One & Only

One & Only
140 - Tradisi Melamar.


__ADS_3

Yura dan Arvan masih tampak merasa canggung meski pun kini sedang duduk dan makan bersama.


"Yura, saat kau berkata rindu mengembara, apa kau serius? Maksudku, apa kau akan pergi mengembara seperti dulu lagi?" tanya Arvan


"Entahlah, aku juga bingung. Aku merasa hidupku akhir-akhir ini jadi lebih mudah hingga aku merasa rindu momen saat mengembara yang penuh dengan rintangan. Apa lagi aku juga merasa jiwa pejuangku seolah bangkit setelah mendapat dorongan karena peperangan sebelumnya, jadi aku semakin rindu momen melewati rintangan seperti saat mengembara dulu," jelas Yura


"Namun, tidak mungkin untuk pergi dari keluargaku lagi bahkan saat sekarang semua telah berkumpul usai berakhirnya perang. Banyak orang yang mudah merasa tidak puas saat sudah diberi hidup yang mudah dan bahagia, dan aku pun termasuk dalam golongan itu ... " sambung Yura


"Aku memang tidak pantas untuk berkata seperti ini, tapi jika aku memintamu untuk tidak pergi, apa kau akan memenuhi permintaanku?" tanya Arvan


"Tanpa kau minta aku pun sudah merasa bingung. Kau harusnya mengatakan permintaanmu pada Baginda Raja untuk prestasi dan kontribusimu dalam perang," jawab Yura


"Kalau begitu, aku akan meminta agar Baginda Raja memberimu semacam tugas untuk terus menahanmu di sini. Apa Baginda Raja akan mengabulkan permintaanku? Dan apa kau juga akan menerima jika Baginda Raja memberi perintah seperti itu?" tanya Arvan


"Dasar, kekanakan. Kalau begitu, aku akan meminta Baginda Raja untuk menugaskan kau bersamaku. Agar kau juga ikut merasakan kesulitan itu," jawab Yura


"Aku tidak masalah dengan itu. Asalkan bisa terus bersama denganmu, aku justru merasa senang ... " kata Arvan


"Omong-omong, kau bilang ada yang ingin kau sampaikan padaku usai perang berakhir. Apa itu?" tanya Yura yang berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


"Memang ada yang ingin aku sampaikan padamu, tapi itu sudah kukatakan padamu 3 tahun yang lalu. Waktu itu memang sudah lama berlalu, apa kau tidak mengingatnya atau sudah melupakannya?" tanya balik Arvan dengan raut wajah yang sedih.


Berusaha ingin mengalihkan topik pembicaraan, Yura justru menanyakan hal yang sedang tidak ingin dibahas olehnya. Apa lagi, Yura juga menanyakan hal yang salah hingga membuat Arvan merasa sedih karena mengira dirinya sudah melupakan bahkan tidak ingat dengan hal yang terbilang penting itu.


"Kau benar, maaf. Maksudku, ada yang ingin kau berikan padaku juga, kan?" tanya balik Yura lagi.


"Rupanya, kau mengingatnya bahkan kau tampak sangat menantikannya ... " kata Arvan yang kembali mengembangkan senyuman.


"Kau sendiri yang bilang padaku untuk menunggu dan menantikannya," sahut Yura


Arvan pun merogoh saku pakaiannya untuk mengambil sesuatu. Saat Arvan mengeluarkan tangannya dari saku, tangan lelaki itu langsung beralih ke belakang kepala Yura dan menyelipkan sesuatu pada sebagian rambut yang digulung oleh gadis itu.

__ADS_1


"Apa yang baru saja kau pasang di rambutku?" tanya Yura sambil merabakan tangan ke belakang kepalanya alias rambutnya.


"Sepertinya kau tidak mengingatnya. Makanya, aku menebusnya karena berpikir kau akan lupa. Ternyata aku tidak salah membuat keputusan," kata Arvan


"Bukankah ini adalah tusuk rambut yang sudah pernah kugadaikan? Aku benar-benar lupa, tapi kau menebusnya di pegadaian untukku? Aku akan mengganti uangmu yang kau pakai untuk menebusnya. Katakan padaku, berapa uang yang kau habiskan untuk menebus tusuk rambut ini?" tanya Yura


"Tidak perlu, aku memang sengaja menebusnya untukmu ... " jawab Arvan


"Jangan seperti itu. Kalau kau tidak mau menerima uang ganti dariku itu artinya tusuk rambut ini milikmu dan bukan lagi milikku," kata Yura sambil hendak menarik kembali tusuk rambut untuk melepaskannya.


"Kalau begitu, anggap saja aku memberikannya padamu. Bukankah kau menanyakan yang ingin kuberikan padamu? Jadi, terima saja. Jangan kau lepas atau kembalikan padaku. Lalu, ada satu lagi yang ingin kuberikan padamu ... " ujar Arvan


"Apa lagi itu?" tanya Yura yang mengalah dan mengurungkan niatnya untuk melepas dan mengembalikan tusuk rambut pada Arvan.


Lagi-lagi Arvan merogoh saku lain pada pakaiannya dengan satu tangannya untuk mengambil sesuatu. Dengan satu tangan lainnya, Arvan meraih tangan Yura dan langsung memasangkan sesuatu yang diambil olehnya dari saku pakaian pada tangan mulus milik gadis pujaan hatinya itu.


"Gelang dengan manik dari permata," gumam Yura melihat sesuatu yang dipasangkan oleh Arvan pada pergelangan tangannya.


"Terima ini juga dan aku harap kau menyukainya," kata Arvan sambil menarik tangan Yura dan mengecupnya dengan lembut.


Telah diketahui jika seorang lelaki yang memberi dan memasangkan hiasan rambut pada seorang perempuan menandakannya sebagai tindakan melamar kekasih bagi tradisi pada Wilayah Suku Barat. Lalu, jika seorang lelaki memberi dan memasangkan gelang pada tangan seorang perempuan ditandai sebagai tindakan melamar kekasih bagi tradisi pada seluruh Wilayah Negara Kerajaan Chuya.


Yura telah mengetahui hal tersebut. Namun, gadis itu masih merasa ragu dengan arti dari tindakan Arvan padanya. Lebih tepatnya Yura tidak ingin terlalu cepat merasa senang dengan pra-dugaannya yang belum tentu benar.


"Kau pasti juga sudah tahu tentang arti tindakanku ini sesuai tradisi yang ada dan dugaanmu memang benar. Aku sedang melamarmu. Aku harap kau mau memiliki hubungan yang lebih serius lagi denganku," ungkap Arvan


"Sungguh mengejutkan. Kenapa kau tidak sekalian melamarku saat ada orangtuaku tadi?" tanya Yura


"Kupikir kau akan merasa malu jika aku melakukannya di depan orang banyak, jadi aku tidak melakukannya seperti itu," jawab Arvan


"Apa ini bukan alasanmu saja?" tanya Yura

__ADS_1


"Tentu saja, tidak. Aku tidak ingin hanya kau yang seriuals, tapi tentu saja aku pun serius denganmu tentang hal ini. Jika kau memang ingin seperti itu, aku bisa melakukannya untukmu. Ayo, kita kembali ke dalam aula ... " jawab Arvan


"Tidak perlu. Aku bukan ingin kau melakukannya di depan orang lain, tapi di depan kedua orangtuaku supaya bisa sekalian menanyakan restu mereka berdua," kata Yura


"Apa ini bisa kuanggap kau setuju untuk memiliki hubungan yang lebih serius denganku?" tanya Arvan


"Anggap saja seperti itu," jawab Yura


"Hanya itu? Lalu, bagaimana dengan perasaanmu untukku?" tanya Arvan


"Aku sudah pernah bilang padamu sebelumnya kalau aku merasa nyaman dan senang saat bersama denganmu. Hanya itu yang kutahu dan kurasakan karena aku tidak mengerti dengan hal lainnya lagi. Karena itu aku memilih untuk menerimanya," jawab Yura


"Saat kau meminta waktu libur yang bebas dari segala pekerjaan pada Baginda Raja, apa kau akan pulang ke kediaman kedua orangtuamu?" tanya Arvan


"Aku memang memiliki rencana seperti itu, tapi untuk apa kau menanyakan hal ini?" tanya balik Yura


"Saat kau ingin pulang, bawalah aku bersamamu. Aku akan melamarmu di hadapan kedua orangtuamu saat itu dan meminta izin sekaligus restu dari mereka berdua untuk menikah denganmu," jawab Arvan


"Apa kau sungguh serius?" tanya Yura


"Tentu saja, jadi jangan anggap aku sedang bercanda ... " jawab Arvan


Kali ini Yura tersenyum senang saat mendengarnya. Arvan pun ikut merasa senang.


"Jangan senang dulu atau menganggap hal ini yang mudah. Aku akan mengatakan pada ibu dan ayah kalau sebelumnya kau sempat menyukai kak Yuna," ucap Yura


"Kukira kau tidak akan membahas tentang hal itu lagi. Meski pun terdengar seperti sedang menyangkal, tapi itu sungguh perasaan karena kesalah-pahaman. Namun, sesulit apa pun rintangan atau tantangannya, aku pasti akan melewatinya demi dirimu dan untuk bisa terus bersama denganmu," ujar Arvan


"Sekali saja kau merasa goyah di tengah jalan, kau pasti tidak akan bisa lolos dari keluarga Haris. Kau harus ingat hal itu," kata Yura


"Aku tidak merasa khawatir karena aku sangat yakin tidak akan pernah merasa goyah bahkan setelah menikah denganmu. Kau bisa memegang dan mengingat ucapanku karena ini adalah janjiku padamu. Lelaki sejati tidak akan pernah mengingkari janji," ucap Arvan

__ADS_1


"Kau adalah lelaki sejati atau bukan, mari lihat nanti saja ... " sahut Yura


Yura dan Arvan terus mengobrol di sana tanpa ada orang lain yang mengganggu. Hingga keduanya tidak sadar telah mengobrol sangat lama sampai acara pesta malam itu telah berakhir. Keduanya bahkan tak jarang tertawa bersama. Entah memang tidak ada orang yang tahu atau memang semua orang memang tidak mau mengganggu kedua insan itu.


__ADS_2