One & Only

One & Only
94 - Ramuan Penawar.


__ADS_3

Azkia begitu terkejut saat melihat kakak lelakinya membawa Yura sambil menggendongnya ala bridal style yang terlihat dalam kondisi lemah. Pantas saja kediamannya terdengar ribut dengan suara pelayan yang panik.


"Ya ampun, Kak Arvan, Kak Yura? Ada apa ini? Apa yang sebenarnya telah terjadi?" tanya Azkia


"Lupakan dulu pertanyaanku. Mari bawa Kak Yura ke dalam kamar lebih dulu," sambung Azkia


Arvan pun berjalan membawa Yura ke dalam suatu kamar yang ditunjukkan oleh Azkia.


"Tolong aku ingin duduk," pinta Yura


Arvan pun menurunkan tubuh Yura dan membantunya duduk di tepi ranjang.


"Apa yang sudah kau lakukan pada Kak Yura, Kak Arvan?" tanya Azkia


"Ini bukan perbuatan Kakakmu, Azkia. Arvan hanya menolongku," jawab Yura dengan suara lirih.


"Yura diracuni seseorang. Jadi, tolong kau ambil dan bawa penawar racun yang pernah kuberikan padamu. Azkia, cepat ... " ucap Arvan


Azkia langsung beranjak pergi usai mengangguk singkat setelah mengerti dengan yang diucap oleh Arvan.


"Arvan, dengarkan aku baik-baik. Baginda Raja ada di kediaman selir kedua. Meski pun kondisinya sangat tenang seperti sedang tidur karena telah kubuat pingsan, pasti keadaannya jauh lebih parah dariku. Kau harus menawarkan racun pada Baginda Raja dengan cepat. Lalu, aku merasa selir kedua bukan orang yang mudah hingga bisa menjebak dan memperdaya diriku hanya dengan permintaannya," ucap Yura


"Jika kau bertemu dengan selir kedua, kau harus sangat berhati-hati saat bicara dengannya dan jangan sampai ada kontak fisik apa pun dengannya. Jika Baginda Raja terbangun dalam kondisi linglung, maka kau harus membuatnya sadar dengan cara bertepuk tangan di dekat telinganya atau menepuk bagian tubuhnya. Terutama jika Baginda Raja mengeluh sakit di bagian tertentu tubuhnya atau Baginda Raja tampak memengangi bagian tertentu tubuhnya, tepuklah beberapa kali pada bagian tubuhnya itu ... " sambung Yura


"Rupanya, selir kedua yang sudah berbuat hal seperti ini ... " batin Arvan


Saat itu, Azkia kembali dengan membawa sebuah kotak di tangannya.


"Kak, kotak ini berisi obat ramuan yang pernah kau berikan padaku," kata Azkia


"Cepat berikan padaku," pinta Arvan yang langsung menyambar dan membuka kotak yang dibawa oleh Azkia.


"Arvan, kau mendengar ucapanku tadi atau tidak?" tanya Yura


"Aku mendengarnya, tapi bagaimana ini? Ramuan penawar racun yang dibutuhkan hanya ada satu, sedangkan kita butuh 2 ramuan yang sama," ujar Arvan setelah mencari dan menemukan ramuan penawar racun yang tepat dibutuhkan di antara banyaknya ramuan obat di dalam kotak.

__ADS_1


"Kau bawalah penawar itu untuk Baginda Raja. Aku bisa meracik penawar untuk diriku sendiri dan ada Azkia di sini yang akan membantuku," kata Yura


"Kalau begitu, tolong segera siapkan air dingin untuk Yura berendam," ujar Arvan


Azkia pun meminta pelayannya yang ada di sana untuk menyiapkan air dingin di dalam kamar mandi. Mendengar apa yang dikatakan oleh Arvan dan Yura, kini Azkia setidaknya mampu menebak apa yang telah terjadi.


"Aku masih bisa bertahan dan tahu apa yang harus kulakukan. Arvan, kau cepat pergi saja, sana ... dan ingat ucapanku untuk berhati-hati dengan selir kedua," ucap Yura sambil mendorong tubuh Arvan dengan tenaga miliknya yang tersisa.


Akhirnya, Arvan pun pergi meninggalkan kediaman selir ketiga dan beralih menuju ke kediaman selir kedua meski pun dengan terpaksa dan berat hati.


"Nyonya, kolam rendam di kamar mandi sudah diisi dengan air dingin." Pelayan melapor dengan cepat seperti yang telah diminta.


"Kak Yura, biar aku membantumu masuk ke dalam kamar mandi ... " ucap Azkia yang langsung memapah tubuh Yura untuk berdiri dan berjalan menuju ke dalam kamar mandi. Bahkan pelayan juga ikut membantu.


"Padahal kau ke luar hanya ingin berkeliling, kenapa jadinya malah seperti ini?" tanya Azkia lebih seperti bergumam.


"Azkia, aku sungguh tidak melakukan apa-apa ... " ungkap Yura


"Aku mengerti, Kak Yura. Kau pasti hanya dijebak. Aku percaya denganmu," kata Azkia


"Kak Arvan pasti juga percaya kalau bukan kau yang melakukan hal aneh seperti ini. Kau tidak mungkin berbuat semacam ini," ucap Azkia yang berhasil memotong ucapan Yura.


Azkia dan pelayannya membantu sampai Yura masuk ke dalam kolam rendam untuk berendam air dingin. Kolam yang biasanya diisi dan dipakai untuk berendam air hangat justru diisi dan dipakai oleh Yura untuk berendam air dingin.


"Aku ingat kalau kau juga punya kemampuan medis seperti kak Arvan. Katakan padaku, bahan apa saja yang kau butuhkan untuk membuat ramuan penawar racunnya?" tanya Azkia


Yura pun menyebutkan bahan-bahan untuk membuat ramuan penawar racun dan Yura sengaja menyebut bahan yang mudah didapat yang kandungannya sama dengan bahan pembuat ramuan tingkat tinggi supaya lebih mudah dicari dan didapatkan saat hampir tengah malam saat itu karena Yura membutuhkan bahan-bahan itu dengan cepat untuk membuat ramuan penawar racun untuk dirinya sendiri.


Karena bahan yang dibutuhkan mudah didapatkan dan tersedia di dapur Istana Kerajaan, pelayan yang disuruh Azkia mengambil bahan-bahan tersebut kembali dengan cepat. Azkia pun menyuruh pelayannya untuk menyeduh bahan-bahan tersebut dengan air hangat. Azkia sengaja menyuruh pelayan melakukan seperti itu agar Yura yang sudah pasti merasa kedinginan dengan berendam dalam air dingin di malam hari bisa merasakan kehangatan dari minuman seduhan ramuan penawar racun yang menggunakan air hangat.


"Kak Yura, ini bahan ramuan yang kau minta yang sudah diseduh dengan air hangat. Minumlah ... aku menyuruh pelayan menyeduh dengan air hangat agar kau bisa merasakan kehangatan meski pun hanya sedikit, karena kau pasti merasa kedinginan saat berendam dengan air dingin di malam hari seperti ini," ucap Azkia


"Atau sebenarnya ramuannya tidak akan berkhasiat setelah diseduh dengan air hangat? Apa aku sudah salah menyuruh pelayan menyeduh bahan ramuannya dengan air hangat? Karena seperti kau yang meminimalisir efek racunnya dengan berendam di dalam air dingin, apa bahan ramuannya juga harusnya diseduh dengan air dingin baru bisa berkhasiat? Katakanlah sesuatu, Kak Yura. Bukalah matamu dan jangan tertidur," sambung Azkia dengan suara yang penuh rasa khawatir dan kepanikan.


Yura memang memejamkan kedua matanya untuk menahan rasa dingin yang terasa menusuk masuk ke dalam kulit hingga menembus tulang saat dirinya harus berendam di dalam air dingin untuk menimalisir efek racun. Dan selama itu, Azkia selalu menemani Yura di dalam kamar mandi hingga wajar saja jika Azkia merasa khawatir saat Yura tidak merespon perkataannya dan terus diam sambil memejamkan mata.

__ADS_1


"Berikan padaku minuman ramuan penawar racun itu. Tidak peduli diseduh dengan air apa, aku akan tetap meminumnya dan tetap akan ada khasiatnya. Bahkan jika tidak ada air sekali pun, aku akan mengunyah dan menelan mentah-mentah bahan-bahan yang sudah kau suruh pelayanmu untuk mencarikannya," ucap Yura setelah membuka sedikit kedua matanya dengan suara yang bergetar karena kedinginan.


Awalnya Azkia hanya memberikan cangkir yang berisi minuman ramuan penawar racun pada Yura agar Yura dapat meminumnya sendiri dengan leluasa. Namun, itu justru tidak leluasa bagi Yura karena tidak mampu memegang benda dengan benar saat dirinya menggigil karena merasa kedinginan selama masih berendam dalam air dingin. Akhirnya, Azkia pun membantu Yura untuk minum dari cangkir yang ia pegang dan ia bantu tuangkan ke dalam mulut Yura secara perlahan.


"Terima kasih banyak, Azkia. Aku baik-baik saja, jadi kau bisa tenang. Lebih baik kau kembali ke kamar dan jaga Afia. Jangan meninggalkan bayimu terlalu lama,"ucap Yura


"Aku sudah menyuruh pelayan untuk menjaga Afia di dalam kamar, jadi aku akan tetap di sini. Katakan, bagaimana perasaanmu, Kak? Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Azkia


"Aku masih harus berendam di sini dan menghabiskan minuman ramuan penawar racun itu sampai merasa efek racun dalam diriku benar-benar telah menghilang. Namun, ini tidak akan lama lagi karena minuman ramuan penawar racunnya pasti bekerja dengan cepat," jelas Yura


"Kalau begitu, apa aku harus menyeduh bahan-bahan ramuan penawar racun ini lagi supaya khasiatnya lebih cepat bekerja? Katakanlah, apa yang harus kulakukan?" tanya Azkia


"Tidak perlu, ini pun sudah cukup. Kalau mengonsumsinya dengan berlebihan malah akan muncul efek lain, karena apa pun yang berlebihan memang tidak baik. Kita hanya perlu menunggu sebentar lagi," jawab Yura


"Kalau begitu, aku akan menemanimu di sini sampai kau merasa efek racun dalam dirimu benar-benar telah hilang sepenuhnya," ujar Azkia


"Tapi, kau pasti juga merasa kedinginan berada di dalam kamar mandi seperti ini, apa lagi kau terus duduk di lantai kamar mandi sejak awal masuk ke sini hanya untuk menemaniku," kata Yura


"Tidak masalah. Karena untuk berjaga-jaga, aku sudah menggelar tikar kecil untuk duduk di sini. Jadi, aku tidak langsung duduk di atas lantai. Kak Yura, tenang saja. Aku hanya akan menganggap kalau kita berdua sedang berkemah pada tengah malam," ucap Azkia


"Azkia, aku jadi merepotkanmu lagi dan lagi ... " sahut Yura


"Jangan berkata seperti itu, Kak. Sekali pun aku tidak pernah merasa direpotkan olehmu," kata Azkia


"Andai saja, aku punya adik seperti dirimu. Namun, justru akulah si bungsu di dalam keluargaku," ujar Yura


"Aku memang adikmu karena itulah aku memanggilmu dengan sebutan Kakak," sahut Azkia


"Tapi, usia kita berdua sepantaran ... " kata Yura


"Bagaimana pun juga kita adalah keluarga," ujar Azkia


"Kau memang benar," sahut Yura


Azkia terus menemani Yura yang sedang berendam dalam air dingin dan membantu Yura meminum ramuan penawar racun sampai habis. Hingga saat Yura merasa efek racun telah benar-benar hilang sepenuhnya dari dalam dirinya, Azkia pun membantunya untuk ke luar dari dalam kamar mandi bahkan sampai membantu Yura berganti pakaian yang sepenuhnya basah karena tetap dipakai selama berendam.

__ADS_1


__ADS_2