
Arvan menghela nafas pelan untuk mengontrol emosinya sebelum kembali bicara dengan Yura.
"Yura, kenapa kau tadi sedang bersama Rio? Apa yang kau bicarakan dengannya?" tanya Arvan
"Memang apa salahnya? Kami memang jadi lebih sering bertemu karena Rio bekerja menjadi prajurit yang melindungi Ratu," jawab Yura
"Tolong beri tahu padaku, apa yang dia katakan padamu?" tanya Arvan sekaligus meminta.
"Kalau kau memang ingin tahu, dia bilang suka padaku. Kuharap kau bisa merasa puas dengan jawabanku ini," ungkap Yura
"Lalu, apa yang kau katakan setelah dia bilang seperti itu?" tanya Arvan
"Aku menolaknya dan mengatakan kalau aku hanya nyaman menganggapnya sebagai teman. Sebenarnya kenapa kau merasa penasaran dengan hal seperti ini? Dan kenapa juga aku harus memberi tahukannya padamu?" tanya balik Yura
"Seharusnya aku sudah bisa merasa puas dan lega setelah mendengar kalau Yura menolak lelaki itu, tapi kenapa aku justru malah merasa resah dan gelisah seperti ini? Lelaki itu sudah menyatakan perasaannya pada Yura dan perasaannya langsung ditolak. Lalu, bagaimana denganku? Aku menyatakan perasaanku, tapi Yura tidak menanggapinya dengan serius. Apa masih ada kesempatan perasaanku akan diterima oleh Yura? Namun, Yura bahkan tidak percaya saat aku bilang menyukainya. Apa itu artinya aku juga sudah ditolak secara tidak langsung? Perasaanku semakin kacau dan tidak karuan hanya dengan memikirkan hal ini," batin Arvan yang masih tidak bisa merasa tenang setelah tahu Yura telah menolak perasaan Rio.
"Yura, apa kau berbohong saat mengatakan pada Raja kalau kau juga ingin punya keluarga dan rumah tangga sendiri? Kenapa kau selalu menolak saat ada lelaki yang menyatakan perasaannya padamu? Kalau kau menolak perasaan Rio, lalu bagaimana dengan perasaanku? Bukankah aku juga sudah menyatakan perasaanku padamu?" tanya Arvan
"Arvan, sebenarnya hal apa yang ingin kau bicarakan padaku? Kenapa kau malah membahas hal seperti ini?" tanya balik Yura yang seolah mengalihkan topik pembicaraan.
Saat itu ada beberapa prajurit Istana Kerajaan yang berlalu tak jauh dari sana. Dan beberapa prajurit itu melihat Yura dan Arvan yang juga ada tak jauh dari sana. Bisik-bisik pun mulai kembali terdengar.
"Lihatlah, bukankah itu adalah gadis bercadar yang rumornya sudah tersebar itu?"
"Padahal rumornya bersama Baginda Raja, sekarang malah sedang bersama Tuan Penasehat, lalu salah satu prajurit baru yang terus mengikutinya."
"Sebenarnya dia itu inginnya jadi apa, sih? Selir baru Raja, Nyonya Penasehat, atau Nyonya Prajurit? Kenapa plin-plan sekali? Atau dia mau semuanya?"
"Dasar, murahan ...."
__ADS_1
"Tak sangka Yang Mulia Ratu punya saudari kembar seperti dia. Kasihan sekali keluarga Earl Haris punya anak seperti dia. Padahal dua anak lainnya sangat membanggakan keluarga. Ada yang menjadi pemimpin prajurit bukan karena mewarisi jabatan tuan Earl melainkan dengan kerja kerasnya sendiri, ada yang menjadi Ratu alias ibu negara yang sangat dihormati, anak terakhirnya malah jadi jal*ng."
"Jangan sampai berurusan dengan orang seperti dia."
Yura yang mempunyai pendengaran yang amat jelas menjadi geram saat mampu mendengar orang-orang yang membicarakannya dari belakang.
Mempunyai kelebihan pada fungsi anggota tubuh memang merupakan suatu berkah, namun juga terkadang bisa membuat siksaan tersendiri. Seperti halnya mendengar orang membicarakan hal yang buruk tentang dirinya bisa membuat sakit hati, merasa kesal, atau bahkan marah.
Namun, Yura bukan merasa geram karena dirinya dibicarakan secara buruk oleh orang lain. Melainkan karena orang lain menyangkut-pautkan hal buruk tentang dirinya yang bahkan tidak benar dengan saudara dan keluarganya.
"Sudahlah, Arvan. Kalau kau hanya ingin bergurau, lebih baik jangan bicara denganku ... " ujar Yura
"Apa menurutmu aku hanya ingin bergurau denganmu? Apa kau sungguh tidak melihat keseriusan dari diriku?" tanya Arvan
"Entahlah, mungkin hanya diriku yang tidak ingin membahas hal ini denganmu. Kalau tidak ada yang ingin kau bicarakan lagi, aku masih ada urusan lain," jawab Yura
"Arvan, apa kau tidak mengerti dengan situasi saat ini? Banyak rumor buruk tentangku. Kalau kau bicara denganku itu hanya membuat citramu juga ikut menjadi buruk," ujar Yura
"Aku tidak peduli dengan itu," kata Arvan
"Aku yang peduli. Jangan sia-siakan citra baikmu, nanti citramu jadi rusak hanya karena bicara denganku. Jadi, jangan bicara lagi denganku," ucap Yura
Yura pun berlalu pergi meninggalkan Arvan hingga nembuat lelaki itu termenung seorang diri.
"Aku memang lelaki yang tidak pengertian. Mungkin sebenarnya Yura merasa tidak nyaman bicara denganku saat banyak beredar rumor buruk tentangnya. Sudah tidak mengerti dengan suasana hatinya yang sedang tidak bagus, aku malah memaksanya untuk menanggapi pernyataan perasaanku sebelumnya. Yura juga lebih peduli dengan citra baik yang bahkan tidak kupedulikan. Sebagai lelaki baik yang suka dan peduli dengannya, aku harusnya membantu Yura untuk menghentikan rumor buruk tentangnya dan memulihkan nama baiknya. Lagi pula, berani sekali orang yang menyebar rumor seperti itu. Sepertinya mereka kekurangan pekerjaan hingga mampu bergosip seperto itu. Para pekerja Istana Kerajaan ini sepertinya harus lebih didisiplinkan lagi," batin Arvan
Pevita dan Rio ada tak jauh dari sana hingga mampu mendengar pembicaraan antara Yura dan Arvan.
"Rupanya, Tuan Penasehat sudah lebih dulu menyatakan perasaan pada Nona Yura. Berarti aku sudah telat selangkah dan punya saingan cinta," gumam Rio
__ADS_1
"Kedengarannya kau masih belum menyerah juga meski Nona Yura sudah menolak penyataan perasaanmu tadi," kata Pevita
"Apa kau menguping hal yang kubicarakan dengan Nona Yura tadi?" tanya Rio
"Sudah kubilang, kita diberi tugas untuk mengikuti dan menemani Nona Yura. Jadi, tadi aku memang sengaja mencari kalian berdua, tapi jadinya aku malah mendengar pembicaraan kalian berdua secara tidak sengaja. Begitu juga, kita berdua jadi tidak sengaja mendengar pembicaraan Nona Yura dan Tuan Penasehat barusan," jelas Pevita
"Ya, aku tidak akan mempermasalahkan dirimu yang menguping pemhicaraanku dengan Nona Yura. Pernyataan perasaanku memang bukan sesuatu yang harus disemmbunyikan dan aku tidak malu dengan hal itu meski pun ditolak oleh Nona Yura. Lalu, bukankah kita berdua masih harus mengikuti Nona Yura?" tanya Rio
"Memang harusnya seperti itu, tapi sepertinya tidak tepat waktunya jika kita berdua muncul begitu saja saat situasinya seperti ini," jawab Pevita
Yura yang telah berlalu pergi meninggalkan Arvan, akhirnya melihat Pevita dan Rio tak jauh dari sana.
"Pevita, Rio, kalian berdua ada di sini? Kenapa tidak berjaga di kediaman Ratu?" tanya Yura
"Kami berdua sedang dibebaskan dari tugas karena Yang Mulia Ratu sedang menemui Baginda Raja bersama nona pelayan," jawab Pevita
Awalnya Pevita dan Rio merasa tegang seolah telah tertangkap basah sedang menguping di sana. Namun, Rio ikut merasa lega setelah Pevita bisa menjawab pertanyaan dari Yura dengan mudah.
Sebenarnya bukan sedang dibebaskan dari tugas karena justru Pevita dan Rio sedang diberi tugas baru sementara waktu untuk mengikuti dan menemani Yura.
"Bagaimana caranya agar bisa bicara dengan Nona Yura supaya bisa mengingatkannya untuk makan?" batin Pevita yang sedang merasa kebingungan.
"Karena kalian berdua ada di sini, ayo ikut denganku. Aku akan membawa kalian ke suatu tempat, anggap saja untuk bersenang-senang. Atau anggap saja kalian pergi untuk menemaniku," ujar Yura
"Baik, Nona ... " sahut Pevita san Rio secara bersamaan.
"Saat seperti ini aku memang butuh melakukan sesuatu untuk menghibur diri agar bisa dengan baik melampiaskan emosi yang sedang kacau," batin Yura
Yura pun beranjak pergi bersama Pevita dan Rio yang ikut untuk menemaninya. Saat itu tanpa sadar Arvan juga mengikuti dari belakang.
__ADS_1