
Pada akhirnya, hanya Yura seorang diri yang masuk ke dalam ruang kerja Istana Kerajaan karena seperti itulah permintaan gadis bercadar itu.
Arvan pun berusaha menahan diri dari rasa penasarannya akan pembicaraan seperti apa yang dilakukan oleh Yura dan Raja di dalam ruang kerja Istana Kerajaan itu.
"Tuan, sebenarnya apa alasan nona Yura memakai cadar yang sudah kuno itu? Apa Tuan tahu alasannya?" tanya Rino
"Tentu saja, alasannya karena ingin menutupi sebagian wajahnya," jawab Arvan
"Kalau itu, saya juga tahu. Apa karena wajah nona Yura tampak mirip dengan Yang Mulia Ratu? Kalau saya lihat sekilas dari dekat memang sepertinya begitu. Apa saya salah?" tanya Rino
"Rupanya, kau belum sepenuhnya tahu. Memang benar, wajah Yura mirip dengan Yang Mulia Ratu. Itu karena dia adalah adik dan lebih tepatnya lagi saudari kembar Ratu. Aku memberi tahu hal ini padamu. Pekerjaanmu di sini adalah suatu yang sangat penting, jangan sampai kau kehilangan pekerjaanmu karena salah bersikap pada Yura yang di luar tampak hanya seperti seorang pelayan padahal adalah orang yang cukup dipedulikan oleh Raja dan Ratu," ungkap Arvan
"Saya tidak akan seperti itu. Namun, terima kasih karena Tuan sudah memberi tahu pada saya. Saya akan lebih berhati-hati," ucap Rino
"Kau bekerja denganku. Jangan sampai kau membuatku malu dengan membuat kesalahan," kata Arvan
"Baik, Tuan. Saya mengerti," sahut Rino
Di dalam ruang kerja Istana Kerajaan, Yura langsung memberi sikap hormat di depan meja tempat Raja bekerja.
"Hormat dan salam sejahtera bagi Baginda Raja," ucap Yura seraya membungkukkan badan.
"Rupanya, kau yang datang, Adik ipar. Tidak perlu terlalu formal padaku, jangan sungkan, apa lagi segan ... " ujar Raja
__ADS_1
"Maafkan saya kalau sudah mengganggu Anda pagi-pagi seperti ini," kata Yura
"Tidak masalah. Jadi, ada perlu apa sampai kau datang sendiri untuk menemuiku seperti ini?" tanya Raja
"Ada yang ingin kubicarakan dengan Anda, ini soal insiden penari kipas yang membuat Yang Mulia Ratu terluka sebelumnya. Saya berniat untuk menyelidiki hal ini secara langsung," ungkap Yura
Raut wajah Raja langsung berubah menjadi sangat serius. Pria terhormat itu bahkan segera meletakkan berkas dokumen yang sebelumnya masih berada di kedua tangannya dan langsung menatap Yura dengan penuh keseriusan.
"Ini adalah hal yang sangat penting. Aku bahkan belum menemukan petunjuk apa pun meski punya kecurigaanku sendiri padahal sudah beberapa kali meminta orang untuk mencari informasi. Lalu, apa kau sudah memiliki suatu petunjuk meski hanya sedikit?" tanya Raja
"Satu-satunya petunjuk yang merujuk pada insiden tersebut adalah kipas senjata yang digunakan oleh penari pembunuh itu dan saya mencurigai salah satu toko yang memperjual-belikan senjata tempaan. Nama toko senjata itu adalah Captain Store atau Toko Kapten. Saya akan nenyelidiki ulang toko tersebut," jelas Yura
"Apa maksudmu dengan menyelidiki ulang?" tanya Raja
"Tentu saja, aku akan memberi izin padamu. Justru aku sangat berterima kasih karena kau memiliki kepedulian yang sangat besar pada Ratu, kakakmu. Hingga kau berniat menyelidiki hal ini dengan jelas secara langsung di saat aku sendiri pun tidak bisa berbuat banyak, apa lagi melindungi Ratu-ku saat insiden itu terjadi tepat di depan mata," ujar Raja
"Saya tidak bisa menyalahkan Anda dan Anda pun tidak boleh menyalahkan diri Anda sendiri seperti ini. Memang terkadang, ada hal dan kejadian yang tidak dapat dihindari dan saya pun bisa mengerti jika fokus Anda tidak bisa hanya tertuju pada satu hal ini saja saat banyaknya pekerjaan yang menumpuk yang harus Anda tangani. Karena itu saya ingin mengajukan diri dan meminta izin dari Anda untuk mengurus hal ini. Percayalah, saya pasti tidak akan mengecewakan Anda dan akan mendapat hasil yang memuaskan," ucap Yura
"Tidak heran Ratu sangat menyayangimu dan keluargamu pasti sangat bangga terhadapmu. Ya, aku percaya dan kuserahkan terkait penyelidikan ini padamu," kata Raja
"Namun, saya masih ingin meminta suatu hal pada Anda, Baginda ... " sahut Yura
"Kau bisa langsung mengatakannya, apa itu?" tanya Raja
__ADS_1
"Saya rasa tidak perlu ada yang tahu terkait hal ini, terutama Ratu Yuna dan Putra Mahkota Arsha. Tolong jadikan hal ini rahasia hanya antara Anda dan saya. Apa lagi, saya juga sudah mengatakan niat kepergian saya kali ini adalah karena ingin membeli sesuatu dari luar Istana Kerajaan. Kalau pun saya tidak bisa kembali dalam satu hari, saya harap Anda bisa mencarikan alasan yang sesuai untuk itu," ungkap Yura
"Jika Anda sendiri tidak tahu harus mengatakan apa, bilang saja hal yang berkaitan dengan jiwa petualang saya yang tak bisa ditahan. Lalu, satu hal lagi ... saya ingin Anda mengizinkan saya untuk turut membawa barang bukti kipas senjata selama penyelidikan saya kali ini berlangsung," sambung Yura
"Baiklah, aku mengerti kalau kau tidak ingin membuat istri dan anakku merasa khawatir. Aku yang akan menangani hal ini. Lalu, bawalah lencana milikku ini dan pergi ke tempat penyimpanan barang bukti di penjara istana. Tunjukkan lencana itu pada penjaga di sana dan dia akan memberikan kipas senjata itu padamu," ucap Raja sambil mengeluarkan lencana miliknya yang terbuat dari emas.
"Baik, saya mengerti dan saya akan melakukan sesuai dengan yang Anda katakan," kata Yura yang melangkah mendekat ke arah meja kerja Raja untuk mengambil lencana emas yang diberikan oleh Raja padanya.
Di sisi luar ruang kerja Istana Kerajaan, Arvan dan Rino hanya bisa menunggu di sana sampai Yura menyelesaikan pembicaraannya dengan Raja.
Arvan menyentuh saku tempat menyimpan sapu tangan kesayangannya dari luar pakaiannya. Ia merasa sangat senang setelah bisa mendapatkan benda berharga miliknya lagi, apa lagi yang menemukan dan mengembalikan benda berharga itu padanya adalah pemilik sebelumnya yang menjadi penyelamat pada masa kecilnya.
Meski begitu, Arvan tetap merasa sedih karena belum ada perubahan yang lebih baik pada hubungan antara dirinya dengan Yura. Namun, lelaki itu masih tidak ingin menyerah dan berharap Yura yang mengembalikan sapu tangan kesayangannya adalah suatu awal dari tanda baik bagi hubungan antara dirinya dan gadis bercadar itu.
"Yura, baik dulu mau pun sekarang, kau selalu menjadi gadis yang baik. Sejak dulu aku menyukai sosokmu yang tetap sama seperti itu. Aku harap kau tahu dan bisa mengerti kalau perasaanku padamu tidak pernah berubah dan perasaanku terhadap Ratu hanya kekeliruan semata karena sebelumnya menganggap kalau Ratu adalah penyelamatku dulu. Namun, karena penyelamatku adalah dirimu, maka perasaanku ini hanya untukmu dan milikmu seorang," batin Arvan
Saat itu, Arvan dan Rino melihat ada Ratu dan Putra Mahkota Arsha yang berjalan ke arah sana dari kejauhan.
"Tuan, ada Yang Mulia Ratu dan Putra Mahkota Arsha yang sedang berjalan menuju ke arah sini. Nona Yura meminta agar pembicaraannya dengan Baginda Raja tidak ada yang mengganggu. Bagaimana ini, Tuan?" tanya Rino
"Harus bagaimana ... tunggu apa lagi, aku harus memberi tahu kedatangan Yang Mulia Ratu dan Putra Mahkota yang sedang menuju ke sini," ujar Arvan yang langsung melangkah masuk ke dalam ruang kerja Istana Kerajaan.
"Tunggu, Tuan. Bukankah Anda juga tidak diperbolehkan untuk masuk?" tanya Rino dengan bermonolog ria karena Arvan sudah lebih dulu masuk ke dalam ruang kerja Istana Kerajaan dan meninggalkannya seorang diri di luar.
__ADS_1
Rino hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah laku tak biasa atasannya itu.