
Setelah mengobati dirinya sendiri dan berganti pakaian, Yura hendak beralih untuk menemui saudari kembarnya. Namun, karena letak kamarnya lebih dekat dengan kamar yang ditempati oleh Arsha, Yura pun lebih dulu masuk menemui keponakan lelakinya di dalam suatu kamar.
Dilihatnya, Arsha sudah kenbali memejamkan kedua mata dan tidur. Sama seperti saat masih berada di dalam Istana Kerajaan sebelum melakukan perjalanan mendadak ke Vila milik Keluarga Haris, Arsha tertidur dengan nyaman. Namun, Yura tahu kalau keponakan lelakinya masih belum benar-benar tertidur. Apa lagi setelah melihat kejadian mengerikan, Arsha pasti hanya tidak ingin dirinya merepotkan orang lain jika belum tertidur selarut malam ini. Jadi, Arsha pasti hanya mencoba memejamkan kedua matanya dengan cepat untuk tidur.
"Arsha pasti baru saja tertidur kembali. Harusnya aku tidak datang mengganggunya," gumam Yura yang tetap berjalan mendekat ke arah ranjang tempat tidur Arsha di dalam kamar tersebut.
"Arsha, maaf kalau tidurmu sebelumnya terganggu karena perjalanan yang sangat mendadak tadi. Dan maaf karena aku masih belum bisa melakukan yang terbaik saat melindungimu dan ibu-mu. Harusnya aku tidak boleh terluka sama sekali saat melindungi kalian karena jika bisa melindungi diri sendiri dengan baik baru bisa dinamakan berhasil melindungi orang lain," ujar Yura sambil mengusap kepala Arsha dengan lembut.
"Lalu, aku bahkan membuatmu melihat kejadian yang mengerikan. Kau pasti merasa takut tadi. Maafkan aku yang tidak bisa membuatmu merasa nyaman sepenuhnya. Rupanya, aku belum bisa menjadi seorang bibi yang baik untukmu. Meski begitu, kuharap kau bisa melanjutkan tidurmu dengan nyenyak karena di sini ada banyak orang yang akan dan bisa melindungimu dengan lebih baik dari pada aku," sambung Yura
"Aku akan tumbuh dewasa dengan cepat, Bibi. Dengan seperti itu, kau tidak perlu lagi repot-repot melindungiku dan akulah yang akan melindungimu dan ibu. Jadi, kau tidak perlu lagi terluka parah demi kami," batin Arsha yang memang belum benar-benar tertidur.
Setelah itu, Yura pun kembali melangkahkan kaki ke luar dari kamar tersebut. Saat hendak beranjak menemui saudari kembarnya, Yura mendengar suara bising dari luar gerbang. Mendengar keributan hingga ke vila dari luar gerbang membuat Yura menajamkan indera penglihatannya. Saat itulah Yura memanggil pelayan yang masih sibuk karena kedatangannya dan yang lain.
"Ada Baginda Raja datang ke mari, cepat buka gerbangnya!" pekik Yura
Beberapa pelayan langsung terburu-buru membukakan gerbang vila hingga Raja, Arvan, Rio, dan Pevita bisa masuk dengan mudah bersana kuda yang masing-masing mereka tunggangi.
Yura berjalan mendekat untuk menyambut kedatangan tamu baru. Namun, Baginda Raja, Arvan, Rio, dan Pevita langsung turun dari atas punggung kuda dan lebih dulu menghampirinya dengan cepat.
"Yura, bagaimana kondisimu? Apa kau baik-baik saja? Lalu, bagaimana dengan keadaan Yuna dan Arsha? Di mana mereka sekarang?" tanya Raja dengan ekspresi wajah penuh kekhawatiran.
"Tenangkan diri Anda, Baginda. Seperti yang bisa Anda lihat, saya baik-baik saja. Begitu juga dengan kak Yuna dan Arsha yang sedang istirahat di kamar masing-masing. Saya baru saja melihat Arsha di dalam kamarnya dan dia sudah tertidur. Saat ini saya baru saja ingin menuju kamar kak Yuna dan melihat kedatangan Anda saat hendak ke sana," jelas Yura
"Kalau begitu, aku akan ikut denganmu," ujar Raja
"Baiklah. Mari, kita pergi bersama ... " kata Yura
Yura pun beranjak pergi bersama Raja, Arvan, Rio, dan Pevita menuju kamar yang ditempati oleh Ratu di vila tersebut.
__ADS_1
"Yura, apa kau yakin kalau kau baik-baik saja? Saat dalam perjalanan ke sini, aku melihat tempat bekas pertarungan dan simbah darah dan juga di sana terdapat banyak korban yang mengenakan pakaian yang sama dengan para penyusup Istana Kerajaan," ujar Raja bertanya.
"Rupanya, mereka benar-benar beraksi dengan cepat. Namun, karena mereka yang kalah, jadi saya baik-baik saja," kata Yura
"Namun, bagaimana dengan keadaan di Istana Kerajaan? Apa ada yang terluka di sana? Anda sendiri baik-baik saja, kan, Baginda?" tanya Yura melanjutkan.
"Aku baik-baik saja, karena itu aku bisa datang ke sini begitu situasi di Istana Kerajaan kembali aman. Begitu juga dengan mereka yang ikut denganku," jawab Raja
"Kami baik-baik saja, Nona. Dan kami ikut ke sini atas perintah dari Tuan Penasehat Besar," kata Rio
"Aku mengerti. Syukurlah, kalau kalian berdua baik-baik saja. Karena kalian berdua sudah ada di sini, setelah ini kalian tetap harus melindungi Ratu bersamaku," ujar Yura
"Baik. Kami mengerti, Nona," sahut Pevita dan Rio secara bersamaan.
Meski tetap diam, Arvan merasa lega saat mendengar kalau Yura baik-baik saja. Setidaknya lelaki itu sudah memastikan bahwa tidak terjadi hal buruk pada gadis pujaan hatinya.
"Karena Arvan sudah ada di sini dan kita sedang ingin menemui Ratu, aku ingin memintamu untuk memeriksa Ratu saat bertemu dengannya nanti," pinta Yura
"Harap tenangkan diri Anda dulu, Baginda. Saya memang berkata kalau Ratu baik-baik saja, tapi tidak ada salahnya jika melakukan pemeriksaan padanya. Karena saat tiba di sini saya melihat wajah Ratu yang tampak pucat. Saya khawatir, Ratu merasa syok dan panik berlebihan sampai mengganggu kesehatannya," jelas Yura
"Baiklah, kau benar. Aku hanya merasa terlalu khawatir," kata Raja
"Baiklah. Aku akan memeriksa Ratu saat bertemu dengannya nanti," ucap Arvan
"Tidak masalah, Baginda. Saya sangat mengerti dengan perasaan Anda saat ini. Kita sudah sampai, di sini adalah kamar yang ditempati oleh Ratu," ujar Yura
Pelayan yang berjaga di depan kamar Ratu langsung memberi salam hormat saat melihat Raja. Lalu, ada Tuan dan Nyonya Haris yang ke luar dari dalam kamar yang ditempati oleh Ratu.
"Salam sejahtera bagi Baginda Raja," ucap Tuan dan Nyonya Haris.
__ADS_1
"Kapan Baginda Raja datang ke sini? Kenapa tidak ada yang memberi tahu pada kami berdua?" tanya Tuan Haris melanjutkan.
"Saya baru saja sampai dan langsung bertemu dengan Yura, Ayah Mertua. Lalu, saya langsung meminta Yura untuk mengantar saya ke kamar Yuna karena ingin melihat keadaannya," jelas Raja
"Ibu, Ayah, apa kak Yuna sudah tidur? Apa kami bisa masuk ke dalam untuk melihatnya?" tanya Yura
"Yuna sedang istirahat, tapi dia belum tidur. Yuna tampak memikirkan sesuatu, mungkin dia merasa bersalah karena kau terluka. Ibu pikir kau sudah istirahat karena terluka Yura. Ibu dan Ayah baru saja ingin menemuimu di kamar," jawab Nyonya Haris
"Bukankah kau bilang kau baik-baik saja, Yura? Kenapa Ibu Mertua bilang kau terluka? Apa kau berbohong denganku?" tanya Raja
"Saya tidak berbohong, Baginda. Ibu memang benar saat berkata saya terluka, tapi saya hanya mendapat luka kecil dan luka saya sudah diobati. Karena itu saya bilang kalau saya baik-baik saja, lukanya bahkan tidak terasa sakit. Ibu dan Ayah juga tidak perlu merasa khawatir," ungkap Yura
"Karena kami sudah di sini, kami akan masuk untuk menemui kak Yuna dulu. Ibu dan Ayah juga boleh ikut masuk lagi bersama kami," sambung Yura
"Tidak, kami sudah bertemu Yuna tadi. Kau saja yang masuk bersama Baginda Raja dan Tuan Penasehat Besar," kata Tuan Haris
"Permisi, Ayah dan Ibu Mertua. Saya akan menemui Yuna dulu, setelah itu saya akan bicara dengan Anda berdua. Maaf telah mengganggu dan merepotkan Anda berdua tengah malam hari seperti ini," ujar Raja
"Tidak masalah, Baginda Raja. Silakan masuk," kata Nyonya Haris
Raja, Arvan, dan Yura pun masuk ke dalam kamar yang ditempati oleh Ratu di vila tersebut. Sedangkan Pevita dan Rio tetap di luar bersama Tuan dan Nyonya Haris.
"Selamat malam, Tuan dan Nyonya Earl. Perkenalkan, kami berdua adalah prajurit yang bertugas untuk melindungi Yang Mulia Ratu di Istana Kerajaan. Saya adalah Rio dan teman saya adalah Pevita," ucap Rio memperkenalkan dirinya dan Pevita pada Tuan dan Nyonya Haris yang merupakan keluarga bangsawan Earl.
"Kami berdua bersalah, Tuan dan Nyonya. Kami tidak bisa ikut untuk melindungi Yang Mulia Ratu dan nona Yura pada perjalanan sebelumnya. Kami telah lalai dalam tugas kami untuk melindungi kedua putri Anda yang terhormat dan berharga," ucap Pevita
"Kami sudah mengerti dengan situasinya dan kami mengerti dengan alasan Baginda Raja yang membuat rencana dan keputusan seperti malam ini. Tidak masalah karena terkadang sesuatu yang harus terjadi memang tidak bisa dihindari dengan mudah begitu saja," kata Nyonya Haris
"Yang terpenting adalah setelah ini. Kami harap kalian berdua bisa setia dengan pekerjaan dan tugas yang telah diberikan," ujar Tuan Haris
__ADS_1
Arvan memang ikut bersama dengan Raja dan Yura untuk masuk ke dalam kamar yang ditempati oleh Ratu. Namun, pikirannya seolah tidak fokus dan pandangan matanya sibuk terarah pada Yura. Lelaki itu langsung merasa khawatir saat tahu kalau gadis pujaan hatinya menyembunyikan fakta bahwa telah terluka.