One & Only

One & Only
20 - Berharga dan Berjasa.


__ADS_3

Saat ini Yura dan Arvan sedang santai dan istirahat sejenak dari aktivitas keduanya yang sedang berkeliling di sekitar Vila Kerajaan. Keduanya kini sesang duduk di bangku taman.


"Duduk di sini seperti ini rasanya sedikit aneh bagiku," kata Yura


"Memang apanya yang terasa aneh?" tanya Arvan


"Sepertinya aku terlalu sering berada di tempat yang tidak pasti, aku jadi lebih sering duduk di atas padang rumput, padang pasir, padang bunga, atau punggung kuda. Bahkan tak jarang juga aku tidur di atas punggung kuda saat sedang malas membuat tenda kemah. Duduk di atas bangku taman seperti ini jadi terasa agak asing bagiku," jelas Yura


"Memangnya sudah berapa lama mulai mengembara dan ke mana saja?" tanya Arvan


"Aku sudah pernah pergi ke banyak tempat selama kira-kira lebih dari lima tahun. Aku memang sering juga singgah di restoran atau tempat lain, tapi rasanya tetap saja berbeda," jawab Yura


"Kau sangat berani, apa kau sama sekali tidak pernah merasa takut?" tanya Arvan


"Tidak bisa kupungkiri, aku hanya manusia biasa yang pernah merasa takut. Aku bahkan pernah hampir mati di luar sana, tapi aku terus berhasil bertahan hidup dan sepertinya Tuhan masih berpihak padaku artinya aku disayangi. Namun, lain kali tetapkanlah pendirianmu ingin mengatakan aku ini pemberani atau pemalu, wahai Tuan Pemalu ... " ungkap Yura seraya meledek Arvan.


"Sudah kubilang, aku tidak seperti itu. Omong-omong, Yura ... jadi, sekarang berapa usiamu?" tanya Arvan yang mengalihkan topik pembicaraan agar Yura tidak terus menerus meledeknya.


"Aku bahkan sudah lupa. Sepertinya tahun ini usiaku sudah mencapai 26 atau 27 tahun. Usiaku sama dengan Ratu, kau pasti sudah mengetahuinya lebih dulu ... " jawab Yura


"Benar juga. Aku juga baru ingat, rupanya kau lebih muda satu tahun dariku, sama seperti Ratu," kata Arvan


"Memangnya berapa usiamu? Lalu, berapa usiaku dan Ratu?" tanya Yura


"Kenapa kau harus menanyakan usiamu sendiri pada orang lain?" tanya balik Arvan

__ADS_1


"Karena aku tidak ingat, makanya aku bertanya padamu yang mengetahuinya. Kau hanya perlu beri aku jawabannya," jawab Yura


"Tapi, syukurlah karena kau mulai mengembara saat dirimu sudah menginjak usia dewasa," kata Arvan


"Tentu saja, aku pasti merencanakan pengembaraanku dengan matang lebih dulu dan bukan bertindak secara impulsif dengan kabur dari rumah hanya karena itu adalah keinginan terbesarku untuk mengembara ke banyak tempat, meski saat itu aku memang sedikit memaksa ayah dan ibu, sih ... " ujar Yura


"Benarkah kau bukan melarikan diri dari rumah saat pertama kali memutuskan untuk mulai mengembara?" tanya Arvan


"Tentu saja, bukan. Aku tidak seperti itu. Saat itu adalah satu tahun setelah kakak menikah dan menjadi seorang Ratu di negeri ini, makanya banyak orang yang tidak tahu kalau Ratu memiliki saudari kembar. Keberadaanku telah terlupakan," jawab Yura


"Tapi, kau belum menjawab pertanyaanku. Sebenarnya berapa usiamu? Juga usiaku dan Ratu? Apa kau tidak ingin menjawabnya karena takut aku mengataimu lelaki tua yang pemalu?" tanya Yura melanjutkan seraya meledek Arvan.


"Kau harus tahu berapa usiamu sendiri," jawab Arvan tanpa niat memberi tahu.


"Kau tidak ingin beri tahu aku juga tidak masalah, aku bisa bertanya pada Ratu lain kali. Kalau dari yang kau bilang bahwa aku lebih muda satu tahun darimu, sepertinya benar kau adalah lelaki tua yang malu mengungkap usianya sendiri," ujar Yura


"Baiklah, kita tinggalkan pembicaraan tentang itu dan beralih ke topik lain. Sebagai gantinya, biarkan aku bertanya tentang satu hal dan kau harus menjawabnya," ucap Yura


"Tergantung pada pertanyaanmu seperti apa," sahut Arvan


"Pertanyaanku adalah ... setelah makan bersama tadi aku sempat melihat kau memakai sapu tangan, kau dapat dari mana sapu tangan itu? Kau beli di mana? Dan yang kulihat sepertinya sapu tangan itu sudah robek, ya?" tanya Yura


"Sapu tangan itu milikku yang kudapat dari seseorang, aku juga tidak tahu dia membelinya di mana dan memang sudah robek," jawab Arvan


"Dari seseorang? Maksudnya ada seseorang yang memberi sapu tangan itu untukmu? Apa dia perempuan? Apa dia orang yang berharga untukmu? Apa kau menyukainya?" tanya Yura

__ADS_1


"Benar, seorang perempuan memberikan sapu tangan itu padaku. Baik orang yang memberi dan sapu tangan itu sendiri sangat berharga untukku. Bisa dibilang yang nemberikannya adalah teman kecilku. Setidaknya dia berkata seperti itu, bahwa kita akan menjadi teman ... " ungkap Arvan dengan suara yang menjadi pelan di akhir kalimatnya.


"Rupanya, kau mendapat sapu tangan itu saat masih kecil dari seorang gadis cilik. Sepertinya sapu tangan itu memiliki arti dan cerita untukmu," ujar Yura


"Kau benar ... " kata Arvan sambil tersenyum simpul.


"Kalau sapu tangan itu sangat berharga untukmu, kenapa bisa sampai robek? Apa kau tidak menyimpan dan menggunakannya dengan baik?" tanya Yura


"Sapu tangan itu memang sangat berharga untukku hingga aku menjaganya dengan baik. Aku selalu menyimpan dan menggunakannya dengan baik sampai insiden Ratu dengan pelaku penari kipas itu terjadi saat pesta di Istana," jelas Arvan


"Aku sudah curiga dengan penari kipas itu dan aku melambaikan sapu tanganku ke arahnya dan benar saja, sapu tanganku robek hanya karena terkena ayunan kipas itu hingga sapu tangan itu berubah warna. Dari situ aku tahu kalau kipas si penari itu sangat tajam dan beracun. Saat aku mencoba memberi tahu soal itu pada Raja dan Ratu, insiden malah tak terelakkan dan Ratu pun jadi terluka," sambung Arvan


"Rupanya, selain berharga, sapu tangan itu juga berjasa. Kalau bukan karena kau sudah curiga dan menggunakan sapu tangan itu sebagai bahan uji coba dengan kipas si penari, pasti percobaan pembunuhan kali itu sungguh berhasil, meski akhirnya Ratu memang terluka. Setidaknya tidak terjadi hal fatal karena insiden saat itu dan saat ini pun Ratu sudah baik-baik saja," ujar Yura


"Namun, tetap saja aku terlambat menyadarinya. Kalau saja aku menyadarinya lebih cepat, mungkin saja saat ini Ratu tidak memiliki luka sedikit pun dan pelakunya juga bisa tertangkap sampai dihukum, bukannya malah bunuh diri untuk menghindari hukuman," ucap Arvan


"Namanya juga hidup, sering kali tidak sesuai dengan yang telah diharapkan, apa lagi kali ini adalah kejadian yang sudah berlalu. Mau menyesal pun sudah tidak berguna. Lebih baik jadikan kejadian sebelumnya sebagai pelajaran dan pengalaman hidup," kata Yura


"Ya, kau benar ... " sahut Arvan


"Apa aku boleh melihat dan pinjam sapu tangan milikmu itu?" tanya Yura


"Untuk apa?" tanya balik Arvan


"Kalau kau mengizinkankan, akan aku perbaiki sapu tangan milikmu itu. Tidak akan lama kok," jawab Yura

__ADS_1


"Terima kasih atas niat baikmu, tapi itu tidak perlu. Sapu tangan itu sangat berharga, akan tetap kupakai bagaimana pun rupanya. Meski robekannya lebih parah dari pada yang saat ini pun akan tetap kupakai tanpa pembaharuan," ucap Arvan


"Baiklah, aku tidak akan memaksa ... " kata Yura


__ADS_2