
Di pagi hari, setelah Baginda Raja ke luar dari kediaman Ratu, tampaklah Yura yang sudah menunggu di depan pintu.
"Yura, kau sudah lama menunggu di sini?" tanya Raja
"Tidak, saya baru saja sampai di sini. Rencananya saya ingin membantu Yang Mulia Ratu dan juga Putra Mahkota untuk bersiap," jawab Yura
"Kalau begitu, masuklah. Sepertinya kakakmu memang butuh bantuan. Aku pun akan meminta bantuan Arvan untuk bersiap. Aku pergi dulu," ujar Raja
"Baik, Baginda ... " sahut Yura
Setelah Raja beranjak pergi, Yura pun masuk ke dalam kediaman Ratu.
Begitu masuk ke dalam kamar tidur Ratu, terlihat seorang pelayan yang sedang membantu Ratu untuk berpakaian.
"Permisi, Kak ... apa kau butuh bantuan? Mungkin mengemas barang-barang untuk pergi liburan?" tanya Yura
"Yura, ya ... tolong bantu aku berkemas. Aku belum sempat melakukan persiapan apa pun dari semalam," jawab Ratu
"Tentu saja, karena ini adalah rencana dadakan dari Raja, tapi Raja pun pasti merencanakan ini karena berpikir demi kebaikanmu. Karena suasana baru itu bagus untuk pemulihan," ucap Yura
"Baiklah ... mari, kita lihat apa saja yang kau butuhkan selama pergi liburan mulai hari ini. Tentu saja, beberapa pakaian, sedikit barang perias, dan lain-lain ... " gumam Yura saat membuka lemari pakaian dan mengambil koper milik Ratu.
"Kemas barang yang penting saja. Karena di Vila Kerajaan pun sudah tersedia berbagai macam keperluan," kata Ratu
"Bagaimana dengan Arsha? Apa sudah ada orang yang membantunya berkemas?" tanya Yura
"Seorang pengasuh sudah dipanggil sejak semalam, sekalian membawakan barang miliknya yang masih banyak berada di kediamannya. Mungkin saat ini dia sedang dibantu untuk bersiap," jelas Ratu
"Lalu, kenapa hanya ada Dina di sini? Ke mana Manda dan Ella?" tanya Yura
__ADS_1
"Saat Raja datang berkunjung, biasanya memang hanya ada satu pelayan setidaknya sampai Raja pergi dan biasanya yang lain sedang menyiapkan makanan untuk sarapan," ungkap Ratu
"Benar juga, Raja pasti tidak ingin ada yang mengganggu jika banyak orang. Aku tidak terpikir sampai ke sana," gumam pelan Yura
Baru saja selesai mengemas barang milik Ratu, pintu kamar pribadi Ratu terbuka dari luar oleh Arsha setelah mengetuk pintu.
"Selamat pagi, Ibu. Rupanya, Bibi Yura, juga ada di sini ... " sapa Arsha
"Sepertinya kau sudah siap untuk pergi, ya, Arsha?" tanya Yura
"Benar, Bibi. Aku sudah tidak sabar ingin pergi liburan hingga semalam aku kesulitan untuk tidur. Namun, untungnya aku tidak bangun terlambat karena kalau tidak aku pasti akan ditinggal," jawab Arsha
"Kami tidak akan meninggalkanmu, Arsha ... " kata Ratu
"Karena Ibu masih sedang bersiap, Bibi Yura ... bisakah kau melihat dan memeriksa, apakah aku sudah mengemas dengan baik barang yang harus dibawa?" tanya Arsha
Arsha pun langsung menarik tangan Yura untuk berpindah ke kamar di samping kamar pribadi Ratu. Yura pun tidak merasa keberatan dengan perlakuan keponakannya itu.
"Hati-hati dan jangan berlari, Arsha, juga jangan tarik tangan Bibi-mu dengan kuat," pesan Ratu
Ratu hanya bisa tersenyum kecil melihat kelakuan putranya dengan saudari kembarnya itu.
...
Begitu Raja masuk ke dalam kediaman pribadinya, tampak sosok Arvan yang sudah ada di sana untuk menunggu. Lebih tepatnya, mengurus pekerjaan yang bisa dikerjakan setidaknya sebelum ikut pergi liburan bersama keluarga kecil kerajaan.
"Arvan, kau sudah ada di sini, rupanya ... " ujar Raja
"Salam dan hormat bagi Baginda Raja. Selamat pagi," ucap Arvan seraya memberikan hormat dan setelah itu kembali fokus pada beberapa dokumen yang berada di tangannya.
__ADS_1
"Arvan, kau akan ikut pergi ke Vila bersamaku. Apa kau sudah bersiap dan mengemas barang?" tanya Raja
"Soal itu sudah selesai saya urus. Karena itu saya menyempatkan untuk memeriksa beberapa dokumen penting sebelum pergi," jawab Arvan
"Bagus ... kalau begitu, tinggalkan saja dokumen itu di atas meja. Kau bantulah aku untuk bersiap dan mengemas barang," ujar Raja yang menaruh kembali dokumen yang berada di tangan Arvan dan menarik Penasehatnya itu untuk beralih ke dalam kamar.
Usai menyiapkan pakaian yang akan dikenakan oleh Raja, Arvan pun beralih mengemas barang milik Raja ke dalam koper. Sedangkan, Raja sendiri sedang membersihkan diri di dalam kamar mandi.
"Bukankah Anda memiliki banyak pelayan? Sebenarnya ke mana perginya semua pelayan Anda yang banyak itu? Kenapa harus saya yang mengerjakan hal seperti ini?" tanya Arvan setelah Raja selesai membersihkan diri dan ke luar dari kamar mandi.
"Entahlah, mungkin mereka masih belum datang karena tahu aku tidak suka diganggu saat pagi dan malam hari," jawab Raja
"Saya tahu sebenarnya Anda tidak nyaman dengan keberadaan para pelayan itu karena Anda hanya bersedia dilayani oleh Ratu. Lalu, bagaimana dengan para Selir Anda?" tanya Arvan
"Kan, kau juga tahu kalau aku tidak mencintai mereka. Aku mengambil dan mengangkat Selir hanya karena adanya kewajiban sebagai Raja. Apa lagi saat aku diharuskan untuk melahirkan Putri Mahkota dan untungnya aku bisa mendapatksn seorang putri dari adikmu," ungkap Raja
"Meski tidak ada rasa cinta, saya harap Anda bisa selalu memperlakukan adik dan keponakan saya dengan baik, Baginda," ujar Arvan
"Tentu saja, Arvan. Kau tenang saja. Adikmu itu baik dan penurut, lalu bagaimana pun juga keponakanmu adalah anakku. Aku akan menyayangi mereka dengan baik," kata Raja
"Menyayangi bukan berarti mencintai. Saya pun tahu prioritas Anda hanya Yang Mulia Ratu. Anda harus selalu mencintainya dan jangan sampai menyakiti hatinya, kalau tidak, saat itu juga saya akan berusaha sekuat tenaga untuk merebutnya dari Anda. Tapi, selama itu tidak terjadi, saya akan tetap menjadi bawahan Anda yang bekerja dengan baik," batin Arvan
"Bicara soal perasaan, bagaimana hubunganmu dengan Yura? Bukankah kalian berdua sudah menjadi dekat dan akrab?" tanya Raja
"Kami memang mulai dekat dan akrab, tapi hubungan kami tidak seperti yang Anda pikirkan, Baginda," jawab Arvan
"Apa aku salah? Sepertinya tidak. Cepat atau lambat dugaanku kali ini juga akan terjadi dan menjadi kenyataan," ujar Raja
"Itu tidak akan pernah terjadi. Meski pun wajah mereka berdua terlihat mirip, yang saya cintai hanya Yang Mulia Ratu dan tidak akan pernah bisa berpindah untuk mencintai orang lain lagi. Andai saja saya datang dan bertemu lebih dulu dengan Ratu saat itu atau andai saja yang bertemu dengan saya saat itu adalah Yura dan bukannya Yang Mulia Ratu," batin Arvan
__ADS_1