit dari ranjang tidurnya. Gadis itu melirik ke arah Arvan yang terlelap, namun ia segera beranjak untuk bersiap sebelum melancarkan rencananya kali ini.


Saat Yura telah siap dengan pakaian dengan jubah yang menyelimuti penampilannya juga dengan cadar yang menutupi sebagian wajahnya, Arvan pun terbangun dari tidurnya yang tidak disengaja. Melihat penampilan Yura, Arvan langsung tersadar dari rasa kantuknya yang tersisa karena sadar Yura akan kembali melakukan rencananya.


"Yura, kau sudah siap untuk pergi? Maaf, aku tertidur tadi. Kenapa kau tidak bangunkan aku?" tanya Arvan


"Maaf kalau aku mengganggu tidurmu. Aku tidak tega membangunkanmu karena kau tampak sangat lelap," jawab Yura


"Bagaimana pun juga aku akan ikut denganmu. Kau tunggulah di sini sebentar, aku akan bersiap dengan cepat. Aku hanya akan membasuh wajah," ujar Arvan

__ADS_1


Yura hanya mengangguk dan Arvan pun bergegas menuju ke kamar mandi. Lalu, Yura lanjut bersiap dengan hal lainnya dan tak butuh waktu lama Arvan pun ke luar dari dalam kamar mandi.


"Aku sudah selesai, Yura. Apa kau masih bersiap?" tanya Arvan


"Ya, kita akan sekalian ke luar dari penginapan ini. Setelah melakukan rencanaku, kita akan langsung kembali ke Istana Kerajaan. Ayo, selesaikan misi ini dengan cepat ... " jawab Yura


"Baiklah," kata Arvan yang ikut berkemas dan membantu Yura.


Setelah selesai berkemas, Yura dan Arvan membawa semua barang bawaan ke luar dari kamar dan langsung menuju ke meja pemesanan kamar untuk membayar sewa kamar penginapan selama menginap di sana.


"Satu kamar dengan dua ranjang, nomor 34, atas nama Rara. Apa Anda berdua yakin ingin meninggalkan penginapan sekarang juga? Sekarang masih dini hari, apa tidak mau tunggu sampai pagi nanti saja?"


"Kami masih ada urusan di suatu tempat yang harus segera dilakukan, jadi sekalian pulang saja. Kami akan ke luar penginapan sekarang juga," jawab Yura


"Tolong kau urus pembayarannya. Nanti akan kuganti uangmu," sambung Yura yang beralih bicara dengan Arvan.


"Tidak perlu mengganti uangku. Memang aku yang ingin membayar biaya penginapannya," kata Arvan


"Apa Anda berdua yakin ingin pergi sekarang juga?" tanya penjaga penginapan yang berjaga di kandang penitipan.


"Ya, kami berdua masih ada urusan lain. Maaf sudah mengganggu dengan kepergian kami yang mendadak dan terima kasih sudah menjaga kuda kami," jawab Yura


Usai meletakkan barang bawaan di punggung kuda, Yura dan Arvan pun beranjak pergi dari sana dengan menunggang kuda.


"Sebenarnya apa rencanamu hingga memilih waktu seperti ini untuk melakukannya?" tanya Arvan


"Entahlah, bisa dibilang mungkin adalah penyergapan dan introgasi atau aksi teror. Aku hanya tidak sengaja tertidur tadi, kalau tidak mungkin saat ini aku sedang melancarkan rencanaku. Makanya, kita harus cepat ... " jawab Yura


"Aku juga tidak sengaja tertidur tadi. Kalau aku tidak tiba-tiba terbangun, apa kau akan pergi sendiri meninggalkan aku begitu saja di penginapan dan langsung kembali ke Istana Kerajaan setelah melancarkan rencanamu?" tanya Arvan


"Tentu saja, tidak. Aku akan kembali ke penginapan lebih dulu dan kita akan kembali ke Istana Kerajaan bersama saat sudah pagi nantinya. Bagaimana pun saat ini kita adalah rekan satu tim pada misi kali ini," jawab Yura

__ADS_1


"Mau sebagai siapa dan apa pun kau menganggapku kali ini yang penting aku tahu kau tidak akan meninggalkan aku. Itu artinya kau peduli padaku dan hubungan kita sudah bisa dibilang membaik," batin Arvan


Karena bertepatan saat dini hari, lewat tengah malam. Jalanan yang biasanya ramai pengunjung jadi sangat sepi.


Yura dan Arvan langsung menuju ke toko senjata. Karena toko senjata biasanya buka hingga lewat tengah malam, Yura berharap rencananya kali ini bisa berbuah hasil setelah dijalankan dengan baik dan benar.


"Apa kita terlambat datang? Sepertinya tokonya sudah tutup?" tanya Arvan


Yang terlihat toko senjata itu sepi dan gelap. Sudah tidak ada penerangan dari dalam toko yang terlihat ke luar, kecuali hanya pada tiang lampu jalanan di luar toko saja.


Yura merasa kecewa dan kesal saat rencananya kali ini gagal begitu saja tanpa sedikit pun usaha. Namun, itu tidak berlangsung lama karena terlihat ada seseorang yang ke luar dari toko senjata tersebut.


Yura dan Arvan sama-sama melihat orang tersebut. Bahkan Yura sampai tersenyum di balik cadarnya.


"Lihatlah, bukankah itu adalah orang yang sesuai dengan sketsa gambar? Katanya, dia adalah yang mengantar kipas senjata itu ke Istana Kerajaan, kan?" tanya Arvan


"Hanya ini kesempatan terakhir yang ada. Arvan, sembunyikan wajahmu dengan benar dan titip kudaku," ucap Yura


"Grace, jadilah kuda baik ... " sambung Yura sambil berbisik saat beranjak turun dari punggung kudanya.


Arvan yang telah memakai jubah langsung menarik tudung jubahnya untuk menyembunyikan wajahnya dalam-dalam. Lelaki itu tetap terdiam di atas punggung kuda sambil menjaga kuda milik Yura yang ada di samping kudanya. Membiarkan Yura melakukan rencananya sesuai keinginan gadis itu.


Yura melihat salah satu tersangka di depan matanya. Kedua tangannya mengepal dan sepasang matanya nyalang menahan amarah. Sementara tersangka itu sedang memegang sebotol alkohol dan sepertinya sedang mabuk.


Lagi-lagi Yura tersenyum di balik cadarnya. Ia menganggap rencananya akan mudah karena hanya akan menghadapi lelaki pemabuk. Yura sama sekali tidak merasa gentar atau pun takut.


Sedangkan lelaki yang baru saja ke luar dari toko senjata itu mempercepat langkahnya karena merasa sedang ada yang mengikutinya dari belakang sambil bergumam tidak jelas karena mabuk.


Melihat tersangka di depannya mempercepat langkah, Yura pun mulai berlari. Gadis itu bahkan tidak ragu-ragu untuk menghantam pundak tersangka untuk menghentikan langkahnya.


Tersangka pun jatuh tersungkur dan botol alkoholnya yang ikut terjatuh pun pecah. Ia tampak marah.

__ADS_1


"Siapa kau!?" tanyanya dengan nada keras. Namun, ia tampak ketakutan saat melihat Yura mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya.


__ADS_2