
Beberapa prajurit yang kembali ke kamp prajurit untuk memakai baju besi, akhirnya kembali lagi menuju ke medan perang untuk kembali melakukan kontribusi demi melindungi kedamaian Negara Kerajaan Chuya.
Saat tiba di medan perang, mereka berhasil dikejutkan begitu melihat situasi perang yang berbanding terbalik dengan yang sebelumnya. Pasukan Negara Kerajaan Chuya berhasil memegang kendali bahkan saat terlihat dengan jelas bahwa Pasukan Negara Kerajaan Brande telah mengganti para anggota prajurit baru untuk berperang.
Semangat dan tenaga milik Pasukan Negara Kerajaan Chuya masih tampak prima dan berkobar-kobar seolah tak akan hilang atau habis, sedangkan Pasukan Negara Kerajaan Brande tampak kewalahan dan kocar-kacir seolah sudah sampai pada batas akhir. Merupakan pandangan yang tak biasa, jika biasanya pasukan musuh tampak kejam dan licik, kali ini justru sebaliknya.
Pasukan musuh seolah dibuat terpojok tanpa jalan ke luar, kecuali pemimpin pasukan musuh yang tampak masih memiliki tekad untuk mengalahkan. Namun, itu tidak akan mudah jika pasukan yang dipimpin olehnya tampak sudah tidak ada yang dilakukan selain bertahan.
Beralih dari pasukan musuh dan pemimpinnya untuk menatap ke arah Yura, rupanya gadis itu masih memiliki sorot mata yang cerah bahkan amat cerah hingga tampak berkilat tajam seolah dapat menumpas semua musuh yang ada di hadapannya dengan semangat yang masih utuh dan penuh. Rupanya, Yasha memberikan posisi Ketua untuk digantikan oleh adik bungsunya itu bukannya tanpa perhitungan. Sungguh tidak boleh meragukan dan meremehkan Yura yang merupakan seorang gadis.
"Ketua Yura, berikan perintahmu pada kami. Apa yang harus kami lakukan?"
"Tidak ada perintah lain atau steategi baru. Kalian hanya perlu menyerang dengan sekuat tenaga. Maju terus dan jangan menyerah! Tunjukkan semangat kalian yang tak akan pernah padam!" jawab Yura sambil berteriak kencang di tengah medan perang itu.
Pada akhirnya, beberapa prajurit yang baru kembali ikut bergabung dengan Pasukan Negara Kerajaan Chuya lainnya untuk menyerang Pasukan Negara Kerajaan Brande.
Melihat Pasukan Negara Kerajaan Chuya yang bergabung menjadi lebih banyak membuat semangat dan tenaga milik Pasukan Negara Brande semakin menyusut. Hal itu membuat pasukan musuh tidak terima dan bergerak maju menyerang Yura yang merupakan Pemimpin Pasukan.
"Mau diganti berapa kali dengan siapa pun juga, pada dasarnya orang dari Negara Kerajaan Chuya itu lemah! Lebih baik menyerah saja dari pada bersusah payah!"
Jika tidak banyak bersabar pasti sejak tadi Yura sudah tidak bisa bertahan berada di medan perang itu. Apa lagi harus menghadapi provokasi dari pemimpin pasukan musuh saat ini, namun Yura tetap melakukan serangan balik dengan fokus yang penuh.
Bisa diakui bahwa pemimpin pasukan musuh merupakan lawan yang tangguh, begitu juga sebaliknya. Bagi musuh, Yura adalah lawan yang tak mudah untuk ditaklukkan. Hingga saat ini musuh masih terus berusaha menjatuhkan Yura dengan cara menyerangnya secara bertubi-tubi bahkan dari segala penjuru hingga membuat Arvan dan beberapa anggota prajurit terdekat memekik karena khawatir jika Yura sampai terluka.
"Ketua // Yura!"
__ADS_1
Yura yang diserang dari segala arah hanya bisa menghindar dari serangan dengan cara melekukkan tubuhnya ke belakang hingga melengking sempurna dan itu membuat pelindung besi yang dipakai pada kepalanya terjatuh dan terlepas begitu saja. Saat itulah pasukan musuh mengetahui bahwa Pemimpin Pasukan Negara Kerajaan Chuya adalah seorang perempuan.
"Ternyata hanya seorang perempuan. Bisa-bisanya malah bermain-main di medan perang seperti ini."
"Bukankah itu adalah perempuan yang pernah melempar pisau dengan racun dari darah ular berbisa padaku? Tak kusangka dia bahkan ikut sampai ke sini untuk bertarung secara langsung. Sungguh perempuan yang sangat hebat hingga membuatku semakin ingin segera memilikinya."
"Ketua, bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja?" tanya Arvan
"Aku baik-baik saja. Tetap pertahankan posisi dan strategi. Terus maju dan serang. Jangan pedulikan aku!" teriak Yura menjawab.
"Beruntung Ketua Yura baik-baik saja. Kalau sesuatu terjadi padanya, mungkin seluruh pasukan akan mendapat hukuman berat dari Ketua Yasha."
Tidak diberi kesempatan dan waktu untuk merasa khawatir secara berlebihan, pertempuran terus berlanjut.
Setelah mengetahui bahwa Pemimpin Pasukan Negara Kerajaan Chuya adalah seorang perempuan membuat semangat Pasukan Negara Kerajaan Brade kembali pulih karena menganggap remeh. Namun, hal itu tidak serta merta membuat semangat Pasukan Negara Kerajaan Chuya menjadi ciut.
"Aku ingin memberi penawaran!"
"Beri kesempatan dan dengarkan!" teriak Yura agar pasukannya juga menghentikan serangan.
Menurut Yura tidak ada salahnya memberi kesempatan untuk mendengarkan penawaran yang akan diajukan oleh pasukan musuh karena Yura berpikir pihak musuh akan menawarkan negoisasi perdamaian, maka hal itu patut untuk dipertimbangkan. Namun, Yura sudah salah mengira.
"Aku ingin menawarkan agar kedua pihak untuk gencatan senjata selama beberapa waktu. Pihak kalian bisa merundingkan berapa lama waktu yang ingin diminta untuk rencana gencatan senjata ini. Namun, pihak kami juga ingin meminta suatu syarat."
"Sudah kuduga, kalian pihak lawan tidak mungkin akan memiliki inisiatif baik begitu saja. Pasti ada niat terselubung di balik semua ini. Segala ingin mengajukan syarat."
__ADS_1
"Silakan berbicara lebih lanjut," kata Yura
"Aku ingin Nona Ketua sebagai syarat gencatan senjata. Sebagai seorang perempuan pasti sulit bagi Nona memimpin pasukan seperti ini, lagi pula medan perang yang bahaya seperti ini tidak cocok untukmu. Mohon ikut dengan kami dengan tenang dan nyaman. Siapa tahu dengan seperti itu tidak hanya menyetujui rencana gencatan senjata, pihak kami juga akan menyudahi peperangan ini. Nona Ketua pasti juga tahu kalau perdamaian antar kedua Negara Kerajaan adalah hal yang paling penting dan patut untuk diutamakan. Silakan pikirkan penawaran ini secara bijak dengan penuh kematangan. Kalian semua juga pasti lelah dengan semua ketegangan yang terus berlangsung lama ini, jadi kusarankan Nona untuk menyetujuinya dengan cepat tanpa terlalu banyak berpikir."
Sungguh mengejutkan tentang apa yang diinginkan oleh pasukan musuh sebagai syarat gencatan senjata. Sungguh tidak masuk akal dan tak dapat diterima. Permintaan syarat itu sama saja menyuruh Yura untuk menjadi tawanan perang secara sukarela.
"Berani-beraninya kau-" ucapan Arvan terpotong begitu saja hanya karena satu angkatan tangan Yura.
Yura berangsur memasukkan pedang miliknya ke dalam sarung pelindungnya.
"Ketua, jangan percaya dengan mulut busuknya yang hanya bisa membicarakan tipuan itu. Dia sangat licik."
"Yura yang kukenal tidak mungkin menurut dengan pasrah begitu saja. Namun, bagaimana jika Yura sungguh merasa lelah dengan semua situasi ini? Kumohon, jangan bertindak dengan gegabah, Yura ... " batin Arvan
"Ya, bagus. Nona Ketua, lebih baik kau simpan senjatamu dan jatuhkan atau buang saja. Datanglah ke sini dan ikutlah dengan kami demi perdamaian kedua Negara Kerajaan."
Yura memang memasukkan pedang ke dalam sarung pelindungnya. Namun, setelah itu Yura mengeluarkan sebilah belati dan dengan gerakan cepat melemparkannya hingga tepat mengenai salah satu dari sepasang mata pemimpin pasukan musuh hingga membuatnya mengerang kesakitan.
"Semuanya, serang! Ayo, maju!" teriak Yura
Suasana kembali kacau dan perang dilanjutkan secara otomatis.
Arvan tersenyum saat mendapati Yura tetap pada pendiriannya.
"Lagi-lagi aku berpikir secara berlebihan. Sudah kuduga, Yura tidak mungkin menyerah dengan mudah begitu saja," batin Arvan
__ADS_1
"Musuh memang sangat licik dan kejam. Aku sudah sampai sini tidak mungkin menyerah. Kalian yang sudah membuat kakakku terluka, aku pasti membalas perbuatan kalian semua ... " batin Yura
Karena sudah menyimpan pedang miliknya, kali ini Yura mengeluarkan busur dan anak panah untuk melakukan serangan dengan akurat meski dari jarak jauh sekali pun.