One & Only

One & Only
21 - Dikejar Anjing.


__ADS_3

"Sapu tangan itu diberikan oleh penyelamatku saat aku terluka untuk membalut lukaku ketika masih kecil dulu, sejak saat itu aku menyukai penyelamatku itu sampai sekarang meski dia sudah menjadi istri Raja. Jadi, biarkan sapu tangan itu robek karena setimpal dengan bisa menyelamatkan penyelamatku dulu dari insiden si penari kipas sebelumnya. Kenapa Yura menanyakan soal sapu tangan itu? Apa mungkin dia ingat kalau sapu tangan itu adalah milik Ratu saat masih kecil? Kalau seperti itu, apa Yura menyadari bahwa aku menyukai Ratu, kakaknya?" batin Arvan


"Omong-omong, kenapa kau tiba-tiba menanyakan soal sapu tangan milikku, Yura?" tanya Arvan


"Tidak, bukan apa-apa. Hanya saja aku seperti pernah melihat sapu tangan milikmu itu. Entah, milik siapa, di mana, dan kapan. Aku sudah lupa," jawab Yura


"Kau bahkan mungkin sering melihatnya setiap hari dulu, karena itu pemberian dari Ratu, saudari kembarmu. Namun, untunglah kalau Yura sudah tidak ingat lagi," batin Arvan


"Aku berkeliling seperti ini, apa Ratu dan Putra Mahkota akan mencariku?" tanya Yura bergumam.


"Apa kau hanya memikirkan soal Ratu dan Putra Mahkota karena mereka adalah kakak dan keponakanmu? Apa kau tidak pernah berpikir kalau saja Raja sekaligus kakak iparmu mumgkin sedang butuh bantuan dan mencarimu?" tanya Arvan


"Raja sudah lebih sering dilayani dan meminta bantuan oleh banyak pelayan lain, pasti tidak akan mencariku," jawab Yura


"Kalau begitu, Ratu dan Putra Mahkota juga seperti itu. Mereka tidak akan mencarimu karena sudah ada banyak pelayan di vila ini," ujar Arvan


•••


Flashback: on.


Suatu hari pada perayaan terbuka di Istana Kerajaan.


Keluarga Haris diundang pada perayaan terbuka di Istana Kerajaan setelah perang berhasil dimenangkan. Karena kepala keluarga Haris, yang bergelar Earl yang juga menjadi pemimpin pasukan Raja di medan perang berhasil membawa kemenangan bersama para pasukan bawahannya. Perayaan terbuka tersebut juga dijadikan pesta kemenangan pada saat itu.


Adam Haris, kepala keluarga Earl, sudah lebih dulu berada di Istana Kerajaan dan menunggu keluarganya yang turut diundang datang ke Istana.


"Ibu, kenapa hari ini kita harus datang ke Istana?" tanya salah satu gadis cilik keluarga Haris.


"Karena hari ini bukanlah perayaan terbuka biasa, tapi keluarga kita juga dapat undangan karena ayah kalian sudah pulang dengan membawa kemenangan dari medan perang bersama pasukannya. Kita harus turut hadir dalam pesta perayaan ini, atas undangan dari kerajaan dan sebagai ucapan selamat untuk ayah kalian," jelas Nyonya Earl, Irina Haris.


"Jadi, ayah juga ada di pesta ini dan hari ini kita sudah bisa bertemu ayah setelah sekian lama?" tanya gadis cilik keluarga Haris lainnya.


"Benar, kita bisa bertemu dengan ayah setelah memasuki pintu ini ... " jawab Irina Haris.


"Kalian bertiga, dengarkan Ibu baik-baik. Di dalam Istana harus menjaga sikap dengan baik, harus sopan, dan jangan nakal. Yasha, sebagai Kakak, kamu harus bantu Ibu menjaga kedua adik," ujar Irina Haris melanjutkan.


"Baik, Bu ... " kata satu-satunya putra keluarga Haris, Yasha.


"Sayangnya, kita tidak bisa masuk bersamaan. Ibu akan masuk lebih dulu, lalu saat nanti pintu dibuka lagi oleh para pelayan Istana, kalian baru boleh masuk saat itu," ucap Irina Haris.


"Kenapa harus seperti itu, Bu?" tanya salah satu gadis cilik keluarga Haris.


"Karena memang seperti itu peraturannya, Yura," jawab Irina Haris


"Yasha, saat Ibu masuk sampai waktunya kalian masuk nanti, teruslah jaga dan dampingi kedua adikmu dengan baik," pesan Irina Haris


"Aku mengerti, Bu ... " kata Yasha Haris


Saat itu anggota keluarga Haris sedang menunggu dan bersiap untuk memasuki aula pesta Istana. Tak lama kemudian, pintu aula pun terbuka dari dalam.


"Nyonya Earl, Irina Haris ... dipersilakan untuk memasuki aula!" pekik penjaga pintu aula pesta.


"Kalau begitu, Ibu masuk dulu, ya, anak-anak. Sampai jumpa sebentar lagi," ujar Irina Haris


Ketiga Haris cilik, seorang putra dan dua orang putri, pun saling menganggukkan kepala.


Nyonya Earl, Irina Haris pun memasuki aula pesta Istana Kerajaan.


"Kak, pesta perayaan di Istana itu seperti apa?" tanya salah satu gadis cilik keluarga Haris.


"Yang namanya pesta itu ramai dan mewah, Yuna, apa lagi yang dirayakan oleh Istana Kerajaan. Akan ada banyak makanan, camilan, dan minuman enak ... " jelas Yasha Haris


"Kalau begitu, akan ada banyak orang di dalam sana dong, Kak?" tanya gadis cilik keluarga Haris lainnya.


"Tentu saja, Yura. Kau harus bisa menahannya setidaknya untuk hari ini saja. Kita harus menghormati pihak Istana Kerajaan yang sudah mengundang kita untuk ikut menghadiri pesta kali ini," jawab Yasha Haris


"Aku sudah tidak bisa membayangkannya sejak awal. Tidak bisa seperti ini. Kak, izinkan aku untuk berkeliling dan mencari udara sebentar saja agar aku bisa lebih merasa tenang sebelum masuk ke dalam aula pesta Istana dan menghadapi banyak orang nantinya. Aku janji tidak akan lama dan tidak akan jauh-jauh," ucapnya


"Yura, apa kau tidak bisa menahannya untuk hari ini saja? Istana Kerajaan ini sangat luas, bagaimana kalau nanti kau menyasar?"


"Justru itu, Kak Yuna ... untuk bisa menahannya aku harus menenangkan diri lebih dulu. Aku tidak akan pergi jauh, jadi tidak akan menyasar."


"Baiklah, kau boleh berkeliling sebentar untuk menenangkan diri, tapi di dekat sini saja. Yuna, kau di sini saja bersama Kakak," kata Yasha Haris


"Kalau begitu, aku pergi dulu sebentar."


"Kami akan menunggumu di sini, Yura. Cepatlah kembali."


Selain seorang putra bernama Yasha, keluarga Haris juga memiliki putri kembar bernama Yuna dan Yura.


Yura adalah putri yang menyukai keindahan pemandangan dan tidak suka terlebih tak terbiasa dengan suasana orang ramai. Hingga sebelum memasuki aula pesta Istana, Yura pun harus menjalani ritualnya lebih dulu untuk menenangkan diri sebelum membaur dan menghadapi banyak orang di dalam aula pesta Istana.


Salah satu gadis kembar keluarga Haris itu pun beranjak aeorang diri untuk menenangkan diri dengan cara berkeliling sebentar.

__ADS_1


Tak lama kemudian, pintu aula pesta Istana kembali terbuka.


"Putra-Putri, anggota keluarga Haris, dipersilakan untuk masuk!"


"Kak Yasha, bagaimana ini? Yura baru saja pergi," ujar salah aatu gadis kembar keluarga Haris bernama Yuna yang tersisa di sana.


"Tidak apa-apa, jangan panik, Yuna. Kita biarkan saja Yura dan kita masuk saja dulu ke dalam karena kita tidak bisa membiarkan banyak orang menunggu hanya karena Yura sedang pergi sebentar," jawab Yasha Haris


"Ayo, kita masuk ke dalam ... " kata Yasha Haris melanjutkan.


"Baik, Kak."


Yasha bersama salah satu adik kembarnya pun memasuki aula pesta Istana.


"Irina, di mana Yura?" tanya kepala keluarga Earl, Adam Haris di dalam aula pesta Istana saat melihat hanya dua anaknya yang masuk.


"Adam, bukankah kau bilang anakmu ada tiga? Lalu, ke mana yang satu lagi? Kenapa yang masuk hanya dua?" tanya Raja


"Maaf, Baginda Raja. Padahal saya mengajak ketiga anak kami untuk datang. Permisi, sebentar ... " kata Nyonya Earl, Irina Haris.


Nyonya Earl, Irina Haris pun menghampiri kedua anaknya.


"Anak-anak, beri salam pada Baginda Raja, Yang Mulia Ratu, dan Putra Mahkota ... " ucap Irina Haris


"Salam sejahtera bagi keluarga Kerajaan yang Agung dan Mulia," serempak kedua cilik keluarga Haris sambil memberi salam hormat.


"Baginda Raja, Yang Mulia Ratu, Putra Mahkota, perkenalkan mereka adalah anak kami Yasha Haris dan Yuna Haris," ucap Adam Haris


"Selamat datang, Putra, Putri Keluarga Haris ... " kata Ratu


"Salam kenal, Yasha dan Yura. Aku, Evan ... " sapa Putra Mahkota, Evan (dulu adalah Putra Mahkota, Raja saat ini).


"Yasha, Yuna, di mana adik kalian, Yura?" tanya Irina Haris dengan suara pelan.


"Ibu, Yura pergi berkeliling sebentar untuk menenangkan diri, tapi setelah itu pintu aula langsung dibuka dan meminta kami untuk masuk," jawab Yasha sambil berbisik.


"Maaf, Baginda Raja, Yang Mulia Ratu, Putra Mahkota ... satu lagi Putri kami tidak terbiasa dengan suasana orang ramai, jadi mungkin dia pergi berkeliling sebentar. Istri saya akan pergi mencarinya," ucap Adam Haris.


"Kalau begitu, saya pamit undur diri sebentar ... " ujar Irina Haris


"Aku yang bersalah karena mengizinkan Yura pergi. Ibu, biar aku saja yang mencarinya," kata Yasha Haris


"Kak Yasha, apa aku boleh ikut? Aku khawatir dengan Yura yang sendirian di luar," ujar Yuna


"Anak-anak-"


"Apa aku juga boleh pergi, Ayahanda, Ibunda?" tanya Evan


"Silakan saja, tapi jangan terlalu lama dan kembali lagi ke sini. Kau tunjukkan jalan di Istana ini, Evan ... " jawab Ratu


"Baiklah."


"Kami permisi ... " serempak Evan, Yasha, dan Yuna.


Ketiga bocah itu pun pergi meninggalkan aula pesta Istana.


...


Di satu sisi Istana Kerajaan.


"Sepertinya aku sudah berjalan terlalu jauh," gumam Putri cilik keluarga Haris.


Saat itu ada beberapa pelayan yang lewat dengan membawa camilan untuk pesta.


"Lho, bukankah ini adalah Putri keluarga Haris yang tadi kita dilihat memasuki aula pesta? Kenapa kau bisa ada di sini, Nona kecil?"


"Yang mereka lihat mungkin maksudnya adalah kak Yuna karena sedari tadi aku belum masuk ke dalam aula," batin Yura


"Tadi aku pergi untuk berkeliling sebentar. Bibi, kalian sedang membawa apa?" tanya Yura


"Ini adalah camilan untuk pesta. Apa kau mau, Nona kecil?"


"Apa aku boleh mengambil sedikit? Apa saja yang kalian bawa, Bibi?" tanya Yura


"Tidak apa-apa kalau hanya ambil sedikit. Kami membawa beberapa kue, yang paling berbeda dari yang lain adalah yang satu ini ... rasanya gurih karena terbuat dari daging yang dibentuk kotak."


"Kalau begitu, aku ambil yang ini saja. Aku ambil 2 buah ya, Bibi. Terima kasih," ujar Yura setelah mengambil kue daging berbentuk kotak.


"Sama-sama, Nona kecil. Apa kau mau ikut bersama kami ke dalam aula pesta Istana?"


"Kalian duluan saja, Bibi. Aku akan di sini sebentar lagi," jawab Yura


"Baiklah, jangan bermain terlalu jauh, Nona Kecil."

__ADS_1


"Baik, Bibi cantik ... " kata Yura


Setelah para pelayan pergi, Yura pun kembali sendirian. Lalu, Yura mendengar suara.


"Pergi, tolong!"


Mendengar suara minta tolong, Yura pun mencari sumber suara tersebut.


Yura melihat seorang lelaki kecil yang sedang berlari dikejar seekor anjing. Hingga akhirnya lelaki itu terjatuh karena tersandung batu. Saat itu Yura membantu lelaki itu menghadang anjing yang mengejarnya.


"Anjing pintar, pergilah ... jangan ganggu dia!"


Anjing itu berhenti dan menggonggong keras di depan Yura. Namun, Yura tidak terlihat takut sama sekali.


Lalu, Yura mengayunkan kue daging yang didapat dari pelayan tadi pada anjing di depannya.


"Ini adalah daging. Apa kau mau, anjing pintar? Kalau begitu, ambillah ... " Yura pun melempar kue daging itu ke tempat yang jauh dari sana.


"Anjingnya sudah pergi, ayo kita juga pergi. Kalau tidak, nanti anjing tadi kembali lagi," ujar Yura pada lelaki yang terjatuh tadi.


Yura pun membantu lelaki tersebut untuk berdiri, lalu keduanya pun berlari dari sana.


"Sepertinya kita sudah pergi jauh dari tempat tadi," kata Yura


"Terima kasih sudah membantuku tadi," ucapnya


"Sama-sama," balas Yura


"Apa kau adalah salah satu anak dari keluarga yang diundang untuk datang ke pesta hari ini?" tanyanya


"Benar, aku pergi berkeliling sebentar. Kau juga, kan? Apa mau mau masuk aula bersamaku?" tanya balik Yura


"Kalau mau pun, aku tidak bisa sekarang ... " jawabnya


"Benar juga. Pakaianmu jadi kotor karena jatuh tadi. Kalau begitu, ini untukmu. Tadi aku dapat dari Bibi pelayan," ujar Yura sambil memberi sisa satu kue daging pada lelaki itu.


"Kau tidak perlu menghiburku, lagi pula ini milikmu dan hanya sisa satu ini ... " katanya


"Tidak apa-apa kok, untukmu saja. Omong-omong, apa yang terjadi sampai kau dikejar oleh anjing tadi?" tanya Yura


"Aku tidak melihatnya dan tidak sengaja menginjak ekornya. Anjing itu marah dan langsung mengejarku," jelasnya


"Begitu, rupanya. Yang tadi pasti anjing penjaga karena sangat galak. Ya ampun, kau terluka ... " ujar Yura


Dilihatnya, telapak tangan lelaki itu terluka karena sebelumnya sempat terjatuh tersungkur karena tersandung batu dengan tangan yang mendarat di tanah lebih dulu. Yura pun mengeluarkan sapu tangan miliknya untuk nembalut luka di telapak tangan lelaki itu.


"Tidak perlu sampai seperti ini. Sapu tangan milikmu bisa kotor jadinya," ucapnya


"Aku tidak bisa membiarkan lukamu infeksi, jadi harus dibalut," kata Yura sambil mengikat sapu tangan yang telah membalut luka lelaki itu.


"Kau sudah membalut lukaku dan tadi kau juga yang menyelamatkan aku. Sekali lagi terima kasih," ucapnya


"Kau sudah bilang terima kasih tadi, cukup sekali saja. Sebagai gantinya, mari kita berteman. Teman yang pasti bertemu kembali," ujar Yura


"Baiklah, sekarang kita berteman ... " katanya


"Sudah, ya. Aku pergi dulu, kakakku pasti sedang mencariku. Lain kali kita pasti bertemu lagi," pamit Yura yang berlalu begitu saja.


"Sudah pergi, cepat sekali ... aku belum tahu namanya," gumam lelaki itu yang kemudian pergi ke arah lain.


...


"Kak Yasha, Istana Kerajaan sangat luas. Aku merasa lelah," kata Yuna yang sedang mencari Yura bersama kakak lelakinya dan Putra Mahkota.


"Yasha, adikmu yang lainnya harus ditemukan. Kau carilah dia, biarkan Yuna istirahat di sini dan aku akan menemaninya," ucap Putra Mahkota, Evan.


"Baiklah. Mohon Putra Mahkota temani Yuna sebentar, saya akan menemukan Yura dengan cepat ... " ujar Yasha


"Ya, pergilah ... " kata Evan


Yasha pun pergi mencari Yura seorang diri. Sedangkan Yuna berhenti untuk istirahat ditemani oleh Evan.


Saat itu ada seorang lelaki yang melihat Putra Mahkota sedang bersama seorang gadis.


"Yuna, duduklah dulu ... " kata Evan


"Baik, Putra Mahkota ... " sahut Yuna


"Rupanya, nama dia adalah Yuna. Dia bersama Putra Mahkota dan sepertinya mereka terlihat akrab. Aku tidak boleh mengganggu mereka. Sayang sekali, padahal aku langsung menyukainya karena dia sudah menyelamatkanku dengan berani. Siapa aku berani bersaing dengan Putra Mahkota? Aku hanya seorang tawanan, tidak boleh banyak berharap, apa lagi berebut dengan Putra Mahkota. Sepertinya aku hanya sedang melantur," batinnya yang lalu beranjak pergi.


Tak lama kemudian, tak jauh dari sana Yasha berhasil menemukan Yura. Yasha pun mengajak Yura kembali ke tempat Yuna dan Putra Mahkota.


Saat membawa Yura kembali, Yura langsung memberi salam pada Putra Mahkota dan memperkenalkan diri. Putra Mahkota tampak terkejut saat melihat wajah Yura yang sangat mirip dengan Yuna, penampilan keduanya terlihat tak bisa dibedakan jika saja pakaian yang dipakai juga sama.

__ADS_1


Sayangnya, saat sampai di sana lelaki yang sempat diselamatkan oleh Yura sudah pergi dan hanya sempat melihat Putra Mahkota dan Yuna dari jauh. Bahkan mengira yang menyelamatkannya adalah Yuna, padahal penyelamatnya adalah gadis lain yang merupakan saudari kembar Yuna, yaitu Yura.


Flashback: off.


__ADS_2